Jangan Salahkan Aku Meminta Cerai

Jangan Salahkan Aku Meminta Cerai
Eps 9


__ADS_3

Siang hari seperti yang sudah di rencanakan Ayu dan Dinda, kedua wanita ini sudah duduk manis menunggu pesanan mereka di cafe biasanya. Sambil menunggu, keduanya tampak berbincang-bincang ringan hingga pada akhirnya netra Dinda menangkap satu sosok yang ia kenali.


"Mas Sadam..!" Lirih Dinda dengan mata yang menatap tajam ke salah satu objek di sudut ruangan di cafe itu.


"Ada apa, Din?" Tanya Ayu yang heran karena tiba-tiba saja raut wajah Dinda menampakkan ketidaksukaan.


"Lihatlah di belakang mu!" Ucap Dinda.


Ayu menoleh ke belakang dan melihat atasnya yang sedang makan bersama dengan seorang wanita yang sangat cantik.


"Oh pak Sadam, memangnya kenapa?" Tanya Ayu.


"Asal kamu tahu saja, Yu. Wanita yang sedang bersama Sadam itu Davina, mantan tunangannya. Mereka menjalani hubungan hampir lima tahun, dua hari sebelum menikah, wanita itu memutuskan hubungannya dengan Sadam." Jawab Dinda.


"Kenapa bisa?"


"Entahlah, wanita itu memutuskannya secara sepihak tanpa alasan yang jelas. Tapi aku yakin wanita itu telah mengkhianati Sadam dan lebih memilih selingkuhan nya." Tutur Dinda.


"Kenapa kamu bisa menyimpulkan nya seperti itu?" Tanya Ayu yang mulai tertarik dengan masalah pribadi atasnya.


"Waktu itu aku pergi ke salah satu hotel untuk bertemu dengan klien. Nah, kebetulan aku melihat Davina di hotel itu juga dengan seorang pria tapi bukan Sadam." Jelas Dinda. "Aku sudah memberitahu ke Sadam tapi dia tidak percaya, tidak mungkin Davina seperti itu." Imbuhnya.


"Sebenarnya orang tua Sadam itu tidak setuju Sadam menikah dengan Davina tapi karena Sadam itu keras kepala dan di butakan oleh cinta, dia tetap nekat ingin menikah dengan Davina." Ujar Davina lagi.


Obrolan mereka terhenti saat pelayan datang membawa makanan dan minuman yang sudah mereka pesan. Karena sudah merasa lapar kedua wanita ini pun langsung menyendok makanan ke mulut mereka.


Di sela makannya Dinda terus saja memperhatikan kakak sepupunya dengan seksama.


"Sudah biarkan saja!" Celetuk Ayu.


"Tidak bisa di biarkan, aku harus melaporkan ini kepada Tante Anita." Ucap Dinda sembari mengambil ponsel dari dalam tasnya lalu ia beberapakali mengambil gambar Sadam yang kini tengah asik di suapi Davina.


"Ternyata kamu Cepu juga." Ayu terkekeh kecil.


"Davina itu wanita ular asal kamu tahu, Yu." Sahut Dinda.


Ucapan Dinda membuat Ayu tertawa. "Ular bagaimana sih, Din?"


"Nanti kamu juga tahu sendiri, Yu." Jawab Dinda.


Mereka kembali menikmati makanannya masing-masing sambil berbincang-bincang dan bercanda bersama sampai tak terasa waktu istirahat akan berlalu.

__ADS_1


Ayu sudah kembali ke ruangannya sesekali wanita ini melirik ke dalam ruangan milik Sadam yang sampai sekarang batang hidungnya belum kelihatan.


Selang beberapa saat, Ayu melihat Sadam yang kini berjalan menuju ke ruangannya dengan seorang wanita yang mengikutinya dari belakang. Ayu dapat melihat wanita yang bernama Davina menatap sinis dirinya tapi Ayu tidak peduli.


"Yu, tolong batalkan jadwal meeting hari ini." Titah Sadam.


"Baik, pak!" Jawab Ayu dan Sadam pun melanjutkan langkahnya masuk ke dalam ruangannya dengan diikuti Davina.


"Sayang, kamu kenapa cuek sama aku?" Tanya Davina dengan suara manjanya.


Davina berjalan mendekat ke arah meja kerja Sadam.


"Setelah sekian lama kamu menghilang, kenapa kamu kembali lagi?" Tanya Sadam dengan nada dingin.


