JENIUS NOMOR 1 FRIMS ASGARD

JENIUS NOMOR 1 FRIMS ASGARD
Ujian


__ADS_3

“Dimohon Tenang Ada Ujian!” itulah tulisan yang terpampang besar dihalaman sekolah menandakan ujian telah dimulai, suasana sekolah yang biasanya ramai dengan canda tawa murid, sekarang menjadi hening, hanya terdengar suara burung yang sedang berkicau, karena semua murid saat ini sedang fokus pada ujian yang sedang mereka lakukan. Sementara itu dikelas Frims berada sekarang, terlihat Frims yang sedang duduk dengan tenang dan santai.


“Tidak ada yang perlu aku khawatirkan dengan soal-soal ini, seharusnya Silvi bisa dengan mudah untuk mengerjakannya, tapi, kenapa mereka semua terlihat kebingungan mengerjakan soal mudah seperti ini” gumam Frims sambil mengamati situasi dikelasnya itu.


Dua puluh menit waktu ujian berjalan, Frims sudah menyelesaikan soal ujian yang diberikan. Situasi kelas pada saat itu sangat tegang dan serius, pengawas ujian yang tak henti-hentinya memandang kearah para murid yang sedang mengerjakan soal, sehingga hal itu membuat mereka menjadi tidak bisa untuk melakukan kerja sama satu sama lain, Frims sudah menyadari kalau kemungkinan seperti ini akan terjadi dalam ujian ini, sehingga dia sudah menyiapkan rencana mengatasi hal tersebut untuk membantu mereka, sesuai dengan janjinya kepada Silvi.


“Sekarang, tinggal menunggu momentum saja untuk menjalankan rencana itu” gumam Frims yang sedang menunggu momen untuk menjalankan rencananya.


Cerita kembali dua hari sebelum ujian berlangsung, dimana Frims dengan Andre sedang berada di lantai atas, kemudian Frims menjelaskan rencananya kepada Andre agar bisa lulus dalam ujian sekolah.


“Kemana saja kamu Frims?, sudah dari tadi aku menunggumu disini” tanya Andre kepada Frims.


“Tadi Silvi memintaku untuk menemaninya mencari kelasnya” jawab Frims dengan santai.


“Yang benar, Aku jadi iri denganmu, kenapa dia tidak memintaku untuk menemaninya ya” ucap Andre.


“Sebenarnya tadi dia ingin mengajakmu juga, tapi kamu tidak ada” sahut Frims.


“Seharusnya aku tidak pergi ke kamar mandi tadi, tapi apalah dayaku yang sudah tidak bisa menahan panggilan alam itu” ucap Andre yang menyesal karena tidak bisa ikut menemani.


“Sudah lupakan, ada hal penting yang harus aku katakan kepadamu” sahut Frims dengan nada sedikit serius.

__ADS_1


“Tidak biasanya aku mendengarmu bicara seserius ini, ada apa emangnya?” tanya Andre.


Kemudian Frims menjelaskan tentang rencananya kepada Andre.


“Jika besok kamu kesulitan dalam mengerjakan soal yang diberikan jangan sungkan untuk meminta bantuanku” ucap Frims.


“Hahaha, kebalik lah, seharusnya kamu besok yang meminta bantuanku” ucap Andre sambil bercanda meledek Frims.


Frims yang tidak bisa menunjukan identitas aslinya, dia memutuskan untuk menggunakan cara yang tidak biasa, yaitu dengan memanipulasi pikiran, sehingga dengan cara itu dapat membuat Andre tertarik untuk meminta bantuannya dalam ujian tersebut.


“Aku serius, meskipun aku memang tidak pintar, tapi, apakah kamu masih ingat, dulu kamu dan yang lain pernah memberikanku julukan murid yang memiliki keberuntungan” sahut Frims dengan memberikan alasan untuk memancing Andre agar nanti meminta bantuan kepadanya saat ujian.


“Iya aku masih ingat, tapi itu sudah cukup lama, apa keberuntunganmu itu masih bisa diandalkan saat ini, nanti yang ada malah keberuntunganmu sesat hahaha” jawab Andre dengan candaan menanggapi perkataan Frims tersebut.


