
Keesokan paginya seperti biasa, Ayu bangun pagi-pagi untuk membuat sarapan untuk suami dan dirinya.
Wawan memperhatikan istrinya yang sedang fokus menata makanan di atas meja. Wawan merasa heran karena pagi ini menu makanan tidak seperti biasanya, kali ini terlihat enak dan menggugah selera.
"Yu, kamu masak ayam goreng ini dapat uang darimana?" Tanya Wawan yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya.
"Uang ku lah, masa uang mu." Ayu menjawab santai.
"Emangnya kamu punya uang, lagian kalau gak dapat dari aku, kamu mana mungkin punya uang!" Cibir Wawan.
"Terserah kamu saja lah, mas. Serba salah aku jadinya, masak tempe sama sayur bening protes, di masakin yang enak-enak juga protes. Memangnya kamu ngasih jatah aku berapa sih, kok bisanya cuma protes aja!"
Ayu merasa geram, ia sudah tak peduli jika akhirnya ia dan Wawan akan bertengkar sekalipun, perkataan Wawan bagi Ayu sudah sangat keterlaluan.
"Maksud ucapan kamu itu apa, Yu?" Tanya Wawan dengan nada sedikit meninggi. "Seolah aku ini suami yang tidak bertanggung jawab, apa kurang ku selama ini? Kamu ku nafkahi setiap harinya!" Sentak Wawan yang tak terima dengan ucapan istrinya.
"Cuma tiga puluh ribu! Itu pun aku harus mengaturnya untuk dua hari. Kamu sehat kan, mas! Andai kamu jadi aku apa kamu sanggup harus putar otak agar uang itu cukup!"
"Dasar kamu saja yang tidak becus mengatur keuangan!"
"Ya, aku memang tidak becus! Kalau begitu biar kamu saja yang mengaturnya, bagaimana kalau posisi kita di balik agar kamu tahu rasanya menjadi aku."
"Aku suami kamu, Yu! Kamu tidak berhak mengatur ku, akulah yang berhak mengatur kamu!" Ucap Wawan semakin membuat Ayu marah.
"Dulu kamu memberiku jatah lima puluh ribu tapi kenapa sekarang jadi tiga puluh ribu. Coba jelaskan alasan mu, mas dan kenapa kamu tidak pernah memberitahukan berapa gaji mu padaku?"
"Kamu tidak ada hak untuk mengetahui itu, Yu. Aku yang bekerja jadi terserah aku mau ku apakan gaji ku. Aku yang capek-capek kerja tapi kamu yang menikmatinya, enak saja!" Lagi, ucapan Wawan membuat Ayu semakin emosi.
"Jadi sebenarnya kamu bekerja untuk siapa sih, mas? Mas, kamu harus ingat kalau kamu itu punya istri di rumah yang harus kamu nafkahi!"
"Ah, sudahlah! Aku capek sama kamu yang di bahas uang dan uang terus!" Bentak Wawan.
"Kamu pikir aku juga gak capek apa? Tiap hari ngurus rumah, ngurus kamu, masak, nyuci baju dan lain-lain. Aku juga capek, mas!" Teriak Ayu histeris. Air mata membasahi pipinya meluruhkan sakit di hati.
"Itu sudah kewajiban kamu sebagai istri jadi tidak usah mengeluh!"
"Ya itu benar. Lalu bagaimana dengan kamu, apa kamu sudah memenuhi kewajiban kamu sebagaimana mestinya seorang suami?" Tanya Ayu dengan suara yang sedikit meninggi.
Wawan bangkit dari duduknya lalu menampar Ayu tepat di pipinya.
Plak!
__ADS_1
"Berani-beraninya kamu berbicara dengan nada tinggi seperti itu kepada suami kamu, hah!!" Ucap Wawan dengan suara tinggi.
Ayu memegangi pipinya yang terasa sangat perih dan panas, selama pernikahan baru inilah Wawan main tangan atau menampar dirinya. Ayu benar-benat tak menyangka jika suaminya akan kasar padanya bahkan sampai berani menampar dirinya. Hati Ayu bagai teremas saat ini, hingga tanpa ia sadari ada cairan bening yang keluar dari sudut mata membasahi pipi putih mulusnya.
Ayu menatap nanar suaminya namun Wawan membuang muka saat Ayu menatapnya. Dengan perasaan kesal, Wawan bergegas pergi tanpa sarapan dan berpamitan pada Ayu.
