
Tak kan ku biarkan siapapun merantai pikiranku, merampas kemerdekaan berfikirku apalagi mengendalikan ku. Tidak Mas Husen apalagi Ibrahim. Aku memiliki keputusan untuk hidupku.
ku raih Hape
ku SMS Mas Husein
( habis isya aku ke rumah)
( gak usah di jemput)
( Abah belum balik kan?)
ting...
SMS ku di balas Mas Husein
( iya ku tunggu)
Ku hela napas panjang... melepaskan penat sejenak.
aku tak boleh melemah aku perempuan kuat, aku tak mau dipermainkan orang-orang di sekitar ku.
Selepas Isya aku berangkat ke rumah Mas Husein,
tak butuh waktu lama karna jarak kost ku dan rumah Mas Husein tidak terlalu jauh.
" Assalamu'alaikum... " ku ketuk pintu, tak lama Hana membuka pintu untukku
" Teh Dewi... wah senang banget aku melihat mu datang ke rumah. Ammi... Mas Husein ini nih yang kita tunggu sudah datang " panggil Hana, tak lama ku lihat wajah cantik Ammi menyambut dengan senyum bahagia.
" masuk Dee, Ammi menunggumu dari tadi "
" maaf Bu, tadi mengerjakan tugas kampus dulu soalnya senin mau di kumpulkan " gugup juga bagi seseorang yang tak biasa berbohong
" gak papa, kamu datang saja Ammi sudah senang. jangan panggil Bu, panggil Ammi "
" iya Bu, ehh Ammi "
Ammi mengajakku duduk disofa ruang keluarga, rumahnya sangat besar, terdiri dari dua lantai. penataan ruang yang begitu apik dan sangat bersih. cat rumah ini berwarna kuning gading, terkesan hangat dan mewah.
di ruang keluarga hanya ada 2 sofa dan televisi, didinding tepajang sebuah foto keluarga dengan ukuran yang cukup besar. ku perhatikan foto itu ada Abah,, Ammi, Mas Husein dan Hana.
" Dewi, sebenarnya Ammi sangat menyukaimu " kalimatnya tertahan seperti ada sesuatu yang di tutup-tutupi.
" setiap hari Husein selalu bercerita tentang mu, Hana pun demikian. Ammi tau Husein mengiginkanmu menjadi istrinya tapi masalahnya Abah tidak pernah setuju akan pilihan Husein dan Husein pun tak pernah mau menerima Jihan sebagai menantu pilihan Abah ".
" Iya Ammi saya tau kalau Pak Ali Abdurrahman tidak menyukai ku, tapi setidaknya berikan lah kami waktu untuk berjuang meraih restu keluarga ini "
pintaku penuh ketulusan
" Ammi selalu memberikan restu buat kamu dan Husein, dari awal Ammi tau tentang mu Ammi sudah setuju kalau Husein memilihmu, Dewi... Ammi titipkan Husein padamu, jangan biarkan Husein menjadi pemurung lagi. berjuanglah meraih restu Abah. kebahagiaan Husein adalah kebahagian Ammi "
" Maaf Ammi ada ucapan Ammi barusan yang ingin saya tanyakan"
" apa itu? "
__ADS_1
" murung lagi? bukanya karakter Mas Husein memang demikian. pendiam, cuek, penyendiri dan cool "
" iya Dee, tapi setelah kepergian Fatimah Salma dia jadi lebih pendiam, suka melamun dan jarang keluar kamar. semangatnya mulai lagi setelah bertemu dengamu, adik maba nya yang mengusik tidurnya "
" siapa Fatimah Salma itu Ammi? saya tidak pernah mendengar nama itu dari Mas Husein "
" oh... jadi Husein belum cerita tentang Fatimah, Fatimah itu pacar Husein meraka teman satu angkatan di jurusan yang sama, berarti kakak tingkatmu juga. Dia selalu mensuport Husein dalam segala hal. tapi takdir berkata lain. Fatimah Salma sakit dan meninggal setelah satu tahun berjuang melawan penyakit nya"
aku tertegun mendengar Ammi bercerita.
" Husein sangat terpukul setelah kepergian Fatimah, dia menjadi sangat dingin terhadap perempuan, sampai akhirnya dia melihatmu dan jatuh cinta padamu "
" kok Mas Husein tidak pernah cerita ya Ammi? "
" mungkin cari waktu yang tepat cerita tentang Fatimah Salma "
Tak ada rasa marah ataupun cemburu saat Ammi cerita tentang Fatimah Salma, mungkin karena yang kami bicarakan sudah tiada.
" Ammi meminta mu kesini mau minta tolong "
" minta tolong apa Ammi? "
" Ammi minta kamu bersedia menjadi istri Husein "
Aku diam sejenak,
" apa maksud Ammi bicara seperti ini? bukannya selama ini Ammi tau kalau Abah sudah memilih Jihan menjadi manantu pilihan "
" iya,... tapi Ammi tidak mau mengorbankan Husein untuk memuaskan ambisi Abahnya, Ammi tau dari awal Husein sudah menolak perjodohan ini, buktinya dia lebih memilih kamu".
