
Tawang kota Semarang
Pagi menyapa dengan sedikit mendung, sepertinya sepagi ini akan segera turun hujan.
Berberapa hari yang lalu setelah mendapatkan tawaran Ibrahim untuk bekerja di kantor nya aku berdiskusi dengan keluarga, syukur lah mereka mengizinkan aku merantau lagi. kali ini merantau ke Yogyakarta. Sebelum ke Jogja aku menyempatkan diri mengahadiri pernikahan Mas Husein dan Jihan.
Samar-samar ku perhatikan si cantik Aini melambaikan tangan dari luar, seraya ku berlari menghampiri nya. aku memang meminta Aini menjemput ku di Stasiun Tawang. rencana nya aku mau menginap di kost ku dulu. Aini ini adik kost ku yang kebetulan juga adik tingkat ku, dua tingkat dibawahku.
" Aini apa kabar? "
" Baik Teh, Teteh gimana sehatkan? "
" syukur aku sehat Ai ".
" yuk, langsung ke kost ya Teh "
Aini melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, takut kehujanan.
6 bulan lalu ku pulang ke Bogor, Kost masih seperti dulu. hanya saja cat nya baru saja di cat ulang. lebih terlihat berwarna.
" assalamu'alaikum, apa kabar teman-teman semua ? "
" Riyanti Dewi.... " seru mereka bersamaan
penuh haru kami melepaskan rindu, berbincang-bicang dan bercanda seolah-oleh aku telah meninggal kan mereka berabad-abad lamanya.
" Teh, denger-denger Mas Husein mau menikah ya? " tanya Aini antusias
" iya, itulah salah satu alasan teteh ke Semarang ".
" yakin Teh Dewi mau hadir? "
aku hanya tersenyum kecut
" maaf ya Teh sebelum nya, bukanya Mas Husein menikah dengan sahabat Teteh sendiri ".
" betul Aini, 6 bulan yang lalu Teteh pernah berjanji akan menghadiri pernikahan Mas Husein dengan Jihan "
" sakit dong Teh rasanya ".
" ini bukan tentang sakit hati Aini, tapi ini tentang janji. kan kamu tau janji adalah hutang, sebuah harga diri Ai ".
" heran ya sama Mas Husein, ninggalin perempuan yang hebat seperti ini ".
" bukan Mas Husein yang meninggal kan Teteh, hanya saja teteh yang melepaskan nya, mungkin jodoh nya memang sama Jihan ".
" Aini besok yang temenin teteh ke nikahannya Mas Husein ya ".
" oke "
malam ini percakapan kami berakhir dengan mimpi indah di kasur Masing-masing.
Fajar menampakkan pesonanya, setelah gerimis semalaman. fajar ini mengigatkan ku pada Mas Husein yang hari ini akan menjadi milik sahabat ku sendiri.
Jelas masih terasa perasaan cintanya untukku, sebenarnya aku kasihan pada Jihan terlalu memaksakan keinginan nya. jelas Jihan tau kalau dari dulu Mas Husein tak mencintainya.
__ADS_1
ah sudahlah, aku hanya mampu berdoa untuk Mas Husein dan Jihan, semoga mereka berjodoh dan Mas Husein akan mulai mencintai nya.
.... ..... .....
Langkahku kian berat saat memasuki perumahan elit, Aini tak membiarkanku datang sendiri, dia menemaniku, Aini takut kalau aku tidak kuat mengahadapi ini sendirian.
dari ujung sudah terlihat rumah bercat biru milik Jihan Shafira sahabat ku.
Tanda-tanda sudah berbaris rapi di depan rumah, terlihat hanya beberapa sahabat dan sanak keluarga saja yang di undang di acara ijab pagi ini.
Saat berangkat dari kost-kostan tadi, aku merasa yakin dengan keputusan ku saat ini, tapi mengapa hati ini tiba-tiba meminta di yakinkan lagi untuk ke ijab mereka.
Jujur saja tak kan rela bila melihat lelakiku yang mempesona itu di miliki Sahabat ku sendiri.
area untuk Ijab sudah terlihat, tapi Mas Husein sepertinya belum datang, langsung saja ku dekati sahabatku itu.
" selamat atas pernikahan mu Jihan ". ucapku tulus
" Riyanti Dewi kamu datang ". jawabnya seraya memelukku. ada rona kemenangan di wajahnya. aku yakin tamu spesial buat Jihan adalah aku.
" cantik banget penganten ini ".
" makasih Dewi, segera menyusul ya Dee ".
dehhhgg
menyakitkan sekali kamu Jihan. segera ku kuasai diriku, aku tak boleh larut. Jihan telah mengaduk-aduk emosiku. aku harus terlihat tegar dan ku yakin kan diriku badai akan segera berlalu untuk beberapa jam lagi.
Iring-Iringan pengantin dengan pakaian adat Arab dan iringan musik gambus telah datang. semua menyambut dengan suka cita tak terkecuali aku.
