Jangan Terima Aku Apa Adanya

Jangan Terima Aku Apa Adanya
kenyataan ini terlalu pahit Abah


__ADS_3

Pagi yang ceria membuatku bersemangat, tak perlu bersedih atas apa yang sudah terjadi. Sebanyak-banyaknya air mata mengalir toh tidak akan mengubah keputusan Pak Abdurrahman seorang yang paling berpengaruh di kampusku. Berapa pun alasan yang kubuat tidak akan membenarkan ku karna alasanya bukan soal demo waktu itu tapi lebih tepatnya karna aku menginginkan putranya untuk menjadi suami ku.


Ting


ku buka Hp, SMS dari Mas Husein. segera ku buka


" Dee, ku antar ke kampus "


" gak usah Mas "


" loh... kamu marah? "


" tidak "


" lantas "


" ada kejutan buat kamu "


" apa"


" R "


jawabku singkat


Setelah bersiap siap ku ambil kunci motor dan ku lajukan motor dengan kecepatan sedang menuju ke rumah sakit Karyadi.


Berjalan menyusuri koridor demi koridor rumah sakit ini membuatku bergidik ngeri, aroma khas rumah sakit menyeruak membuat ku percepat langkah agar segera sampai ke ruangan yang ku tuju. hanya barbakal nama pasien ku dapati ruang perawatan Tuan Ali Abdurrahman.


Tok Tok Tok


Tak membutuhkan waktu lama pintu di bukakan, ada senyuman getir terlihat dari wanita separuh baya itu.


" Assalamu'alaikum Ammi, apa kabar? " ucapku sembari mencium punggung tangan wanita itu


" waalaikumsalam, ngapain kamu ke sini? " jawabnya ketus


" saya dengar Bapak Ali Abdurrahman sakit, makanya saya ingin menjenguk beliau "


" Pasti Husein yang sudah mengabarimu? "


aku hanya tersenyum penuh kemenangan


" boleh saya masuk Ammi " pintaku


" suami saya sedang tidak bisa di jenguk "


" Ohhh bukannya bebas ya ruangan VVIP jam berkunjung nya? "


" iya, tapi saya tidak suka kamu datang ke sini "


" kenapa Ammi? bukannya Bapak Ali Abdurahman ayah dari calon suami saya " jawabku mengoda


Ku perhatikan sejenak raut wajahnya sudah berubah garang sepertinya mau menerkam mangsa nya


" saya tidak sudi punya menantu sepertimu, Paham? "


" oooo... tapi Mas Husein mau saya yang jadi istrinya, bagaimana ini Ammi ? " balas ku dengan sopan dan tak terpancing emosi sedikitpun


" Ammi ada siapa ya? " suara itu, milik Mas Husein


dengan semangat ku jawab

__ADS_1


" Riyanti Dewi di depan mas, pengen nengok Pak Ali "


ku dengar langkah menghampiri pintu, senyum dingin itu masih tetap menjadi pemiliknya, tatapannya tak pernah berubah masih tajam setajam elang.


" Masuk Dee, Abah di dalam "


Seraya pintu di buka dan Ammi dengan terpaksa memberikan ku jalan.


tak lupa ku berikan oleh-oleh ke Ammi.


" apa kabar Pak Ali Abdurrahman bagaimana kondisi nya? "


kedatangan ku membuat nya terkejut, beliau hanya diam tak bergeming saat ku dekati.


" Syukur Abah sudah melewati masa kritisnya Dee "


jawab Mas Husein mewakili Abahnya


" syukur lah Abah mu sudah baikan, "


" Kamu gk kuliah Dee, kok sepagi ini sudah sampai sini? "


" aku dapat skorsing dari kampus "


" jangan bercanda ah "


" aku gak bercanda Mas, 1 bulan aku di skors dengan tuduhan aku bagian dari kerusuhan demo kemarin "


" demo??? demo apaan?? kapan dan demo yang dimana? " Mas Husein memberondong pertanyaan dengan penasaran


" iya beberapa hari kemarin ada demo di gedung hijau, itu loh mas soal biaya masuk kampus untuk maba yang dinaikan kampus, aku tau soal demo itu, seperti biasa Agus yang mengawali demo kemarin itu, sempat dia ngajakin aku cuman aku sedang sibuk dengan tugas-tugas jadi aku tolak ".


" sudah jelas kamu tidak ikut kok sekarang dapat tuduhan semacam itu "


tanyaku menyelidik, sedikit ku lirik Pak Ali Abdurrahman


beliau masih berpaling tapi aku sangat yakin kalau beliau mendegarkan obrolan kami.


" mana boleh gitu Dee "


" boleh lah kan yang berkuasa, sudahlah Mas smua pasti ada balasannya, sebuah kebanaran pasti akan terungkap pada waktunya, percuma cari keadilan sana-sini toh kita tak memiliki bukti, sekalipun ada bukti belum tentu kita bisa menang, melawan pecundang seperti mereka hanya perlu sebuah pembuktian, kita lihat saja nanti ".


