
Sudah memasuki usia pernikahan yang ke 2 tahun, yah, bisa dikatakan tak pernah ada keributan antara aku dan Mas Bambang suamiku selama menjalani kehidupan berumah tangga, walaupun menjalani kehidupan rumah tangga kami yang tergolong hanya sederhana, namun tak mengurangi rasa sayang aku pada suamiku yaitu Mas Bambang Ku tercinta, rasa cinta pada suamiku seakan semakin terasa, walau awalnya dulu aku tak ada rasa cinta sedikitpun pada suamiku, namun sekarang cinta itu seolah datang dengan sendirinya, perhatian dan kasih sayang yang selalu di berikan oleh suamiku, seolah menutupi semuanya, sehingga yang ada saat ini adalah cinta dan kasih sayang yang tulus dari ku untuk suamiku, cintaku pada suamiku membuatku melupakan semua rasa ketidaksukaan ku pada suamiku. Kini semuanya terasa begitu indah dan bahagia.
Namun, ada satu hal yang membuat ku merasa sedih, yaitu karena aku dan suamiku belum diberikan momongan, itu yang kadang membuatku merasa sangat sedih, aku merasa sebagai seorang istri, aku belum bisa membuat suamiku merasa bahagia, karena aku belum memberikan nya anak, tapi untungnya Mas Bambang suamiku selalu memberikan semangat untuk ku, tak pernah sekali pun iya membuat ku merasa istri yang tak membuat nya bahagia, malah iya selalu mengatakan, kalau Iya sangat bersyukur memiliki istri seperti diriku, karena aku sama sekali tak pernah menuntut apapun dari nya, aku selalu terlihat santai, ada duit maupun tak ada duit, makanya iya selalu merasa bersyukur memilikiku, hingga aku juga merasakan hal yang sama, sangat bersyukur memiliki suami seperti Mas Bambang, baik hati, jujur dan perhatian.
Jujur, Sebenarnya aku sangat kasian melihat suamiku, karena memang sebagai seorang suami, Tentu Mas Bambang suamiku sangat mengharapkan kehadiran anak disisinya, tapi apa mau dikata, semua seolah iya pasrahkan pada yang di atas, karena tak ada yang lebih berkuasa dan berhak memberi, selain Allah SWT, makanya suamiku begitu tenang dalam menjalani kehidupan berumah tangga bersama diriku. Hanya saja terkadang aku melihat nya begitu bahagia, pas lagi bermain bersama dengan anak anak tetangga sebelah rumah, berarti itu sudah membuktikan kalau Iya pasti mengharapkan dan menginginkan anak dariku, hanya saja iya tak mau membuat ku merasa sedih.
Sampai suatu ketika aku bertemu dengan sahabat lamaku semasa aku mondok di pesantren dulu, pas lagi ada acara temu kangen sesama alumni pesantren, semua yang lulusan pesantren itu di undang, di mulai dari santri pertama, sampai pada santri yang lulusan tahun ini, semuanya begitu bahagia, mungkin karena sudah lama nggak ketemu, makanya suasana hari itu terasa sangat menggembirakan, aku sendiri merasa begitu senang, karena aku ketemu dengan sahabat karibku dulu yang bernama Weni, Weni adalah sahabat yang selalu setia berbagi baik suka maupun duka sewaktu aku di pesantren dulu, iya sekarang sudah mempunyai dua anak, lucu lucu sekali, apalagi yang kecil, wajahnya sangat menggemaskan, mirip wajah ala ala Korea, putih dan bermata sipit, mungkin nurun Weni kali ya, soalnya emang Weni masih ada darah keturunan cina, kalau nggak salah dari sebelah ibunya.
Emang Weni menikah diusia muda, begitu lulus pesantren, iya langsung menikah, tapi rupanya iya juga lama baru mempunyai anak, setelah 3,5 tahun menikah, kalau aku nilai sih, emang iya terlalu muda dulu waktu menikah, iya menikah usia 16 tahun, pas lulus Mts, kalau aku bilang iya itu menikah karena udah nggak tahan lagi, udah Ngerenyam ( Ngerenyam adalah, rasa gatal yang luar biasa yang tak bisa untuk ditahan) pengen cepat cepat dikawinin, sebenarnya itu melanggar aturan UUD pernikahan, karena menikah dibawah umur, tapi kalau menurut hukum agama nggak masalah ya, karena nggak ada batasan untuk usia perempuan buat menikah, cuma kalau buat aku sih, masih terlalu muda bibit tanamannya, sehingga butuh usaha yang sangat ekstra, kalau pengen cepat berbuah, itupun musti sering sering dikasih pupuk, kalau tidak bakalan gagal panen kali ya, hehehe.
