
Setelah menurunkan Katrina, tak jauh dari posisi mereka, dia dapat melihat motor Varis dan Varis diatasnya. Dia pun berpamitan dengan Katrina dan Helmy.
"Kok buru buru amat sih Lo? Biasanya kan cerita dulu." Sahut Katrina.
"Mau ngejar apa Lo di rumah? Kita kedalam dulu lah." Ajak Helmy.
"Besok aja deh. Hari ini absen dulu." Jawab Nisya.
"Kalau besok, malas banget ngulangnya lho.." Balas Katrina.
"Besok ajalah gaes, oke.... Please....." Mohonnya dengan mata memelas.
"Ya udah deh, kalau emang buru buru." Jawab Helmy pasrah.
"Nanti kita Vc an deh sampai mampus." Nisya memberi saran.
Katrina dan Helmy pun mengangguk tanda menyetujuinya, lalu melambaikan tangan ke arah Nisya, saat motornya mulai berjalan.
.
.
.
Nisya menjalankan motornya melewati Varis. Melihat motor Nisya lewat, Varis pun menyalakan motornya, dan mulai mengikuti Nisya.
Beberapa menit perjalanan, Varis terus berada dibelakang motor Nisya. Lalu, tiba tiba Varis menyalip motor Nisya, dan berhenti disebuah cafe. Nisya yang melihat Varis berhenti, ikut menghentikan dan memarkir motornya.
"Harus di sini?" Tanya Nisya.
"Ya, biar lebih nyaman aja sih. Kan lebih tertutup juga." Balas Varis.
*Orang yang ngelihat bisa mikir aneh aneh, tahu gak Lo!* Gerutu Nisya dalam hati.
Melihat ekspresi Nisya yang tampak tidak senang pun, membuat Varis kebingungan.
"Gak mau disini ya?"
Dengan cepat, Nisya menghadap kearahnya, lalu menggelengkan kepala.
"Ya udah, cepetan masuk. Gue mau pulang soalnya." Ucap Nisya.
Mereka berdua masuk ke dalam cafe, lalu Varis memilih tempat duduk yang paling sudut. Setelah duduk, mereka meletakkan tas pada kursi kosong di samping mereka.
__ADS_1
"Gak terlalu mojok nih? Kan banyak yang kosong?" Tanya Nisya ragu.
"Biar gak kedengaran orang. Hehehe." Jawab Varis.
Mereka memesan makanan, lalu menunggu. Tak ada pembicaraan diantara keduanya.
Meski Nisya sangat ingin secepatnya menyelesaikan urusan mereka dan pergi, apalah daya dia juga tidak ingin memulai pembicaraan.
Mereka berdua hanya fokus pada hp masing masing. Tiba tiba dering hp Varis berbunyi, lalu dia mengangkatnya.
Nisya mendengar setiap jawaban yang keluar dari mulut Varis, dan menebak, sepertinya orangtuanya, karena sedari tadi terus menanyakan keadaan Varis.
Namun, diakhir telepon, tiba tiba terdengar sebuah kalimat yang di dengar Nisya dengan jelas.
~Love you, babe~
Itulah yang di dengarnya. Meski Varis tidak membesarkan suara hpnya ketika bertelepon, tapi dia dapat mendengar dengan jelas kata kata tersebut dari telepon Varis.
Seketika pikirannya buyar. Dia mencoba mengontrol emosi dan ekspresinya, meski dia merasa sakit dan sangat sedih setiap kali mengingat kata kata tadi.
Makanan datang, dan membuat pikirannya teralihkan. Dia mengangkat kepalanya, berterimakasih pada pramusaji, lalu menatap kearah Varis.
"Makan dulu." Ucap Varis.
Yang empunya nama pun, langsung menghadapkan pandangannya ke arah Nisya, dengan perasaan sedikit kaget.
"Iya.... Tumben." Jawab Varis dengan senyuman.
"Gur rasa sudah cukup dengan basa basi yang kita lakukan. Jadi, gue mohon langsung ke inti dari pertemuan kita." Ucap Nisya tegas.
"Tapi, makanannya?" Tanya Varis.
"Kalau lo mikirin makanan, mending gue pulang aja deh. Gue ke sini, buat lanjutin obrolan kita yang belum selesai, bukan makan." Jawab Nisya.
Varis menghembuskan napasnya pelan, lalu meletakkan kembali sendoknya.
"Oke." Jawabnya.
"Sebenarnya, aku sedikit bingung dengan perubahan mood yang secara tiba tiba dari kamu. Tapi, gak apa apa." Lanjutnya.
*Kamu!? Makin aneh aja nih anak.* Gerutu Nisya dalam hati.
"Seperti yang telah ku katakan waktu itu, tapi mungkin sekarang, aku benar benar menyukai mu." Ucap Varis dengan wajah yakin.
__ADS_1
Nisya mendengus sambil memutar bola matanya, lalu mengalihkan pandangan.
"Are you kidding?" Tanyanya kesal.
"Kenapa? Aku serius." Jawabnya yakin.
" Lo suka gue karena apa?" Tanyanya lagi.
"Ya mungkin karena kepribadianmu yang lucu dan bikin ketawa. Dan.... dan... wajah. Iya benar, wajah." Jawabnya.
"Lo anggap gue badut?!" Tanyanya semakin kesal.
"Huh....Kenapa sih kamu seperti memojokkan aku dengan segala pertanyaan aneh? Kalau kamu lagi kesal sama seseorang, mohon jangan lampiaskan padaku." Varis pun mulai pusing.
"Oke. Gue langsung ke inti aja, karena gue udah bosan untuk berada disini." Ucapnya, dan disambut tatap bingung oleh Varis.
"Pertama, gue bukan orang yang akan cari orang lain buat lampiaskan rasa kesal dan marah yang gue rasakan." Ucapnya tegas.
" Kedua dan terakhir, gue bukan orang bodoh yang gak tahu kalau Lo punya pacar, dan dengan percaya dirinya masih tebar pesona sana sini!" Tegasnya.
Varis pun seketika kaget. Dia membenarkan posis duduknya, sehingga tegap.
"Oke, Lo ganteng, tapi bukan berarti Lo bisa dekati semua cewek. Lo gak mikirin perasaan cewek Lo?! Gilak ya Lo!" Tambahnya.
Nisya mengambil tas dan bersiap untuk pergi.
"Aku bisa jelasin semua kesalahpahaman ini. Ini bukan seperti yang kamu pikir." Ucap Varis ikut berdiri.
"Alah, bacot banget. Basi tahu gak, dengar kata kata itu. Bosan!" Jawab Nisya tegas dan dengan wajah nyinyir.
"Mending, dari pada Lo sibuk sibuk buat jelasin semuanya ke gue, makan aja tuh makanan, biar Lo kenyang." Ucap Nisya lagi.
"Nisya....." Varis memanggil.
"Oh iya, satu lagi. Mengingat Lo tadi manggil nama gue. Jadi, mulai besok, atau hari ini, kita gak punya hubungan apa apa, kecuali adek dan kakak kelas." Katanya.
"Jadi, belajar manggil gue pakai KAKAK. Ingat K A K A K. Kak Nisya!" Ucapnya tegas, sambil mengeja kata kakak.
Setelah mengatakan itu, Nisya berjalan meninggalkan Varis yang masih berdiri dengan wajah bingung.
Sesampainya di parkiran, dia mengambil motornya, lalu menjalankannya.
Di Perjalanan, entah mengapa matanya menjadi berkaca kaca. Entah kemasukan debu, atau ada hal lainnya.
__ADS_1
"Dasar debu kurang ajar!" Geramnya.