
" Ri, kamu dan Husein baik-baik saja kah? " kalimat itu meluncurkan begitu saja dari Ibrahim
" masih, kami baik - baik saja dan akan selalu baik " jawabku datar
aku sendiri tidak yakin dengan Jawaban ku barusan.
" ya smoga saja seperti itu adanya, hanya saja aku tak yakin kalian sedang baik-baik saja, kalau begitu setidaknya masih ada kesempatan ku untuk menjadi pendamping wisudamu "
deg...
aku terpaku mendengar ucapannya barusan.
masih ingatkan dia akan janji yang 3 tahun itu?
ah... Ibrahim kamu terlalu indah untuk tak ku lirik.
" ehem ehemm, udah ya teh aku pulang dulu bareng Dhani. Teteh sama Ibrahim saja ya "
sela Tania di antara perbincangan kami
" gak Tania, Teteh pulang bareng kamu saja? " rengek ku pada Tania
"ih teteh ini kesempatan langka loh, mana ada cewek yang menolak jalan bareng Ibrahim. udah sana, teteh emang jauh lebih serasi sama Ibrahim dari pada sama yang itu tuh "
" udah Tan, pulang ajah sana sama Dhani "
" sipp... titip teteh ku ya Mas Ibrahim "
motor yang ditumpangi Tania dan Dhani meninggal kan parkiran.
sebuah SUV mendekati ku, pintu terbuka dan senyum itu tak pernah hilang darinya
" Ayoo Ri, kita jalan-jalan keliling Jogja " ajak Ibrahim seraya menutup pintu mobil
mobil melaju dengan pelan, seakan-akan sang pemilik enggan berpisah dengan sang pujaan hati.
" Arini apa kabar? " tanyaku memecah kesunyian
" masih sama, bedanya aku semakin jenuh jalan bareng dia "
" kok gitu ngomong nya, gak baik loh menyakiti hati perempuan "
" siapa yang menyakiti? "
" kamu? " jawabku ketus
" aduh Non aku hanya bilang jenuh bukan menyakiti nya,
aku masih perhatian sama dia, cuman rasa ku saja yang berbeda. hati tak mampu berbohong Non" jawabnya
diam adalah cara terbaik ku saat ini. aku tak ingin Ibrahim mengutarakan keinginannya untuk ke dua kalinya
" Riyanti Dewi kamu mampu mengeser posisi Arini 3 tahun yang lalu, rasa ini masih sama untukmu. menikahlah denganku Ri? "
aku memilih diam, walaupun aku sangat terkejut dangan pernyataan barusan.
"Ri... kamu dengarkan? "
aku mengangguk
" maaf Ibrahim, tak sepantasnya kamu bilang begitu padaku.
ketahuilah aku sudah bersama mas Husein. meskipun jujur saja aku belum dapatkan restu Abahnya, tapi kami akan mengusahakan nya. aku yakin mas Husein akan memperjuangkan ku meski tanpa restu Abahnya " jawabku penuh keyakinan.
Ibrahim hanya tersenyum getir, ada sedikit ejekan dari senyuman itu.
" ah... aku kie ora yakin sama Mas Huseinmu iku, paling-paling dia akan menyerah sama Abahnya"
" kok pesimis gitu jawabnya "
" aku heran kok Abahnya Husein gak menerima mu jadi menantunya? "
__ADS_1
" aku belum sempat cerita sama kamu ya, Abah mas Husein itu Pak Abdurrahman beliau salah satu petinggi di kampus.
pak Abdurrahman sudah memiliki calon menantu pilihan dan ternyata menantu pilihan nya itu sahabat ku si Jihan. sekuat apapun aku membuktikan bahwa aku layak itu dipertimbangkan tapi hasilnya nihil "
aku terdiam sejenak, mengambil oksigen dengan rakus. ada sesak menyergap ku. ku pastikan tak ada air mata yang akan melumpuhkan akal sehat ku.
" selama ini aku telah mendampingi Mas Husein dengan baik, mendampingi perjalanan nya membangun bisnisnya. berkali kali perjuangan kami jatuh bangun hingga akhirnya Mas Husein sukses membangun kerajaan bisnis nya.
aku sudah membuktikkan kelayakan ku bersanding dengan Mas Husein, banyak hal yang aku pelajari. aku tak ingin dia menerima ku apa adanya begitu pun sebaliknya aku juga tak mau menerima Mas Husein apa adanya, aku menuntut di perjuangkan olehnya. aku masih bertahan dengannya karna janjinya akan memperjuangkan ku untuk sebuah restu dari Abahnya "
jelasku panjang lebar, Ibrahim hanya mendengar kan ku.
" lalu keputusan mu? ".
" aku akan menunggu saja, tapi apapun yang terjadi kendali keputusan ada di tanganku "
jawabku mantap
" perempuan mandiri dan pandai seperti mu lah yang sebenarnya ku butuhkan, sepertinya Husein memang tak pantas mendampingi mu "
kalimat itu meluncurkan bagitu saja tanpa jeda, tak pernah Ibrahim sadari kalimat nya membuatku ragu.
