Jangan Terima Aku Apa Adanya

Jangan Terima Aku Apa Adanya
Doa Ibrahim


__ADS_3

Sabtu pagi yang gerimis mengguyur kota Semarang dan sekitarnya.aku menikmati pagi yang tenang ini.


aku adalah pecinta gerimis karna gerimis mampu menghadirkan sebuah kehangatan dan menjauhkan kebisingan dari hiruk pikuk lalu lalang anak manusia.


" Mbak Dewi ada temannya "


Suara Mbak Membuat ku keluar kamar, hari ini aku janjian sama Mas Husein mau menemui Mbak Siska dikost nya.


" Ayo... "


Aku membonceng, tak lupa sebuah jas hujan warna merah sudah menyelimuti tubuhku dari gerimis pagi ini


Cara Mas Husein memperlakukan ku kadang membuat ku tak nyaman, dia terlalu dingin.


Mbak Siska udah nunggu kami di teras depan kostnya


" Mbak Siska apa kabar? sudah lama gak jumpa "


" alhamdulillah sehat Dewi, kamu gimana? ada apa kok tumben inget aku "


" yeee, mbak Siska jelas lah aku inget, Oh ya mbak kenalin ini Mas Husein temanku "


" Hai Husein, aku Siska "


" Husein "


pelit amat Jawaban nya


" gini mbak aku ke sini sebenarnya mau ngajakin mbak bisnis, mau gak mbak jadi Mitra usaha Mas Husein?"


" wah sepertinya menarik Dee, mau-mau, bisnis apa emang nya?"


" Alhamdulillah, syukur mbak mau bermitra, Mas Husein tuh punya usaha, beberapa bulannyang lalu dia mulai usaha menanam aloe Vera dan sekarang bisa di panen, hanya saja beberpa tengkulak tidak jadi ambil di Maas Husein karna ambil di tempat lain yang harganya lebih murah walaupun secara kualitas lebih masih di bawah dari milik Mas Husein. nah kami rencana mau mengolah aloe Vera itu sendiri mbak untuk menjadi produk makanan siap saji, kan Mbak Siska lulusan tata boga mungkin mbak Siska punya formula untuk mengolah aloe Vera ini"


" kira- kira dibuat jadi apa ya?"


" kalau nata de aloe Vera gimana mbak "


" oh iya ya, bisa- bisa, untuk peralatan nya gimana dee?"


" untuk alat-alatnya nanti akan kami sediakan Mbak"


" oke deal, makasih atas kerja samanya, smoga usaha ini akan lancar, amiin "


" makasih ya mbak, besok kita akan mulai, kita belanja alat yang dibutuhkan setelah itu kita tinjau aloe Vera di kebun "


akhirnya lelakiku yang selalu dingin bicara juga


" besok aku hubungi lagi Mbak, kami pamit dulu "


aku minta pamit, karna masih banyak lagi yang harus kun lakukan pagi ini.


" Mas aku langsung ke kost ya? " pintaku


" Ammi mau ketemu kamu "


" Ammi? gak salah dengar kah aku?"

__ADS_1


" gak, Ammi mau bicara empat mata sama kamu, kamu di minta ke rumah mumpung Abah lagi ke Surabaya "


Aku bimbang, bukan karna mau ketemu Ammi tapi aku mau ketemuan sama Ibrahim, karna sore nanti Ibrahim balik ke Jogja. mana yang harus ku dahuluin? Ammi atau Ibrahim?


" kalau nanti malam aku temui Ammi gimana Mas? rencananya habis ini aku mau ke tempat Lydia soalnya ada tugas dari kampus dan date line nya hari senin"


" katemu Ammi dulu aja, untuk tugas-tugasmu aku yang bantuin jadi gak perlu ke tempat Lydia buat cari referensi"


" tapi Mas, dirumah Lydia kan ada perpustakaan mini aku bisa cari buku apa saja yang bisa ku pakai sebagai sumber referensi ku "


" kamu lupa kalau aku kakak tingkahmu?"


" banyak buku di rumah yang bisa kamu pakai, sekalian ketemu Ammi di rumah "


" Mas... sory nanti malam ajah ya? gak enak udah janjian sama Lydia " pintaku


" terserah "


dia melangkah meninggal kan ku di depan kost Mbak Siska dia marah ke aku, sedangkan aku masih diam pada posisi saat ini, aku tak bergeming tak mencoba mengejar atau pun menghentikan saat dia menstater motor nya.


Mas Husein benar-benar pergi meninggalkan ku disini tanpa ada kekhawatiran sedikit pun. ku hela nafas panjang, lelah dengan sikapnya.


ku kirimkan SMS ke Ibrahim


( kutunggu di kost)


ting2


( ok setengah jam lg)


Tak seperti hari biasa kali ini tak banyak yang naik angkot, hanya ada 3 orang saja termasuk aku. ada rasa sesak terlintas jika teringat sikap-sikap Mas Husein akhir-akhir ini masih ku sabari karna aku ingin membuktikan ke keluarga nya kalau aku mampu menjadi pendamping ideal buat Mas Husein dan keluarga nya.


sedikit berlari kecil setelah turun dari kost sudah hampir setengah jam aku berada di angkot. syukur Ibrahim belum datang, jadi aku punyanya waktu buat bikin kopi dan menggoreng pastel basah kesukaan nya, tadi pagi sebelum subuh sudah ku bikin pastel special buat Ibrahim.


sayup-sayup ku dengar suara motornya, dengan semangat ku sambut dengan secangkir kopi dan sepiring pastel


" kejutan, nih pastel kesukaan mu" kuletakkan pastel dan kopi di meja.


