
Mendengar perkataan Varis, Nisya sedikit terkejut.
"Gak usah dek. Ini entar lagi siap kok." Ucapnya.
Setelah mendengar perkataan Nisya, ekspresi wajah Varis berubah, ada sedikit kekecewaan yang tergambar dalam ekspresinya.
"Ya udah kak, saya duluan." Ucapnya.
"Oh.. Iya, makasih udah nolong tadi." Jawab Nisya.
Varis pun menjalankan motornya menjauhi dari tempat bengkel.
"Sok sok kecewa. Urus aja sana pacar Lo, gak usah tebar pesona sama gue." Ucap Nisya sedikit kesal.
"Apa neng?" Tanya tukang bengkel.
"Gak apa apa pak, ngomong sendiri tadi saya." Jawabnya.
Setelah motornya selesai di perbaiki, dia pun membayarnya dan secepatnya kembali ke rumah.
Besoknya, Nisya dan Katrina tinggal di sekolah karena latihan PMR, dan Helmy terpaksa pulang sendiri.
Saat sudah waktunya untuk latihan, seluruh anggota PMR berkumpul di depan teras.
Seperti biasa, Nisya selalu saja melihat Varis sedang memperhatikan dirinya. Lama kelamaan dia pun mulai terbiasa dengan tingkah Varis, dan tidak memikirkannya lagi. Dalam pikirannya, biarkanlah dia melakukan apapun yang dia inginkan, toh nanti capek juga.
Selesai latihan PMR, mereka kembali pulang ke rumah.
Di perjalanan, Nisya melihat Varis seperti mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
"Apalagi yang mau di lakuin sama ni anak." Ucapnya malas.
Akhirnya, dia memberhentikan motornya di sebuah kedai, dan berpura pura berbelanja. Setelah melihat motor Varis lewat, dia keluar dari kedai dan melanjutkan perjalanannya.
Tak jauh dari kedai tadi, Nisya dapat melihat Varis sedang berhenti di bawah pohon.
"Benar benar ya anak setan satu ini. Ngapain coba dia berhenti disitu. Bikin salah paham aja." Ucapnya kesal.
Nisya pun melewati motornya, dan benar saja, Varis pun kembali menjalankan motornya.
"Huh..... Serah ni anak deh. Nanti bakal capek sendiri kok." Ucapnya dengan nada malas.
Saat masuk simpang rumah Nisya, Varis menjalankan motornya cepat, mendahului Nisya, kemudian mengklaksonnya.
Sesampainya dalam rumah Nisya membereskan semua barang bawaannya, menukar baju, dan membaringkan diri di tempat tidur.
Dia membuka aplikasi WhatsApp, dan sudah banyak notifikasi dari teman temannya.
"Kayaknya gue baru aja ngantar si Katrin, udah aktif banget dia di grup." Ucapnya melihat pesan yang begitu banyak.
Helmy mengirim foto Varis dan wanita yang sama lagi.
Helmy : Masih bocil, udah sok sok an jadi buaya.
__ADS_1
Katrina : Bukan bela, tapi kita juga masih bocil sih.
Nisya : Merasa paling dewasa deh Lo, ya meski diantara kita bertiga Lo yang paling normal sih.
Helmy : Tau kok. Kan gue bijak.
Katrina : Please, gue langsung anemia baca pesan dari Lo.
Katrina : Tapi serius sih, Varis emang sok banget.
Nisya : Setuju.
Dan chat mereka terus berlanjut, bahkan melebar kemana mana. Bukan hanya membahas Varis, mereka juga membahas teman teman mereka yang lain.
Setelah mereka selesai chat, Nisya membuka galerinya, untuk menghapus foto foto yang tidak penting.
Namun, dia berhenti pada sebuah foto. Foto itu adalah foto Varis sendiri dan tersenyum manis.
"Emang ganteng sih, tapi mau gimana..." Ucapnya.
Dia pun menekan ikon tong sampah. Namun, berpikir sejenak.
"Kok gue ragu sih? Kena penyakit apa sih gue." Ucapnya pada diri sendiri.
"Tapi........"
Dia akhirnya tidak jadi menghapus foto tersebut.
"Sepertinya emang gue mulai gila ya, masa gak tega hapus foto ni anak. Huhhh....." Ucapnya lagi.
__ADS_1