
Tujuan ku hanya kost
kamarlah tempat tebaikku saat ini. tanpa menoleh lagi ke Mas Huesin ku percepatan langkah masuk kamar.
suara motor nya perlahan meninggalkan kost, hanya menyisakan luka tergores di relung hatiku.
tak dapat ku pungkiri kalau beberapa bulan ini Mas Husein mampu membuat ku semangat menjalani hari-hari di kota ini.
deg...
langkahku terhenti saat ku lihat Jihan sudah duduk di depan kamar dengan muka kucel banget.
" Jihan ngapain kamu duduk dibawah situ? "
seruku membuat Jihan kaget
" Aku nginep dikost malam ini ya Dee " pintanya memelas
" iya, ayok masuk " ku buka kunci kamarku dan ku ajak Jihan masuk untuk beristirahat
" kamu kenapa Ji? kucel amat, belum mandi pasti? " ucapku basa basi
" Dee, ada hubungan apa kamu sama Mas Husein? "
pertanyaan Jihan membuatku terdiam, aku gak kaget kalau suatu hari nanti Pertayaan ini akan keluar dari mulut Jihan
" kamu sudah tau ? pasti Abah yang cerita ke kamu? " jawabku sinis
" iya, Abah sudah cerita semua tentang hubunganmu sama Mas Husein, kok kamu tega sih sama aku Dee, kamu tau kan kalau aku mempunyai harapan untuk bersama Mas Husein "
" Ji, aku gak tau kalau yang kamu maksud selama ini adalah Mas Husein, pertama kali tau pas kamu kenalin aku di wisuda Mas Husein, tau gak Ji sebelum wisuda Mas Husein aku dan Mas Husein udah jadian "
" kalau sudah tau kok kalian gak bubaran saja? "
" alasan apa kita harus bubar an ? kita gak ada masalah "
" kamu kan tau kalau aku dan Mas Husein udah di jodohin sama Abah?"
" iya, aku tau kalau kalian di jodohkan , Aku pun juga tau kalau Mas Husein menolak perjodohan itu "
" oh kamu merasa menang Dee, kamu merasa kalau Mas Husein lebih memilih mu?, Aku yakin Mas Husein tidak akan menikahi mu tanpa restu Abah " ucapan Jihan mengejeku
" Allah Maha membolak - balikan hati manusia Ji, suatu hari nanti Abah pasti merestui kami "
" jangan terlalu yakin dewi, aku kenal Abah dari aku masih bayi, Abah tidak pernah ingkar akan janjinya apalagi janji pada sahabat yaitu Abiku, sekuat apapun kamu dan Mas Husein mengupayakan aku yakin kalian gak bakalan mampu merubah keputusan Abah ".
" aku akan berusaha mendapatkan restu Abah demi kebahagiaan Mas Husein karna aku gak mau Mas Husein mendapatkan perempuan seegois kamu, perlu kamu tau Mas Husein nyaman bersama ku "
" kok bisa aku memilih mu untuk manjadi bagian dari hidupku, aku menggapmu seperti saudara ku sendiri bahkan aku lebih membela mu ketimbang adikku sendiri. apa balasanmu seperti ini Dee " nada bicara Jihan kali ini sudah lebih turun 1 oktaf dari pada barusan
" Jihan aku tidak bersalah dalam hal ini, karna yang aku tau dari dulu Mas Husein tak pernah memilihmu, kecuali Mas Husein pernah mencintaimu, tanpa kamu meminta aku pasti tinggalkan dia buatmu "
__ADS_1
" percuma bicara sama kamu "
" Aku pada pendirian ku Ji, tak kan melepaskan Mas Husein buat kamu kecuali Mas Husein yang memilihmu sendiri atau Mas Husein yang menerima keputusan Abahnya "
" Akun juga pada keputusan ku, aku tak kan meninggal kan Mas Husein apapun yang terjadi "
Jihan keluar dari kamarku dengan amarah, dibanting keras- keras daun pintu kamarku. suara nya sangat keras sampai membuat penghuni kost pada keluar karna penasaran pengen melihat yang terjadi.
aku tarik napas dalam-dalam mencoba menenangkan diri sendiri.sesak sekali hati ini, mengapa harus Jihan yang menjadi lawanku saat ini. Sahabat ku sendiri seseorang yang selalu baik padaku. seorang sahabat yang selalu mengingat kan ku saat aku salah begitu juga sebaliknya, aku selalu ingin Jihan menjadi kebanggaan keluarga.
ting1
SMS masuk, nomer asing lagi
( Dee, besok aku ke Semarangn)
(kamu bisa ikut ngumpul gak? )
( aku gak biasa kutemu sama orang asing)
( Vita orang asing ya buatmu?")
( Oalah Vita, nomer baru?
