
Pagi ini masih seperti pagi-pagi sebelum nya, gerimis turun dengan instens. aku mencintai gerimis di pagi hari. Ini musim penghujan setelah semalaman hujan deras menemani tidur malamku. Pagi ini masih menyisakan gerimis.
ku nikmati secangkir kopi dengan sepiring pisang goreng hangat-hangat. waktu masih menunjukkan pukul 06.00 pagi. masih banyak waktu untuk bermanja dengan gerimis.
Tetes demi tetes air berjatuhan membasahi bumi, teras depan adalah tempat paling menyenangkan untuk bercengkrama dengan penghuni kost lainnya.
pagi ini aku di temani Sofi dan Maria
" Teh Dee, bagi pisgor nya dong " ucap sofi adek kostku.
" sok atuh, makan ajah Sof "
Banyak hal yang kami ceritakan di pagi ini, mulai dari pacar sampai ke dosen killer. semua ini akan jadi cerita indah saat sudah lulus nanti.
Sebuah motor parkir di depan pagar. aku hapal siapa pemilik nya. Mas Husein turun dari motor dan membuka helm dia tersenyum melihatku di teras.
" pagi gadisku " sapa nya, aku cuman sinis menanggapi nya
" Teh, kami masuk dulu ya "
aku hanya mengaguk tanda setuju
" mau ngapain? "
tanyaku sinis ke Mas Husein
Tak ada jawaban, Mas Husein memilih duduk di bawah sambil makan pisang goreng kesukaannya.
" Dee, bikinin aku kopi ya, dingin nih "
" gak ada kopi buatmu "
" kewajiban seorang tuan rumah menjamu tamu loh "
" kamukan tamu tak di undang, jadi gak ada kewajiban ku menjamu "
" jangan marah, nanti cantiknya hilang " ledaknya
Dengan berat hati ku beranjak membuat kopi, kasihan juga. hujan semalaman yang masih menyisakan gerimis membuat dingin menusuk sampai ke tulang. siapa saja pasti akan lebih memilih membenamkan tubuhnya di bawah selimut.
Aku yakin datang ke sini membutuhkan perjuangan ekstra, tak tega membiarkan nya kedinginan, bagaimana pun aku sangat menyayangi nya. semarah-marahnya aku tak dapat ku pungkiri kalau pesonanya mampu mengalahkan marahku samalam.
" nih, kopinya " ku sodorkan secangkir kopi Gayo kesukaannya
" Emm wangi sekali kopi Gayo ini "
Kopi ini kiriman dari Aka Win orang asli suku Gayo, Aka Win menikah dengan sepupuku Teh Euis dan mereka menetap di Aceh. setelah lulus SMA teh Euis bekerja di pabrik sepatu Daerah Tiga raksa Banten. nah Aka Win ini atasan nya Teh Euis. mereka sering saling jatuh cinta karena sering makan siang bareng di kantin. setelah menikah Aka memutuskan membawa Teteh ke Acah.
Teteh Euis tau betul kalau aku penikmat kopi arabika. makanya teh Euis sering mengirimkan kopi Gayo ke aku.
" Maafkan perkataan Ammi ya dee, maafkan aku juga yang tidak membela mu saat Ammi berkata seperti itu ".
ku cerna apa yang dikatakan, aku masih diam dalam pikiranku. ada rasa nyeri menyelinap saat aku tau kalau restu Ammi hanya untuk kebahagiaan putra tercinta. Ammi tak sepenuhnya menginginkanku, bahkan bisa dikatakan tak perduli padaku yang terpenting adalah Mas Husein.
tapi mengapa Mas Husein masih baik-baik saja menyikapinya perkataan Ammi semalam. apakah dia tak berfikir seperti apa yang aku pikirkan.
" Mas, kamu paham gak sih, kalau Ammi hanya mementingkan kebahagiaan mu saja"
" iya, aku tau makanya Ammi menerima mu"
" ohh jadi intinya Ammi tidak perduli ya sama aku? " ku pertegas lagi kalimat ku barusan
__ADS_1
" bukan begitu... "
" lantas? "
" udahlah Dee, gak usah bahas itu lagi "
" mesti di bahas dong mas, setidaknya kamu ada usaha buat perjuangin aku "
" males.. "
Ada desir keraguan dalam hatiku, ingin melepaskan tapi aku menyayangi Mas Ibrahim. seperti ini kah cinta mampu mengalahkan logikaku.
" Dee, tadi aku hubungi Mbak Siska, dia bilang sih mau ke kampung buat mastiin aloe Vera nya "
ucap Mas Husein mengalihkan pembicaraan.
Aku cuman diam, tidak ingin menanggapi nya. selalu saja seperti itu lari dari permasalahan.
" besok kamu ikut ya ke kampung? " pintanya
" iya, tapi gak janji bisa" jawabku ketus
" Oke... udah Dee, ojo nesu wae, pusing aku lihat orang ngambek terus. lagian Ammi ada benar nya juga."
Kata-kata nya barusan bener-bener membuat ku sakit hati, udah lenyap saja kamu Mas Husein
" silahkan pulang " usirku
" loh loh kok malah begini sih Dee? "
" cukup menghinaku. "
" Sabar, aku cuman bercanda, ayolah sayang maaf ya"
Tanpa berpaling ku tinggal kan dia di teras sendiri. Aku takkan membiarkan logika ku dikalahkan cinta. udah terang-terang Ammi nya bersikap seperti itu masih juga dibelain, pakai acara bercanda. Gak lucu banget.
