Jatuh Cinta Pada Adek Kelas

Jatuh Cinta Pada Adek Kelas
19


__ADS_3

Bel tanda pulang berbunyi, seluruh siswa berhamburan menuju parkiran dan juga pagar sekolah.


"Gaes, gue mau ngomong sesuatu." Ucap Nisya di depan kelas.


"Ya di rumah gue aja nanti lah, entar lagi kita sampai kok." Jawab Katrina.


"Gue tendang ya. Jalan aja blum, tiba tiba mau nyampe aja." Balas Helmy.


"Ini gue serius bego. Ngomong aneh lagi, gue ngampar ya Lo." Ucap Nisya.


"Hehehehe" Balasnya nyengir.


"Sebenarnya, gue mau ngomong sesuatu hal yang penting sama kalian. Tapi, gue malah ada urusan. Jadi......" Ucap Nisya menggantung. Matanya mengarah pada Varis yang melewati mereka sembari melirik singkat.


"Apaan? Kok gantung?" Tanya Katrina yang membuat Nisya kembali fokus pada mereka.


"Hemmmm...... Bisa bawa motor gue gak?" Tanya Nisya ragu.


"Agak sedikit lain ya Lo. Kalau ada urusan, ya paling cepat bawa motor. Ini malah motornya gak dipakai." Balas Helmy.


"Aduh.... Gue bingung mau jelasinnya gimana gaes. Nanti aja setelah semuanya selesai. Jadi, mau ya?" Sambil memelas.


"Agak curiga sih sebenarnya. Tapi ya udah. Dengan satu syarat." Ucap Katrina.


"Apaan?" Tanya Helmy.


"Salah dong, kan yang harusnya nanya Nisya, bukan elo. Gimana sih." Jawab Katrina.


"Oke oke. Ulang. Apaan?" Kata Nisya.


"Kasih satu clue, biar rasa penasaran kami berkurang dikit. Ini dari tadi gue mati penasaran lho." Ucap Katrina.


"Tapi jangan marah dan nge reog ya..."


Mereka berdua mengangguk tanda setuju.


"Varis"


Satu kata tersebut berhasil membuat ekspresi Katrina dan Helmy berubah menjadi kesal.


"Udah janji lho. Ini yang terakhir deh. Please..."


Mereka berdua saling bertatap tatapan. Setelah beberapa menit, akhirnya mereka kembali menghadap ke arah Nisya.


"Ini yang terakhir." Ucap Helmy.


Nisya mengangguk.


Mereka menghembuskan nafas panjang, dan mengiyakan permintaan Nisya.


Parkiran tampak sepi. Dari atas, Varis dapat melihat Nisya, Katrina, dan Helmy jalan bersama. Semakin dekat, semakin jelas pula ekspresi kesal yang terpancar dari Katrina dan Helmy. Mereka menempatkan Nisya sedikit kebelakang dari mereka, seakan akan menyembunyikan Nisya.



Sesampainya diparkiran, dekat motor Nisya, mereka menatap Varis dengan tatapan kesal. Varis hanya dapat membalas dengan senyuman canggung, dan jujur dia sedikit takut.



"Ini yang terakhir, dan setelah itu, jangan ganggu dia lagi." Ucap Helmy.



"Iya kak. Heheh." Jawabnya.



"Semoga enggak, please." Ucapnya dengan suara sangat kecil.



Motor berjalan dengan kecepatan standar. Nisya menempatkan tasnya di pertengahan mereka. Ini atas perintah Katrina dan Helmy. Katanya jaga jaga aja, apalagi dia cewek.


Varis memberhentikan motornya di depan sebuah perpustakaan kota. Dia menurunkan Nisya, lalu memarkirkan motornya di parkiran.

__ADS_1


"Ngapain?" Tanya Nisya.


"Gak tahu. Masuk aja dulu." Ucap Varis, lalu berjalan menuju perpustakaan.


Sesampainya di dalam, mereka memilih satu buku, lalu duduk di tempat yang tidak banyak orang.


"Langsung aja ke intinya, Lo mau ngomong apa?" Tanya Nisya.


"Shuuttt." Varis meletakkan jari telunjuknya dekat mulut Nisya.


"Di sini suara gak boleh besar besar. Nanti kena denda. Kalau mau ngomong bisik bisik aja." Ucapnya berbisik, lalu menarik tangannya dari depan mulut Nisya.


"Huh..... Gue gak bisa bisik bisik." Bisik Nisya kesal.


"Coba aja dulu."


"Ya udah, Lo mau ngomong apa?"


"Huh..... Gue mulai dari mana ya? Bingung." Ucapnya pelan sambil tersenyum.


"Ngomong aja kali, susah banget." Balas Nisya memalingkan pandangannya.


