Jangan Terima Aku Apa Adanya

Jangan Terima Aku Apa Adanya
Wisuda


__ADS_3

3 hari ini ku habiskan bersama Ibrahim, saatnya kembali ke Semarang.


lempuyangan pagi ini sudah ramai, setelah membeli karcis aku bergegas menuju gerbong kereta. Ibrahim mengantarkan sampai pintu gerbong.


" Ri... kita akan bertemu lagi pas kamu wisuda ya? " pintanya


aku menggeleng tanda tak setuju.


" kumohon Riyanti "


tak ingin luluh, ku melangkah masuk.


Sama-sama ku lihat Ibrahim meninggal kan stasiun dengan rasa kecewa.


Biarlah ini yang terbaik untuk aku, kamu, Mas Husein dan Arini.


...... ....... ......


Hari yang kutunggu akhirnya datang, Ayah, Ibu dan adikku sudah berada di Semarang. meraka akan menghadiri wisuda ku besok. mereka menginap di hotel dekat Simpang lima.


Mas Husein datang ke kost tanpa pemberitahuan. ku lihat raut wajah sayunya., sepertinya dia sakit.


" kamu sakit Mas? " Tanyaku penuh selidik


" beberapa hari ini aku sibuk mengurus Abah yang sedang sakit " terangnya, sambil duduk di sofa teras


" oh... " jawabku singkat, ada gelagat yang tak biasa saat ku pandang kedua mata nya.


" dee... maaf ya, besok aku tak bisa menemani wisuda mu"


aku tak menjawab kata-kata yang menusuk itu, pasti Abah lagi yang menjadi alasannya. bagaimana aku bisa percaya kan hidupku padanya sedangkan dia begitu lemah saat di hadapkan permasalahan terkait Abahnya


" Abah meminta mu menemani Jihan ke wisuda besok ? "


ucapku ketus


" iya Dee "


" lantas kamu mau? "


" sakit Abah lah yang membuat ku lemah, aku tak punya pilihan selain menuruti Abah dee "


" Mas kamu itu laki-laki tak seharusnya bersikap bagini. kamu harus tegas menentukan nasibmu sendiri, kamu yang akan menjalani bukan Abah dan Ammi mu, jangan jadikan alasan Abah sakit " Kata-kata ku cukup menusuk nya


" Aku tak mau kehilangan Abah "


" sepertinya sakitnya Abah dijadikan senjata untuk mengintimidasi mu Mas " ucapku datar tapi penuh penekanan


" jangan asal nuduh gak baik, apalagi sama orang tau "


" bukan menunduh hanya curiga "


" Dewi lebih sopan lagi bicaramu "


" Maaf Mas sebelum nya, aku tidak butuh lelaki yang lemah seperti mu. hampir 3 tahun aku memperjuangkan hubungan ini, walaupun hasilnya nihil. tapi aku masih punya harapan saat kamu berjanji akan memperjuangkan ku. tidak hari ini Mas "


" aku gak nyangka kamu bicara begitu Dee "


" pulang lah, jaga hati Abahmu. setelah wisuda besok aku yang akan ambil keputusan hubungan kita "


" bukanya mencari solusi malah ngajak debat "


" sudah ku beri solusi, pulang lah Abah mu sakit dan datang lah bersama Jihan di wisuda nya besok "


" Dewi..... " sela nya dengan suara meninggi

__ADS_1


" apa Mas? sudah cukup kamu mempermainkan aku Mas, nyatanya kamu hanya mengulur waktu saja, apa yang aku lakukan hanya sia-sia, harusnya aku tinggalkan mu dari awal"


" kamu menyesal berjuang bersama ku ? "


" berjuang bersama ? emm... lupa kamu, aku yang sudah berjuang bukan kita. semua sudah ku perjuangkan untuk sebuah restu tapi Abahmu terlalu keras hati yang tak mau menghargai semua usahaku"


" cukup Dee... " ucapnya sudah mulai emosi


" aku datang dengan sesuatu yang baik, belajar dan terus belajar untuk menjadikan ku manusia berkualitas agar tak ada keluhan dari keluarga mu, tapi sayang banget ya Mas lalaki yang ku perjuangkan selemah ini. maaf mas aku tak mau menerima mu seperti ini, aku menuntut mu menjadi Mas Husein yang bisa menentukan nasibnya sendiri bukan di atas keputusan Abah mu "


" jangan mengintimidasi ku, ingat keputusan ku sudah bulat. tanpa restu Abah aku tak kan menikahimu "


" pergilah aku tak butuh manusia pesimis seperti mu "


kata-kata ku terlalu menusuk hatinya


Ku perhatikan dari balik punggung nya sampai dia benar-benar menghilang dari pandangan ku


Ku rebahkan badanku di kamar, sekuat-kuatnya aku tetap saja ada butiran air mata menetes.


....... ....... .......


Wisuda


sujud syukur atas segala nikmat nya. hari ini harapan orang-orang tersayang akan terwujud. ada Ayah, Bunda dan adik kesayangan ku yang akan mendampingi wisuda.


" selamat ya Riyanti Dewi, S. Sos "


" haaahhh.... " aku sangat keget dengan kehadiran nya, ku kucek mataku beberapa kali untuk memastikan kebenaran.


