JENIUS NOMOR 1 FRIMS ASGARD

JENIUS NOMOR 1 FRIMS ASGARD
Rencana


__ADS_3

Suasana yang tadinya menegangkan kini menjadi tenang, setelah Frims menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, walaupun ceritanya tersebut hanya dimaksudkan untuk mengambil keuntungan dari mereka yang tidak terima dengan kejadian tersebut.


“Jadi seperti itu, berarti kamu tidak mempunyai hubungan spesial dengan Silvi dong?” tanya Roy menanggapi cerita Frims.


“Tidak ada hanya sebatas teman sama seperti kalian, jadi kalian tidak perlu khawatir aku merebut idola kalian itu” jawab Frims.


Kemudian ada salah satu siswa dari kerumunan tersebut yang terpancing setelah mendengar cerita yang disampaikan oleh Frims.


“Eh berarti kalau kita juga memberikan buku kepada Silvi seperti yang sudah Frims lakukan, dia pasti juga akan memberikan nomornya kepada kita”


“Wah benar juga kamu”


“Kita harus mencobanya”


“Tapi harus sportif, jangan ada yang main dari belakang”


Frims kemudian tersenyum melihat percakapan di antara kerumunan siswa tersebut.


“Umpan dimakan, dengan begini mereka bisa aku manfaatkan untuk mempermudah Silvi mendapatkan refrensi buku” gumam Frims.


“Apakah kalian sudah mengerti sekarang, jadi apakah urusan kalian denganku sudah selesai sekarang?” tanya Frims kepada mereka.


“Sudah Frims, kami sudah mengerti sekarang, jadi kami minta maaf sudah salah paham denganmu tadi, akan aku coba seperti yang kamu lakukan itu, sapa tau aku bisa meluluhkan hati dek Silvi hehehe, kalau begitu kami pergi dulu Frims” jawab Roy sambil mengajak teman-temanya untuk kembali.


“Selamat mencoba, semoga kalian beruntung” ucap Frims.


Frims kemudian kembali duduk dan di temani Andre yang ada disitu.


“Akhirnya mereka pergi juga huh, menggangu waktu istirahatku saja” ucap Frims yang merasa lega setelah melihat kerumunan temanya pergi meninggalkannya.


“Frims maaf, tadi aku dipaksa oleh mereka untuk memberi tahu kamu berada dimana, jadi terpaksa aku memberitahu mereka kalau kamu berada ditempat ini” ucap menyesal Andre sambil meminta maaf kepada Frims.


“Sudah lupakan, itu tadi bukan salahmu, lagian meskipun kamu tidak memberitahu kepada mereka aku pasti juga akan bertemu dengan mereka dikelas, jadi memang secepatnya aku harus memberitahu mereka tentang apa yang sebenarnya terjadi, agar kesalahpahaman dengan mereka tidak berlarut-larut” jawab Frims.


“Syukurlah, aku kira kamu akan marah setelah mendengarnya” ucap Andre yang merasa lega mendengar perkataan dari Frims.

__ADS_1


Mereka berdua seakan sudah melupakan peristiwa tersebut, dan melanjutkan percakapan seperti tidak ada yang terjadi. Cerita berpindah dimana Frims sudah pulang dari sekolahnya dan sekarang sudah berada dirumahnya.


“Grr grr grr” suara getaran Smartpone yang menandakan ada pesan WA masuk.


Kemudian Frims membuka Smartphonenya dan membaca isi pesan WA tersebut.


“Frims aku sudah berada di perpustakaan sekolah, apakah kamu sudah datang?, jangan lupa simpan nomorku Silvi” isi pesan WA tersebut.


“Cepat sekali dia datang, baru juga aku sampai rumah” gumam Frims.


Kemudian Frims membalas pesan WA itu.


“Aku masih siap-siap, jadi kamu tunggu sebentar disitu” Frims membalas pesan WA Silvi.


Setelah mengetahui kalau Silvi sudah menunggu di perpustakaan sekolah, Frims kemudian bergegas siap-siap untuk berangkat kesana.


“Mau kemana tuan kok kelihatanya sedang terburu-buru?” tanya pelayan Alex.


“Aku mau pergi ke perpustakaan sekolah dulu paman” jawab Frims.


“Tidak perlu paman, aku pamit berangkat dulu” ucap Frims sambil buru-buru berangkat pergi.


Setibanya di perpustakaan sekolah. Seperti biasa Frims harus mengisi daftar tamu sebelum masuk kedalam ruangan.


“Frims, aku disini” ucap Silvi yang memanggil Frims.


Frims berjalan menuju kearah Silvi. Kemudian mereka melakukan pembicaraan ringan sebelum masuk ke topik utama.


