Jangan Salahkan Aku Meminta Cerai

Jangan Salahkan Aku Meminta Cerai
Eps 18


__ADS_3

"Jangan-jangan Ayu pergi ke rumah Tari, kakaknya!" Tebak Bu indah.


"Iya ibu benar juga, sepertinya Ayu pergi ke rumah kakaknya." Ucap Wawan.


"Kalau begitu cepat kamu susul!" Titah Bu Indah dan Wawan mengangguk mengiyakan.


Sebelum akhirnya Wawan melangkah pergi, pak Samsul memberikan Wawan peringatan terlebih dahulu.


"Heh Wan, dari awal kamu sudah tahu kalau aku tidak merestui hubungan kamu sama anakku. Jadi sekarang dengarkan aku, kalau sampai sesuatu terjadi pada Ayu anak kesayanganku itu, maka aku tidak segan-segan nya akan menggorok batang leher mu itu!" Ancam pak Samsul yang membuat Wawan semakin ketakutan.


Setelah itu Wawan pun berpamitan, dan langsung buru-buru menaiki motor dan menghidupkan motornya. Kemudian ia berlalu begitu saja dari kediaman mertuanya.


Sementara dikediaman Tari, Ayu kini tengah melipat tangan dimeja makan dengan kepala tertunduk. Hal itu dilakukannya sejak tadi sore ia datang ke rumah sang kakak.


"Yu, sudah yu jangan menangis. Sampai kapan kamu akan begini?" Tanya Tari mengelus pundak sang adik karena ia merasa iba.


Ayu tak menjawab, hanya malah terdengar suara Isak tangis yang begitu memilukan.


"Wawan memang kurang ajar, bisa-bisa nya dibuat adikku seperti ini!" Geram Tari.


Ting.....Ting......


Terdengar sual bel pintu berbunyi, Tadi segera bergegas untuk membuka pintu. Tari yakin pasti yang adalah Wawan yang mencari keberadaan Ayu. Dan benar saja, saat Tari membuka pintu, terlihatlah batang hidungnya Wawan.


"Mau apa kesini?" Tanya Tari ketus.


"Kak......Wawan kesini mau cari Ayu."


"Gak ada, Ayu gak ada disini!" Bohong Tari.


"Ah kakak gak usah bohong, Ayu pasti ada disini!"


"Kalau iya kenapa?"


"Ya Wawan mau jemput Ayu pulang, Mba."


"Gak, gak boleh. Ayu disini aja, sekalian gak usah lagi pulang. Biar tinggal di rumahku." Kata Tari.


"Lo kak, jangan gitu dong. Biar bagaimanapun Ayu tetap istri Wawan."


"Wan, sadar gak sih kamu itu? Ayu hidup sama kamu itu gak pernah bahagia, Wan!"


"Kata siapa? Kalau Ayu gak bahagia sama aku, gak mungkin Ayu mau di ajak hidup susah." Ucap Wawan.


"Oh, jadi benar apa yang dikatakan Ayu, udah susah ngajak Ayu udah senang ngajak selingkuhan kamu!" Seru Tari sambil menyunggingkan senyum miringnya.


"Ma-maksud kak Tari apa, kak Tari nuduh Wawan selingkuh?" Tanya Wawan yang merasa tidak terima.


"Udahlah, Wan. Kamu ngaku aja!"


"Apasih, kak. Wawan ini suami setia buat adik kakak. Gak mungkin lah Wawan main serong." Ujar Wawan yang masih saja mengelak.

__ADS_1


"Masih nggak ngaku juga. Heh, Wan! Kemarin Ayu itu lihat kamu di restoran sama cewek."


"Udahlah, kak Tari gak usah ikut campur. Ini urusan rumah tangga Wawan sama Ayu. Minggir...!" Ucap Wawan lalu menerobos masuk.


"Ayu... Ayu... Ini aku, Yu...!" Teriak Wawan.


"Ada apa lagi kamu menemui ku?" Tanya Ayu dengan ekspresi wajah Datar.


"Pake nanya. Ayo pulang...!" Ucap Wawan kemudian menarik tangan Ayu tapi dengan cepat Ayu menepisnya.


"Cih, kamu nyuruh aku pulang cuma untuk masakin kamu? Nggak, aku nggak mau."


"Loh kenapa, kamu kenapa jadi gak nurut gini sama perintah suami?"


"Suruh aja selingkuhan kamu yang masak!"


"Apaan sih, kamu itu salah lihat. Itu rekan kerja aku...!"


"Rekan kerja tapi mesra begitu. Kamu pikir aku nggak lihat kamu cium dia...!" Seru Ayu.


