Jangan Terima Aku Apa Adanya

Jangan Terima Aku Apa Adanya
Tega Kamu Mas Husein


__ADS_3

Malam ini cuaca sedang cerah, ku lajukan motor ku ke


kediaman Pak Abdurrahman. tak ada ragu sedikit pun menghadapi nya sampai saat ini aku masih berpositif thinking terhadap beliau. ntah nanti aku, tak punya kendali atas apa yang akan terjadi selanjutnya.


" Assalamu'alaikum " ucapku


" waalaikum salam " jawab Pak Abdurrahman dan Mas Husein berbarengan.


ku edarkan pandangan menyapu ruang tamu


" masuklah Dewi, duduklah "


ku ambil posisi berhadapan dengan beliau dan duduk disamping Mas Husein.


" Terima kasih kamu sudah datang memenuhi undangan ku Dee "


" apa yang Bapak ingin bicarakan? "


tanyaku menyelidik


" maafkan Abah, Dewi...


bukan maksud Abah tak menerima mu menjadi menantu Abah. sejujurnya Abah dan Ammi sangat bersyukur mengenalmu. gadis cantik, mandiri dan pandai, sangat pas buat anak ku Husein ".


sejenak Pak Abdurrahman terdiam, mangambil nafas panjang untuk menutupi sesak yang menyelimuti nya.


" tapi Abah dan Ammi tak berdaya atas sebuah janji yang pernah Abah buat, Abah pernah berjanji akan menikah kan Husein dengan putri sahabat Abah itu yang tak lain adalah Jihan. saat itu Jihan masih kecil dan Ayahnya meninggal. Abah lah yang menjadi pengganti Ayahnya, Abah berharap Husein akan menerima Jihan seiring berjalannya waktu. ternyata Abah salah, Husein tetap tak mau menerima pilihan Abah "


" saya tahu niat baik anda, tapi apa Bapak tega melihat kami harus berpisah atas sebuah paksaan "


" iya Nak Dewi Abah sadar akan hal itu, tapi... "


kalimatnya terhenti, seraya beliau memejamkan mata.


melihat kondisi beliau yang tertekan ada iba yang melintasi di pikiran ku.


" sudahlah Pak, saya tidak tertarik mendengar kan Bapak memberi alasan apapun "


" Abah tidak sedang beralasan, Abah hanya ingin melepaskan beban yang sajak awal mengantui. Abah merasa bersalah seandainya Husein tak bahagia bersama Jihan "


aku tersenyum sinis penuh kemenangan


" kita tidak bisa memprediksi masa depan Pak, siapa tau Mas Husein pelan-pelan bisa menerima Jihan, jujur saya terluka tapi saya juga tak mau memaksa kan keadaan. Mas bagaimana denganmu? "


" Dewi... aku yakin kamu akan berfikir bijak dalam persoalan ini, kamu tau aku sangat menyayangi mu. maaf Abah tak pernah sedikitpun aku ingin menganti Dewi dengan siapapun termasuk Jihan "


" keputusan mu Mas? ".


" kita berjuang lagi Dee "


" bukan kita mas, tapi Mas Husein yang harus memperjuangkan aku, bisakah kita menikah tanpa restu Abah mu?"


pertanyaan ku membuat keduanya terbelalak tak percaya,


bisa-bisanya kata- kata ini meluncur begitu saja dariku


" tidak Dee, meskipun aku sangat menyayangi mu tapi restu Abah mutlak bagiku. aku memang lelaki yg bisa menikah sendiri tapi izin Abah adalah wujud penghormatan ku pada nya".


" maaf Mas cukup disini aku memperjuangkan hubungan kita, aku melepas mu untuk menantu pilihan Abahmu. bebaskan aku dalam ikatan ini. kita sampai disini "


keheningan menyelimuti ruangan ini, kami larut dalam pikiran masing-masing.


" aku pamit Mas, besok pagi aku pulang ke Bogor. Terima kasih pak Abdurrahman atas kejujuran Bapak

__ADS_1


aku pastikan hadir di pernikahan kalian. aku janji sama Jihan kalau dia menikah aku yang akan menjadi pengiringnya "


mataku sudah berkaca-kaca, sesakit ini kah melepaskan mu Mas? Laki-laki yang selalu membuatku terpesona.


aku tak mampu bangit, selemah ini kah aku?.


ku perhatikan Mas Husein hanya menunduk diam terpaku pada tempatnya. ntah apa yang di sembunyikan dari ku.


begitu pula Pak Abdurrahman beliau hanya terdiam merasa bersalah atas kejadian ini.


aku bangkit dari kursi, melangkah tanpa beban. mungkin ini akhir cerita tentang lelaki yang mempesona itu...


....... ...... .....


Stasiun Tawang sudah ramai, selepas shalat subuh aku bergegas menuju stasiun. pagi ini Gumarang berangkat pukul 06.00 pagi dengan tujuan akhir stasiun Jakarta Kota.


Di kursi panjang di ruangan tunggu, ku sandarkan tubuh lemahku. ada banyak kegundahan.


" Bolehkan aku menemani pagimu Dee? "


suara ini sangat familiar buatku, tak ingin ku mencari sumber suara itu.