( sayangnya aku bukan Vita)
( ????? )
aku tak ingin membalas SMS nya lagi, yg jelas pemilik SMS itu adalah Ibrahim. teman yg dikagumi Vita. sosoknya sungguh membuat orang terkesima saat melihat, dia tercatat di Universitas swasta di Kota Jogja. beberapa hari yang lalu aku sempat menanyakan kabarnya. sosok yang unik menurut ku. kecerdasan nya mampu membuat orang menghormati nya. tapi gayanya yang acak-acakan membuat ku sedikit nggan melihatnya. padahal kata Vita, cowok ini sangat tampan. hidung mancung ala Italia, kulit sawo manteng yg membuat nya semakin gagah, rambut gondrong ikal yang selalu di kuncir membuat nya terlihat keren.
beberapa kali Ibrahim sering menghubungi ku, dia cukup enak di ajak ngobrol.apalagi Ibrahim tau banget soal musik dan kebetulan anak band. sebagai gitaris sebuah band dia banyak tau tentang gitar. beberapa kali mengajakku ke pameran gitar saat aku berlibur di Jogja.
walaupun gayanya ngerock banget tapi secara spiritual dia termasuk seseorang yang taat beribadah.
kalau boleh jujur Ibrahim sosok ideal yang ku impikan.
ahhh sudahlah Mas Husein lebih mempesona dari Ibrahim. lagian mana mungkin aku bersaing sama Vita, bukan takut kalah sih, secara aku dan Vita kan lebih cantik an aku tapi biarkan Vita memperjuangkan Ibrahim, siapa tau Ibrahim mau.
"Teteh Dewi ada mas-mas tinggi, ganteng dan rambut nya gondrong nyariin Mbak Dee" ucap Mbak Mila pembantu Ibu kost
"bilang saja aku dah berangkat ke kampus" jawabku mencoba menghindari Ibrahim
" tapi Teh kasihan mas seganteng itu di cuekin"
" ya udah Mbak Mila saja atuh yang temani"
" serius nih? gak nyesel kalau ternyata Mas gantengnya nanti jadi akrab sama Mila? "
"ngapain nyesel, udah sok atuh diambil saja?"
pergi juga akhirnya Mbak Mila, dari balik tirai jendela ruang tamu ku intip yang sedang terjadi di teras. ku lihat raut wajah Ibrahim yang kecewa karna tidak bisa bertemu denganku.
__ADS_1
Sebenarnya ada rasa tidak tega, jauh-jauh dari Jogja malah ku tolak bertamu. maaf ya Ibrahim. aku gak mau Mas Husein salah paham kalau melihat mu di teras bersama ku.
derrttt... derrtttt.... deerrttt...
HP ku bergetar, ku raih HP dan ku lihat Ibrahim menelpon ku.
ada perasaan ragu namun rasa kasihan justru memaksaku mengagkat telponnya
" assalamu'alaikum " suara dari sebrang dan aku hafal sekali suara ini
" waalaikum salam, iya Ibrahim gimana? "
" aku dah di kost mu, tapi kata Mbak Mila kamu dah ke kampus "
" ohhh... iya nih aku dah di kampus "
" ya udah ku susul ke kampus "
HP di matikan sepihak tanpa salam. Ibrahim berlari kecil keluar gerbang, di stater motor nya berkali kali tapi seperti nya belum berhasil menyala, masih ku intip dari balik tirai ruang tamu. terlihat jelas peluh menetes, kasihan Ibrahim tak tega membiarkan nya kesusahan seperti itu. tapi lagi-lagi rasa ini menahan ku untuk keluar. namun tanpa ku minta tolong Mbak Mila keluar lagi menghampiri Ibrahim
" macet ya Mas?" tagur Mbak Mila
" iya mbak, padahal bensin masih banyak, kayanya businya kotor "
" kurang lebih sekitar 300 meteran dari sini ada bengkel tuh Mas! " terang Mbak Mila
" oh iya mbak, aku kesana saja lah, makasih ya mbak Cantik "
heeemmm sifat playboynya bisa dengan tetiba muncul meski dalam keadaan kepepet sekalipun.
ku lihat Mbak Mila cuman senyum-senyum... sambil memperhatikan Ibrahim mendorong motornya.
segera ku hampiri Mbak Mila yang masih tersipu malu mendengar pujian Ibrahim.
" yeeee yang habis di bilang cuantikk" ucapku membuat mbak Mila malu
" ehh Teteh bisa saja, itu teh temannya ku suruh ke bengkel saja biar bisa di benerin motornya. oh ya teh perasaan kok belum pernah lihat Mas ganteng itu ya? hayooo siapa nih?" tanyanya menyelidik
.
" itu Ibrahim Mbak, rumahnya Jogja temanya Vita"
" ohhh Mbak Vita punya teman seganteng itu, kok Mas ganteng mau ya sama Mbak Vita?" ucapnya dengan polos
bikin geli dehh..
" Mbak Mila mah gitu, ya bisa lah Mbak, geledek ya ?" aku paham bangeet apa yang di pikirkan Mbak Mila
Ibrahim memang cakepp benget, dada bidang, tubuh atletis kulit sawo mateng, hidung mancung, rambut gelombang kalau di perhatian mirip orang Itali kayak Del Piero...
Andai saja sebelum ini aku bertemu dengan mu mungkin aku akan tertarik padamu, ah tidak-tidak Mas Husein lebih mengoda dari pada Ibrahim. Tak kan ku berpaling pada yang lain meskipun ku tau kisah yang akan kita lalui tak kan mudah di lewati.
__ADS_1