JENIUS NOMOR 1 FRIMS ASGARD

JENIUS NOMOR 1 FRIMS ASGARD
Kabar Buruk


__ADS_3

Dua hari sebelum ujian dimulai, didalam kelas saat waktu istirahat, terlihat Roy dan teman-temanya sedang membahas sesuatu didalam kelas. 


“Kalian semua jangan keluar dulu, masih ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian semua” ucap Roy yang berdiri didepan kelas di ikuti oleh para teman laki-lakinya yang berdiri dibelakangnya.


“Ada apa Roy, kenapa kalian berdiri didepan situ?” tanya Sherly yang merupakan teman sekelasnya.


“Baik semuanya tolong dengarkan aku dulu, saat ini kita sedang dalam keadaan darurat, banyak dari kita disini yang keberatan dengan peraturan yang baru itu, dan tentunya tidak semua murid dikelas ini mempunyai kemampuan yang sama, aku mohon kepada kalian terutama yang mempunyai kemampuan lebih, untuk nanti bisa membantu teman yang sedang dalam kesulitan dalam mengerjakan soal dan berkenan memberitahukan jawabannya, tentu saja kita semua tidak ingin melihat salah satu teman kita ada yang tertinggal dikelas ini, oleh karena itu aku sebagai perwakilan teman-teman yang sekarang berdiri didepan ini, memohon bantuan kalian semuanya untuk bersatu menghadapi ujian yang akan datang” jawab Roy yang pada saat itu menjadi perwakilan teman-temanya.


Mendengar itu kemudian Silvi  berkata “Aku, akan berusaha membantu kalian semua”


Langsung ucapan Silvi disambut sorak gembira oleh teman sekelas, khususnya mereka yang sedang memohon didepan, karena Silvi dianggap siswa paling pintar dikelas mereka.


“Ooh terimakasih dewiku tidak salah aku mengidolakanmu”


“kalo ada Silvi, kita tidak perlu khawatir lagi”


“Aku semakin mengidolakanmu Silvi”


Silvi yang merasa risih dan malu terhadap ucapan mereka kemudian berkata. 


“Sudah hentikan, kalian terlalu berlebihan kepadaku” sahut Silvi dengan perasaan malu.


Kemudian Roy mengambil alih pembicaraan tersebut.


“Dengan ini kita sudah sepakat, kalau besok kita harus saling membantu, tapi ngomong-ngomong aku tidak melihat Frims, apakah dia mengabaikan rapat penting sekarang ini” ucap Roy sekaligus bertanya tentang Frims.


“Biarkan saja dia, lagian dia juga tidak perduli dengan kelas kita ini”


“Kamu benar, biarkan anak itu merasakan rasanya tidak naik kelas”


Andre yang mendengar teman-temannya menghujat Frims kemudian terlihat sangat marah sekali.


“Kalian jangan begitu kepada Frims, bagaimanapun juga dia teman sekelas kita” ucap Andre dengan nada marah karena membela Frims.


Mereka yang tadi menghujat Frims kemudian berkata kepada Andre.


“Lihat temanya membelanya, sudah kamu jangan berteman dengannya ndre, bisa-bisa nanti kamu salah pergaulan hahaha”


“Iya benar, kenapa juga kamu membela anak seperti dia, lagian dia sendiri yang tidak peduli dengan kondisi kelas saat ini”


Silvi yang dari tadi menahan emosinya, akhirnya marah karena sudah tidak kuat lagi mendengarkan teman-temanya pada menghujat Frims.


“Sudah cukup kalian sangat keterlaluan kepada Frims!, jika kalian masih bilang begitu, jangan harap aku akan membantu kalian” sahut Silvi dengan nada marah bercampur sedih, karena mendengar ucapan mereka menghujat Frims.

__ADS_1


Seketika suasana menjadi hening, murid yang tadinya menghina Frims, langsung terdiam semua setelah mendengar ucapan dari Silvi itu.


“Sudah-sudah kalian memang keterlaluan tadi, sebaiknya kalian segera meminta maaf ke Silvi” ucap Roy yang menjadi penengah pada situasi itu.


Kemudian mereka yang tadi menghina Frims, meminta maaf kepada Silvi.


“Maaf Sil, kita tadi hanya bercanda kok”


“Iya Sil maaf, aku tidak tahu kalau bercandaan kami tadi membuatmu marah”


Melihat mereka menyesalinya kemudian Silvi menjadi lunak dan memaafkannya.


“Karena kalian sudah menyesalinya aku maafkan kalian, tapi lain kali aku tidak ingin ada bercandaan seperti ini lagi” jawab Silvi.


Setelah mereka menyelesaikan rapat mereka, tak lama kemudian ada guru yang datang didepan kelas mereka, dan guru itu menempelkan selembaran kertas di pintu kelas mereka.


“Lembaran apa itu pak?” tanya salah satu murid.


