Jangan Terima Aku Apa Adanya

Jangan Terima Aku Apa Adanya
Rasa Ini


__ADS_3

Aku bergegas ke kampus, setengah jam lagi kuliah akan dimulai. ku lajukan motor dengan kecepatan tinggi, setiba di parkiran ku parkir motor dengan rapi, berlari kecil aku menuju kelas. sepertinya kelas akan di mulai aku tidak boleh terlambat. Aku gak mau berurusan lagi dengan dosen killer ini, masih tergambar jelas di ingatanku di semester 1 gegara 2X absen di mata kuliah pengantar Sosiologi yang beliau ampu, lah kok nilai yang keluar D, dengan terpaksa aku mengulang mata kuliah beliau padahal hasil ujianku gak jelak.


beliau dosen killer udah terkenal seantero jurusan. semester ini aku bertemu dengan beliau lagi di mata kuliah Sosiologi Politik.


syukur beliau masih belum masuk ke kelas, ku ambil tempat duduk disamping Vita. ingin rasanya duduk di dekat Jihan tapi gak mungkin untuk hari ini, sepertinya Jihan masih marah dengan kejadian semalam.


" Dewi... lihat sebelah ku ada siapa? " bisik Vita, ku lempar pandanganku segera, jujur aku penasaran.


aku terkejut melihat Ibrahim duduk disebelah Vita.


" ngapain dia di sini Vit, kamu gak takut apa? sekarang jam nya Prof Siswanto!"


" iya kau tau, lagian mana apal prof Sis sama mahasiswa nya " jawab Vita dengan santainya, aku yang jadi deg-degan takut ketahuan, eh yang kami bicarakan malah senyum-senyum meledek.


lima belas menit berlalu namun tak kunjung datang yang kami tunggu.


krieett


pintu di buka, namun bukan Prof Sis yang masuk tapi Bu Nina TU jurusan.


'' Prof Siswanto tidak bisa memberi kuliah pagi ini, beliau sedang sakit"


kok jadi lega ya beliau tidak hadir, waduh gak boleh gitu juga kali, baliau mah lagi sakit harusnya kita simpati dan mendoakan beliau agar segera sehat kembali.


" berarti kosong ya bu Nina?' tanya Herlambang mengoda bu Nina.


pertanyaan basa basi, aku tau beberapa bulan ini Herlambang memang sedang mendekati Bu Nina. Bu Nina memang masih single usia kami tidak jauh beda, sekitar 7 tahunan di atas kami. sudah menjadi rahasia umum kalau Herlambang memang lebih menyukai perempuan yang usianya lebih banyak dari dia.


kelas sudah kosong, hanya menyisakan aku, Vita, Ibrahim, Jihan, Arya dan Utomo.


ku perhatikan Jihan, ada sesak dihati. bagaimanapun juga Jihan adalah sahabatku. Jihan sahabat yang selalu ada dalam suka dan duka, hanya karna kami mencintai lelaki yang sama membuat hubungan kami memudar.


haruskah ku lepaskan Mas Husein untuk Jihan?. pertanyaan itu kerap muncul di pikiranku, lagi-lagi aku menyakinkan diriku sendiri kalau aku akan memperjuangkan hubungan dengan Mas Husein. masih banyak yang harus aku lakukan untuk mendukung usaha Mas Husein.


" Aku permisi duluan " ucap Jihan sinis, aku tau kalau Jihan masih marah, jangankan bicara padaku melihatku saja enggan rasanya.


kami hanya mematung melihat Jihan berlalu, kulihat Ibrahim sedari tadi memperhatikan Jihan. Laki-laki mana yang yang terkesima melihat kecantikan dan keanggunan Jihan. tinggi semampai, kulit putih, wajahnya sangat cantik. kecantikan Ammi nya yang merupakan orang Pakistan menurun padanya.


Hari ini Jihan memang sangat cantik, tidak sekucel semalam. Hari ini dia kekampus memakai celana berbahan denim berwarna biru muda dipadukan dengan atasan warna merah dan mengenakan jilbab bunga kecil warna senada dengan atasannya. kecantikan yang sempurna.


" ehemmm cantik banget ya Ibrahim?" seru Vita membuyarkan keheningan


" iya Vit, makluk sesempurna itu kok gak kamu kenalin ke aku dari dulu" jawabnya datar dan masih terlihat cool, tatapannya masih tertuju pada Jihan meski Jihan sudah tidak tampak lagi.


ku lirik Vita yang cemberut menaggapi ocehan Ibrahim.tapi yang di cemburui tak merasa.


" sudahlah Vita masih akan memperjuangkan cowok seperti itu kah? "


ku tunjuk Ibrahim dengan rasa kesal, enak saja tatapan nya ke Jihan membuat ku tak suka. bagaimanapun Jihan adalah sahabatku.


" wah ada yang cemburu nih, tenang saja Dewi aku masih padamu kok, di mataku kamu lah satu-satunya perempuan yang paling indah"


" apaan sih Ib, ngacok ajah " potong ku sebelum dia bicara yang nggak-nggak lagi. aku gak enak sama Vita.


" beneran dewi, jauh-jauh aku ke Semarang demi apa coba kalau bukan demi kamu "


" husst kamu mah suka gak jelas gitu "


" aku serius dee, aku suka padamu "


pengakuan Ibrahim membuatku terhenyak, mana mungkin Ibrahim yang seganteng ini digandrungi banyak perempuan bisa-bisanya memilihku.

