
Siang ini aku memutuskan langsung ke Jogja. aku ingin segera meninggal kan kota ini dan tak ingin kembali. ekspektasi ku soal Mas Husein terlalu tinggi, jadi ketika tak terwujud rasanya seperti dihempas kan dari gedung bertingkat.
Harusnya aku yang menjadi istrimu Mas Husein, aku yang sudah memperjuangkan hubungan kita,. aku yang sudah mendampingi hidupmu saat-saat kamu berjuang menjadi manusia yang berkualitas baik secara materi maupun non materi. sekarang setelah semuanya tercapai mengapa Abah mu tetap diam tak mau memahami kondisi kita.
Janjimu akan ku tunggu Mas, kita buktikan sampai dimana usahamu memenuhi janji-janjimu itu.
kereta yang membawa ku sudah sampai di Yogyakarta, Ibrahim sudah menunggu ku. segera ku hampiri sebuah SUV diparkir an.
" hay Ibrahim " sapaku manis
" Riyanti Dewi..., silahkan masuk "
pintu mobil dibukanya, segera ku masuk dan duduk di samping nya.
" selasa kamu sudah bisa masuk kerja "
" oke, oh ya untuk kost-kostan ku gimana? "
" tenang ajah, udah ready urusan tempat tinggal. kamu bisa pakai motorku kalau kamu mau "
" oke, untuk sementara waktu aku pinjam dulu ya "
Ibrahim berhenti di depan sebuah rumah besar dan mewah kata Ibrahim daerah ini namanya Timoho.
" ayo turun, itu kost-kostan mu dan sebelah nya rumah orang tuaku "
" sekalian bilang kalau kost-kostan itu punya orang tuamu "
" betul, itu kost punya Bapak Ibuku " jawabnya datar
" sementara kamu tinggal di kost dulu ya, pas tiba waktunya aku akan halalin kamu, kamu bisa pindah ke rumah utama "
" ihhhh pede siapa juga yang mau kamu halalin "
" serius gak mau di halalin sama cowok seganteng ini? "
" udah ahhh... aku udah ada Mas Husein " ucapanku ngasal
" iya... iya yang udah punya calon suami "
" ngomong-ngomong Arini apa kabarnya? "
" baik-baik saja, hanya saja aku sudah mulai bosen sama dia, hidupnya monoton gak ada seru-serunya ".
" kerja di rumah sakit mana sekarang? "
" masih di JIH ".
Arini kekasih Ibrahim, dia seorang dokter anak di salah satu rumah sakit swasta di Yogyakarta. kehidupan nya mapan, teratur dan normatif mungkin alasan itulah yang membuat Ibrahim bosen dengannya.
aku sendiri belum pernah bertemu langsung sama Arini, hanya melalui cerita dari Ibrahim lah aku mengenal nya.
" nanti malam kenalin dong sama Arini "
" oke, nanti malam kita janjian di cafe "
Ibrahim mengajakku melihat kamar kost, sekalian beberes kamar dan menata barang barangku.
tak banyak yang kubawa hanya baju, peralatan pribadi dan beberapa buku saja. aku bersyukur dikamar kost ini sudah lengkap fasilitas nya. kasur, lemari pakaian maja dan kursi sudah di sediakan sama Ibu kost.
" ini mbak Riyanti Dewi yang akan menempati kamar nomer 8 ya? "
" iya bu " segera ku berjalan ke arah suara barusan, ku pandangi wanita yang cantik nya alami dan kecantikan itu tak lekang oleh usia.
__ADS_1
" ini Ibu... cantik kan " ucap Ibrahim mengenal kan Ibunya
ku raih tangan beliau dan dengan takzim ku cium punggung tangan sebagai tanda penghormatan.
" pinter kamu le cari calon istri, kapan mau di halalin? "
aku terbelalak mendengar penuturan Ibu nya Ibrahim
" secepatnya Bu, Ibu setuju kan kalau aku menikahi Riyanti? "
" yo jelas setuju , wong Ayu tenan calon mu iki. wes cepetan tak lamarke neng Bogor ".
aku hanya tersenyum menjawabnya, berharap Ibu kost segera pergi. setelah ini aku akan cari perhitungan sama Ibrahim.
setelah Ibu pergi ...
" maksud mu apa Ib? " tanyaku ketus
" kamu itu sudah berkali-kali aku bilang, kalau aku inginkan kamu jadi istriku. kapan kamu setuju aku lamar? "
" ngaco "
jawabku seraya meninggalkanya dan melanjutkan beberes kamar
" Riyanti aku seriSrius, bahkan Ayah dan Ibuku juga tau tentang ini semua dan mereka merestui nya. ayolah dewii... "
" maaf Ibrahim aku masih punya Mas Husein "
" cukup Riyanti Dewi, aku udah tau kalau Husein sudah menikahi Jihan sahabat mu " ucapnya dengan nada tinggi
aku terdiam sejenak, sepertinya Tania sudah menceritakan tentang pernikahan Mas Husein.
