
Setelah serangkaian peristiwa dilalui oleh Frims dan teman-temanya saat ujian berlangsung, mereka akhirnya berhasil melewati hari-hari yang sangat melelahkan itu, hingga sampailah pada hari penentuan tiba, tepatnya sekarang hari senin akan menjadi hari yang sangat meneganggkan bagi semua murid, hasil dari semua usaha yang sudah mereka lakukan selama enam hari terakhir akan diumumkan pada hari ini. Terlihat semua murid berkumpul didepan papan pengumuman yang berada dihalaman sekolah, karena lembaran pengumuman belum ditempelkan dipapan itu, jadi semua murid sedang menunggu di sana.
“Kenapa lama sekali pengumuman itu ditempelkan”
“Iya lama”
“Aku sudah tidak sabar ingin melihat hasilnya”
Keluh murid yang terlalu lama menunggu, tak lama kemudian, keluar Guru membawa lembaran kertas lalu menempelkanya ke papan pengumuman, para murid yang sudah lama berkumpul untuk menantikan lembaran pengumuman itu, kemudian mereka segera merapat ke papan pengumuman itu untuk melihat hasil yang mereka peroleh. Andre yang melihat bahwa hasil pengumuman sudah keluar, kemudian dia pergi memberitahu Frims untuk mengajaknya melihat pengumuman tersebut.
“Frims, Frims” suara Andre teriak memanggil Frims.
Seperti biasa Frims yang berada dilantai atas, kemudian dia mendengar teriakan panggilan tersebut.
“Kenapa kamu teriak-teriak memanggilku?” tanya Frims kepada Andre.
“Pengumumannya sudah keluar, semuanya sudah berkumpul di sana untuk melihatnya, ayo kita juga melihatnya Frims” ucap Andre mengajak Frims.
“Aku tidak ikut” jawab Frims.
“Kenapa?, apa kamu tidak ingin melihat nilaimu?” tanya Andre.
“Aku lagi malas kemana-mana, kamu ajak Silvi saja untuk melihatnya” jawab Frims.
“Silvi?, apa dia mau kalau aku ajak?” tanya Andre.
“Bilang saja kalau aku yang menyuruh untuk mengajaknya” jawab Frims.
“Oke dah, aku akan mengajaknya kalau begitu”
Andre yang mengikuti perkataan Frims, kemudian pergi mengajak Silvi untuk melihat nilai ujian mereka. Cerita berpindah diruang kepala sekolah, terlihat Bu Vivi sedang melihat dengan serius lembar jawaban dari salah satu Siswa.
“Apakah ini semua benar Frims yang mengerjakannya” gumam Bu Vivi sambil melihat serius lembar jawaban tersebut.
__ADS_1
“Panggil Frims segera!, suruh dia untuk mengahadapku sekarang” ucap Bu Vivi meminta kepada salah satu guru untuk memanggil Frims.
Kemudian ditempat Andre dan Silvi berada, ketika sudah sampai di sana, mereka disambut dengan tatapan mata semua murid yang sedang melihat kearah Silvi.
“Kenapa semua orang melihatku ya ndre?” tanya Silvi kepada Andre.
“Aku juga tidak tahu” jawab Andre.
Karena Silvi tidak menyadari mengenai rumor tentang pertaruhannya dengan Elena sudah menyebar keseluruh murid kelas sebelas, sebenarnya tujuan dari semua murid yang berada ditempat itu selain ingin melihat hasil ujiannya, mereka ingin mengetahui siapa yang jadi pemenang pada pertaruhan itu. Kemudian Silvi dan Andre melihat hasil ujian mereka, setelah mereka melihatnya sontak Silvi kaget dengan hasil yang dicapainya, begitupun dengan Andre.
“Peringkat satu, aku peringkat satu ndre, lihat namaku ada di atas sana Silvia Viora” ucap senang Silvi memberitahu Andre tentang peringkatnya.
“Wah gila, lihat kamu juga mengalahkan Elena dia berada diperingkat kedua, tepat di bawahmu” sahut Andre mendengar kabar gembira itu.
“Lalu bagaimana denganmu dan yang lainya ndre?” tanya Silvi.
“Sebentar aku masih mencarinya, ketemu!, lihat ini, aku dan yang lainya lulus Sil, peringkatku dan teman lainya juga masuk dalam lima puluh besar” ucap Andre dengan ekspresi sangat senang.
