
Keesokan harinya, Ayu dan Tari sudah bersiap-siap untuk pergi ke pengadilan untuk mengajukan gugatan cerai pada Wawan. Sebelum ke pengadilan, Ayu dan Tari pergi ke rumah orang tuanya yang letaknya tidak terlalu jauh.
Sesampainya di sana, keduanya disambut hangat oleh Pak Samsul dan Bu indah.
"Yu, kemarin suami kamu ke sini nyariin kamu." Ujar Bu Indah memberitahu.
"Masa sih, bu?"
"Iya, memangnya kalian ada masalah apa?" Tanya Bu Indah.
Ayu menghela nafas panjang. Ia tidak ingin merahasiakan hubungannya yang diambang kehancuran, ia lalu menceritakan pada ke dua orang tuanya apa yang terjadi sebenarnya. Ayah dan ibu Ayu terkejut mendengar cerita anak bungsunya itu. Pak Samsul naik pitam, pria ini marah dan hendak melabrak Wawan yang telah menyakiti anaknya.
"Ayah, nggak usah. Lagipula hari ini Ayu akan mengajukan gugatan cerai sama mas Wawan..!"
"Baguslah. Laki-laki seperti itu tidak pantas kamu pertahankan, lagipula dia itu pelit sama kamu. Ayah setuju kalau kamu bercerai dengannya. Ayu, kamu tidak usah khawatir, ayah masih sanggup ngasih kamu makan!" Ucap Pak Samsul geram.
"Ayah tenang saja. Ayu tidak akan merepotkan, lagipula Ayu sudah bekerja selama hampir tiga bulan."
"Suami kamu tahu kalau kamu kerja?" Tanya Bu Indah.
"Nggak tahu. Ayu rasa biarlah dia nggak tahu, kalau dia tahu Ayu bekerja pasti dia semakin pelit sama Ayu."
"Iya Bu. Masa Ayu cuma di jatah limapuluh ribu untuk dua hari." Sambung Tari membuat kedua orang tuanya melongo tak percaya.
"Yang benar saja, Yu?"
"Apa yang diucapkan kak Tari memang benar, Bu. Kalau Ayu lagi kehabisan uang pasti Ayu minta tolong sama kak Tari."
"Kenapa kamu nggak bilang sama kami, kamu pasti akan membantu kamu, Yu." Ucap Pak Samsul.
"Ayu merasa malu jika ayah dan ibu tahu suami Ayu seperti itu. Selama ini kalian kan menentang hubungan Ayu sama Wawan." Ucap Ayu dengan wajah tertunduk.
"Sudahlah jangan disesali, semua sudah terjadi, ambil hikmahnya dibalik kejadian ini, Yu." Ucap Bu Indah.
"Apapun keputusan kamu, kami semua mendukung kamu, asal jangan balik lagi sama dia." Ujar Tari.
"Kamu juga Tari, sebaiknya kamu cepat menikah." Ucap Pak Samsul.
"Nanti aja lah, lihat rumah tangga Ayu aja bikin aku takut!" Sahut Tari.
"Shut.. Tari jangan berkata seperti itu. Biar bagaimanapun itu pilihan adik kamu dulunya." Celetuk Bu Indah.
"Kak, Ayo kita pergi sekarang..!" Ajak Ayu.
"Iya kalian berdua hati-hati, Ya!" Ucap Bu Indah.
*
Sementara di rumah, Wawan dan Sella bertengkar karena Sella terus mendesak Wawan untuk segera menikahinya.
__ADS_1
"Sella... Aku saja belum bercerai dengan istriku bagaimana mungkin aku menikahi mu, lagipula aku tidak sudi menikah dengan mu..!"
"Biadap kamu, mas. Kamu sudah menghamili aku, kamu harus bertanggung jawab..!!"
"Aku baru satu kali tidur dengan mu. Tidak mungkin itu anakku..!!"
"Baiklah. Kalau kamu nggak mau tanggung jawab, lebih baik aku mati saja..!" Ancam Sella.
"Kamu jangan main-main, Sel."
"Kamu pikir aku main-main, tunggu saja nanti..!" Ucap Sella kemudian wanita ini beranjak pergi menuju ke dapur.
Wawan menyusul Sella yang ternyata sudah memegang sebilah pisau di tangannya.
"Sella, apa yang kamu lakukan?"
"Kamu sudah janji akan menikahi aku, mas. Kamu berjanji akan bertanggungjawab kalau aku hamil..!" Teriak Sella.
"Iya, iya.. Aku berjanji akan menikahi kamu.." Bujuk Wawan.
"Kamu bohong, mas. Kamu hanya mengatakan itu hanya untuk menenangkan aku, kan?"
"Pikiran mu terlalu jauh, Sella. Cepat kamu singkirkan pisau itu..!!" Seru Wawan.
"Nggak, aku nggak mau..!!"
