
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Ayu, di mana ia akan berangkat ke pengadilan untuk mendengarkan keputusan hakim tentang perceraiannya.
Ayu datang bersama kedua orangtua dan kakaknya. Sementara Wawan, pria ini datang bersama ibu dan kakaknya.
Wawan tampak gugup saat memasuki ruang sidang apalagi saat ia melihat Ayu yang sudah duduk di kursinya. Wawan menatap Ayu. Namun, Ayu sama sekali tidak menoleh ke arahnya.
Persidangan pun dimulai. Hakim mulai mengupayakan perdamaian terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan mediasi. Namun Ayu tetap teguh pada pendiriannya untuk bercerai dari Wawan.
Satu jam sidang digelar. Wawan dan Ayu resmi bercerai. Kini mereka bukan suami istri lagi. Setelah sidang selesai, Ayu langsung keluar dari ruang sidang, begitu pula dengan Wawan, pria ini bergegas menghampiri Ayu untuk mengajaknya bicara.
"Ayu...!" Panggil Wawan ketika sidang telah selesai.
"Apa?" Tanya Ayu singkat.
"Aku ingin bicara sama kamu." Ucap Wawan seraya menarik tangan Ayu.
"Apa lagi yang ingin kamu bicarakan dengan anakku lagi?" Ucap Bu Indah yang tidak suka. "Kamu sama anakku sudah tidak ada urusan lagi..!"
"Saya hanya ingin bicara sebentar sama Ayu, Bu!"
"Belum puas kamu menyakiti anakku, hah!" Ucap Pak Samsul marah.
"Ayah, ibu. Sebaiknya kita menunggu di mobil saja." Ucap Tari dan diiyakan oleh pak Samsul dan Bu Indah. Ketiganya pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Ayu dan Wawan untuk berbicara berdua.
"Apa yang dikatakan ayah dan ibu ku benar. Wawan, kita sudah tidak ada urusan lagi." Ucap Ayu setelah kepergian orangtuanya.
"Aku mohon berikan aku kesempatan sekali lagi, aku tidak rela berpisah dengan kamu,, Yu." Ucap Wawan yang benar-benar menyesal.
"Hatiku sudah terlanjur sakit, Wawan. Jadi tidak ada kesempatan kedua atau ketiga lagi." Ucap Ayu terdengar begitu dingin di telinga Wawan.
"Ayu...!" Ucap Wawan semakin erat menggenggam tangan mantan istrinya.
Ayu berusaha melepaskan tangannya, wanita ini merasa jijik disentuh oleh mantan suaminya.
"Aku harus pergi..!!" Ucap Ayu kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Wawan yang masih mematung di tempatnya.
Wawan hanya bisa menatap kepergian Ayu dengan tatapan penuh penyesalan di hatinya. Pria ini sejenak termenung beberapa saat, hingga tiba-tiba saja seseorang menyentuh pundaknya.
"Sella..!"
"Gimana sidangnya, lancarkan?" Tanya Sella.
"Iya, lancar." Ucap Wawan tanpa menatap Sella.
"Kamu sama siapa ke sini?"
"Sama ibu dan kakakku tapi mereka sudah pulang duluan."
Sella manggut-manggut tanda mengerti.
"Udahlah mas, nggak usah galau begitu. Lagipula sebentar lagi aku akan menjadi istri kamu."
__ADS_1
Wawan terdiam, pria ini membenarkan perkataan Sella.
"Oh ya mas, aku ingin kamu secepatnya menikahi ku," ucap Sella.
"Sabarlah dulu, Sella. Aku dan Ayu baru saja bercerai. Apa kata orang nanti!"
Sella memutar bola mata malas, lalu dia mengajak Wawan untuk pergi.
*
Sudah tiga hari berlalu, tapi Sadam tak juga melihat Ayu masuk kantor. Sudah beberapa kali juga Sadam menghubungi Ayu, baik itu kirim pesan maupun telepon sama sekali tak dibalas dan tak diangkat.
Sadam yang merasa khawatir dengan Ayu pun lelaki itu langsung saja bertekad untuk datang menemui Ayu.
Tapi pria ini tidak tahu di mana alamat tempat tinggal Ayu sekarang. Sadam teringat adik sepupunya Dinda, ia pun segera menghubungi Dinda dan mengajaknya untuk bertemu makan siang ini. Dinda pun mengiyakan dan akhirnya mereka berjanjian untuk bertemu disalah satu cafe biasanya.
"Sadam, kamu ingin makan siang di luar?" Tanya Davina yang masuk begitu saja ke dalam ruangan Sadam.
"Bisakah kamu mengetuk pintu dulu sebelum masuk, itu sangat tidak sopan..!!"
