
Taman kota...
Taman kota masih sepi hanya ada beberapa pedagang yang mangkal untuk menjajakan dagang nya.
kami memilih bangku panjang di ujung taman didekat pohon matoa. Semilir angin menambah kesan romantis siang ini.
" tentang Mutia... " kalimatnya terhenti
" Mutia mencintai mu, aku udah tau beberapa tahun lalu " selaku
" bukan hanya itu dia juga terlibat dalam memprovokasi Abahmu kalau aku terlibat dalam kerusuhan waktu itu "
" aku kecewa dengan sikapnya Dee, Fatimah sangat menyayangi sahabatnya itu, seandainya Fatimah tau yang terjadi saat ini, dia akan sangat sakit. bisa bisanya dia mengharapkan ku menjadi suaminya "
Aku enggan menanggapi ucapan Mas Husein, Fatimah selalu dihati tak pernah tergeser oleh apapun dan siapapun.
" maybe... Fatimah akan marah " jawabku sekenanya
" kok gitu jawabanya? "
" lah mau jawaban yang kayak gimana? "
" emmm perempuan ya gede cemburu nya ! "
" ngapain juga cemburu sama Fatimah " ketusku
" iya iya... gak cemburu hanya saja gak enak gitu ya hatinya? "
Sejenak ku perhatikan tawa itu, tak seperti biasanya dia bersikap begitu.
" Mas sebentar lagi aku wisuda, rencananya aku mau pulang ke Bogor " ucapku membuatnya seketika menghentikan tawa
" pulang sebentar kan? " tanyanya menyelidik
" tergantung, aku pesimis dengan hubungan ini"
" kamu gak percaya sama aku ? "
" percaya sih cuman "
" soal Abah dan Ammi "
aku hanya mengangguk
" berjuanglah bersamaku Dewi, kita yakinkan Abah dan Ammi kalau hubungan ini memang layak kita perjuangkan sampai ke pernikahan "
sebuah senyuman tersungging di sudut bibirku.
Tak terasa sore telah menyapa, mentari sudah kembali keperaduan. sedikit menimang rasa atas sebuah kebimbangan.
aku telah kembali ke kost, menyiapkan segala hal untuk malam ini.
Azan magrib berkumandang, segera ku jalankan kewajibanku sebagai seorang muslimah.
ada ketenangan dalam setiap sujudku.
ada doa dalam setiap langkahku, mengharap ridho ayah bundaku.
selepas Isyak mas Husein sudah datang ke kost.
untuk ke dua kalinya aku datang ke rumah mewah itu lagi
ke kediaman Pak Ali Abdurrahman.
" masuk yuk dee "
aku ragu memasuki rumah ini lagi. ku sugesti diriku berkali-kali.
" assalamu'alaikum " dengan susah payah akhirnya aku masuki rumah ini lagi
" waalaikumsalam salam, masuk Dewi " jawab Ammi datar
" Terima kasih Ammi "
__ADS_1
Diruang tamu yang seluas ini aku merasa sesak, aku seakan orang asing bagi mereka.
aku mengambil posisi duduk disamping Mas Husein dan berhadapan dengan Ammi, sebalah Ammi ada Pak Abdurrahman Abah Mas Husein.
" Abah dan Ammi masih ingat sama Riyanti Dewi kan?, sudah lama ya Abah dan Ammi tidak bertemu dengan Dewi".
Abah dan Ammi hanya terdiam, tanpa ekspresi. aku jadi serba salah.
" Apa kabar Pak Ali Abdurrahman dan Ammi? semoga kalian sehat selalu " dengan suara tertahan aku mampu menanyakan kabar
" alhamdulillah kami baik baik saja "
jawab Ammi dengan sinis
" Abah dan Ammi ada yang ingin aku sampaikan terkait hubungan ku dengan Dewi " ucap Mas Husein mengawali pembicaraan serius ini
" Husein dan Dewi, sebelumnya maafkan Abah. keputusan Abah tetap sama " jawab Pak Abdurrahman
deg...
tak pernah ada yang berubah dari keputusan nya.
" Abah kurang apa sih Dewi buat abah? selama ini dia sudah membuktikan betapa ber kualitas nya dia. perempuan yang dengan kecerdasan nya mampu membuat kesuksesan pada bisnis ku Bah, banyak kontribusi nya dalam bisnis ini Bah "
bela Mas Husein
" iya Abah tau Husein, tak ada kekurangan apapun dalam diri Dewi. perempuan ramah, pekerja keras, cerdas dan manis. Dewi telah membuktikan pada Abah betapa berkualitas dirinya untuk mendapampingimu Sen. Abah mana yang akan menolak mendapatkan anak semanis itu, tapi... " kalimat nya mengantung, ada rasa bersalah yang teramat ketika kata demi kata terucap dari bibir tua nya.
kami masih terdiam, menunggu kalimat selanjutnya.
" tapi... Abah tetap tidak bisa menerima nya menjadi menantu Abah karena Abah sudah memilih Jihan "
sekuat hati ku tahan agar aku tak menangis. ada sesak yang tak mampu terlukis kan dalam diamku, tak sepatah katapun yang mampu ku ucapkan.