" dia memang menikah, tapi dia mampu menyakinkan ku kalau dia masih milikku "
" aku mengenal Mas Husein dengan baik. aku yakin dia bisa menjaga kepercayaan ku "
" jangan keras kepala seperti itu Riyanti, kasihan Jihan kalau tau suaminya masih memikirkan mantan kekasih nya "
" salah sendiri dia memaksakan keadaan, bukanya selama ini dia tau akan hubungan ku dan Mas Husein".
" ini sudah takdir " jawab Ibrahim
" sudahlah Ibrahim biarkan aku seperti ini dulu, berikan aku waktu memikirkan smua ini dengan baik-baik "
Ibrahim menatapku lekat dan seraya mencium kening ku
namun secara reflek ku dorong dia.
" aku mau istirahat capek banget "
Ibrahim bangkit dan berjalan meninggalkan ku sendiri dikamar.
segera ku kunci pintu kamar dan ku rebahkan tubuh lelah ini.
air mata ini sudah tak mampu ku bendung lagi, peristiwa demi peristiwa yang ku lalui bersama Mas Husein seakan akan terputar kembali dalam ingatan.
derrrttt... derttt...
sebuah panggilan dari handphone ku, kuraih dan ku lihat Mas Husein sedang menelpon ku.
( assalamu'alaikum Dewi... kamu sudah sampai Jogja)
(waalaikumsalam Mas Husein, iya sudah sampai Jogja, ada apa Mas ?)
__ADS_1
( aku hanya memastikan saja kamu baik baik sampai Jogja)
( oh... makasih, udah ya Mas gak baik menghubungi ku begini, kamu sudah menikah loh)
( oke aku tutup)
Aku tau Mas Husein lebih terluka menjalani smua ini, tapi ini pilihannya. kalau saja dia lebih bijak dalam mengambil keputusan aku rasa semua ini tak akan terjadi.
..... ....... ....
POV Husein Abdurrahman
Ini bukan hanya tentang cinta antara aku dan Riyanti Dewi, tapi lebih dari itu.
ini tentang dua anak manusia yang mencari jati diri.
aku menemukan kehidupan yang penuh warna buka seperti kehidupan ku yang lalu setelah kepergian Fatimah Salma.
Kemarin saat pernikahan ku dengan Jihan, Riyanti Dewi datang dengan sebuah ketegaran. Dia datang memenuhi janji pada ku, pada Abah dan pada sahabat nya.
Aku telah menghancurkan kepercayaan tentang sebuah hubungan, janjiku menjadikannya istri harus kandas karna kelemahanku akan janji Abah pada keluarga Jihan.
siang itu setelah akad nikah aku masih bisa mengejarnya, aku masih berusaha meyakinkan Dewi kalau smua akan baik-baik saja dan kita akan kembali lagi. saat-saat seperti itu aku masih bisa memeluk nya dan kami larut didalam nya.
Setelah semuanya beres aku akan segera mempersiapkan surat perceraian dengan Jihan. setidaknya aku telah menggugurkan kewajiban Abah untuk memenuhi janji pada sahabat nya. setelah semua berakhir akan ku pinang kekasih hatiku itu.
" Mas... tidur yuk, Jihan ingin tidurnya dalam pelukan Mas " rengek Jihan sesaat memasuki kamarku.
" maaf Jihan untuk malam ini dan seterusnya silahkan kamu tidur dikamar tamu " ucapku penuh penekanan
" mas aku ini istri sah mu loh"
" iya, istri secara formalitas bukan istri sebenarnya "
" Aku aduin ke Ammi dan Abah "
" silahkan, aku tetap pada pendirian ku. aku menikahimu hanya untuk menggugurkan kewajiban Abah. setelah ini akan ku urus surat perceraian kita"
" Mas mengapa kamu tega kepadaku Mas? "
" kamu juga tega sama aku Jihan, kamu tau hubungan ku dengan Dewi, tapi kamu malah bersikeras menikah dengan ku. parahnya lagi kamu tekan Abah agar Abah menolak Dewi".
" jahat kamu Mas, sepicik itukah kamu menilai ku "
" ini bukan argumentasi semata tapi aku dengar sendiri bagaimana kamu menekan Abah. kamu pakai janji Abah sebagai senjata untuk mengancam beliau agar tetap menikahkan mu dengan aku, pergilah Jihan jangan sampai aku mengusir mu dengan kasar ".
" pasti semua ini karna Dewi, aku benci sama Dewi " ucapnya seraya berlalu dari kamarku.
segera ku kunci kamar agar Jihan tidak bisa masuk ke kamar.
segera ku rebahkan diri, merefleksi segala sesuatu yang terjadi belakangan ini. sepertinya perjuangan ini akan melelahkan Dewi jika tanpamu.
tok tok tok
sebuah ketukan membangunkan ku dari ingatan masa lalu
" Husein ini Abah Nak, buka pintunya ".
benar dugaanku perempuan licik itu mengadu pada Abah.
aku memiliki pura-pura tidur, badanku sudah capek kalau dipakai berdebat dengan Abah dan Ammi lagi.
samar ku dengar perbincangan mereka. sepertinya Mengganggap ku sudah tidur. syukur malam ini aku bisa tidur dengan nyaman.
__ADS_1