" Ibrahim kamu ngapain ke sini? "


" mendampingi mu wisuda "


" tidak... tidak, sudah ada keluarga ku yang mendampingi "


" ini buat Mas Hu... " kalimat ku terpotong saat kulihat Ammi mengandeng Jihan di ikuti Pak Abdurrahman, Mas Husein dan adik Jihan dibelakangnya ".


Ayah Jihan sudah meninggal lama dan ibunya 5 bulan yang lalu juga menyusul, pembengkakan ginjal yang menyebabkan ibunda Jihan meninggal. setahun ku keluarga Jihan hanya tante Suhada tapi sekarang tante Suhada mengikuti suaminya yang bertugas ke Australia.


mungkin karena keakraban keluarga Mas Husein dengan keluarga Jihan maka Pak Abdurrahman Abah nya Mas Husein memiliki untuk menjaga Jihan dan adiknya.


sudahlah apapun niat baiknya aku tetap tidak suka, memaksa kan kemauan nya.


" Doaku sudah terkabul, Allah sangat baik padaku"


" Ibrahim, maaf ya kamu tetap tidak bisa masuk dan mendampingi ku wisuda. aku tak mau di cap jelek sama keluarga Mas Husein. Bagaimanapun aku masih menjalin hubungan dengan Mas Husein. aku tak mau dianggap perempuan plin-plan tidak bisa menjaga diri"


" baik lah "


" tunggu saja disini "


kami meninggal kan Ibrahim diluar


Satu persatu prosesi wisuda telah terlewati, kami semua keluar gedung dengan teratur.


ku perhatian Ayah dan Ibuku yang sedari tadi mengambang kan senyum, terselip bahagia saat ku tangkap dari binar matanya.


setelah puas foto-foto, ku panggil Ibrahim yang masih setia menunggu di loby gedung hijau.


" Ayah, ibu dan adek kenalin ini temanku Namanya Ibrahim, dia teman yang sangat baik "


Ibrahim menjabat tangan ayah dan bunda dengan santun


" kayaknya bukan teman ini mah, dia pacar Teteh ya? " goda adikku

__ADS_1


" bukan dia mah teman teteh "


" Dewi.. Ayah dan Ibu langsung balik Bogor sore ini. tak perlu diantar ke hotel, pulanglah pakai taksi saja. jangan berdua dengan nak Ibrahim dalam satu mobil. kalian bukan muhrim " pesan Ayah tegas


" iya Ayah laksanakan "


" kapan kamu pulang ke Bogor? biar Mamang mu yang jemput "


" Dewi naik kereta saja Abah ke Bogor nya, barang-barang akan Dee kirim lewat jasa pos saja".


" baik lah dee kami balik dulu, mari Nak Ibrahim "


Setelah berpelukan dan mengucapkan salam keluarga ku akan balik ke Bogor.


" Riyanti Dewi... " ku perhatikan Jihan berlari ke arahku, hubungan kami sudah membaik walaupun ada sekat tak terlihat diantara persahabatan ini


" selamat Jihan, akhirnya kita wisuda barengan ya? ". jawabku tulus


" Mas Husein dan Abah yang mendampingi ku wisuda "


" iya tau, selamat sekali lagi buat kamu Jihan ".


jawabku dengan senyum menyerigai penuh misteri


" sepertinya Ayahmu datang? "


" sudah pulang, sore ini langsung balik Bogor. cutinya hanya dapat 3 hari jadi mau gak mau harus segera balik "


" sekuat apapun kamu berusaha aku yang akan memenangkan pertarungan ini, Aku tau Mas Husein tidak akan pernah menikahimu tanpa restu Abah dan aku yakinkan padamu Abah tak akan memilih mu"


" ambillah kalau kamu membutuhkannya, karena aku sudah tak membutuhkan lelaki yang tak mau memperjuangkan kebebasan menentukan nasibnya, apapun alasan yang dipilih nya hanya dia yang tau, yang pasti aku yang akan mengeksekusi pada akhirnya "


" tunggu undangan dari kami ya Dee"


" aku pasti datang "


Mas Husein dan keluarga nya menghampiri ku, sakit pasti itu tapi aku bukan perempuan cengeng dan lemah. jangan harap aku akan mengemis pada Mas Husein lagi.


" selamat Riyanti Dewi atas gelar barunya, smoga ilmunya bermanfaat " ucap Pak Abdurrahman dengan tulus


" Terima kasih Pak "


" kamu lulusan terbaik tahun ini " sambung nya lagi


" apa rencana mu setelah ini? "


" pulang ke Bogor dan mencari kerja di sana Pak "


" bisakah kamu datang kerumah nanti malam? aku ingin bicara dengan mu dan Husein" pintanya mengharap


" InsyaAllah saya datang Pak " jawabku bijak


Tak sepatah kata pun keluar dari Mas Husein... kami hanya saling memandang tanpa mampu berucap, kami mencoba memahami kondisi saat ini. mencoba bijak dalam bersikap.


kepergian meraka meninggal kan luka lagi yang belum kering.


" pulang yuk Riyanti, aku antar " ajak Ibrahim


" pulanglah ke Jogja Ibrahim, aku ingin sendiri. maaf bukan tak menghargai mu tapi aku sedang tidak baik-baik saja " pintaku


" aku mengkhawatirkan mu Riyanti Dewi "


" percayalah aku akan baik-baik saja Ib "


" oke aku pulang, tapi izinkan ku antarkan mu ke kost "

__ADS_1


aku menyetujui usulnya mengantarkan ke kost.


__ADS_2