" Keputusan mu semalam membuatku gila Dewi " curhatnya


" maaf Mas, aku tak mau hubungan ini berlarut larut hingga tak memiliki ujung ceritanya "


" kita masih bisa berjuang Dee "


pintanya


" jangan naif Mas, kamu tau kan kondisi kita saat ini. kecuali kita menikah tanpa restu Abahmu " tantangku


" sudahlah sekarang kamu pulang saja, turuti apa mau Abah dan Ammi mu, aku mau pulang keretaku akan segera berangkat "


......... .......... .........


" Dewi... "


panggilan Ayah memecahkan lamunanku tentang beberapa bulan yang lalu. sudah hampir 6 bulan aku meninggal kan Semarang.


Sejak pertemuan terakhir dengan Mas Husein di stasiun Tawang dulu aku tak pernah saling berhubungan dengannya.


luka ini terlalu dalam.


" iya Ayah, ada apa? "


sahutku seraya bergegas menghampiri beliau


" Tadi pagi Ayah lupa, nih ada undangan buat kamu "


" dari siapa? "


" Jihan "


degghhh, segera ku raih undangan itu. masih dengan tangan bergetar. " secepat ini kah kamu benar-benar meninggalkan ku Mas " gumamku.


" Jihan, teman kuliahmu yg rumahnya Semarang ? "


" iya, yah "


" menikah dengan siapa? "


" ini baru mau dibuka undang nya, aku bacakan ya Yah "

__ADS_1


" Menikah Husein Mumtaz Abdurrahman dengan Jihan Shafira "


" Husein? " tanya Ayah menyelidik


" iya, mas Husein Mitra kerja Dewi yah "


" oh iya... Ayah inget. kamu ikut tanam modal di perusahaan Husein yang itu kan? " .


" betul sekali Ayah "


" untuk menjaga hubungan baik dengan rekan bisnismu, kamu harus datang Dee. sebuah kewajiban kalau di undang seseorang harus datang, apalagi undangan pernikahan, banyak berkahnya atuh neng. siapa tau habis dari sana kamu bisa segera menyusul mereka ".


" ihh Ayah, calon saja Dewi belum punya "


" Ayah doakan, anak gadis Ayah yang cantik ini segera mendapatkan jodoh "


" amiin, nuhun Ayah "


Sebuah harapan tulus dari seorang Ayah untuk anak gadisnya.


Awal membangun bisnis aku memang menamankan modal 30 persen selebihnya 70 persen milik Mas Husein dan


setiap bulan pula bagian personalia mengirimkan laba perusahaan ke rekening ku.


" tega kamu Mas ".


isakku dalam duka, malam ini masih hujan, yang awalnya gerimis sekarang menjadi hujan lebat.


derrtt derrttt


ku raih handphone, terlihat nomer baru berada jalur pangggilan.


" assalamu'alaikum Riyanti Dewi, ini nomer baruku. Apa kabar ? " ucap si pemilik nomer baru


" maaf dengan siapa ini ". jawabku


" Ibrahim, lupa ya? "


" Ibrahim, apa kabar kamu. tumben menelpon, kirain sudah lupa sama aku??"


" emm kabarku baik, iya nomerku error akhirnya ganti nomer baru. ini Riyanti aku hubungi kamu mau nawarin gawean, mau ndak ? " tawar Ibrahim


" gawean apa? "


" editor majalan, koran dan buku ".


" boleh... boleh dimana gaweane? "


" Yogyakarta, gimana mau ndak "


" aku obrolin sama Ayah dan Ibu ku dulu ya, kalau boleh aku segera meluncur ke Yogyakarta ".


" oke di tunggu "


tanpa menutup telp sambungan nya sudah terputus


padahal aku mau tanya tentang Arini.


sepertinya aku memang lebih baik menerima tawaran Ibrahim, setidaknya aku punya kegiatan. kalau urusan keuangan aku tidak masalah selama bisnis yang di jalankan Mas Husein aman, pasti pundi- pundi keuntungan akan selalu ditransfer.


seminggu lagi pernikahan itu akan diselenggarakan, sebuah duka menyelimutiku. air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya pecah bersama isak tangis tak tertahan kan.


mengapa aku kacau begini, padahal aku sendiri yang sudah mengambil keputusan saat Mas Husein menawarkan berjuang lagi, aku tolak tawaran itu seolah olah aku mampu tanpanya. hingga detik ini jujur saja aku tak ingin mengantikanya dengan siapapun. aku masih tak rela jika Jihan memiliki nya.

__ADS_1


aku mesti datang di pernikahan itu, aku tidak ingin terlihat lemah dihadapan Mas Husein dan Jihan. ini bukan tentang janji ku beberapa bulan yang lalu pada Jihan, tapi tentang harga diriku. aku ingin melihat Mas Husein menangis dalam diam atas kehadiran ku. memastikan bahwa di tidak sedang baik-baik saja tanpaku selama 6 bulan ini. membuktikan pada Pak Abdurrahman kalau aku perempuan mandiri, tegar dan tak pernah menyerah pada keadaan sekalipun posisi ku terhimpit.


__ADS_2