
"Apa?" Tanya Nisya bingung.
"Bisa tidak jangan panggil aku adek, dan aku juga gak panggil kakak." Jelas Varis.
"Serius aja Lo, kan Lo emang setahun dibawah gue." Jawab Nisya.
"Aku tahu, tapi sebutan adek dan kakak itu seperti....." Kata katanya menggantung.
"Apaan?" Tanya Nisya.
"Terlalu formal?" Jawabnya ragu.
"Apa!? Formal apaan! Emang itu sebutan buat orang yang umurnya berada di bawah kita." Jawab Nisya.
"Tahu.... Tapi, kayak gimana ya, kata adek dan kakak itu seperti pembatas aja." Jelas Varis lagi.
"Pembatas apaan? Ya emang sih, itu pembatas dan pengingat bahwa gue lebih tua daripada Lo." Jawab Nisya.
"Hah... Aku pulang dulu deh. Sepertinya sulit buat jelasin sekarang." Jawab Varis.
Varis memutar motornya.
"Bye bye dek......" Ucap Nisya.
Varis menghadap Nisya, dan menampilkan ekspresi pasrah.
Varis pun kembali menghadap ke depan, dan menjalankan motornya.
"Lucu juga ekspresi tuh anak." Ucap Nisya sambil tersenyum.
Dia pun berjalan masuk ke rumah, masih dengan senyum yang mengembang.
"Kenapa Lo?" Tanya kakaknya.
"Kenapa emangnya?", tanyanya baik.
"Ya Lo senyum senyum bahagia begitu, kayak habis ketemu pacar." Jawab kakaknya.
"Atau yang tadi tuh emang pacar Lo ya?" Tanya kakaknya dengan suara menyelidik.
"Apaan sih, ya bukan lah. Udah, gue mau ke kamar. Bye bye.....", Ucapnya lalu berjalan menuju kamarnya.
Setelah dalam kamar, dia menghadapkan dirinya ke depan kaca.
"Emang tadi gue senyumnya gimana?" Tanya.
Dia pun mulai tersenyum ke arah kaca. Mencoba mencari tahu, bagaimana senyum yang dia tampilkan tadi, sehingga kakaknya salah paham.
"Gak tuh, senyum gue biasa aja. Emang si Kak Juwita aja yang berlebihan." Ucapnya lalu berjalan meninggalkan kaca.
Keesokan harinya, mereka kembali bersekolah seperti biasanya lagi. Nisya memarkir motornya, dan tanpa tahu bahwa Varis berada di sampingnya. Dia sedikit terkejut, namun mencoba untuk tetap tenang.
Segala proses belajar mengajar pun berjalan dengan lancar. Saat istirahat kedua di mulai, seluruh pengurus PMR di minta untuk menuju ruang PMR, karena ada rapat singkat.
Katrina yang berperan sebagai bendahara pun mengajak Nisya.
"Gue nanti ngapain di sana Kat?" Tanya Nisya ragu.
"Ya denger aja, kan lo juga anggota PMR, ya bakal nyambung kok, beda kalau tadi gue bawanya si Helmy." Jawab Katrina.
"Tapi gue bukan pengurus, gila aja nanti gue di suruh keluar." Nisya masih mencoba untuk membantah.
__ADS_1
"Enggak kok. Pak Prata baik kok sama kita." Ucapnya menyakinkan Nisya.
Nisya pun dengar pasrah ikut dengan Katrina menuju ruang PMR. Sesampainya di sana, tidak ada siapa siapa.
Mereka pun mencari tempat duduk yang nyaman dan strategis supaya tidak di perhatikan pak Prata.
"Kak Katrina udah datang?" Tanya seseorang dari luar pintu.
"Ohhh Deon, udah nih, gak apa apakan kalau gue bawa teman?" Tanya Nisya.
"Gak tahu juga kak. Aku belum tanya itu sama pak Prata." Jawab Deon.
"Ya udah, gak apa apa." Jawab Katrina.
"Saya sama pak Prata dulu ya kak, ada yang saya sampaikan." Ucap Deon.
"Oke oke, kami nunggu sini aja, ntar lagi pasti yang lain datang." Jawab Katrina.
Deon pun berjalan meninggalkan mereka berdua. Tiba tiba Katrina berdiri.
"Ntar dong ke toilet, gak tahan." Jawab Katrina.
"Ya udah, gue ikut aja." Ucap Nisya.
"Ngapain? Cuma bentar kok. Nanti kalau Lo ikut, yang jaga ini siapa?"
"Ayolah, gue ngapain coba kalau disini", Nisya masih kekeh ingin ikut.
"Bentar aja, oke. Janji deh." Ucap Katrina, dan hanya di sambut wajah kesal dari Nisya.
Katrina pun berjalan meninggalkan ruangan dan hanya tersisa Nisya sendiri.
"Huh... Gue pulang ke kelas aja kali ya?" Ucap Nisya.
"Permisi......"
Tiba tiba muncul suara dari arah pintu. Nisya mengarahkan pandangannya ke pintu, dan melihat Varis sedang berdiri. Varis ikut dalam rapat PMR, karena dia adalah wakil ketua.
\*Mesti banget harus dia yang datang pas gue lagi sendiri.\* Gerutu Nisya dalam hati.
__ADS_1
Varis berjalan masuk ke dalam, dan duduk di depan Nisya. Nisya pun hanya memasang wajah datar, dan mencoba menenangkan diri. Ketika melihat wajah Varis, seketika dia teringat akan kejadian kemarin.
"Bareng kak Katrina?" Tanya Varis memulai percakapan.
"Iya." Jawabnya singkat.
"Kak Katrina nya mana?", tanyanya lagi.
"Kalau gak ada dalam ini, berarti dia di luar." Jawab Nisya.
"Ya udah kalau begitu, mumpung kak Katrina di luar, aku ingin jelasin maksudku semalam." Ucapnya.
Seketika Nisya menjadi tegang. Berpikir apakah harus membicarakannya sekarang? Disaat hanya mereka berdua.
"Aku bakal jelasin semuanya, dan nanti k......" Ucapnya menggantung.
"Apa?" Tanya Nisya.
"Dan nanti kani bisa tanggapi." Lanjutnya.
"Entar entar. Kani??" Tanya Nisya bingung.
"Iya, pengganti kata kakak." Jawab Varis.
"Hahahah" Nisya membalas dengan tawa mengejek.
"Ya udah, lanjut aja." Tambahnya.
"Jadi gini, kalau ngomong lewat chat juga gak bakal enak. Sengaja aku nunggu waktu buat bicara berdua sama Kani." Ucapnya memulai.
Mendengar sebutan Kani, Nisya sedikit geli.
\*Geli banget dengarnya. Mana dia nyaman banget lagi panggil gue Kani\* Ucap Nisya dalam hati.
"Jujur untuk sekarang, aku sedikit menyukai Kani. Jadi, mungkin nanti atau suatu saat, aku benar benar suka dan cinta sama kamu, sepertinya kata adek itu sedikit mengganggu. Itulah sebabnya aku meminta untuk tidak di panggil adek. Agar Kani juga terbiasa mulai sekarang." Jelas Varis.
Nisya pun seketika terkejut, dan memasang ekspresi bingung. Bagaimana tidak, Varis sedang mengungkapkan perasaannya? Tapi dia sedang memiliki pacar.
\*Gila!\* Ucapnya dalam hati.
__ADS_1