
Frims yang sedang duduk santai menikmati waktu istirahat di kursinya, tiba-tiba mendengar suara sapaan dari teman sekelasnya.
“Hai Frims, boleh aku mengobrol denganmu, biar kita jadi lebih akrab hehehe?” tanya salah satu temanya.
“Boleh?” tanya balik Frims.
“Apakah kamu tahu namaku?”
“Tidak tahu” jawab Frims dengan nada datar.
“Sudah kuduga kamu belum mengenalku, padahal kita satu kelas loh, namaku Andre Tifani kamu bisa memanggilku Andre, dengan begini kita sudah menjadi teman hehehe” jawab Andre.
“Bukankah kita sudah menjadi teman dari kemaren, walaupun sekedar cuma teman sekelas” canda Frims.
“Ternyata kamu orangnya lucu juga ya Frims hahaha, aku tidak menyangka kamu bisa membuat Pak Bima dan yang lain termasuk aku tertawa tadi” kata Andre sambil tertawa.
“Sebenarnya aku hanya bilang apa adanya tadi, aku juga tidak menyangka kalau perkataan ku bisa membuat Pak Bima tertawa” sahut Frims.
“Bener juga sih, mungkin kamu bisa menjadi duta hoki Frims hahaha” canda Andre.
“Boleh saja tapi kamu jadi wakilnya ya” canda balik Frims.
“Hahaha…” Andre hanya tertawa mendengar candaan yang dikatakan oleh Frims.
“Emang, sebelumnya kamu kira aku orang yang kayak gimana?” tanya Frims.
“Ya aku hanya melihat dari penampilanmu seperti seseorang yang misterius, aku mengira kamu seorang psikopat” canda Andre.
“Mana ada psikopat memakai seragam sekolah" sahut Frims sambil bergumam didalam pikirannya "dengan begini aku bisa menggali informasi dari anak ini tentang keadaan sekolah ini”
“Eh ngomong-ngomong, apa kamu sudah mengenal teman-teman kelas selain diriku?” tanya Andre.
“Belum, kayaknya baru kamu yang aku kenal, tapi tenang saja, dengan kejadian tadi sepertinya mereka sekarang sudah mengenalku” jawab Frims.
“Iya juga sih, tapi aneh kalau kamu nggak tau nama teman sekelas mu, baik sebagai temanmu aku akan membantumu untuk mengenal nama mereka.
Satu-persatu Andre mengenalkan nama teman sekelas Frims. Kemudian Frims mendengarkan dan bertanya tentang keadaan kelas.
“Lalu siapa murid terpintar dikelas ini?” tanya Frims.
“Yang terpintar kalo nggak salah Silvi, tadi dia yang memberikanmu semangat, waktu kamu mengerjakan soal di depan kamu dengar kan, sebenarnya dia sebelumnya berada di kelas unggulan, entah kenapa nilainya pada waktu ujian kemaren jadi sangat jelek sekali, lalu dia dipindah di kelas ini” jawab Andre.
“Sepertinya dia punya masalah” gumam Frims.
Dengan informasi yang didapatkan, Frims sudah mengerti dengan situasi kondisi kelasnya. Dirasa sudah cukup dengan informasi yang didapat, Frims kemudian pergi ke atap gedung sekolah untuk bersantai menghabiskan waktu istirahatnya.
“Kurasa informasi yang kudapat sudah cukup untuk saat ini, dan aku sepertinya sudah mulai bosan berada dikelas terus, oh iya atap gedung, tidak akan ada yang menggangguku di sana” gumam Frims.
Sambil berdiri Frims berkata kepada Andre “aku mau keluar dulu”
__ADS_1
“Mau kemana Frims?” tanya Andre.
“Atap gedung” jawab Frims.
“Aku ikut boleh?, aku juga lagi bosan dikelas” tanya Andre.
“Yuk”
Kemudian mereka melanjutkan pembicaraan sambil berjalan menuju lantai atas gedung sekolah. Ditengah perjalanan, Frims melihat ada wanita yang terlihat seperti diistimewakan oleh teman-temanya.
“Siapa wanita itu?” tanya Frims.
“Oh dia Elena, wanita paling populer di kalangan pria, dia juga kelas 11 sama dengan kita cuma dia berada di kelas unggulan, dia juga dijuluki jenius dikelasnya” jawab Andre.
“Oh pantas saja dia diperlakukan istimewa” kata Frims.
“Kenapa emangnya kamu naksir ya?, sudah lah urungkan saja niatmu kawan, dia sudah punya pacar” ucap Andre.
