Jangan Terima Aku Apa Adanya

Jangan Terima Aku Apa Adanya
Masih Perjuangan


__ADS_3

Masih di rumah Paman Sholeh... kami masih bercerita di teras depan. rumah Paman begitu besar, rumah bergaya klasik dengan ornamen Jawa masih kental terasa. dinding nya terbuat dari kayu yang besar atapnya tinggi jadi rumah terasa adem. banyak pepohonan yang rindang menjulang tinggi di sepanjang jalan.


" Paman, Kedatangan Husein ke sini sebenarnya bertujuan untuk mengelola sawah Husein yang diberikan Abah 5 tahun yang lalu"


" kamu mau bertani Sen? "


" iya Paman, Husein mau sawah itu bisa jadi langkah awal Husein berbisnis, rencananya sawah itu mau Husein tanami Lidah Buaya"


" lidah buaya? "


" iya paman, kemarin Dewi yang mengutarakan ide ini, setelah melakukan banyak perhitungan akhirnya Husein mantap untuk menanam lidah buaya"


" emang harus lidah buaya sen? kok tidak padi saja? "


" iya paman, Husein punya rencana kalau nanti pas panen lidah buaya, lidah buaya itu akan kami olah menjadi bahan makanan sendiri atau mungkin kami kerja sama dengan pabrik kosmetik untuk menjadi penyetok bahan baku nya"


sejenak Paman berfikir


apa yang di jelaskan sama keponakan nya itu memang benar...


mengembangkan jenis tanaman yang akan di taman memang bagus tapi Husein harus konsisten, kerja keras dan jangan lupa berdoa.


" dalam usaha tidak selalu beruntung Sen, adakalanya usaha itu naik turun, tidak mudah juga membangun sebuah branding untuk usaha kita, Paman butuh bertahun tahun untuk menjadi seperti sekarang. semua butuh konsisten, ketekunan dan kerja keras yang disertai doa "


" iya paman yang namanya usaha pasti ada saja pasang surutnya, Mas Husein juga harus siap mental kalau suatu saat usahanya jatuh karna kita tak pernah tau tantangan kedepan nya seperti apa, meskipun kita mampu menganalisa sebuah perkembangan usaha, yang pasti kerja cerdas, konsisten dan doa yang harus di bangun, saya yakin Mas Husein bisa paman, karna ada paman dan Abah yang selalu mendukung nya" ucapku meyakinkan ke dua orang yang ada di hadapanku, soalnya aku menangkap suatu ketidakyakinan paman dengan usahanya yang akan dipilih Mas Husein.


" baiklah Husein kalau kamu sudah mantap dengan pilihannmu, kamu juga harus siap fisik dan mental untuk bolak balik rumah ke kampung karna jarak rumah Abah dan kampung cukup jauh "


" InsyaAllah Paman "


ku lihat mereka optimis dalam menjalankan usaha ini.


mereka mulai ngobrol soal pembukaan lahan yang akan di tanami karna sawah itu terbengkalai tak pernah di olah maupun di sewakan, dibiarkan saja sampai bukan Padi yang menjulang tinggi tapi rumput dan tanaman ilalang yang tumbuh subur di sawah milik kelurga Mas Husein.


Suara motor memecahkan keseriusan mereka berdua, motor diparkir sama pemilik nya di depan rumah paman Sholeh. sepertinya itu bibi Rukhayah dan Aini putri sulung Paman Sholeh.


" eh ada Husein, apa kabar Husein? Abah, Ibu dan Hana sehat Sen ? "


" Alhamdulillah sehat bi, bibi apa kabar? lama tidak mengunjungi Abah dan Ibu? "

__ADS_1


" iya ini Sen, bibi sedang sibuk ngajari ngaji ibu-ibu yg sudah Sepuh kalau sore"


" wah bagus itu, smoga jadi amal jariayah buat bibi dan keluarga "


" Amiin"


" Bi kenalkan ini Riyanti Dewi".


Bibi Rukhayah memandang ku sinis, seperti nya beliau tidak menyukaiku, mungkin karena Mas Husein sudah mempunyai calon istri eh malah aku yang dibawanya bukan Jihan.


Oh ya Hana itu adik perempuan nya Mas Husein, Hana umurnya 2 tahun lebih muda dariku, kami sangat akrab karena Hana pacaran sama Aa Ario sepupuku yang kebetulan kuliah di kota yang sama denganmu.


aku mengenal Hana terlebih dahulu, sebelum mengenal Husein. waktu itu Hana masih SMA kelas 2 dan aku masuk awal kuliah.


dia dan Aa Ario yang nyariin aku kost-kostan dari situlah aku mengenal Hana yang ternyata adalah adik dari Laki-laki penjaga hatiku. hal itu ku ketahui 3 bulan yang lalu saat Mas Husein mengenalkan ku pada Hana.


