
Setelah memberikan nomornya ke Silvi kemudian Frims pergi menuju tempat biasa dia menghabiskan waktu. Cerita berpindah diruang guru, yang dimana sedang diadakan rapat oleh para guru untuk membahas mengenai ujian tengah semester yang akan dilakukan dua bulan lagi.
“Kurang dua bulan lagi kita akan melaksanakan ujian, bagaimana perkembangan para siswa saat ini?, mereka yang berada dikelas biasa apakah ada perkembangan?” tanya Bu Vivi saat memimpin rapat dengan para guru.
“Untuk siswa unggulan kita tak perlu mengkhawatirkan terkait perkembangannya, akan tetapi, siswa yang berada dikelas biasa itu belum terlalu banyak perubahan yang terlihat, hanya Silvi yang berada dikelas 11 E itu saja yang kemampuannya sebanding dengan para siswa unggulan, yang lainya tidak ada perkembangan sama sekali” ucap Pak Bima menjawab pertanyaan dari Bu Vivi di rapat tersebut.
“Lalu bagaimana dengan Frims siswa baru 11 E itu, apa tanggapan para guru sekalian yang pernah mengajarnya, apakah dia termasuk murid yang pintar menurut kalian?” tanya Bu Vivi.
“Frims, tidak ada yang mencolok darinya selain penampilannya, kalau untuk kepintarannya, saya rasa dia sama seperti murid biasa dikelasnya, bahkan dia malah lebih parah, ketika mengikuti pelajaran saya dia selalu terlihat mengantuk” jawab Bu Novi.
“Hahaha, ternyata bocah itu belum berubah, dulu dia malah berani tidur waktu pertama mengikuti pelajaran saya, ketika itu saya memberikannya hukuman tegas untuk mengerjakan soal didepan, walaupun jawabannya waktu itu benar, tapi ketika saya tanya bagaimana dia bisa menjawabnya, dia berkata kalau menjawab soal tersebut menggunakan instingnya hahaha, kalau aku mengingatnya malah jadi tertawa sendiri, bagaimana bisa suatu pelajaran apalagi matematika dikerjakan menggunakan insting” ucap Pak Bima menceritakan tentang bagaimana sikap Frims saat mengikuti pelajarannya.
Kemudian para guru pada rapat tersebut sontak tertawa mendengar cerita tentang Frims yang disampaikan oleh Pak Bima dalam rapat tersebut, akan tetapi ada satu guru yang hanya diam termenung mendengar cerita tersebut yaitu ialah Bu Vivi.
“Lucu sekali anak itu, sepertinya dia sedang mengadu nasib pada saat itu” ucap salah satu Guru.
“Oh, jadi itu alasannya kenapa Pak Bima waktu itu bisa tertawa” ucap Pak Joni yang dulu pernah terganggu dengan tawanya itu, tapi sekarang dia sudah mengerti kenapa dia bisa tertawa seperti itu.
“Ada yang aneh dengan apa yang diceritakan Pak Bima tadi, dia bilang Frims menjawab soal itu dengan benar, tapi Frims berkata kalau itu cuma kebetulan, ini aneh dia juga mengatakan hal yang sama pada waktu mengikuti tes yang aku berikan, sepertinya dia memang murid yang jenius, tapi kayaknya hanya aku disini guru yang menyadari tentang kejeniusannya itu” gumam Bu Vivi sambil diam termenung.
“Ehem” Suara kode yang dikeluarkan Bu Vivi, yang menandakan agar guru bisa diam dan kembali fokus pada rapat tersebut.
“Sepertinya kita sekarang sedang mengalami krisis minat belajar pada siswa, tentu saja mau itu kelas unggulan ataupun biasa kita harus memperlakukan mereka dengan sama, oleh karena itu, apakah para guru sekalian memiliki usulan untuk mengatasi krisis yang terjadi saat ini” tanya Bu Vivi kepada para guru untuk memberikan usulannya terkait hal tersebut.
“Bagaimana kalau kita beri ketegasan pada ujian besok untuk memacu niat dan belajar para siswa” usul Pak Indra yang juga merupakan wakil kepala sekolah.
“Ketegasan dengan cara bagaimana?, bisa dijelaskan detailnya Pak Indra” tanya Bu Vivi menanggapi usulan tersebut.
__ADS_1
Kemudian pak indra menjelaskan secara mendetail terkait usulannya tersebut.