Andre kemudian terdiam, dia berfikir mungkin akan menjadikan tawaran Frims tersebut sebagai pilihan terakhirnya untuk mengerjakan soal pada ujian tersebut.


“Kita lihat besok saja Frims, paling juga kamu yang akan meminta bantuanku nanti” ucap Andre.


“Kalau tertarik dengan tawaranku, kamu boleh meminta bantuanku besok, ya tentunya aku mengerjakan cuma bermodalkan keberuntungan saja, jadi jangan berharap lebih” lanjut ucap Frims.


Seperti itulah cara Frims memberitahu kepada Andre, untuk nanti meminta bantuan kepadanya saat ujian. Kemudian cerita kembali lagi saat ujian sedang berlangsung, yang dimana Andre sedang dalam kondisi kebingungan dalam mengerjakan soal ujian tersebut, kemudian dia teringat dengan ucapan Frims kepadanya dua hari yang lalu.

__ADS_1


“Bagaimana ini, kenapa soalnya sulit semua, apakah aku akan tidak naik kelas, apa yang harus aku lakukan, oh iya Frims, dia pernah berkata kepadaku, untuk meminta bantuannya kalau aku kesulitan dalam mengerjakan soal, sepertinya tidak ada pilihan lain, aku harus melakukanya” gumam Andre yang terlihat keluar keringat dingin karena kebingungan mengerjakan soal yang diberikan.


Ditengah-tengah saat ujian berlangsung, tiba-tiba ada suara panggilan telepon, yang ternyata milik pengawas ujian.


“Ring ring ring” suara panggilan telepon.


Kemudian pengawas ujian mengangkat telepon tersebut.


“Bapak angkat telepon dulu diluar, kalian jangan berani macam-macam, kerjakan soal dengan tenang, kalau sampai bapak datang ada yang curang dalam mengerjakan soal, bapak sita lembar soal dan jawaban kalian” ucap pengawas ujian memperingatkan murid yang sedang melakukan ujian.


Melihat pengawas sedang berada diluar, semua murid dikelas itu, tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, mereka bertanya satu sama lain untuk mendapatkan jawaban, hal tersebut juga dilakukan oleh Andre, dia melihat kearah Frims, dan memanggilnya untuk membantunya memberikan jawabannya. 


“Anjir, anak itu, kenapa terlihat santai sekali, apakah dia sudah selesai mengerjakan soalnya” gumam Andre yang kaget setelah melihat sikap Frims, yang terlihat santai ditengah kebingungan yang melanda teman-temanya dikelas itu.


Frims yang mendengar panggilannya kemudian, memberikannya kertas bertuliskan jawaban yang sudah dipersiapkan olehnya. 


“Umpan sudah dimakan, saatnya memulai rencana, kurasa dengan jawaban ini sudah cukup untuk membuat mereka lulus” gumam Frims sambil melemparkan kertas kearah Andre.


Kemudian Andre membuka isi kertas itu, dan dia mengisi jawabannya sesuai dengan apa yang Frims berikan.


“Tidak ada pilihan lain, ya Tuhan tolong berikan keajaibanmu lewat jawaban ini” gumam Andre sambil berdoa dan menulis jawaban yang sudah Frims berikan. 

__ADS_1


Sesuai dengan apa yang direncakan oleh Frims, akan ada efek domino dari kertas yang diberikannya kepada Andre tersebut, karena secara otomatis teman sekelasnya yang melihat Andre mendapatkan kertas jawaban itu, mereka secara tidak sadar akan memintanya juga, meskipun mereka tidak tahu dari siapa kertas jawaban itu berasal, karena kondisi mereka saat itu sedang panik, jadi mereka tidak punya waktu untuk mempertimbangkan entah itu kertas jawaban dari siapa, entah itu benar atau salah, karena yang mereka butuhkan adalah jawaban untuk mengerjakan soal dalam ujian yang mereka lakukan, tentu saja Frims sudah menyadari hal tersebut, oleh karena itu dia menggunakan media kertas sebagai peluru yang akan mengenai semua sasarannya.


Frims yang melihat rencananya itu berjalan dengan lancar kemudian berkata “Sepertinya permasalahan disini sudah teratasi, tinggal nanti melihat hasilnya”


__ADS_2