" Maaf Ammi, bukan Saya tidak mau menerima tawaran yang baik ini. tapi saya pengen melihat cara Mas Husein memperjuangkan saya terlebih dahulu, memperjuangkan saya di depan Abah ".
" Dewi... Ammi udah berbaik hati menerima kamu apa adanya " sahut Mas Husein yang tiba-tiba datang mengagetkan ku
" Maksudnya? " sebuah tanda tanya yang menyakitkan, apa menerima ku apa adanya... oh tidak aku bukan seorang anak manusia yang tidak memiliki sebuah kelebihan sampai-sampai Mas Husein bilang menerima apa adanya.
" Ammi apa maksud kata-kata Mas Husein barusan? " kali ini pertanyaan ku ajukan pada Amminya
" Dewi kalau boleh jujur apa yang Ammi lakukan saat ini semata-mata hanya untuk Husein, dibandingkan dengan Jihan kamu masih kalah jauh. Jihan lebih cantik, keluarga lebih terhormat dan terpandang ".
deg... Kata-katanya sungguh menyakiti, gak sepantasnya sebagai seorang Ibu beliau berkata seperti itu.
tak perlu rasa-rasanya berlama-lama disini, kuambil kunci motor dan pergi dari tempat ini.
" gak seharusnya kamu berkata seperti itu Dee, apa susahnya mengiyakan permintaan Ammi? "
" Mas... gak segampang itu menjadikanku sebagai istrimu, aku butuh kamu perjuangkan di depan Abah dan Ammimu. jadikan beliau bangga memilikiku sebagai menantu nya. Jangan Terima aku apa adanya karna aku bukan seseorang yang lemah dan tak memiliki kelebihan apapun. aku sadar aku gak secantik Jihan, aku juga tau keluarga ku tak sekaya keluarga Jihan. tapi kami punya harga diri. perkataan Ammimu adalah tantangan tersendiri buatku"
sejenak aku terdiam, ku tarik napas panjang untuk menenangkan diri.
" Terima kasih Ammi sudah mengundang saya kesini, saya pamit ".
ku raih tangan Ammi dan mencium punggung tengan beliau.ingat pesan Ibuku semarah-marah nya aku, aku tidak boleh berlaku tidak sopan terhadap orang tua.
Dengan tenang ku tinggalkan rumah mewah ini. air mataku terlalu berharga untuk menangisi hal seperti ini.
__ADS_1
" Teh Dewi.. maafin Ammi ya " kejar Hana menghentikan langkahku.
" gak papa Hana, Ammi mu berkata benar. sudah ya... aku mau pulang "
aku pamit pada Hana, gadis manis itu merasa tak enak. aku yakin kalau Amminya tau kalau Hana berpacaran dengan Aa Aryo wah Amminya pasti marah besar.
sepanjang jalan tak hentinya aku memikirkan kata-kata Ammi barusan. nyeri sekali saat beliau membandingkan aku dengan Jihan.
langkahku gontai saat tiba di parkiran kost... untuk menuju kamar rasanya.
Lelaki macam apa Mas Husein itu? sebegitu lemah kah saat di hadapan keluarga nya, tak sedikit pun dia peduli padaku. Aku jadi berfikir untuk melepaskan nya saja. Abah memang benar kalau Jihan cocok buat Husein. Jihan mampu memahami sisi kekurangan Mas Husein, sementara aku selalu menolak kekurangan nya. Beberapa kali aku mengatakan kalau aku tidak mau menerima nya apa adanya, dia harus menjadi manusia ideal setidaknya untukku dan calon anak-anak kita kelak.
ting...
( besok pagi kita bicara)
SMS dari Mas Husein
( aku gak minat)
( aku ada kuliah)
balas ku.
( tidak ada penolakan)
jawabnya mengintimidasi ku
( aku gak peduli).
derrtttt.... derrrttt...
ku angkat dengan berat hati.
" kok jawab begitu di SMS "
" sementara ini aku tidak ingin melihat mu dulu sampai sakit hatiku sembuh. perkataan Ammi dan sikapmu sudah merendahkan harga diriku. di Undang ke rumah hanya untuk mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan. kalian pikir aku akan mengiba untuk mempertahankan mu. oh tidak, aku butuh kamu perjuangan kan".
" tenang Dee, kita ketemu an besok, aku akan jelaskan semuanya "
" aku gak perlu penjelasan apapun "
" Ayolah jangan keras kepala, kamu gak biasanya seperti ini "
" aku marah padamu Mas "
" besok aku jemput "
" gak mau "
" aku tidak suka dengan sebuah penolakan"
" terserah "
aku tutup sepihak telpon nya.
__ADS_1
Enak saja memaksa seperti itu, emang aku perempuan apaan bisa di intimidasi seperti itu.