Tak lama aku dengar motornya melaju meninggalkan kost.
Hal seperti ini yang kadang membuat ku ingin menerima tawaran Ibrahim.
Ku lihat jam dinding menunjukkan pukul 07.00, aku teringat pagi ini jam delapan ada kuliah bersama Pak Satrio. Dosen yang paling banyak memiliki fans, hanya beberapa mahasiswi saja yang tidak ngefans sama beliau, termasuk aku. Beliau bukan tipe ku. Pak Satrio masih muda, cakep, sholeh dan kharismatik. Namun sayang beliau terlalu rapi.
Hitungan setengah jam aku sudah siap ke kampus, ku laju motor dengan kecepatan sedang menuju parkiran, dengan berjalan santai ke masuki gedung jurusan sosiologi.
sebelum masuk kelas ku lihat Jihan duduk di deretan kursi koridor. Aku mendekat dan ikut duduk di sampingnya.
" Hai Jihan, apa kabar? " ku tanya kabarnya karna sudah beberapa hari tidak saling menyapa
lama ku tunggu tak ada jawaban dari Jihan.
" Jihan... "
aku masih mencoba memanggilnya, mengajak nya bicara, tapi nihil seperti nya kebencian Jihan sudah mendalam.
" Jihan, terkadang cinta itu bisa membuat kita seperti anak kecil ya? kadang juga sok dewasa. Ji... masalah Mas Husein harus kita bicarakan bertiga " tawarku
" sorry Dee, aku rasa tentang Mas Husein tidak ada yang harus di bahas, masih ingat perkataan Abah? dengan jelas Abah mengatakan kalau aku calon istri Mas Husein. "
ku tatap lekat-lekat mata indah di depan ku ini, mata itu mengisyaratkan jika kemenangan ada pada dirinya.
" aku gak mau kita marahan terus Ji "
__ADS_1
ucapku jujur, ada harapan dalam sebuah perkataan ku barusan
" aku marah sama kamu Dee, tolong berikan aku waktu menata hati lagi untuk persahabatan yang sudah kamu hancurkan Dee"
" aku yang menghancurkan? Jihan sejak kapan kamu se egois ini? "
" sejak kamu merebut Mas Husein "
" aku yang merebut ?" tanyaku dengan nada sedikit meninggi.
" Jihan coba lah mengerti yang sedang terjadi, jangan paksakan semuanya seperti keinginan mu, kasihan aku dan Mas Husein Ji"
" aku benci kamu Dee "
ku tatap lekat-lekat Sahabat ku ini, berharap masih ada sisa sisa rasa yang dulu ada. sepertinya rasa itu memang telah hilang bersama kuatnya rasa cinta pada Mas Husein.
" ya sudahlah Ji, ini terakhir kali aku memohon persahabatan darimu, tetap teguh lah pada pendirian mu karna ... "
tak mampu ku lanjutkan kata-kataku.
" Riyanti Dewi ya? "
suara itu membuyarkan kebekuan antara aku dan Jihan
segera ku sambut asal suara itu
" iya, saya Riyanti Dewi, ada apa Bu Sastri mencari saya? "
" Itu Pak Burhan mencarimu "
" Pak Burhan mencariku? ada apa ya Bu? " tanyaku penasaran pada Bu Sastri karyawan Perpustakaan jurusan
bergeges ku masuki ruangan Pak Burhan, Pak Burhan Kepala TU jurusan. Orangnya terkenal judes, pelit, disiplin dan galak. urusan dengannya bikin ciut nyali
" Selamat pagi Pak Burhan "
" Riyanti Dewi ya? " tanyanya sinis
deg... ada rasa ngeri di dalam hati, sepertinya aku sedang membuat sebuah kesalahan.
" ada apa ya Pak? "
" ini surat skorsing dari jurusan, kamu di skors 1 bulan "
" Apa? loh kenapa aku di skors Pak "
" semua kesalahan mu tanyakan langsung pada Tuan Ali Abdurrahman seseorang yang memiliki kekuasaan penuh di kampus ini "
" Maksudnya Abah nya Husein? "
Ku tinggal kan ruangan TU, dengan surat masih di tangan.
tak pernah ku dengar nama Tuan Ali Abdurrahman sebelum nya sebagai bagian dari kampus. mendengar semua ini membuat ku lelah.
aku benar-benar masih syok dengan yang terjadi, 1 bulan bukan lah waktu yg singkat. skorsing ini membuat ku harus ekstra belajar untuk mengejar ketertinggalan materi. paling tidak aku tidak sampai mengulang di semester berikutnya.
aku harus segera wisuda satu tahun lagi Adikku sudah masuk kuliah, kasihan Ayah kalau harus membiaya kami berdua. kalau lulus tahun depan aku bisa bantu-bantu Ayah membiayai kuliah Adikku.
ku cermati lagi surat yang ada di gengamanku, ku baca satu persatu. ku perhatikan kalimat di. skorsing dikarnakan terlibat dalam kerusuhan demo seminggu yang lalu di depan gedung Fisipol.
Apa Demo? siapa yang ikut demo?.
__ADS_1
Ada dendam membara dalam jiwa yang mulai rapuh terhadap Tuan Ali Abdurrahman Abah Mas Husein.
tak pernah menyangka hanya karena mencintai putranya aku diberikan skorsing sungguh rendah dan tak punya akhlak.