Kami banyak ngobrol tentang kehidupan berumah tangga, hingga aku terucap kata sedih kepadanya, membuatnya merasa iba padaku. siapa yang nggak sedih coba, udah lama menikah tapi belum juga diberikan momongan, padahal aku dan suamiku sudah sangat menginginkan punya anak, karena memang usia kami sudah sepatutnya punya anak, apalagi suamiku yang umurnya jauh lebih tua dariku, pastinya iya sangat menginginkan anak, sedangkan sahabat sahabat nya yang satu kelas dari nya, udah ada yang SMA, bahkan ada juga yang udah kuliah, sementara iya belum punya, jadi nggak mungkin banget jika suamiku nggak sedih, hanya saja iya tak pernah menunjukkan kesedihan nya padaku.
__ADS_1
"Udah berapa lama kamu menikah Maya ?'' Tanya Weni padaku.
"Udah dua tahun lebih Wen, tapi aku belum juga diberi keturunan, kadang aku tuh suka sedih melihat suamiku, mungkin adalah rasa kesalnya padaku, tapi karena rasa cinta lebih besar dari pada rasa kesal, makanya iya seolah menganggap itu tak terlalu meresahkan, lain halnya dengan aku Wen, aku seolah merasa sangat sedih, aku takut sekali kalau aku tak bisa memberikannya keturunan. Jawabku sedih pada sahabat ku.
''Kamu nggak usah sedih dulu, aku juga lama kok sudah menikah baru punya anak, bahkan sampai 3 tahun setengah, itu aja udah membuatku gelisah May, mending suami kamu nggak terlalu maksain kamu, kalau suami aku itu parah banget May, kebayang nggak sih lo May, kalau sampai gua nggak hamil hamil, iya bakalan ninggalin gue, dan menikah lagi dengan perempuan lain, gimana nggak khawatir coba, awalnya aku merasa hampir berputus asa, untung nya aku punya sahabat yang nyaranin aku berobat ke seorang dokter spesialis kandungan, karena katanya nggak ada yang nggak berhasil berobat dengan nya, rata rata yang berobat dengan nya, semuanya berhasil, makanya aku mencoba mengikuti saran darinya, dan akhirnya aku hamil, mungkin aku ini adalah salah satu contohnya buat kamu, karena kalau kita mau usaha, Insya Allah Maya, kalau Allah berkehendak, maka dengan gampang nya semua terjadi, yakin aja nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini, kalau kamu mau aku tunjukin deh alamat nya, yah itupun kalau kamu mau sih May.
''Aku mau banget Wen, ngomong ngomong alamat nya dimana ?'' Tanya ku begitu semangat nya pada sahabatku itu, karena aku memang udah ke pengen banget punya anak, apalagi setelah ada yang mengatakan kalau aku ini adalah wanita mandul, itu yang membuatku semakin khawatir.
''Kamprett lo Wen, mana ada gue gitu. Maya sebel sama Weni, masih sempat sempat nya ngeledekin gue, disela sela kegundahan hati gue.
"Hmmm, Iya juga ya Wen, bener juga apa kata lo, gue coba dulu, siapa tau berhasil, nanti gue coba bicara dengan suamiku, barang kali dia mau ku ajak ke sana, sedih banget wen, ngeliat mereka yang sudah punya anak, ada yang sudah punya anak 2, Ada yang sudah punya anak 3, Ada juga yang sudah punya anak 4, sementara aku 1 pun belum ada, aku kan jadi sedih wen, serasa hina banget dah hidup aku, kalau untuk berobat dengan dukun kampung, usah sering banget say, malah kadang suka sering di bohongi juga, disuruh minum ini, disuruh minum itu, pokoknya banyak dah, ujung ujung nya, gagal maning.
__ADS_1
''Elo sih, maunya sama dukun kampung, yang modern dikit dong,... kwkwkw..
''A lah, lo tu ya kalau urusan ngejek, Nyeme'eh (Nyeme'eh dalam bahasa Jambi artinya, merendahkan harga diri seseorang, sama dengan mengejek) Itu nomor Satu, dari dulu nggak pernah berubah, gue kira udah sekian tahun nggak ketemu, lo tuh udah berubah, eh malah tambah parah, jawab Maya pada sahabatnya itu.
Next...
Maafin ya semua nya, aku udah lama nggak up, maklum mak mak muda, sibuk banget dah pokoknya, ngurus inilah, ngurus itulah banyak dah pokoknya kalau diceritain, lagian nggak perlu juga aku ceritain, mending nyambung cerita ini aja kali ya, hehehe..
Tapi sebelumnya jangan lupa dong, untuk tetap like vote dan Komen nya, biar semangat atuh... kwkwkkwkw
aku menyayangi kalian semua, makasih juga yang udah mampir disini, semoga setiap kebaikan yang kalian berikan akan di balas dengan kebaikan yang sebanyak banyaknya.. Amiiiin.
__ADS_1