
Rencananya hari ini aku ada kuliah bareng Pak Satrio, sebelum dapat surat ini. ku melangkah dengan kecewa, tak ada senyum yang tersungging di sudut bibirku.
Saat berpapasan dengan Vita, tak sedikitpun Vita tersenyum hanya tatapan penuh tanya yang di berikan untukku.
" kamu sakit Dee? "
pernyataan Vita barusan membuatku lega, aku takut Vita marah padaku tentang peristiwa kemarin bersama Ibrahim.
" iya Vit, aku mau pulang ke kost " jawabku
" aku antar ke kost ya "
saat ini aku sedang kacau sekali.
" gak usah Vit, aku bisa sendiri "
Tak ingin dengan berdebat dengan Vita aku bergegas melangkah tanpa menghiraukan nya lagi. aku sudah terlanjur gak nyaman dengan kondisi ku saat ini.
( Mas bisa ke kost)
ku kirim SMS ke Mas Husein
sepertinya di buka tapi tidak dibalas
Ngambek ku tadi pagi masih membuat nya gak nyaman sepertinya.
Dalam hitungan detik aku sudah sampai kost, ku rebahkan badanku membuang jenuh dan penat.
ku raih HP berharap ada balasan dari Mas Husein.
Tetap sama, masih belum dibalas walaupun sudah di buka
( ada yg penting mau ku bicarakan)
ku kirim SMS lagi.
sepertinya dibuka tapi sekali lagi tidak segera di balas.
Air mata yang sedari tadi ku coba tahan
tapi tak mampu lagi ku bendung....
bukan karena Husein air mata ini tapi untuk 1 bulan skorsing. sebuah tuduhan kesalahan yg tidak pernah aku lakukan.
Berfikir sejenak, ada sesak yang mulai pudar berganti dengan sebuah rasa marah, bukan mundur yang ku rasa tapi ingin membalas rasa kecewa ini dengan membuat Mas Husein memilihku dari pada memilih keputusan Abahnya.
( maaf, lagi sibuk)
sebuah SMS ku tanggapi getir, sesibuk kah kamu Mas sampai mengabaikanku begini.
Malam semakin larut, aku masih nggan beranjak dari kamarku, kebetulan di kamar kost ku ini sudah di lengkapi dengan kamar mandi dalam, sehingga membuatku tak perlu bersusah-susah lagi mengantri kalau ada keperluan ke kamar mandi.
Tok Tok Tok
" Siapa ya? " tanyaku penasaran, udah jam 12 malam masih ada yang mengganggu
__ADS_1
" ini Mbak Mutia "
gegas ku buka pintu, ada rasa berbinar di hati. setidaknya mbak Mutia teman berbagi yang baik, walaupun tak se leluasa saat bersama Jihan dulu, oh... Jihan kamu masih selalu terbaik untukku, sahabat rasa saudara. Tapi semuanya hilang bersama keegoisan kami. Cinta kadang mengalahkan logika, sepertinya apa yang ku alami merupakan bagian cinta tak berlogika.
" masuk Mbak Mutia " ku persilahkan Mbak Mutia masuk dan kami duduk di sofa pojok ruangan.
Sofa yang nyaman ini dua bulan lalu dibelikan Mas Husein, nyicil isi rumah katanya.
" ada apa Mbak? malam-malam kok ke sini, sepertinya Mbak Mutia baru sampai kost "
tanyaku penasaran
Mbak Mutia hanya diam sejenak, mengatur napas, sepertinya ada hal penting yang ingin dibicarakan.
" Dee, aku baru pulang dari rumah sakit "
" Mbak Mutia sakit apa ? " tanyaku kuatir
" buka aku Dee, tapi Abah "
Sebuah senyum tersungging di ujung bibirku,
" sedari sore aku menemani Husein merawat Abah karna Ammi dan Hana sedang Ke Surabaya "
deg...
sedemikian kecewa nya aku, mengapa Mbak Mutia yang dipilih untuk menemani, mengapa bukan aku?
" jangan sedih gitu Dee, aku dan Husein teman rasa saudara.
Aku tercengang mendengar penjelasan Mbak Mutia, ada rasa malu melintasi ku. Mbak Mutia selalu peka terhadap situasi di sekelilingnya.
" Abah sakit apa Mbak? " tanyaku basa-basi
" Jantung "
pernyataan itu membuat ku iba, meskipun apa rasa marah pada Pak Ali Abdurrahman seorang yang sangat berpengaruh di kampusku.