Hana senang bukan kepalang, tapi dia juga sedih karena Abah telah memilih Jihan untuk menjadi menantunya.


" oh ya, ini siapa mu Sen? " pertanyaan membuat ku sangat tidak nyaman, wah to the point banget.


Mas Husein tersenyum sinis menanggapi pertanyaan Bibinya.


" loh... Jihan mau kamu kemankan Sen? "


" Jihan itu pilihan Abah Bi, bukan pilihan ku! "


jawaban itu membuat bibi marah, terlihat raut wajahnya yang sudah tidak bersahabat dari awal beliau datang.


" Husein kamu tidak menghargai Abahmu, bibi yakin Jihan perempuan yang dipilih kan Abahmu merupakan perempuan yang paling baik buatmu, bibi tidak yakin pilihanmu akan membawa kebaikan buat keluarga kita " pernyataan menohok itu di sampai kan padaku.


" Rukhayah jaga bicaramu " bentak paman Sholeh


" tentunya kamu akan membela mereka, karna kamu juga sama dengan mereka... sampai saat ini Rahayu masih selalu membayangi rumah tangga kita. padahal dia tau kamu sudah ber istri " balas bibi Rukhayah


" bukanya sebelum menikah sudah ku jelaskan kalau aku menolak keinginan Abahku untuk menikahi mu, kamu juga tau kalau aku sudah memiliki Rahayu dan kamu dengan keegoisan mu tetap tidak mau mengalah, mengapa kamu sekarang menyalahkan ku kalau aku masih mencintai Rahayu? "


kami merasa bersalah terhadap Bibi, dari cerita Mas Husein Bibi bukanlah orang yang tidak baik. hanya saja Bibi sensitif terhadap hal-hal yang mengingatkan nya pada Rahayu. mungkin cerita ini seperti kisah Bibi dan paman.


Bibi pergi dengan marah, kemungkinan setelah ini Bibi akan membenciku.

__ADS_1


" maaf Sen dan Dewi atas sikap Bibi Rukhayah".


" ndak papa Paman, mungkin Bibi kaget mendengar pengakuan Husein, Husein minta maaf Paman harusnya Husein bisa menjaga perasaan Bibi".


" udah... udah... diminum dulu teh nya mas Husein dan mbak Dewi " ucap Aini mencairkan suasana, sambil membawa nampan berisi teh dan samosa.


" makasih Aini, gimana sekolah mu? "


tanya Husein


" alhamdulillah lancar mas, rencananya tahun depan Aini mau kuliah di kota "


" bagus Ai, nanti gak usah kost, kamu bisa barengan sama Mbak Hana "


" iya Mas, kemarin juga pas Ayah telp ke Abah, Abah memang menyarankan untuk tinggal di rumah saja ndak boleh kost.


" rencananya mau ambil jurusan Apa Ai? " tanyaku mencoba mengakrabkan diri


" belum tau " jawaban nya ketus banget, beda pas bicara sama Mas Husein.


" oh.... " balasku mencoba tak perduli lagi dengan makhluk di depan kita itu.


" kok Mbak Jihan gak pernah di ajak2 kemana mana sih Mas ? kan Mbak Jihan calon nya Mas Husein" tanyanya memancing emosi


ku lihat Mas Husein hanya diam tak ingin sedikitpun menjawab pertanyaan yang menusuk itu, dia seperti nya tak mau ambil pusing dengan masalah ini. dia ingin lebih fokus pada usahanya.


Aku hanya mengambil minum dan meminum nya berusaha bersikap wajar, pura-pura tak peduli. meskipun ada rasa perih yang menyayat atas perlakuan Bibi Rukhayah dan Aini.


salah ku dimana? Aku berhak atas Mas Husein karna dia telah memilihku dan dari awal Mas Husein sudah menolak Jihan.


Aku juga tau Jihan mengetahui hal tersebut, beberapa kali kulihat sendiri kalaun Mas Husein menolak Jihan di depan keluarganya dan di depan Jihan sendiri...


tapi mengapa tak pernah sedikit pun Jihan curhat tentang Mas Husein ke aku.


Aku sendiri tak pernah bertanya tentang urusan asmara Jihan kalau bukan Jihan sendiri yang bercerita, selama bersahabat denganku soal asmara memang tidak pernah berbagi cerita. bagi kami asmara adalah urusan pribadi tak perlu jadi konsumsi publik.


persahabatan kami baik baik saja sampai saat ini, Jihan masih sering menginap di kost.


harapku semoga Jihan dan Abah mengerti yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


kami pamit pulang dan berjanji akan kembali minggu depan di hari sabtu untuk bicara bisnis.


__ADS_2