" keputusan mu tentang Arini ? gak mungkinkan kamu memberikan harapan semu. ya kalau sudah tidak senyaman dulu lagi mending di tinggal kan saja. kasihan anak orang dimaini gitu "
" keputusanmu nanti nya yang akan menentukan nasib Arini "
" apa? gila kamu... "
" aku tunggu keputusan mu untuk Husein saat wisuda mu beberapa lagi, aku janji aku pasti datang ke wisuda mu untuk menagih keputusan mu tentang nasib Arini "
aku berada pada persimpangan jalan, dengan sadar, sesadar sadarnya aku memilih Mas Husein menjadi calon suami ku, tapi mengapa di sisi lain aku sangat menikmati kebersamaan ini... ya kebersamaan dengan kekasih Arini.
" aku tau disisi hatimu, ada ruang special untukku. meskipun ruang itu kecil dan gelap, tapi keyakinan ku tak pernah salah".
deggg
Debaran jantung ini semakin kencang berdetak, tak ku pungkiri pernyataan nya barusan. benar kamu Ibrahim kamu sudah membuatku mengisi sedikit celah di hatiku.
" oh.. seturan, oke "
ku pejamkan mata, walaupun kantuk itu belum menyerangku. lebih baik aku pura-puta tidur untuk menghindari percakapan yang lebih jauh lagi.
laju mobil berhenti tepat di depan kost Tania. hanya berbekal alamat yang ku berikan Ibrahim tau kost Tania.
" Ri... Riyanti sudah sampai, bangunlah "
ku buka mata dan kubuka pintu mobil Ibrahim.
" maaf Ibrahim aku masuk kost langsung ya, udah ngantuk
nih"
" oke... selamat istirahat nona cantik, mimpi bareng aku ya "
" ngarep "
awalnya ngantuk pura-pura lah kok sekarang ngantuk1 beneran.
ku lirik jam dinding di ruang tamu kost sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. konser memang berakhir sudah larut malam.
ku masuk kamar yang sengaja tidak dikunci.
setelah bersih-bersih diri kurebahkan badan di kasur lipat. tak lupa mengunci pintu kamar. sengaja aku tidur dikasur lipat agar tak mengganggu Tania yang sepertinya kecapean.
azan subuh berkumandang gegas ku bangunkan Tania untuk melaksanakan kewajiban 2 rakaat.
ting...
sebuah notifikasi SMS masuk
ku buka
__ADS_1
" jam 6 ku jemput " sebuah SMS dari Ibrahim
" waduh... gimana ya "
" jangan menolak "
" oke kalau dipaksa "
sebuah emoticon senyum di kirimkan
" Tan aku mau jalan sama Ibrahim ya nanti jam 6 "
" pagi amat Teh "
" tau tuh, padahal teteh mah masih ngantuk "
" asyik banget ya, aku yang ngarep ehh Teteh yang di ajak".
" kamu mau makan apa Tan? nanti tetah beliin "
" mau makan bubur ayam ajah teh "
" oke oke "
aku bersiap-siap berangkat, tanpa pamit ke Tania. sepertinya dia memilih tidur lagi setelah menjalankan kewajiban 2 rakaat.
pelan ku jalan menuju teras kost
masih kurang 15 menit lagi.
ku ambil ponsel dan mulai membalas SMS dari Mas Husein kemarin
( maaf baru ngabari)
( besok aku balik SMG)
ku masukkan ponsel saat sebuah SUV berhenti di depan kostku
" pagi cantik... "
" pagi juga Ibrahim, mau jalan kemana ini pagi-pagi sekali ? "
" kemana saja yang penting aku bersamamu "
dibukanya pintu mobil untukku, aroma coklat menguar membuat ku tenang
" kita sarapan soto dulu ya di janturan "
" boleh ... boleh tumben pagi-pagi gini aku sudah lapar "
........... ........ ..........
Warung Soto yang cukup ramai menurut ku, dari luar kelihatan mengoda itu soto ayam, aroma kuah yang harum menambah selera makanku bergejolak.
" soto 2 porsi plus teh hangat manis ya mas " pesanku pada pelayan warung
" komplit sotonya? "
" Yups "
tak lama soto datang, dengan lahapnya ku masukan sesendok demi sesendok. tanpa percakapan diantara kami. kami masih asik menikmati soto.
setelah sarapan, Ibrahim mengajakku ke pantai.
pantai ini berada di Kabupaten Bantul.
Udara pagi di pantai menyapa ku dengan lembut, angin semilir membuai setiap yang di lewati nya. banyak anak manusia duduk-duduk di hamparan pasir sepanjang pantai.
semua satu tujuan menghilang kan penat dari hiruk-pikuk kehidupan dan rutinitas harian yang melelahkan.
seperti hal nya diriku, datang ke sini untuk menikmati keindahan pantai sekaligus mensyukuri nikmat nya.
__ADS_1
Ku pandangi Ibrahim dari sisi yang lain, ada rasa terselip namun tak dapat ku lukiskan. ada cerita sendu diantara kita berdua.