
Perjalanan yang cukup melelahkan, bukan karena jarak yg membuat lelah namun sikap-sikap mereka yang membuatku lelah. pernyataan bibi Rukhayah dan Aini mampu membuat ku ragu untuk menemani Mas Husein, terlebih lagi saat mereka tau kalau ternyata Jihan adalah sahabat ku.
Sepanjang perjalanan aku banyak diam, begitu pula Mas Husein. kami larut dalam pikiran Masing-masing. Dua jam berlalu tak terasa udah sampai kostku.
" Mas langsung pulang saja ya, gak usah mampir kost, aku capek nih " pintaku
" oke, nanti ku telp kalau udah sampai rumah "
Mas Husein melajukan motor meninggal kan kost.
Malam hadir dalam sepi ada bimbang dan keraguan yang teramat saat menggigat permasalahan ini. aku merasa bersalah pada Jihan. Tapi rasa ini begitu indah untuk ku abaikan.
tok... tok... tok
pintu kamarku ada yang mengetuk, segera ku buka dan ternyata Jihan yg kini di hadapanku.
" masuk Han " ucapku mempersilahkan Jihan masuk, ku perhatikan wajah cantik itu, terlihat sembab matanya sepertinya Jihan habis menangis.
" Jihan kamu baik-baik sajakan? "
" aku sedang tidak baik-baik saja Dee" jawabnya sambil duduk di tepi kasur.
" kanapa Jihan ? "
" Dee, aku sedih. kamu ingat gak sama cowok yang ku kenalkan pas wisuda kemarin? "
deg.... jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya, apa yang dikatakan Jihan pasti ada hubungannya dengan kejadian tadi pagi di rumah paman sholeh. Aini atau bibi Rukhayah pasti yang cerita.
" iya inget, diakan kakak tingkat kita juga kan Han? " jawabku pura-pura tak mengenal nya
" betul Dee, aku boleh curhat tentang Mas Husein? "
" tentu boleh, aku kan Sahabat mu Jihan "
" Dee, Mas Husein dari kecil sudah di jodohkan denganku, Abah Mas Husein yang memiliki inisiatif itu, Abahku pun menyambutnya dengan senang hati. setelah kepergian Abah untuk selamanya, Abah Mas Husein lah yang selalu menjaga keluarga kami. sampai aku dan Adik ku dewasa, Ibunya sudah seperti Ibu kami. Aku sendiri sangat nyaman dengan perlakuan Mas Husein terhadap ku, benih benih cinta mulai bermekaran tumbuh subur tak pernah layu. aku mulai mencintai Mas Husein saat aku duduk di bangku SMA, aku berfikir rasa ini mendapat balasan tapi aku salah. " Jihan terdiam, mengatur napas yang berpacu dengan emosi. air mata itu akhirnya tumpah lagi setelah susah payah tertahan.
aku tak berekasi apapun, perasaan ku bercampur aduk. satu sisi aku bahagia menjadi bagian laki-laki impianku itu, disisi lain ada Jihan sahabat ku yang selalu baik padaku.
" Dee, aku salah... ku kira perhatian Mas Husein selama ini cinta tapi aku salah bukan cinta dee. Mas Husein hanya mengganggap ku tidak lebih dari seorang adik. dia menjagaku seperti menjaga Hana " Jihan mulai terisak tangisnya semakin manjadi
__ADS_1
Aku masih diam, tak sepatah katapun ucapkan
" sore tadi Aini, sepupu Mas Husein menelepon ku, dia cerita kalau Mas Husein datang bersama perempuan yang di kenalkan sebagai calon istri nya "
Air mata yang sedari tadi ku tahan akhirnya meleleh juga. ku rasakan ada butiran-butiran bening membasahi pipi. ada perasaan bersalah tapi apa salahku? jelas-jelas ,Mas Husein menolak Jihan dan memilih ku.