“Wah lima puluh besar dari semua murid kelas sebelas, berarti kelas kita sekarang bukan lagi kelas paling bawah” sahut Silvi dengan senang.
“Oh iya Frims, urutan berapa dia ndre?” tanya Silvi.
“Sebentar aku cari dulu, seharusnya dia berada tidak jauh dengan peringkatku dan yang lain” jawab Andre sambil mencari.
Kemudian mereka berdua mencarinya bersama, setelah menemukanya betapa kagetnya mereka melihat peringkat yang diperoleh oleh Frims.
“Frims seharusnya berada sama dengan peringkatku dan yang lainya, tapi kenapa tidak ada ya namanya” ucap Andre.
Andre melihat wajah Silvi yang terlihat bersedih, kemudian dia bertanya “ Kenapa wajahmu terlihat sedih seperti itu Sil, ada apa denganmu?”
“Lihat ini, Frims” ucap sedih Silvi.
“Astaga, aku tidak percaya ini” sahut Andre setelah mengetahui peringkat Frims.
__ADS_1
Frims Asgard, peringkat dua ratus, dari dua ratus keseluruhan siswa kelas sebelas, dengan rata-rata nilai tujuh puluh lima. Itulah yang mereka lihat, semua kesenangan yang terpancarkan sebelumnya, berubah menjadi kesedihan setelah mereka berdua melihat hasil yang diperoleh Frims dalam ujian tersebut.
“Tenang dulu Sil, meskipun peringkatnya berada paling akhir tapi setidaknya dia masih lulus ujian” ucap Andre yang menenangkan Silvi.
“Iya kamu benar, aku juga bersyukur dia masih lulus, tapi aku masih tidak percaya dia berada diperingkat paling akhir, apa kalian tidak ada yang membantunya waktu ujian kemaren?” tanya Silvi.
“Sebenarnya kemaren semua jawbanku berasal dari Frims, aku juga tidak percaya dia bisa berada diperingkat itu, sedangkan aku yang menconteknya malah berada di peringkat atasnya” jawab Andre.
Kemudian setelah Silvi mendengarkan penjelasan Andre itu dia berfikir kalau hanya Frims saja yang tau tentang ini semua, jadi dia memutuskan untuk bertanya kepadanya sendiri tentang ini. Ditengah obrolan mereka terdengar suara pengumuman yang berasal dari speaker sekolah.
“Murid yang bernama Frims Asgard, dimohon untuk segera menemui kepala sekolah di ruangannya terimakasih” suara pengumuman dari pihak sekolah.
Silvi dan Andre yang mendengar pengumuman itupun merasa kaget karena mereka khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk kepada Frims karena sudah dipanggil kepala sekolah.
“Frims dipanggil kepala sekolah, jangan-jangan karena nilainya ini” ucap Andre setelah mendengar pengumuman tersebut.
“Aku juga khawatir soal itu, semoga tidak terjadi apa-apa padanya” sahut Silvi.
Sementara itu didalam kelas sebelas E, yang dimana terlihat teman-teman Frims sedang merayakan keberhasilan mereka karena sudah lulus ujian.
“Aku tidak percaya kita semua bisa lulus dengan peringkat limapuluh besar”
“Iya, apalagi sekarang ada jenius baru dikelas kita yaitu Silvi, dia berhasil mengalahkan peringkat Elena, memang hebat dia”
“Wah hebat, berarti sekarang kelas kita bukan lagi kelas receh hehehe”
“Kalian dengar tidak pengumuman tadi, Frims dipanggil kepala sekolah”
“Frims, ah biarkan saja paling juga dia akan dihukum, siapa suruh mendapat peringkat akhir”
“Iya biarkan saja, dia sudah menjadi aib dikelas ini, seharusnya dia malu mendapatkan peringkat akhir”
“Kamu benar, padahal kita sudah berusaha dengan keras untuk mendapat peringkat lima puluh besar dia malah peringkat akhir, membuat malu kelas kita saja”
__ADS_1
Seperti itulah hinaan yang mereka katakan kepada Frims, karena mereka semua tidak sadar dengan apa yang sebenarnya sudah diperbuat oleh Frims, kepada mereka semua. Kemudian cerita berpindah, dimana Frims yang mendengar pengumuman itu segera untuk pergi menemui kepala sekolah.
“Sepertinya, aku memang tidak boleh untuk istirahat sebentar saja” gumam Frims setelah mendengar pengumuman tersebut.