
Keesokannya, saat jam istirahat dimulai, Nisya, Katrina, dan Helmy memilih untuk tinggal di kelas dan bercerita.
Saat asik bercerita, tiba tiba Nisya mendengar suara yang familiar dari arah pintu. Benar saja, itu Varis. Dia sedang berbicara dengan Wisman. Pada saat bersamaan juga Varis memandang kearah Nisya.
Dengan cepat Nisya memalingkan matanya kepada teman temannya. Ingatan tentang kejadian semalam terlintas di kepalanya.
*Gue ceritain sama mereka, atau gak usah ya? Takutnya mereka bakal marah.* Pikirnya.
Setelah memikirkan nya beberapa lama, akhirnya dia memutuskan.
"Gaes, nanti gue mau cerita sesuatu." Ucap Nisya.
"Apa? Sekarang aja, mumpung nih kelas sepi." Balas Katrina.
"Nanti aja deh. Malas kalau sekarang." Jawab Nisya.
"Ya udah, nanti aja di rumah Katrin." Ucap Helmy.
Dia menganggukkan kepala tanda setuju.
Jam istirahat telah usai. Seluruh siswa kembali menuju ke kelas, dan menunggu kedatangan guru les pelajaran.
Di tengah pembelajaran saat pak Prata menyampaikan materi pada kelas Nisya, tiba tiba pintu di ketok oleh seorang anak yang tidak di kenali.
"Permisi pak. Kak Nisya dipanggil ibu Intan di kantor guru." Ucapnya.
Setelah menyampaikan pesan tersebut, dia pamit untuk pergi.
"Saya permisi ya pak." Ucap Nisya di depan meja guru.
"Iya." Jawabnya.
Nisya berjalan menuju ke kantor guru. Saat sampai di kantor guru, dia langsung menemui ibu Intan.
Mereka berbicara cukup lama, karena banyak hal yang di sampaikan ibu Intan pada Nisya. Setelah selesai, Nisya pamit pada Wali kelasnya tersebut dan keluar dari kantor.
Saat berjalan melewati belokan lorong, dia terkejut melihat orang yang berdiri dekat belokan.
* Untung gak gue tabrak tadi nih orang.* Pikirnya.
"Nis...." Ucap seseorang yang berdiri di belokan lorong, yang sebenarnya adalah Varis.
Dengan wajah kesal, Nisya menjawab
__ADS_1
"Kan udah gue bilang, panggi gue KAK NISYA. Lo tuh masih adek kelas woi. Sadar diri dong."
"Nisya lebih bagus daripada kak Nisya." Jawabnya.
"Nye Nye Nye Nye Nye, serah deh. Malas gue ngomong sama bocil kayak Lo." Ucapnya, lalu hendak pergi.
"Nis, bisa kita ngomong sebentar?" Tanyanya.
"Gak bisa tuh. Maaf aja. Sibuk gue." Jawabnya lalu berjalan meninggalkan Varis.
Dengan cepat, Varis menarik tangan Nisya, sehingga Nisya berputar dan berhadapan dengan Varis.
"Apaan sih Lo?" Ucapnya sambil berusaha melepas tangan Varis.
"Gue cuma mau ngomong bentar doang. Please?" Mohonnya.
"Lo gak dengar gue bilang gak bisa?! Tuli ya Lo?!" Jawab Nisya kesal.
"Kalau gitu, gue gak bakal lepas tangan ini, sampai Lo setuju." Ancam Varis.
"La Lo La Lo, gue masih kakak kelas Lo ya, berani banget sih. Lepas gak tangan gue!" Balasnya.
"Gak. Gue cuma mau lurusin kesalahpahaman diantara kita." Ucap Varis.
"Gini deh, karena sepertinya Lo gak mau dengar dan keras kepala banget, gue gak bakal lepas tangan Lo, dan bakal umumkan kalau kita pacaran." Ancamnya lagi.
Di sekolah mereka memang sangat melarang keras untuk berpacaran. Bila ketahuan maka akan di skorsing atau akan di kenakan sangsi dari guru.
Nisya ingin kehidupan sekolahnya berjalan lancar tanpa adanya masalah sedikit pun. Dia tidak ingin membuat masalah dan mendapat hukuman, meski hanya hukuman kecil.
"Gila ya Lo! Berani banget ancam gue! Siapa Lo!?" Tanyanya dengan kesal.
"Ya udah, gue cuma mau ngomong bentar kok." Jawab Varis.
"Tapi gue gak mau! Lo dengar gak sih?!"
"Huh......"
Varis melonggarkan pegangannya, dan jongkok ke bawah.
Melihat apa yang dilakukan Varis, Nisya sedikit kaget.
Varis mengangkat kepalanya kearah Nisya dan memberikan tatapan memelas
__ADS_1
"Bentar doang, please....." Ucapnya.
Nisya tidak memberi jawaban. Dia hanya menampilkan ekspresi bingung melihat Varis.
Beberapa detik kemudian hatinya menjadi luluh melihat wajah Varis.
*Huh, ini yang terakhir.* Ucapnya dalam hati.
"Kapan?" Ucapnya memalingkan pandangan dan melepaskan tangannya dari Varis.
"Nanti. Sepulang sekolah." Jawabnya masih dengan keadaan jongkok.
"Ya udah." Jawab Nisya singkat, lalu hendak pergi.
"Nis...." Panggil Varis.
Dengan wajah kesal Nisya menghadap Varis kembali.
"Apaan?" Dengan nada kesal.
"Bisa gak nanti aku boncengin?" tanya Varis yang sudah kembali berdiri.
"Jadi motor gue di tinggal di sekolah? Jangan ngadi ngadi deh." Jawab Nisya.
"Kan ada kak Katrin sama Kak Helmy. Biar mereka yang bawa."
"Jangan ngelunjak deh. Gue mau bawa motor gue sendiri. Gak usah diboncengi." Ucapnya, lalu berjalan meninggalkan Varis.
"Kak......"
Nisya menghentikan langkahnya. Dia kembali menghadap kearah Varis untuk kesekian kalinya.
Dengan jelas, dia dapat melihat Varis yang menunduk dengan telinga memerah. Dia tersenyum melihatnya.
"Apaan?" Mencoba menetralkan senyumannya.
"Please...." Ucapnya singkat.
Nisya menghembuskan napasnya panjang.
"Gue pikir dulu deh. Nanti gue kabarin." Ucapnya mengalah.
"Makasih." Jawab Varis yang sudah mengangkat kepalanya, dan tersenyum kearah Nisya.
__ADS_1
*Inilah masalahnya.* Pikir Nisya melihat senyuman Varis.