
Hujan lebat mengguyur bumi dengan tak henti henti. Padahal tadi pagi, cuaca masih sangat cerah dan panas, sehingga upacara di dapat di lakukan.
Namun, entah mengapa, saat hendak pulang, tiba tiba hujan deras datang.
Helmy, Nisya, dan Katrina pun hanya bisa menunggu di depan teras dan di dalam kelas bersama teman teman lainnya.
"Sumpah ya, ni hujan. Kok datang tiba tiba sih!" Gerutu Katrina.
"Tahu aja kalau kita mau pulang. Sengaja banget." Tambah Helmy.
"Deras banget lagi. Rintik rintik kek, jangan langsung sekaligus." Nisya ikut menggerutu.
Mereka pun kembali terdiam dan menunggu hujan berhenti.
"Gaes, temani ke toilet dong...." Ucap Nisya.
"Jujur dari hati gue yang terdalam, gue gak mau. Gue malas jalan, dan nanti sepatu gue basah." Jawab Katrina.
"Setuju Kat. Apalagi kita pakai sepatu jurusan, warna putih lagi. Lagian gak ada apa apa kok di kamar mandi." Ucap Helmy.
"Ya tahu, tapi....."
"Udah, cepat sana. Mungkin setelah Lo ke toilet, hujan bakal berhenti." Ucap Katrina.
"Emang gue pengendali hujan? Gak ada hubungannya woi." Jawabnya.
"Ya udah, tunggu bentar ya." Dia pun meminjam payung, kemudian berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Setelah selesai dari kamar mandi, dia menaikkan payungnya, dan berjalan kembali ke kelas.
Tiba tiba, seseorang mendorongnya dan ikut masuk ke dalam payung.
"Apa apaan sih?!" Dengan sedikit kesal.
Tiba tiba dia menjadi batu sesaat.
"Maaf kak, saya ikut. Hujannya deras banget." Ucap anak itu.
Tidak masalah bila ada yang ikut masuk ke dalam payung bersamanya, namun dia tidak terpikir bahwa orang itu adalah Varis.
"I... Iya... Gak apa apa." Jawabnya sedikit gugup dan canggung.
"Kak, bisa geser ke sini dikit, saya basah kak." Ucapnya lagi.
"Pelan aja jalannya woi, sepatu gue basah." Ucap Nisya bar bar. Sedetik kemudian dia sadar dengan nada suaranya.
"Maaf kak. Gak sengaja." Jawab Varis.
"Maaf maaf, saya pikir tadi kamu teman saya." Katanya.
*Jijik banget gue bicara sopan gini* Gerutunya dalam hati.
Varis hanya tersenyum.
Sesampainya di depan kelas, Varis berterimakasih kepada Nisya, dan berjalan menuju kelasnya. Kelas mereka berada pada lereng yang sama. Sehingga Nisya berhenti di depan kelasnya, dan Varis tinggal berjalan kearah kelasnya.
__ADS_1
Setelah menurunkan payung, Nisya melihat kedua temannya. Dia sudah di sambut dengan tatapan tidak suka.
"Itu tadi tiba tiba aja lho gaes." Jelas Nisya.
"Apaan yang tiba tiba! Kan gue udah bilang, jangan dekat dekat sama tuh anak." Ucap Katrina kesal.
"Mana kalian dekat banget lagi. Lo gak dengar apa yang gue bilang!" Helmy menambahkan.
"Tadi tuh dia tiba tiba masuk ke dalam payung gaes. Gue juga gak mungkin nolak kan." Nisya mencoba membela diri.
"Ya tinggalin aja. Bilang Lo gak mau sepayung sama dia. Atau dorong aja." Jawab Katrina.
"Gak gitu juga bego. Ya maksud kita, bilang Lo gak mau. Sulit banget sih." Helmy mulai kesal.
"Gaes, gila kali kalau gue buat begitu. Gue bisa di cap sombong dan pelit sama adek adek kelas yang lain." Belanya lagi.
"Huh.... Ya udah, tapi jangan ulangi lagi. Sebisa mungkin jauhi dia, dan jangan berbicara dengannya." Kata Helmy.
"Iya iya, dengar kok." Nisya menjawab pasrah.
Mereka menunggu beberapa menit, dan hujan mulai mereda. Mereka menuju parkiran dan mengambil motor. Saat mengambil motor, tak jauh dari tempatnya, Nisya dapat melihat Varis memperhatikannya. Dia dengan cepat menghidupkan motornya, dan menjalankannya.
Malamnya, Nisya membuka medsosnya. Seperti biasa dia bercerita dan Chat an dengan kedua temannya. Tiba tiba notifikasi dari Facebook nya berbunyi. Tertulis....
(Varis nand mengirim permintaan pertemanan)
__ADS_1