" wahhh makasih makasihh, enak ini, langsung ku makan ya? " pintanya


" sok atuh di makan saja, boleh kok kalau mau di habiskan "


" mantap Dee, ini enak sekali " puji nya sambil melahap pastel.


" pelan-pelan makannya, masih banyak gak ada yang minta "


sepertinya omonganku di cuekin, dengan santainya dia melahap pastel di piring.


" Dee, rencananya semester ini aku wisuda, kemarin udah sidang skripsi, alhamdulillah tidak banyak yang di revisi jadi bisalah 2 bulan ini ku pakai buat menyelesaikan revisi dan Persyaratan-persyaratan wisuda " ceritanya


" alhamdulillah... selamat Ibrahim, semoga kedepannya diberikan kelancaran "


" amiin, emmm mau jadi pendamping wisudaku ?"


aku tertegun menatap Ibrahim, benarkah yang barusan di ucapkan?


" trus Arini gimana?"

__ADS_1


" oh iya, kadang aku lupa kalau aku dah punya Arini kalau udah di dekatmu. pesonamu tak bisa ku tolak, jujur Dee kamu terlalu indah untuk ku abaikan".


" pinter banget ya ngegombalin gitu "


" serius mana berani ngegombalin kamu, seremmm "


aku tertawa mendengar ucapanya, selalu saja ada tawa saat bersamanya, kamu juga terlalu sempurna untuk bisa ku hindari Ibrahim, tidak-tidak ada Mas Husein yang selalu mempesonaku.


" yaudah gak papa kamu gak mau jadi pendamping wisudaku, tapi ku pastikan aku lah yang akan mendapingimu di wisuda mu nanti "


" gak mungkin, aku mau Mas Husein yang mendampingku "


" aku yakin ucapan adalah doa, kita lihat saja nanti, Husein mu gak bakalan mendampingi mu ".


" sok tau, jangan mendahului takdir gak baik "


" gak mendahului takdir aku hanya berdoa siapa tau doa tulus ini dikabulkan "


" ku pastikan doamu gak bakalan terkabul "


Sebuah pertandakah kalau nanti Mas Husein datang ke wisuda kami bukan buat aku tapi buat Jihan. tidak-tidak aku akan memperjuangkan Mas Husein dengan sekuat tenaga dan pikiran, aku pasti kan bisa mendapatkan restu Abah dan Ammi.


" kok diem Dee?, atau jangan-jangan kamu sedang diam-diam meng-Amiinkan doa ku barusan?"


" jangan terlalu mengharap, mungkin pas wisudaku kamu sudah mendapatkan gelar suami "


" iya suami dari Riyanti Dewi Firmansyah putri bapak Rahman Firmansyah"


" Hati-hati berucap Ibrahim, gak baik pamali itu. Kamu sudah bertunang dengan Arini dan aku sudah memiliki komitmen bersama Mas Husein "


" Apalah arti sebuah pertunangan, kita tak pernah tau pada siapa raga dan jiwa kita berlabu, Mungkin suatu saat nanti doa-doaku akan terkabul, walaupun harus melewati hidup berumah tangga bersama Arini terlebih dahulu ".


" Jangan memperlakukan aku seperti ini, aku bukan lah orang yang tak memiliki nafsu untuk berpaling. caramu memperlakukanku membuatku berfikir untuk meninggalkan Mas Husein, jujur kamu lelaki yang nyaris sempurna di mataku "


" Dewi... manjamu, kejailanmu bahkan marahmu pun indah di mataku. kamu terlalu istimewa untuk tak ku perjuangan kan " ucapnya membuat ku luluh


ku sandarkan kepala di pundaknya, hanya sekedar melepas beban.


" jangan naif De, kalau tak nyaman lepaskan Husein"


ucapan itu keluar juga dari mulut Ibrahim. dengan tegas dan penuh keyakinan Ibrahim memintaku.


" aku gak naif, aku tau betul apa yang ku pilih. akal sehatku masih berfungsi dengan sangat baik"


" baiklah kalau Ucapmu didasarkan pada sebuah keyakinan dan akal sehat, apapun masalahmu dengan Husein, jika tak sanggup lepaskan saja. tak perlu memperjuangkan yang tak pantas diperjuangkan "


" aku akan memperjuangkan Mas Husein, karna dia pantas ku perjuangkan dan aku mencintainya"


ucapku seraya menjauhkan kepalaku dari pundaknya.


" Terima kasih untuk semua perjuangan mu jauh-jauh dari Jogja, tak pula ku pungkiri kamu mampu membuatku sedikit mengeser posisi Mas Husein, jika kelak doa mu dikabulkan aku pasti bangga menjadi pilihanmu tapi bila doa mu tak terkabulkan ingatlah kalau aku pernah membayangkan menjadi kekasih mu "


tak sedikit pun ada penyesalan dari ucapanku barusan, aku tak mau di perlakukan tak jelas oleh Ibrahim.


" oke, untuk hari ini aku terima keputusanmu tapi tidak untuk pertemuan setahun lagi, aku akan membuatmu tak memiliki pilihan selain aku untuk menemani wisudamu ".


Perlahan dia Ibrahim pergi meninggalkanku...

__ADS_1


__ADS_2