" sekarang terserah kamu Husein, keputusan ada padamu nak, kamu laki-laki tanpa Abah mu ini kamu bisa menikahi siapapun yang kamu pilih meski tanpa restu ku. "
" Abah, aku pikir setelah sekian lama Abah akan memiliki waktu untuk berpikir tentang kami, tapi aku salah. Abah masih orang yang sama seperti dulu egois "
" Husain, Abah membebaskan mu memilih siapa pun yang akan menjadi istri ".
ucapan Mas Husein membuatku kecewa.
aku sudah tak mampu melanjutkan semuanya.
aku pikir Mas Husein akan tetap menikahimu dengan atau tanpa restu Abahnya.
Aku masih tenang, sesekali ekor mataku menangkap kegusaran Mas Husein, tampaknya dia tak kan bisa mengambil keputusan.
" Ammi dan Pak Ali saya pamit pulang " aku undur diri
melangkah menjauh dan pergi.
Harga diriku tak kan ku pertaruhkan untuk mengemis sebuah restu nya.
bukan aku tak menginginkan Mas Husein lagi tapi Mas Husein sepertinya sudah lelah memperjuangkan ku.
" Dewi tunggu... aku antar pulang " cegah Mas Husein
" iya Mas "
Motor melaju meninggal kan rumah mewah yang berada di kawasan elit ini. sepanjang jalan tak ada percakapan apapun antar kita.
" kalau kamu lelah memperjuangkan ku menyerah saja Mas "
ucapku memecahkan keheningan
" aku tak pernah lelah memperjuangkan mu Dewi, hanya saja aku tak kan pernah menikahi mu tanpa restu Abah dan Ammi ku "
" lalu mau sampai kapan lagi perjuangan ini Mas? "
" ntah lah, yang jelas sampai Abah dan Ammi menerimamu ".
aku tersenyum kecut, kembali lagi kami terdiam. sampai kost pun aku tak berkata apa apa lagi.
__ADS_1
Sajak malam itu aku tak ingin lagi menghubungi Mas Husein sepertinya Mas Husein pun demikian.
Yudisium yang telah aku dan mahasiswa lainnya tunggu pun telah datang. kebahagiaan terpancar dari wajah-wajah mereka, tak kecuali aku.
Dengan khidmat kami mengikuti prosesi yudisium pagi ini tanpa terasa kami telah di penghujung acara. setelah berfoto-foto kami meninggalkan gedung.
langkahku terhenti saat sebuah senyuman hangat menyambut ku. senyuman hangat dari lelakiku yang beberapa hari ini ku rindukan hadirnya.
" selamat Riyanti Dewi Sarjana Sosial "
aku masih tertegun menatap nya, tak ingin lagi terbawa rasa pada lelakiku itu. keputusan ku sudah bulat untuk meninggalkan kota ini dan semua tentang nya.
" makasih Mas " jawabku dingin, tak ada rona kehangatan lagi di dalamnya.
" aku antar pulang ya Dee?, ada beberapa hal yang juga ingin aku bahas bersama mu mengenai rencana ku setelah kamu wisuda "
" oke "
Mas Husein menjemput ku dengan mobil, mobil itu sebulan yang lalu baru dia beli bersamaku.
ku persilahkan Mas Husein duduk di teras kostku, teras ini tempat favorit anak-anak kost.
" apa yang mau di bicarakan Mas? " langsung ku cerca Pertayaan
" Dee, berikan aku waktu untuk meyakinkan Abah lagi ya "
pintanya
" sampai aku wisuda 3 minggu lagi ya Mas "
" oke... "
" untuk sementara waktu aku ingin pulang ke Bogor dulu Mas
sambil menunggu wisuda nanti "
" aku antar ya sekalian biar kenal sama ayah ibu mu "
tawarnya
" jangan dulu Mas, sebelum ada kepastian dari Abah, aku tak ingin Ayah dan ibu ku kecewa "
" kapan berangkat? "
" besok pagi, naik fajar utama "
" oke besok pagi-pagi sekali aku antar ke stasiun ya "
" udah Mas jangan repot, aku pakai taksi saja "
Ada kekhawatiran yang ku baca dari wajahnya
" Mas pulang saja, aku ingin istirahat. "
" oke "
Mas Husein berlalu meninggal kan kostku
Ada sesak di dada yang tak mampu ku ungkapkan.
Sebenarnya besok pagi aku bukan pulang ke Bogor tapi agendaku ke Jogja.
dertt... dertt... derttt
" assalamu'alaikum " sapanya
" waalaikumsalam salam, iya Tania "
" besok jadi ke Jogja kan ? "
" iya jadi, ini aku mau beres-beres dulu, besok pagi aku naik bus ke Jogja "
" oke, aku tunggu ya "
__ADS_1
" oke... "
Tania sepupu ku, dia kuliah di Jogja. saat ini Tania masih mengerjakan skrisi. sepertinya dia akan ambil 1 semester.