"Bukan begitu, Yu. Kamu salah paham..!"


"Salah paham kamu bilang. Hei, aku lihat kamu dengan mata kepalaku sendiri...!"


Wawan mengusap wajahnya kasar, pria ini tidak tahu harus berkata apa.


"Pantesan kamu bilang nggak punya uang terus, ternyata kamu kasihkan sama selingkuhan kamu."


Wawan tidak menjawab, ia bingung harus mengatakan apa.


"Sebaiknya kita selesaikan dirumah saja...yu!" Ajak Wawan yang tak enak karena ada Ka Tari yang menanyakan.


"Jawab....!!!" Teriak Ayu membuat Wawan dan Tari yang menyaksikan terkejut.


"Empat bulan.." Ucap Wawan dengan wajah tertunduk.


Air mata Ayu kini jatuh kembali membanjiri pipi mulusnya saat mendengar pernyataan yang begitu pahit.


"Yu, maafkan mas. Mas Khilaf!"


"Khilaf, katamu mas! Kamu bilang khilaf!" Jerit Ayu tangisnya semakin pecah.


Bruk......


Wawan tiba-tiba bersimpuh memegangi kaki Ayu.


"Sayang tolong! Mas janji, mas tidak akan mengulanginya lagi!" Kini Wawan menangis tergugu dihadapan Ayu.


"Maaf mas aku tidak bisa."


"Hanya empat bulan, Yu. Kenapa kamu begitu marah?" Ucap Wawan di sela Isak tangisnya.

__ADS_1


"Mungkin jika aku tidak melihat mu hari itu. Apa kamu akan terus membohongi ku?"


"Maafkan mas, sayang..!" Ucap Wawan yang sudah kehabisan kata-kata.


"Aku kecewa sama kamu, mas. Aku sudah mau di ajak hidup susah sama kamu, aku nggak pernah menuntut apa pun ke kamu. Tapi kenapa semua itu kamu balas dengan pengkhianatan..!"


"Ayu, tenanglah...!" Ucap Tari yang menenangkan adiknya.


"Kak, tolong suruh dia pergi. Aku nggak mau lihat dia di hadapan ku." Ucap Ayu terbata-bata.


"Yu, kamu jangan begini. Kamu pulang sama mas aja ya, Yu..!" Bujuk Wawan.


"Kak...!" Pinta Ayu sekali lagi.


"Wawan, pergilah..!" Pinta Tari.


"Tapi Mbak.."


"Sudahlah, Wan. Mungkin Ayu perlu waktu untuk sendiri."


"Tapi Ayu harus ikut Wawan pulang, kak..!"


"Mengertilah, Wan. Kamu jangan egois seperti ini. Ini semua salah kamu yang udah buat adikku seperti ini. Sebaiknya kamu pergi dari sini!" Ucap Tari kemudian mendorong tubuh Wawan keluar dari rumahnya.


Tari pun kembali masuk kedalam rumah. Sungguh geram wanita ini melihat adik satu-satunya sekarang sangat terpuruk.


"kak, aku harus bagaimana sekarang?" Tanya Ayu yang bingung dengan rumah tangganya.


"Keputusannya ada ditangan kamu, Yu." Jawab sang kakak.


"Jika kamu ingin bercerai dari suami mu juga tidak masalah. Tapi, alangkah baiknya kamu pikir-pikir dulu..!"


Ayu diam, entah kenapa ada rasa tidak rela di hatinya saat kakaknya menyarankan untuk menceraikan Wawan.


"Semua keputusan ada di kamu, Yu. Sebab, kamulah yang disakiti." Ucap Tari sekali lagi.


"Aku... Aku akan memberikan mas Wawan kesempatan satu kali lagi. Tapi, jika dia mengulanginya lagi maka aku akan menceraikannya..!"Jelas Ayu.


"Apa kamu yakin, Yu?"


"Yakin. Lagipula hanya satu kesempatan."


"Baiklah, jika itu keputusan kamu. Kakak setuju." Ucap Tari.


"Kak, kakak jangan bilang sama ayah dan ibu tentang masalah ini." Ucap Ayu.


"Terimakasih, kak!" Ucap Ayu.


"Sama-sama."


Sementara kini Wawan pulang dengan membawa penyesalan dan rasa bersalah. Dia sangat takut jika Ayu akan menceraikan dirinya.

__ADS_1


Sepanjang jalan ia tak fokus menyetir motor sehingga motor yang ia Kendari tiba-tiba jatuh akibat menabrak lubang.


__ADS_2