"Baiklah. Aku akan menikahi mu tapi jangan melakukan hal gila seperti itu." Ujar Wawan.
"Ternyata gampang juga diancam." Batin Sella.
"Baiklah. Jadi kapan kita akan menikah?"
"Tunggu aku bercerai dari istriku." Jawab Wawan.
"Kapan?"
"Sella, Kamu ini tidak sabaran..!"
"Memang itu benar sebab aku ingin cepat-cepat mengeruk habis harta kamu." Batin Sella.
"Ya sudah, aku pulang dulu dan kabari aku jika kamu sudah bercerai dengan istri kamu." Ucap Sella kemudian pergi.
Wawan mengusap wajahnya kasar, pria ini kemudian beranjak pergi untuk berangkat kerja. Di kantor, Wawan merasa tidak fokus, entah kenapa firasatnya mengatakan jika Ayu akan menceraikan dirinya.
*
Sore hari di rumah, Wawan baru saja pulang kerja, pria ini terkejut saat melihat istrinya duduk di ruang tamu seperti menunggu kedatangannya.
"Ayu, akhirnya kamu pulang juga." Ucap Wawan tersenyum lebar. "Kamu udah lama nunggu mas?"
__ADS_1
"Aku datang ke sini hanya ingin memberikan mu ini..!"
Tib-tiba saja Ayu menyodorkan sebuah amplop berlogo pengadilan kepada Wawan.
"Apa ini?" Tanya Wawan.
"Kemarin aku sudah mengurus perceraian kita, dan sekarang silahkan kamu tanda tangan." Ucap Ayu.
"Nggak, aku nggak mau kita bercerai. Jangan gila kamu, Yu...!!" Ucap Wawan tak terima.
"Keputusan ku sudah bulat, mas. Mari kita bercerai dan nikahi perempuan itu." Kekeh Ayu.
"Apakah tidak akan menjadi masalah bila kita berpisah? Pikiran lagi, Yu! Kamu itu gak bisa hidup tanpa aku."
"Jaga mulut mu, mas. Tidak masalah jika harus pisah. Kamu bukan satu-satunya sumber bahagiaku. Kehilanganmu memang membuat ku terluka, tapi bukan bearti aku tidak bisa berbahagia jika tidak bersamamu, Wawan!"
Mata Wawan melebar saat Ayu hanya menyebut namanya.
"Kamu hanya menyebut nama, apa kamu sudah tidak mencintai mas lagi, Yu?"
"Untuk apa aku mencintai seorang suami yang cintanya saja sudah berpindah ke wanita lain?"
"Mas mohon, jangan ceraikan mas. Ayu, tidak bisakah kita memperbaiki rumah tangga kita?"
"Andai wanita itu tidak hamil mungkin aku masih menimbang diri untuk memaafkan mu lagi, mengingat pernikahan kita hampir enam tahun mungkin aku akan pikir-pikir dulu untuk mengambil keputusan seperti ini. Bukankah kau berjanji untuk menikahinya, lagipula aku tidak sudi jika harus dimadu. Lantas, untuk apa lagi aku harus bertahan?"
Wawan terdiam, pria ini tidak bisa menjawab. Tanpa menghiraukan Wawan, Ayu pun beranjak pergi dari sana.
Baru saja Ayu pergi, Wawan kini kedatangan ibunya.
"Wan, istri kamu itu kenapa sih, ibu lewat bukannya disapa malah melengos pergi gitu aja. Nggak sopan banget itu istri kamu..!" Adu Bu Nining.
Wawan tidak menjawab, pria ini hanya sibuk meratapi nasibnya yang diceraikan oleh istrinya.
Mata Bu Nining melebar tak kala melihat sebuah amplop berlogo pengadilan di atas meja. Bu Nining mengambil amplop tersebut lalu membaca isinya.
"Ayu menggugat kamu cerai, kenapa?" Tanya Bu Nining.
Wawan menghela nafas panjang.
"Wawan mengkhianati Ayu, Bu." Ucap Wawan lesu.
"Mengkhianati bagaimana? Kamu selingkuh sama perempuan lain?"
"Iya. Wawan telah berselingkuh dengan perempuan lain dan Wawan harus segera menikahi perempuan itu karena ia sedang mengandung anak Wawan."
"Apa..?? Jadi selingkuhan kamu sedang hamil? Astaga, Wawan kamu ini gila. Kalau kamu punya anak nanti otomatis jatah ibu berkurang dong..!" Ucap Bu Nining yang tak berperasaan.
"Udahlah, Bu. Ibu jangan nyerocos terus Wawan lagi pusing ini."
__ADS_1
"Wawan, ibu minta uang untuk bayar arisan..!" Ucap Bu Nining yang bodo amat dengan masalah yang menimpa anaknya.
Wawan mendengus kesal. Pria ini akhirnya memberi ibunya beberapa lembar uang kemudian menyuruh ibunya pergi.