" aku pasti mendukung mu Dee "


" Terima kasih ya Mas, kita buktikan pada orang-orang di sekitar kita kalau apa yang kita jalani ini bukan lah sebuah hubungan yang lemah tapi sebuah hubungan yang kan membuat diri kita masing-masing semakin kuat "


" aku percaya padamu Dee "


" Pak Ali Abdurrahman dan Ammi saya pamit mau pulang dulu, mohon maaf kalau kehadiran saya disini membuat Anda tidak berkenan, saya pamit dulu, semoga lekas membaik dan Terima kasih atas surat yang dikirimkan melalui jurusan kemarin "


ucapku seraya keluar dari kamar, langkahku di ikuti Mas Husein.


" apa yang kamu bicara dengan Abah? "


" tidak hanya mendoakan saja " ucapku datar


" surat apa? "


" ahh tidak, kamu hanya salah denger saja kok Mas "


" ohhh2, aku antar sampai parkiran "

__ADS_1


" ok, "


untung saja dia nawarin mau antar sampai parkiran, kalau tidak bisa berlari aku kalau harus melewati koridor-koridor yang sedari tadi aku sangat tidak menyukainya.


" Mas ini surat Skorsing nya "


ku sodorkan surat itu ke Mas Husein


aku senyum mengambang dari ujung bibirku.


tanpa pamit ku tinggalkan parkiran rumah sakit


tanpa melihatnya lagi kulajukan motor.


POV HUSAIN


Masih dalam genggaman ku surat yang barusan di sodorkan padaku, perlahan ku buka. Mataku terbelalak ada rasa ragu dengan sebuah nama yang tercantum dalam surat skorsing ini. " Abah... ".


ku langkahkan kaki sesegera mungkin menuju ruang perawatan Abah. ada kesedihan yang begitu dalam atas sikap Abah terhadap Riyanti Dewi.


Aku lupa jika Abah lah yang memiliki 60 persen universitas tempat ku dan Dee kuliah.


ku buka pintu, derit pintu ini sangat pilu sepilu kekecewaan ku terhadap Abah. bisa-bisanya Abah melakukan perbuatan rendahan seperti ini.


" Abah, coba jelaskan apa maksud surat skors ini?? "


ku sodorkan surat pada Abah, namun Abah tak bergeming


hanya tatapan sinis yang tergambar di wajah tuanya.


" Abah... '' panggil ku lagi saat Abah mulai berpaling.


ada guratan sendu dalam wajahnya. sepertinya Abah kecewa dengan sikapku yang lebih membela Riyanti Dewi.


" Husein apa-apaan kamu ini? tak ingat kah saat ini Abah mu masih dalam proses pemulihan dari sakit nya?" sela Ammi saat aku masih berusaha mencari jawaban dari ketidakadilan terhadap Riyanti Dewi.


" tapi Ammi... ini tidak adil buat Riyanti Dewi, ayolah lah Ammi tolong pahami situasi ini "


" biarkan saja Husein bicara Ammi, Abah ingin mendengar kan, ayo Husein kamu bisa bertanya tentang surat itu "


Abah dengan suara yang masih lemah angkat bicara


" sebenarnya ada rasa tidak tega melihat Abah yang masih tidak berdaya tapi bagaimana pun keadilan harus di tegakkan. aku tak ingin Abah melakukan kesalahan hanya karna ketidak sukaan terhadap Riyanti Dewi "


" Husein gadis mu itu perempuan yang cerdas, cantik dan ramah tapi " Abah terdiam, sebuah kalimat terjedah ada sebuah penekanan yang sulit ku pahami.


" tapi Riyanti Dewi salah telah menerima ku menjadi calon suaminya kah Abah?, karna Abah telah memilih calon menantu kan " sela ku dengan meninggikan suaraku


" Maaf Abah aku telah lancang memotong perkataan Abah " ucapku dengan rasa bersalah


" iya nak, Abah tidak mau kamu bersama nya, bukan karna dia tidak baik buatmu Sein, tapi Abah sudah memilih Jihan untuk menjadi istrimu, maafkan kami sein ". sepahit inikah kenyataan yang harus ku terima.


" Abah, apa tidak bisa dibatalkan saja perjodohan ku dengan Jihan?" tanyaku penuh harap.


Abah hanya terdiam, ku telusuri raut wajah Abah. ada kesedihan yang tertahan.


" Husein...., selulu saja tidak menurut kata Abah. mana ada orang tua yang akan menjerumuskan anak-anaknya " jawaban Ammi dengan nada tinggi.


" baik buat Abah dan Ammi belum tentu baik buat Husein " sedikit ketus ku jawab perkataan Ammi.


" keputusan Abah tak akan bisa dirubah " sahut Ammi dengan sangat egois

__ADS_1


" urusan tentang skorsing Riyanti Dewi belum selesai Abah, kita bicara kan lagi nanti saat Abah pulang dari rumah sakit "


ku berlalu meninggal tanya yang belum usai, untuk sementara aku tak ingin membuat Abah terlalu banyak pikiran.


__ADS_2