“Ini lembaran pengumuman ruangan kelas ujian siswa, kalian bisa melihat ada nama kalian apa tidak di lembaran ini, kalau ada berarti ruangan kelas kalian ada disini, kalau tidak ada berarti ada ditempat lain, sebaiknya kalian segera melihatnya sekarang” jawab Guru tersebut sambil menjelaskan tentang lembaran pengumuman itu.


Kemudian mereka para murid dikelas itu, melihat pengumuman itu, apakah mereka masih berada dikelas yang sama.


“Syukurlah kita semua masih satu kelas” ucap Roy setelah melihat lembaran pengumuman itu.


“Ada apa Sil” tanya Roy.


Kemudian Silvi menjawab dengan bingung “Kenapa hanya namaku saja yang tidak ada di lembaran ini?”


“Masak sih, coba aku lihat” ucap Roy sambil melihat lagi dengan teliti lembaran pengumuman tersebut.


Setelah Roy mengecek lagi pengumuman itu, ternyata memang tidak ada nama Silvi di sana.


“Waduh, namamu tidak ada disini Sil, berarti kamu tidak satu kelas dengan kita dong” ucap kaget Roy, setelah melihat lembaran pengumuman tersebut.


Kepanikan pun terjadi lagi dikelas itu, karena rencana yang sudah dipersiapkan sebelumnya menjadi tidak berguna, karena siswa paling pintar dikelasnya yang akan dijadikan tumpuan, tidak berada satu kelas dengan mereka.


“Terus bagaimana dengan rencana kita tadi?”


“Waduh kita kehilangan Silvi, lalu siapa yang kita andalkan sekarang?”


“Oh tuhan kenapa ini harus terjadi”


Karena Silvi yang tidak tega melihat mereka seperti itu, akhirnya dia pergi untuk memberitahu Frims.

__ADS_1


“Andre, kamu tahu Frims ada dimana?” tanya Silvi kepada Andre.


“Aku rasa dia ada di atas, dia selalu ada di sana waktu istirahat” jawab Andre.


“Kalau begitu kamu antarkan aku kesana” ucap Silvi sambil mengajak Andre.


Kemudian Andre mengantarkan Silvi pergi menuju tempat Frims berada. Setibanya ditempat Frims.


“Itu dia di sana, kamu kesana dulu, aku mau ke toilet, nanti aku datang lagi, udah kebelet ni” ucap Andre sambil menunjuk kearah Frims, dan kemudian dia pergi ke toilet.


Frims yang waktu itu sedang duduk santai menikmati waktunya, dihampiri oleh Silvi.


“Frims, gawat” ucap Silvi sambil berlari kearah Frims.


Kemudian Frims melihat kearah Silvi dan bertanya “Ada apa?, kenapa kamu lari-lari seperti itu?”


“Ada kabar buruk Frims, aku tidak berada satu kelas denganmu dan teman-teman lainya” jawab Silvi.


“Oh, terus kenapa kalau begitu” jawab Frims dengan santainya karena menganggap itu kabar yang biasa saja.


Kemudian Silvi menceritakan kepada Frims tentang apa yang terjadi dikelas tadi.


“Hahaha” Frims tertawa mendengarkan cerita dari Silvi.


“Kenapa, kamu tertawa Frims, ini masalah serius, kalau aku tidak sekelas denganmu, aku juga tidak bisa membantumu dan teman lainya” ucap Silvi menanggapi sikap Frims yang seakan tidak serius mendengar ceritanya.


“Sudah kamu jangan khawatir tentang itu, yang terpenting kamu hanya perlu fokus pada ujianmu besok, kalau masalah aku dan yang lain, nanti kita serahkan kepada yang di atas saja” jawab Frims dengan candaan.


“Aku menghawatirkanmu Frims, aku tidak ingin kamu tidak naik kelas” ucap Silvi sambil meneteskan air matanya.


Frims yang melihat Silvi menjadi sedih karena sudah mengkhawatirkannya itu, merasa bersalah dan tidak tega, kemudian dia berusaha menenangkannya.


“Sudah kamu tidak perlu khawatir tentang diriku maupun yang lainya, aku sudah menyiapkan rencana untuk itu semua” jawab Frims sambil menghibur Silvi.


Kemudian Silvi menjadi tenang setelah mendengar perkataan dari Frims tersebut.


“Kamu harus janji kepadaku, kalau kamu harus bisa lulus ujian” ucap Silvi.


“Iya, aku janji”


Kemudian Frims terdiam dan memikirkan cara, bagaimana dia bisa membuat teman-teman sekelasnya itu lulus dalam ujian besok.


“Sepertinya aku harus menggunakan pion keduaku, yaitu Andre untuk mengatasi persoalan ini” gumam Frims yang terpikirkan untuk menggunakan Andre sebagai pionnya.

__ADS_1


__ADS_2