Varis menarik nafas panjang, lalu mulai menjelaskannya pada Nisya.


"Gue akui kalau gue punya pacar. Kita pacaran udah 1 tahun yang lalu. Ya, memang selama beberapa bulan kami jalanin hubungan jarak jauh ini, gue ngerasa perasaan gue ke dia itu mulai pudar." Jelasnya dengan suara pelan.


"Trus?"


"Gue gak bisa bilang gak suka lagi sama dia, tapi yang gue yakin adalah, gue suka sama kamu." Tambahnya.


Setelah itu Varis tidak berbicara apapun. Melihat itu, Nisya berpikir saatnya dia berbicara.


"Oke. Pertama, agak aneh sih dengar Lo manggil gue kamu, apalagi Lo orang pertama yang panggil gue gitu. Tapi, ya gak apa apa, daripada Lo sebut nama gue, apalagi manggil gue Kani." Ucapnya dengan suara pelan, dan disambut senyum manis dari Varis


"Kedua, tujuan Lo jelasin ini ke gue, apa?" Tanyanya.


Varis terdiam sejenak. Dia tampak memikirkan sesuatu.


Nisya tersenyum miring seperti mengejek pertanyaan aneh yang di lontarkan Varis.


"Aneh juga sekarang Lo pakai aku kamu. Tapi bukan itu yang mau gue bilang. Kalau sekarang, gue juga minta Lo buat putusin pacar Lo, mau?" Tanya Nisya.


Varis terdiam mendengar pertanyaan Nisya.


*Gue udah tahu jawabannya, masih aja berharap.* pikir Nisya.


Dia mengambil tasnya dari kursi samping, dan hendak berdiri.


"Kemana?" Tanya Varis.


"Pulang lah, mau kemana lagi." Jawab Nisya.


"Pakai apa?" Tanya Varis lagi.


"Ya mot...." Ucapannya tertahan. Dia baru ingat bahwa dia tidak membawa motor.


*Aduh.... Bego banget sih gue. Kok gue gak mikir ini bakal terjadi!?* Pikirnya.


"Gue naik angkot." Ucapnya lalu bersiap melangkah.


"Tapi gue blum jawab pertanyaan kamu, dan kamu juga blum jawab pertanyaanku."


"Gue udah tahu jawabannya kok. Gue bisa lihat dari ekspresi Lo. Tanpa Lo bilang, gue udah ngerti kok." Ucapnya.


"Emang jawabanku apa?" Tanya Varis.


"Huh..... Ya tentu aja gak lah. Kalian udah 1 tahun, dan karena gue, Lo mutusin dia? Jangan ngadi ngadi deh." Jawabnya.


"Kalau contohnya aku jawab bakal mutusin dia?" Tanyanya.


"Apa?!" Nisya terkejut mendengar jawaban dari Varis.


__ADS_1



Sesampainya di rumah, Nisya menukar bajunya, mencuci wajah, kemudian menidurkan tubuhnya pada kasur kebanggaannya.



"Capek banget. Padahal gue cuma duduk doang." Ucapnya sambil bermain hp.



"Huh.... Keputusan gue benar gak sih? Apa gue gak terlalu egois?" Tanyanya pada diri sendiri.



"Gue coba minta saran dari Katrin sama Helmy besok deh. Kayaknya kalau gue mikir sendiri, bisa pecah nih kepala." Ucapnya.



{Flashback}


"Gila ya Lo?!" Ucapnya dengan suara tidak terkontrol.



"Shuuttt" Varis kembali memperingati Nisya.



"Gue serius. Tapi kamu juga harus bisa serius seperti gue." Ucapnya.



Nisya menampilkan ekspresi bingung.



"Gue berani ngambil keputusan buat putusin pacar gue, dan Lo juga harus janji bakal jadi pacar gue setelah putusin dia." Ucapnya.



"Lo..!!!!"



"Gue mau yang pasti aja, Nis. Dan gue butuh kepastian dari Lo." Ucap Varis.



"Gimana kalau gini, kalau Lo putusin dia, gue bakal coba buat nerima Lo, tapi bukan jadi pacar. Gak mungkin Lo baru putus, langsung jadian sama gue." Jelas Nisya.



Varis tampak berpikir panjang dengan perkataan Nisya.



Akhirnya, dia menyetujui perkataan Nisya.



"Lo harus tepati janji yang udah kita buat, dan gue juga begitu." Ucapnya.



Mereka pun kemudian mengaitkan jari kelingking mereka, seperti anak kecil membuat janji.



{Flashback off}



"Huhhh.... Semoga gak terjadi hal aneh deh dengan keputusan yang gue buat."

__ADS_1


__ADS_2