“Yang diusulkan oleh Pak Indra tadi masuk akal juga, aku juga ingin mengetahui apakah Frims akan menunjukan kemampuan aslinya jika diberi peraturan seperti yang sudah diusulkan Pak Indra tadi” gumam Bu Vivi.
“Usulan dari Pak Indra tadi sepertinya terdengar bagus, Bapak Ibu guru sekalian, apakah ada yang keberatan jika kita menggunakan usulan Pak Indra tadi untuk memacu minat belajar siswa?” tanya Bu Vivi sekaligus menanggapi usulan tersebut.
Semua Guru terdiam dan mereka menganggap usulan tersebut merupakan pilihan terbaik untuk dilakukan saat ini.
“Baik, saya rasa semua sudah sepakat dan tidak ada yang keberatan dengan yang di usulkan Pak Indra tadi, jadi saya harap setelah nanti peraturan ini jadi, untuk para wali kelas agar mensosialisasikan kepada para siswa dikelasnya masing-masing” ucap Bu Vivi.
“Baik, siap”
“Siap”
“Baik, Bu”
“Karena kesepakatan sudah tercapai rapat bisa kita akhiri” sahut Bu Vivi dengan menutup acara rapat tersebut.
Cerita berpindah dimana Frims yang sekarang berada dilantai atas tengah duduk santai menikmati waktunya, tiba-tiba dikagetkan dengan suara teriak-teriak dari lantai bawah menuju ke lantai dia berada.
“Suara apa itu, apakah ada tawuran dibawah, bodo amat lah” gumam Frims yang tidak memperdulikannya.
Tak lama kemudian banyak kerumunan siswa cowok yang juga satu kelas dengannya datang menghampirinya.
“Frims diaman kamu?” suara teriakan memanggil Frims.
Dengan santainya Frims menjawab “Oh kalian”
__ADS_1
“Di sana kamu rupanya , kami datang mencarimu meminta klarifikasi darimu, untuk yang tadi terjadi antara kamu dan Silvi” ucap Roy sebagai ketua kelas sekaligus perwakilan yang bertanya.
“Oh tadi, memangnya aku harus memberi klarifikasi tentang apa?” jawab Frims yang tetap pada posisi santai dan tenang.
“Apakah kamu berpacaran dengan Silvi, kalau iya pasti kamu sudah menggunakan ilmu pelet untuk mendapatnya, sebaiknya kamu mengaku saja, karena kami sebagai fans yang mengidolakannya merasa dirugikan dengan perbuatanmu kalau memang itu benar terjadi” jawab Roy selaku perwakilan.
“Dasar para maniak kocak hahaha” gumam Frims sambil menahan tawa setelah mendengar ucapan mereka.
Kemudian datang Andre dengan teriakan membela Frims.
“Tunggu, kalian jangan lakukan apa-apa kepada Frims, dia temanku kalian pasti hanya salah paham saja” ucap Andre untuk membela Frims.
Kemudian Frims berdiri dan menyuruh andre untuk diam dan duduk melihat apa yang akan dia lakukan.
“kamu tenang dan lihat saja, aku akan menenangkan para maniak kocak yang tidak tahu apa-apa ini” ucap Frims kepada Andre.
“Cepat jawab Frims, apa kamu berpacaran dengan Silvi?” ucap Roy yang sudah tidak sabar menunggu jawaban dari Frims.
“Akan aku gunakan momen ini untuk mendapatkan keuntungan lebih” gumam Frims yang sudah merencanakan sesuatu.
“Kalian tidak perlu khawatir, aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Silvi” jawab Frims.
“Lalu kenapa tadi Silvi ingin bertemu denganmu setelah pulang sekolah?” tanya Roy.
“Jadi kemaren tidak sengaja aku bertemu dengannya, lalu dia bertanya kepadaku apakah aku mempunyai buku, kemudian aku jawab, aku memiliki buku dari sekolahku yang dulu dan aku tidak pernah membacanya, oleh karena itu dia tertarik untuk meminjamnya, jadi karena itu kemudian aku bilang akan memberikan bukunya sepulang sekolah besok, itulah kejadian yang sebenarnya” jawab Frims.
Wajah mereka yang tadinya terlihat marah, kemudian berubah menjadi lega dan senang, setelah mendengar klarifikasi yang sudah Frims berikan.
__ADS_1