" aku hanya mau menyampaikan pesan Husein, dia minta maaf seharian ini mengabaikan mu "
" oh... iya gak papa Mbak, nanti aku telpon dia kalau semua sudah terkondisi kan "
" kamu beruntung menjadi perempuan pilihan Husein, dari sekian banyak perempuan yang menginginkan nya. Pernah suatu ketika aku berfikir setelah kematian Fatimah akulah perempuan satu-aatunya yang mampu mengeser posisi Fatimah di hati Husein, tapi ternyata aku salah. Husein telah memilih mu, tak pernah Husein tau betapa aku menginginkan posisi Fatimah "
Aku terdiam mendengar kan curahan hati Mbak Mutia, butiran air mata membasahi pipiku. Aku menangis untuk sesuatu yang menyakitkan ku. Dua orang terdekat ku ternyata menyimpan rasa yang sama denganku. Kekecawaanku menjalar di setiap tubuhku.
" Maaf Dee " ucapnya mengakhiri ceritanya
" maaf untuk apa Mbak? "
" karena aku telah mencintai Husein "
" cinta itu tak pernah salah Mbak, pada siapa cinta itu berlabuh. namun terkadang kita salah mengarahkan busur cinta itu "
" kamu masih mau berjuang bersama Husein untuk sebuah restu dari Abah? "
__ADS_1
" ya jelas lah Mbak, gak ada alasanku mundur dari perperjuan ini "
" kamu yakin? "
" maksudnya Mbak Mutia? " potong ku sebelum dia mulai memprovokasi ku
" ora popo, hanya saja perjuangan mu tidak akan mudah, ada aku dan Jihan yang dekat dengan Abah, yang setiap saat mampu memporak porandakan hubungan mu dengan Husein, cinta punya cara tersendiri untuk menemukan jalannya. Husein adalah jodohku " dengan penuh keyakinan dan kelicikan mulai menampak di wajahnya
" sekuat apapun kalian menjelekkanku di depan Abah, aku tidak akan menyerah, kasihan Mas Husein kalau tau ternyata sahabat nya sendiri telah menyimpan cinta untuknya, ku pastikan dia kan meninggal kanmu, jangankan mengenalmu lagi melihatmu pun enggan rasanya " balas ku tak kalah menyakiti kan
" aku tidak suka di intimidasi oleh siapapun, aku pada posisi yang benar. kalian hanya duri-duri kecil dalam perjalanan cinta ku dan Mas Husein dalam merebut restu Abah" sambung ku lagi
" selamat ya dapat skors 1 semester "
mataku terbelalak mendengar ucapanya, dari mana dia tau aku dapat skors padahal tak seorang pun tau setelah aku keluar dari jurusan tadi siang. Jangan-jangan itu akal-akal an Mbak Mutia yang sudah memprovokasi Abah.
" oh... jadi ini bagian dari rencana mu ya Mbak, sok atuh lanjutin saja, aku mau tau seberapa jauh sepak terjangmu untuk memisahkan aku dan Mas Husein "
" yo wes nikmati wae itung-itung dapat libur panjang "
ucapnya meledekku, sambil keluar dari kamarku.
Ku hempaskan tubuh ku di kasur, ku raih hape dan mencoba menelpon Husein
lama tak ada jawaban, mungkin Husein masih sibuk dengan Abah.
dert... dertt... derttt
segera ku raih hape berharap Mas Husein yang menghubungiku.
" maaf ya dee, baru sempet hubungi kamu? "
suara dari sebrang yang sangat aku hafal
" oh ya mas gimana Abah? kayanya Mbak Mutia Abah sakit ya? "
" iya Dee, sakit jantung Abah kambuh"
" sekarang kondisi nya gimana Mas? "
" syukurlah semua terkondisi kan Dee, besok kalah Abah sudah enakan aku akan ke kost mu "
" fokus Abah dulu Mas "
" oke.. oke, udah dulu ya, Ammi memanggilku "
" iya Mas"
Tak sampai hati aku menceritakan semua yang terjadi hari ini, tak mudah memang mengahadapi smua ini sendirian.
Abah lebih membutuhkan Mas Husein dari pada aku. Abah seseorang yang sudah mengacaukan kuliahku, aku harus apa sementara beliau adalah ayah dari orang yang menjaga hatiku saat ini.
Memikirkan ini semua membuat ku lelah, belum lagi serangan dari luar, ada Mbak Mutia dan Jihan.
mungkin saja aku akan bertahan atau ku tinggalkan saja Mas Husein?
__ADS_1