"Sayang, kenapa kamu bertanya seperti itu? Seharusnya kamu senang aku kembali lagi." Ucap Davina dengan percaya diri. "Aku kangen sama kamu." Sambungnya.


"Kamu aneh, tiba-tiba menghilang dan tiba-tiba datang lagi kesini bilang kangen."


"Aku bisa jelasin!"


"Jelaskan!"


"Sayang, kamu tahu sendiri kan cita-cita ku dari dulu ingin menjadi model terkenal. Saat itu aku mendapatkan tawaran dari rekan bisnis papah untuk pemotretan di luar negeri dan itu bisa menjadi peluang aku untuk menjadi model terkenal."


"Semua terjadi secara tiba-tiba, Sadam. aku bingung harus bagaimana saat itu."


"Kenapa kamu gak jelasin ke aku, Davin?"


"Aku juga pengen jelasin ke kamu tapi aku sudah gak punya waktu, aku harus pergi saat itu juga, Sadam!"


Sadam mengusap wajahnya kasar.


"Seharusnya kamu jujur saja dari awal Davin, kita bisa saja mengundur pernikahan kita. Aku sanggup menunggu mu, Davin!"


"Aku terlalu panik hingga tidak memikirkan itu." Ucap Davina yang mulai meneteskan air mata palsunya.


"Sayang, kamu mau kan memaafkan aku?" Rayu Davina di sela tangisnya.


"Baiklah, aku akan memaafkan mu." Jawab Sadam.


"Tapi apakah kita bisa kembali seperti dulu? Aku gak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya, Sadam. Aku masih cinta kamu!" Ucap Davina yang berusaha meluluhkan hati Sadam.

__ADS_1


"Entahlah, semenjak kamu pergi, hatiku telah mati rasa. Aku pikir cinta ku telah habis untuk mu, namun ternyata salah, cinta itu hadir kembali untuk wanita yang lain."


"Maksud kamu, kamu sudah mencintai wanita lain tapi bukan diriku?" Tanya Davina.


"Kamu benar." Jawab Sadam singkat.


"Sadam, kenapa kamu tega melupakan ku?" Tanya Davina dengan air mata yang kembali keluar.


"Kamu juga tega meninggalkan ku."


"Tapi aku udah ngejelasin ke kamu, Sadam. Pokonya aku gak mau kehilangan kamu!" Seru Davina.


"Pergilah, hari ini aku sangat sibuk!"


"Tapi, Sadam!"


"Davina...!" Seru Sadam dengan suara sedikit meninggi.


"Baiklah, aku akan pergi tapi besok aku akan datang kembali.


Tidak menjawab, Sadam kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Sadam... Sadam. Lihat saja nanti, kamu pasti akan jatuh ke pelukan ku lagi. Kamu harus menjadi milikku seutuhnya Sadam, tidak ada yang boleh memiliki mu kecuali aku." Davina tertawa puas dalam hatinya.


"Masalah perempuan yang kamu sukai itu, aku harus mencari tahu siapa dia, tidak akan ku biarkan perempuan itu memenangkan hati mu, Sadam." Davina tersenyum licik di sela langkah kakinya.


Sore hari, Ayu sudah bersiap-siap ingin pulang, begitu juga Sadam yang saat ini kebetulan keluar dari ruangannya.


"Kamu pulang naik apa, Yu?" Tegur Sadam.


"Saya pesan ojek online, pak." Jawab Ayu.


"Ya sudah, kalau begitu saya pergi duluan."


Ayu mengangguk lalu kembali mengemasi barang-barang miliknya.


Sore hari, Ayu baru menginjakkan kakinya dirumah. Wanita ini bergegas mandi agar saat Wawan sudah pulang, suaminya tidak curiga. Dan benar saja, saat Ayu baru keluar dari kamar mandi, Wawan baru saja menginjakkan kakinya dirumah.


Wawan masuk begitu saja tanpa menegur Ayu. Wawan masih kesal dengan kejadian tadi.


"Seharusnya aku yang kesal mas, bukan kamu." Batin Ayu.

__ADS_1


Tidak peduli, Ayu pun bergegas pergi ke dapur untuk membuat makan malam.


"Bahkan kamu tidak kata maaf sudah menampar ku, jangankan maaf, wajah mu saja merasa tidak berdosa gitu." Omel Ayu di dalam hatinya.


__ADS_2