Ayu menghapus air matanya kasar kemudian ia bergegas untuk berangkat bekerja dan seperti biasa juga Ayu akan berjalan ke depan gang untuk naik ojek.
"Awas saja kamu, mas. Kamu akan menyesal telah menampar ku." Gumam Ayu.
Setengah perjalanan menuju ke tempat kerjanya, tiba-tiba motor ojek yang di tumpangi Ayu berhenti di pinggir jalan.
"Pak, kok berhenti?" Tanya Ayu pada Kang Mamat.
"Ini Yu, ban motor kang Mamat bocor."
"Lah terus gimana, pak?" Tanya Ayu dengan raut wajah panik.
Saat sedang dalam kebingungan, sebuah mobil mewah berhenti tepat di samping Ayu lalu penumpang tersebut turun dari mobil.
"Yu, kamu kenapa?" Tanya Sadam yang menghampiri Ayu.
"Pak Sadam..! Ini pak, ojek yang ngantar saya ban motornya bocor. Kalau di perbaiki sepertinya memakan waktu yang cukup lama." Jawab Ayu dengan raut wajah panik.
Ayu tampak berpikir sejenak.
"Nggak usah, pak! Sebaiknya saya menunggu angkot lewat aja, pak."
"Ini hampir jam tujuh, Yu. Kalau kamu telat nanti gajih mu saya potong." Ancam Sadam.
Ayu melebarkan matanya lalu tanpa berpikir lagi akhirnya ia masuk ke dalam mobil Sadam setelah membayar ongkos ojek nya. Sadam tersenyum tipis, tentu saja Ayu tidak melihat.
"Maaf, pak!" Ucap Ayu.
"Maaf untuk apa?" Tanya Sadam.
"Sudah merepotkan pak Sadam."
"Santai saja, Yu."
"Iya, pak."
__ADS_1
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang ramai dengan hiruk pikuk kendaraan lewat. Di dalam mobil suasana begitu hening, baik Ayu maupun Sadam tak ada yang berinisiatif untuk mengajak bicara.
Sepanjang jalan senyum manis tak henti-hentinya terukir di bibir milik Sadam. Sesekali pria itu melirik wanita di sampingnya yang sedang menatap lurus ke depan.
Sampai pada akhirnya, Sadam membuka suara. "Yu, aku perhatikan sepertinya kamu sedang ada masalah." Ujar Sadam.
"Gak ada kok, pak. Saya baik-baik aja." Jawab Ayu.
"Yang benar? Tapi saya lihat dari tadi kamu murung terus dan mata kamu kelihatan seperti habis menangis."
"Gak apa-apa pak, biasalah masalah rumah tangga." Jawab Ayu membuat Sadam terkejut.
"Loh kamu sudah nikah, Yu?" Tanya Sadam yang tampak kecewa. Jujur saja, pria ini sudah menaruh hati sejak pertama kali bertemu Ayu.
"Iya sudah, pak." Jawab Ayu apa adanya.
"Kenapa kamu gak bilang kalau sudah menikah?" Tanya Sadam.
"Karena bapak gak nanya." Jawab Ayu.
Suasana kembali hening hingga mobil mereka sampai di kantor.
"Akhirnya sudah sampai." Gumam Sadam masih di dengar oleh Ayu.
"Terimakasih, pak, sudah mau ngasih saya tumpangan." Ujar Ayu.
"Iya sama-sama." Jawab Sadam datar, pria ini kemudian turun dari mobilnya lalu pergi begitu saja.
Ayu tidak ambil pusing, ia pun segera menyusul untuk masuk ke dalam kantor. Dari kejauhan Ayu melihat Dinda yang sedang melambaikan tangan ke arahnya dan Ayu pun segera menghampiri Dinda.
"Dinda, tumben kamu pagi-pagi udah disini." Kata Ayu.
"Iya, soalnya ada yang harus di urus sama mas Sadam." Jawab Dinda.
Ayu mengangguk paham.
"Yu, nanti siang makan bareng di cafe biasa, ya." Ajak Dinda.
"Boleh juga. Nanti biar aku yang traktir kamu."
"Habis gajihan nih!" Ucap Dinda.
__ADS_1
"Iya dong..., Ya udah kalau gitu aku masuk dulu ya." Pamit Ayu pada Dinda.