" siapa perempuan yang dibawa Hesein Han? " tanyaku menyelidik
" sialnya Aini lupa nama perempuan itu "
aku bersyukur Aini lupa namaku
" maaf Han sebelum nya, mungkin kamu harus belajar menerima kenyataan ini, kamu harus belajar melupakan Husein, kamu gak bisa maksa Husein untuk membalas rasa mu " kalimat yang ku tahan-tahan akhirnya dapat meluncur dengan sempurna
Mata Jihan terbelalak menatap ku, aku yakin dia kecewa dengan pernyataan ku barusan. maaf Jihan aku tidak bermaksud membuatmu sedih tapi ini lah yang terbaik buatku buatku dan buat Husein.
" Dee... bukanya mendukung ku malah bicara begitu " nada suaranya sedikit meninggi..
" sorry Jihan, aku gak bermaksud seperti itu, Justru apa yang ku katakan itu lah yng terbaik buatmu"
" Dee, dari kecil aku mengganggap Mas Husein My Hero, setelah remaja aku mulai memimpikannya dan setelah dewasa aku ingin memiliki nya secara halal "
" iya... cinta bisa tumbuh seiring waktu dalam sebuah pernikahan, Abah telah memilih ku menjadi menantunya "
" iya Abah telah memilih mu menjadi menantunya, tapi bukan kamu yang dipilih Husein menjadi istrinya " ucapku sinis dan aku yakin ini benar-benar menyakiti Jihan, tanpa Jihan sadari aku juga sakit.
" jaga bicara mu Dee, kamu gak ada hak mengatakan itu "
" sebuah kebenaran memang pahit Han, tapi semakin cepat kamu menyadari akan semakin baik, aku berhak mengatakan ini padamu Han karna aku " aku terdiam tak mampu ku lanjutkan kalimat itu
" karena aku sahabat mu, aku mau kamu mendapatkan cinta dari lelaki yang juga mencintai mu, jangan paksa Husein mencintaimu Jihan, kasihan dia, itu mau Abahnya"
" restu Abah cukup buat ku, tak kan ku biarkan perempuan itu merebut Mas Husein dariku "
" egois "
" ayolah Dee jangan begitu padaku, harusnya kamu mendukung ku karna kamu sahabat ku "
" sahabat yang baik adalah sahabat yg selalu mengingat kan kalau sahabat nya salah Han "
__ADS_1
" salahku dimana Dee? harusnya perempuan itu menolak Mas Husein karna dia tau kalau Mas Husein sudah di jodohkan "
" gak bisa begitu Han, jelas kamu tau Husein tak mencintaimu dan dia memilih perempuan lain, Jihan jangan kamu paksakan keadaan ini berjalan sesuai keinginan mu, tidak semua yang kamu inginkan bisa kamu dapatkan. ada rasa orang lain yang tersakiti dengan keinginan mu dan Abah, kasihan Husein "
" dee... aku berharap saat bertemu kamu aku bisa sedikit lega, tapi aku salah kamu sedikitpun tak mendukung ku "
" aku mendukung mu Jihan, percayalah padaku sesuatu yang dipaksakan tak kan baik hasilnya "
Jihan berdiri dan melangkah pergi, ku menatap nya dengan perasaan campur aduk. aku sedih mengapa aku harus berhadapan dengan sahabat ku sendiri. aku tahu tentang ini setelah aku menerima Mas Husein.
10 panggilan masuk dari Mas Husein di Hape ku abaikan, gak ada niatan sedikitpun menjawab atau menghubungi balik. ku biarkan diriku sendiri dulu tanpa Mas Husein ataupun Jihan mengganggu ku.
sebuah SMS masuk di Hapeku
( Dee, angkat telpon ku)
aku tak berniat membalasnya hanya ku buka saja
sebuah panggilan telp dari Husein lagi dan seperti tadi masih ku abaikan.
ku raih Hepe dan mulai mengetik sebuah SMS
( terkadang menghadapi kebenaran)
( memang menyakitkan)
( tapi hidup pada sebuah khayalan)
( akan jauh lebih menyakitkan)
ku kirim SMS itu pada Mas Husein
tak lama SMS ku dibalas
( maksudnya apa Dee?)
( aku ragu melanjutkan nya) balasku
( angkat telpon ku) pintanya
__ADS_1
ku abaikan dan ku matikan Hapeku