Ku pandangi mata elang itu lekat-lekat seakan akan aku tak rela tatapan mata itu dimiliki orang lain. dari ujung ekor mataku tertangkap Jihan menatapku sini. ku tak perduli lagi tatapan sinisnya, mengapa aku jadi berharap Mas Husein akan mengajaku menikah. ah betapa ku berada di titik paling rendah.
Aku memilih mengalah, aku takut aku ikut menangis. harusnya aku menagis bahagia untuk mereka.
" ayo nak Husein duduk lah disamping Jihan "
ku perhatikan Mas Husein dari samping Jihan, sengaja Jihan meminta ku mendampinginya saat ijab kabul. Awalnya aku menolak tapi aku tak mau terlihat lemah.
Mas Husein dan Pak Abdurrahman duduk di hadapan kami, di sebelah Jihan ada paman Syarif adik kandung Ayah Jihan.
" Husein Mumtaz Abdurrahman sudah siapa kah kamu menjadi suami Jihan Shafira? ".
Suasana hening, tak ada jawaban dari Husein.
tatapannya masih ke arahku, meminta kode restu dariku.
aku tak bergeming, aku tak ingin melakukan pergerakan apapun, aku tak mau Mas Husein menikah.
" Mas Husein " tanya pak penghulu ke dua kalinya.
" Husein " ucap Pak Abdurrahman seraya menepuk pundak Mas Husein
" Sebentar Abah, berikan Husein waktu sedikit lagi ".
Mas Husein menatap ku lagi sakali lagi meminta persetujuan ku.
__ADS_1
Dengan tulus aku mengangguk tanda aku merestui nya
" baik Abah aku sudah siap "
kalimat ijab mengalun lancar dari bibir Mas Husen. pernikahan ini sudah syah, dan Jihan resmi jadi istri Mas Husein.
Banyak doa menghujani mempelai, semoga meraka bahagia selalu.
Ku peluk Jihan dengan erat, ada sakit yang menusuk hatiku. perlahan ku hapus air mataku tak ingin orang lain mengetahui jika hari ini aku sedang tidak baik.
" Maafkan aku Dewi, cinta ini sudah mengalah kan akal sehatku. sampai hati aku melakukan ini pada kalian. aku tau sampai detik ini Husein masih menginginkan mu, tapi ku pastikan kedepan Husein akan melupakan mu ".
" iya, Jihan semoga Mas Husein bisa mencintai mu ".
kulepas pelukan Jihan
" selamat Mas Husein, oh ya Jihan aku mau pamit. aku gak bisa lama di sini, soalnya besok sudah mulai kerja lagi ".
" Balik ke Bogor " tanya Mas Husein penuh selidik
" gak Mas, kemarin temanku nawarin aku kerja di Harian Suara Karya jadi editor di Jogja ".
" lalu Rejeki Grup gimana, kamu masih punya tanggung jawab di perusahaan kita loh Dewi".
" tenang saja Mas, aku pasti akan bertanggung jawab atas semua pekerjaan ku "
" jangan hilang komunikasi "
aku tak ingin menanggapinya lama-lama, hanya mengulur waktu saja.
" aku pulang ya... "
aku sudah tak tahan lagi menyeka air mata ini, segera ku ambil langkah seribu meninggalkan kerumunan tamu yang sudah mulai berdatangan.
Ku nyalakan motor dan segera ku lakukan motor bersama Aini tapi keriakan itu menghentikan ku
" Dewiii.... "
Tubuh dan pikiranku mengkomandoku untuk berhenti, pemilik suara itu mensejajarkan diri disamping ku.
" Kenapa kamu lakukan ini ke aku Deee... ?? "
ucapannya penuh amarah, mata merah dan deru nepasnya berpacu dengan sakit hatinya.
" aku sudah memberikan pilihan malam itu kan Mas, kamu lebih memilih berjuang lagi meraih restu Abah. sedangkan aku ingin kamu perjuangkan, menikahi aku dengan atau tanpa restu Abah mu ".
" egois kamu Dew "
" bukan egois Mas, tapi kepastian. sudahlah statusmu suami Jihan tidak pantas kamu disini bersamaku ".
" tunggu aku Dew, aku pastikan tubuh dan cintaku hanya untuk mu. suatu hari nanti jika urusanku dangan Abah dan Jihan selesai aku akan menjemput di Jogja, kita akan menikah dengan atau tanpa restu Abah ".
genggaman tangan ini masih sama, dada bidang ini masih sehangat dulu, tak pernah ada yang berubah aku terlena di pelukannya.
" Teh Dewi kalau ada yang lihat nanti jadi bahan gunjingan loh, Teh dosa ini suami orang lain ".
__ADS_1
ucap Aini menyadarkan ku dari godaan ini, beberapa kali ku ucap istighfar.
Tanpa pamit ku lajukan motor membelah jalanan siang ini.