“Sudah lama kamu menunggu disini?” tanya Frims.


“Belum sekitar tiga puluh menit” jawab Silvi sambil tersenyum.


“Tiga puluh menit itu lama, lagian kamu cepat sekali datang kemari, apa kamu tidak pulang ke rumah dulu tadi?” tanya Frims 


“Hehehe iya kamu benar, karena tadi aku terlalu semangat jadi aku tidak pulang ke rumah, tapi kamu tenang saja, aku sudah memberitahu ibuku kalau sedang ada kerja kelompok disekolah” jawab Silvi.

__ADS_1


“Ya sudah kalau begitu, aku tidak perlu khawatir lagi kalau kamu sudah berpamitan” sahut Frims.


“Lalu kita mau ngapain sekarang?” tanya Silvi.


Kemudian Frims mengeluarkan soal dan materi yang sudah dia persiapkan sebelumnya, dan dia menjelaskan tentang rencananya kepada Silvi untuk bisa mengalahkan Elena.


“Aku sudah menyiapkan rencana bagaimana nanti kamu bisa mendapatkan nilai yang sempurna, untuk kita bisa mengalahkan Elena” jawab Frims sambil memberikan materi dan soalnya kepada Silvi.


“Ini kan kisi-kisi soal ujian, apa kamu sendiri yang membuatnya Frims?” tanya Silvi.


Mendengar pertanyaan Silvi tersebut Frims tidak bisa mengatakan yang sesungguhnya kalau dia yang membuatnya, jadi Frims membuat alasan agar Silvi tidak mencurigainya.


“Tentu saja bukan, ini aku dapatkan dari kakak kelas sekolahku sebelumnya, aku meminta dari mereka, dan setelah aku samakan dengan materi pelajaran kita saat ini, aku rasa ini tidak jauh berbeda, jadi tidak ada salahnya kalau kita menggunakan kisi-kisi soal ini sebagai acuan belajar untuk saat ini, dan aku rasa soal untuk ujian besok tidak akan jauh berbeda dengan soal yang sudah aku bawa ini, karena setiap pola atau kebiasaan guru dalam membuat soal ujian itu pasti sama” jawab Frims dengan alasannya.


“Rencana ini memang masuk akal Frims, akan tetapi bagaimana bisa aku mempelajari soal ini, bahkan ini belum diajarkan oleh guru kita dikelas?” ucap Silvi yang bingung melihat soal tersebut.


“Kamu tidak perlu khawatir tentang itu, tentu aku juga sudah mempersiapkannya, kamu lihat ini” jawab Frims sambil memberikan kunci cara mengerjakan soal-soal tersebut.


“Ini kan kunci jawaban sekaligus cara mengerjakannya, wah kalau ada ini aku bisa memahami bagaimana cara mengerjakan soal-soal ini, rencanamu memang tidak tanggung-tanggung Frims” ucap Silvi yang senang melihat kunci jawaban soal tersebut.


“Dua minggu dari sekarang kamu fokus pelajari materi dan soal ini dulu, setelah itu aku akan mencoba membuat simulasi dan memberikan kamu tes soal yang serupa, untuk mengetahui apakah kamu sudah benar memahaminya atau belum” sahut Frims.


“Kenapa sekarang aku merasa kalau kamu malah menjadi guruku ya Frims hehehe” ucap canda Silvi.


“Tentu saja tidak, pemahamanku sangat buruk sekali tentang materi pelajaran, kamu tahu sendiri kan, maka dari itu kamu juga harus membantuku ketika waktu ujian besok” jawab Frims seolah memberikan opini seakan Frims juga sangat membutuhkan bantuan Silvi untuk mengerjakan soal pada waktu ujian.


“Tentu saja aku pasti akan membantumu besok Frims, tapi sekarang aku tidak mempunyai terlalu banyak buku refrensi, sepertinya aku harus meminjam dulu di perpustakaan nanti waktu pulang” ucap Silvi.


“Hahaha sepertinya kamu tidak perlu meminjamnya, karena besok akan ada banyak buku yang mendatangimu sendiri” jawab Frims sambil tertawa karena teringat dengan peristiwa waktu disekolah tadi.


“Kenapa kamu tertawa Frims, dan maksudmu itu apa?” tanya Silvi yang kebingungan dengan perkataan Frims tersebut.


“Sudah lupakan, intinya, sekarang kamu harus fokus mempelajari soal dan materi ini, mengerti” jawab Frims.


“Oke siap Frims, aku pasti akan berusaha sekuat tenaga dan pikiran”

__ADS_1


Seperti itulah rencana matang yang sudah disiapkan oleh Frims untuk bisa mengalahkan Elena.


__ADS_2