“Aku hanya penasaran dengan sikapnya itu, seperti menyombongkan diri, tapi sudahlah bukan urusanku juga” Jawab Frims.
Tibalah mereka di lantai atas gedung sekolah.
“Tempat ini tidak buruk juga” gumam Frims.
“Apa kamu ingin makan sesuatu Frims?” tanya Andre.
“Yaah padahal aku mau beli makanan di kantin bawah” kata Andre.
“Kenapa tadi tidak sekalian beli makanan, waktu kita jalan kesini?” tanya Andre.
“Lupa hehehe” jawab Andre.
“Beli aja dulu, aku masih ingin disini” Frims menyuruh Andre.
“Enggak ah males”
Sambil mengobrol dan menikmati suasana angin yang semilir, Frims teringat tentang sesuatu.
“Oh iya, aku ingin meminjam buku dulu di perpustakaan, kamu bisa menungguku di kelas ndre, aku akan langsung pergi ke kelas kalau sudah selesai” kata Frims.
“Oke, aku tunggu dikelas kalau gitu”
Kemudian Frims pergi menuju ke perpustakaan. Setibanya di sana, Frims perlahan memasuki ruangan perpustakaan.
“Sepertinya ini tempatnya” Gumam Frims sambil berjalan masuk kedalam ruangan.
“Oi nak” suara orang memanggil.
“Iya Bu” jawab Frims kepada orang tersebut.
__ADS_1
“Lihat peraturan yang tertulis di diding itu, kamu bisa baca kan, dilarang menggunakan masker dan topi ketika berada di ruangan perpustakaan" ucap orang tersebut.
“Untung saja tadi aku bawa surat sakti dari Bu Vivi” gumam Frims.
“Ini Bu” kemudian Frims menunjukan surat yang diberikan Bu Vivi kepada orang tersebut.
Kemudian orang tersebut membaca surat yang diberikan Frims. Setelah selesai membaca surat, lalu Frims di izinkan menggunakan masker dan topinya itu.
“Oh jadi kamu punya penyakit seperti itu, ya sudah kamu Ibu izinkan menggunakannya, tapi kamu harus registrasi dulu untuk bisa masuk kedalam” sahut orang tersebut.
Kemudian Frims mengisi daftar tamu itu dengan perasaan yang sedikit aneh.
“Di tempatku yang dulu aku bebas masuk perpustakaan, bahkan aku diberikan kuncinya, tapi sekarang aku harus registrasi seperti ini dulu biar bisa masuk” gumam Frims sambil teringat dengan masa lalunya.
Setelah menyelesaikan registrasi Frims berkata “sudah”
“Frims Asgard, kelas 11 E, belum pernah mendaftar” ucap orang tersebut sambil membaca informasi yang sudah Frims isikan di formulir.
“Sepertinya kamu murid baru, aku juga belum pernah melihatmu, perkenalkan namaku Bu Novi” ucap Bu Novi.
“Iya saya murid pindahan, apakah sudah selesai registrasinya Bu Novi?” tanya Frims.
“Sudah silahkan masuk, tapi ingat, patuhi peraturan yang ada, jangan berisik, dan kalau ingin meminjam buku harus bilang ke saya mengerti” jawab Bu Novi.
“Oke mengerti”
Kemudian Frims masuk dan melihat-lihat buku yang belum dia punya di rumah.
“Sepertinya tidak ada buku yang menarik di perpustakaan ini, dan juga buku di perpustakaan pribadiku lebih lengkap daripada disini” gumam Frims.
kemudian terdengar ada suara wanita yang memanggil Frims.
“Frims” ucap wanita itu.
“Seperti ada yang memanggilku, bukankah dia Silvi teman sekelas ku” gumam Frims sambil menoleh ke arah Silvi.
“Ngapain kamu disini?” tanya Silvi.
“Sebenarnya aku ingin meminjam buku, tapi sepertinya tidak jadi” Jawab Frims.
“Kenapa tidak jadi, apa buku-bukunya terlalu sulit untuk dipahami?” tanya Silvi.
“Bukan terlalu sulit tapi terlalu mudah, dan aku juga sudah memiliki semua bukunya” gumam Frims didalam hati.
“Iya, aku tidak begitu paham isi dari buku-buku ini, jadi aku tidak jadi meminjamnya” jawab Frims.
“Sini ambilah buku yang kamu ingin pelajari, biar aku membantumu untuk memahaminya” kata Silvi sambil tersenyum.
Frims pun mengambil satu buku, kemudian mereka membaca bersama buku tersebut.
__ADS_1