__ADS_1


" kamu gak sedang bercanda kan Ibrahim? " tanya Vita penasaran


" aku serius Vit, sejak pertemuan itu aku sudah menyukai Dewi "


ku lihat Vita mulai berkaca-kaca, ada sebuah sesak menyelimuti hatinya, mendung mulai menyapu wajahnya.


semoga ini hanya sebuah lelucon Ibrahim, aku tak mau kehilangan Vita seperti aku kehilangan Jihan.


aku hanya ingin fokus kuliah dan Mas Husein saja. selebihnya semua ini bukan urusanku.


mendengar ucapkan Ibrahim barusan membuat suasana kembali hening, kami larut dalam pikiran masing-masing


3 detik kemudian terdengar tawanya pecah memenuhi ruangan.


" maaf barusan itu hanya bercanda Dee, lagian ngapain tadi pagi ngerjain aku ? "


" siapa yang ngerjain kamu?, mana ada waktu buat ngerjain orang gak penting seperti mu "


'' masak sih, tadi ngapain ngintip di balik tirai pakai bilang sudah sampai kampus "


" siapa yang ngintip?"


" heee masak iya di kost kamu yang ngintip Vita "


" sudah-sudah, ayoo ku traktir makan soto bangkong " sela Vita diantara pertengkaran kami


" tapi aku pengen makan gimbal Vit "


pinta Ibrahim


" gimbal mah nanti malam adanya, kamu nginep kan malam ini?, mendingan nginep saja capek loh diperjalanan "


" rencananya nginep, aku ada om di Banyumanik, mungkin aku nginep di Om ku saja"


" gitu dong Ib, nanti malam ku traktir gimbal "


" masak kalian yg traktir, malam ini aku yang traktir kalian berdua "


sifat lelakinya muncul, aku selalu suka dengan karakternya. lelaki yang terlihat sangat pendiam, tapi kalau sudah akrab dia bisa lebih banyak bicara dari pada kita.


hampir saja aku tergoda dengan kata-kata nya barusan,


udah ge er saja nih, ah Ibrahim... lelucon mu mampu membuat jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya.


ting...


ada SMS


segera ku buka HP dan benar dari Mas Husein


( aku di depan kelas mu)


( keluar... )


bergegas aku keluar, Ibrahim dan Vita juga mengikuti ku dari belakang


" Mas, kok gak bilang-bilang kalau mau menjemput ku?" tanyaku sebelum dia bicara1


" iya, ada yang ingin aku bahas Dee "


" oke, kita ke kost saja ya " ajakku

__ADS_1


." oke oke"


" Mas kenalin ini Ibrahim, teman ku dan Vita yang dari Jogja "


segera Mas Husein mengulurkan tangan dan di sambut Ibrahim


" Husein "


" Ibrahim "


kedua lelaki itu berjabat tangan, siapapun yang melihat mereka pasti akan terpesona. Allah menciptakan manusia sesempurna ini.


" maaf ya Vit aku gak bisa ikutan makan soto, nanti malam aku usahain ikutan makan gimbal "


mereka hanya Mengnganguk tanpa kata, seperti nya Vita masih syok saat Mas Husein menjemput ku. dia tak menyangka aku lah pilihan Mas Husein, pilihan dari sekian banyak pilihan perempuan-pempuan yang mengidolakan Mas Husein.


" kamu harus menjelaskan semua ini padaku Dee " bisik Vita


seraya berlalu di ikuti Ibrahim


selepas meraka pergi, kami juga pergi ke kost ku.


kami ngobrol diteras depan kost.


" apa yang mau di bicarakan Mas?"


" gini Dee, akhir-akhir ini usaha aloe Vera ku mengalami masalah " curhat Mas Husein lesu


" masalah apa Mas? " aku mencoba membangkitkan semangat nya lagi


" para tengkulak yang biasa mengambil hasil panen membatalkan pesanan "


" loh kok bisa? gak ada masalah kan dengan hasil aloe veranya?"


" gak sih, masalahnya para tengkulak itu pindah ke petani lain dengan harga yang lebih murah. menurut info dari temanku mereka berani jual murah soalnya hasil panennya dengan kualitas kelas 2 , sedangkan aku lebih mengutamakan kualitas ketimbang kuantitas".


" bagaimana kalau aloe Vera itu dijual dalam bentuk siap saji, maksudku dibuat nata de aloe Vera saja Mas!"


" bisa juga seperti itu, tapi kita harus mengolah aloe Vera itu dulu, aku tidak punya bayangan mengolah nya menjadi makanan ataupun produk kosmetik "


" sebentar.. sebentar aku punya teman lulusan tata boga, siapa tau dia punya ide buat mengolahnya, kebetulan dia masih proses mencari pekerjaan , siapa tau dia mau menjadi mitra"


segera ku ambil ponsel dan ku telpon Mbak Siska


" Mbak Siska apa kabar? ini aku Riyanti Dewi yang satu kost sama Mbak Wiwid teman mu !"


" oh iya, gimana Dee ?"


" Mbak masih kost di Sekaran kah? "


" masih"


" besok aku mau main, ada waktu kah?"


" emmm, ada Dee main saja "


" oke, makasih mbak siska " ku tutup dengan senyum yang mengambang


" makasih gadisku " ucapnya.


Rasa ini masih sama untuk Mas Husein tapi mengapa ada rasa lain, desiran ini terjadi saat Ibrahim menatapku.

__ADS_1


__ADS_2