"Maafkan aku. Aku hanya kangen sama kamu." Ucap Davina membuat Sadam ingin muntah mendengarnya.
"Pergilah, aku sedang sibuk!" Usir Sadam.
"Aku akan menunggu mu di sini hingga jam makan siang tiba."
"Tidak usah repot-repot. Sebaiknya kamu pergi karena siang ini aku ada urusan penting."
Tak menjawab, Sadam berlalu begitu saja.
"Sadam, kamu mau ke mana?"
Pertanyaan dari Davina sama sekali tak digubris oleh Sadam. Pria itu terus melangkah hingga sampai ke mobilnya.
"Aku ikut!" Kata Davina.
"Tidak boleh!" Ucap Sadam langsung menutup kaca mobil lalu memacu mobilnya.
"Argh...!" Kesal Davina sambil menghentakkan kakinya. Wanita ini pun bergegas masuk ke dalam mobilnya kemudian mengikuti mobil Sadam.
Menempuh perjalanan sekitar lima belas menit sampai lah Sadam disebuah cafe, pria ini langsung masuk ke dalam dan mencari keberadaan adik sepupunya.
"Udah lama nunggu?" Tanya Sadam pada Dinda.
"Aku juga baru sampai lima menit yang lalu." Jawab Dinda.
"Kamu sudah pesan?" Tanya Sadam sambil membolak-balikkan buku menu.
"Belum."
"Kamu mau makan apa?"
__ADS_1
"Terserah saja lah mas yang penting ada nasinya karena aku sudah sangat lapar." Ucap Dinda.
Sadam pun memanggil pelayan untuk memesan makanan dan minuman. Setelah menunggu beberapa saat pesanan mereka sudah datang, mereka pun makan siang bersama dengan saling mengobrol dan bercanda.
"Ehem.. Dinda teman kamu itu udah tiga hari ini nggak masuk, ngomong-ngomong ke mana dia?"
"Ayu?"
"Iya."
"Loh mas nggak tahu kalau Ayu sekarang udah cerai dari suaminya?" Tanya Dinda.
"Mas nggak tahu."
"Kemarin Ayu menghubungi aku lewat pesan kalau dirinya akan menggugat suaminya karena selingkuh."
"Selingkuh? Wah.. gila banget perempuan secantik Ayu diselingkuhi." Ucap Sadam.
"Lebih parahnya selingkuhannya sekarang sedang hamil."
Sadam tidak menanggapi tapi entah kenapa di hati pria ini merasa begitu senang saat mengetahui perceraian sekretarisnya itu.
"Astaga, kenapa hatiku berbunga-bunga sekarang? Sial, bisa-bisanya aku bahagia di atas penderitaan orang." Gumam Sadam.
"Apanya yang sial?" Tanya Dinda.
"Bukan apa-apa kok, Din.." Ucap Sadam sambil menyeruput air yang ada di gelas.
"Sadam...!"Sapa suara yang terdengar tidak asing di telinga Sadam.
Sadam dan Dinda menoleh ke arah sumber suara. Sadam menghembuskan nafas kasar, rasanya malas sekali harus berurusan dengan mantan tunangannya yang sampai sekarang masih mengganggu dirinya.
"Apa aku boleh duduk di sini dan bergabung bersama kalian?" Tanya Davina.
Tanpa dipersilahkan, Davina langsung duduk begitu saja. Sadam dan Dinda saling berpandangan kemudian mengedikkan kedua bahunya masing-masing.
"Hai Dinda..!" Sapa Davina. "Sudah lama ya kita nggak ketemu." Ucap Davina berusaha akrab.
Dinda hanya sibuk menikmati makanannya tanpa menghiraukan sapaan dari Davina.
Davina merasa geram, tapi ia berusaha untuk terlihat baik dan anggun.
"Sadam, kamu kok nggak nawarin aku buat makan atau minum gitu?" Tanya Davina tanpa merasa malu.
"Kamu punya mulut seharusnya kamu gunakan mulutmu itu untuk memanggil pelayan dan memesan makanan." Ucap Sadam dengan suara dingin.
"Kenapa kamu tega sama aku, Sadam?" Ucap Davina.
Sadam tidak menghiraukan pertanyaan Davina, pria ini hanya sibuk menikmati makanannya sama halnya dengan Dinda, wanita ini juga memperlakukan Davina seolah-olah wanita itu tidak ada.
Davina merasa geram karena kehadirannya tidak dianggap, namun ia sama sekali tidak berniat beranjak pergi dari meja. Seolah ia tak memiliki rasa malu sama sekali meskipun sudah diacuhkan.
__ADS_1