Jangan Terima Aku Apa Adanya

Jangan Terima Aku Apa Adanya
Bertemu keluarga Abdurrahman


__ADS_3

" Dewi... di luar lagi gerimis aku pinjam payungmu ya buat beli makan " sebuah panggilan mengagetkan, aku hafal dengan suara itu tanpa berfikir panjang ku buka kamarku berharap ngobrol dengan Mbak Mutia akan mengurangi sedikit keraguannku pada Mas Husein


" mbak Mutia tunggu "


Mbak Mutia berhenti dan menatapku penuh tanda tanya


" teteh mau nitip? " tanya sofia adik kostku yang mau pergi sama Mbak Mutia


" nggak sof, hanya pengen bicara sama mbak Mutia "


" ada apa Dee, tumben? " tanya mbak Mutia heran


" soal Mas Husein mbak "


Mbk Mutia menatapku iba, dia menghampiri dan mengajak ku bicara di ruang tamu


" Husein... " mbak Mutia menyebutkan nama itu dengan sangat berat


" beberapa hari ini Husein banyak bercerita tentang kalian, dia tidak pernah ragu untuk memilih mu bahkan dengan keyakinan dia menolak Jihan berkali kali bahkan penolakan itu di lakukan di depan Jihan dan Abah, tapi... ada hal yang memberatkan Husein " kalimat nya tertahan


" Abah yang membuat Mas Husein bimbang melangkah ? "


" iya, Husein sangat menyayangi Abah nya dan restu Abah sangat penting buat Husein "


mataku mulai berkaca-kaca ucapan mbak Mutia membuat ku semakin ragu, bagaimana dengan aku...?


" Husein tersakiti dengan keadaan ini Dee, dia sangat ingin menghalalkanmu dengan restu Abah, tapi Abah juga kekeh dengan pendiriannya, karena Abah merasa Jihan perempuan satu-satunya yang akan membuat Husein bangga telah memiliki Jihan "


" Aku juga bisa membuat Mas Husein dan Abah bangga melilihku Mbak " jawabku menyakinkan Mbak Mutia


" Husein selalu bangga memiliki gadis secerdas kamu Dee, tapi "


" tapi bukan Abah kan yang bangga " selaku


Mbak Mutia nemepuk nepuk pundakku, memberikan semangat buatku....


Gerimis pagi ini membuatku bersemangat ke kampus, aku suka dengan gerimis karena gerimis mampu menghadirkan rasa nyaman di hatiku


ku lihat Jihan duduk di pinggir koridor, ku dekati berharap hubungan kami membaik


" pagi Jihan " sapaku basa basi


Jihan hanya terdiam tak membalas sapaanku


" maafin ya yang kemarin " pintaku


" Dee aku memang gak betah diemin kamu lama-lama "


jawaban yang kutunggu


" semalam aku ke rumah Abah, aku ceritakan semua apa yang di bilang Aini "


ucapanya barusan membuatku syok.


Jihan pasti merusak citraku di depan Abah


" trus Abah reaksinya gimana? "


" Abah marah besar sama Mas Husein, semalam mereka berantem "

__ADS_1


" kamu gak konfirmasi dulu ke Mas Husein? "


" gak lah, dia yang salah udah tau punya calon istri malah ngajak perempuan lain ke rumah Paman Sholeh "


aku geram banget mendengar ucapan Jihan, aku gak nyangka Jihan yang ku kenal sebagai gadis baik hati, ramah dan ceria bisa melakukan hal serendah ini demi memenuhi keinginannya menjadi istri Husein.


" wah.. kamu gak bener Jihan, itu namanya kamu melakukan politik devide et empera, sampai Abah dan Mas Husein berantem gitu? "


" biar Mas Husein kapok Dee "


" kasihan Husein menghadapi gadis seegois kamu "


ucapku dan sesegera mungkin pergi meninggalkan nya


ting...


hape ku berbunyi tanda SMS masuk


( Dee, malam ini ku jemput)


( oke, dikost ya ) jawabku


( ok)


kuliah hari ini cukup melelahkan, setelah shalat magrib aku bersiap-siap karna bentar lagi Mas Husein pasti menjemput ku.


ting...


( malam Riyanti Dewi)


nomer asing


( siapa ya?) jawabku sekenanya


( coba tebak)


( malas main tebak tebakan)


ku matikan hape, aku masih konsentrasi merias diri


" Teh Dewi ada temannya " teriak chika cucu ibu kostku


" iya, cha suruh tunggu sebentar "


tak butuh waktu lama segera mungkin ku samperin lalaki yang mempesona itu


" menyuruh ku dandan rapi mau kemana nih? " tanyaku penasaran


" ketemu Abah dan Ibu ku "


" haaaa... "


" iya, kaget ya ? "


" jangan sekarang atuh Mas " pintaku


" ayooo "


aku menurutinya dengan percaya diri, aku akan meyakinkan Abahmu kalau aku juga bisa menjadi calon menantu kebanggaan

__ADS_1


tak butuh waktu lama tiba di rumah Mas Husein


aku sudah ditunggu Abah, Ibu dan Hana.


deg degan sekali, ini kali pertama aku bertamu ke rumah Mas Husein


" Teteh Dee apa kabar ? " sambut Hana ramah


" alhamdulillah Hana, Hana gimana sehat-sehat saja kan? "


" Alhamdulillah sehat Teh "


" silahkan duduk Teh Dewi "


" makasih Hana "


aku duduk di samping Hana dan Mas Husein duduk di kursi depanku


" Abah ini Riyanti Dewi perempuan pilihanku "


" Abah sudah kenal dengannya, kamu sahabat Jihan kan? "


ucap Abah dingin


" benar Pak, saya Sahabat Jihan "


" Abah kaget pas kamu masuk rumah ini, ternyata kamu perempuan pilihan Husein anakku, aku sangat kecewa denganmu Sen, perempuan seperti ini yang kamu pilih dan mengabaikan pilihan Abahmu ini, seorang perempuan yang tidak amanah dalam menjaga persahabatan nya "


" Abah, belum mengenal Teh Dewi jangan berprasangka buruk begitu "


sahut Hana yang tidak suka dengan ucapan Abahnya


" jangan menyela kalau Abah sedang bicara "


" maaf Abah "


" Dewi kamu sudah tau kan kalau Husein sudah punya calon istri yang ku pilihkan? kenapa tega-teganya kamu mengoda Husein sedangkan di akan jadi milik Sahabat mu? "


" Jihan tak pernah bercerita tentang Mas Husein Pak, aku dan Mas Husein jalan bersama sebelum bertemu Bapak dan Jihan saat wisuda Mas Husein "


" lohh kalian pura- pura tidak saling kenal, padahal kalian sudah jalan bersama "


" maaf Pak " ucapku lirih


" Abah tidak setuju kamu dengannya Sen, perempuan seperti ini tidak cocok menjadi menantu keluarga Abdurrahman, Abah tidak pernah melihat seseorang dari fisiknya meskipun Jihan jauh melebihi mu, aku memilih calon menantu itu dari akhlaknya dan akhlakmu tidaklah bagus "


beliau mempertanyakan akhlaku? sedangkan beliau belum mengenal siapa diriku.


aku menahan butiran-butiran bening yang siap meluncur membasahi pipiku, tapi harus ku tahan, aku bukan perempuan lemah aku bisa membuat bangga keluarga Abdurrahman.


" Abah, Husein kecewa dengan sikap Abah, justru sikap Abah yang seperti ini membuat ku mempertanyakan akhlak Abah "


dengan marah Mas Husein mengajak ku pergi dari ruangan ini, Mas Husein tau betapa malu nya aku mendapatkan perlakuan seperti barusan


" maaf kan aku Dee " pinta Mas Husein de sela- sela suara deru motornya


" gak papa Mas, jangan begitu Abah itu orang tua gak boleh Mas Husein bicara seperti itu, aku sedih Mas "


air mataku yang sudah payah ku tahan akhirnya menetes juga, rasanya sesak sekali mengingat perkataan Abah.

__ADS_1


aku tak akan menyerah demi Mas Husein, aku kan membuat diriku menjadi kebanggaan keluarga Abdurrahman. tak kan ku biarkan mereka mempertanyakan ahklaku.


__ADS_2