
Takut identitasnya terbongkar, kemudian Frims pergi meninggalkan Silvi tanpa berkata apa-apa. Tentu saja Silvi yang merasa ditinggalkan begitu saja juga merasa aneh dengan sikap yang dilakukanya.
“Mas” panggil Silvi kepada Frims.
Frims tetap pergi dan berpura-pura tidak mendengar panggilan dari Silvi.
“Wah ganteng banget, tapi kenapa dia pergi begitu saja ya, padahal aku masih ingin berbicara dengannya, dan juga aku merasa ada yang aneh, kenapa sekilas suaranya terdengar tidak asing ya, seperti suaranya Frims, tidak tidak, itu tidak mungkin, dia sangat berbeda sekali dengannya” gumam Silvi.
Dirasa sudah cukup aman, Frims memperlambat langkah kakinya, kemudian dia pulang menuju rumah sambil memikirkan kejadian tadi.
“Kalau dilihat dari responnya tadi, kurasa dia tidak mengenaliku, tapi kenapa Silvi bisa berada ditempat tadi, apakah dia tinggal didekat sini juga, atau cuma kebetulan saja dia beli di supermarket tadi” gumam Frims.
Setibanya di rumah.
Pelayan Alex yang berada didepan rumah melihat Frims sedang melamun kemudian bertanya “Kenapa tuan terlihat sedang melamun apakah ada masalah?”
“Tidak ada paman, hanya saja tadi aku bertemu temanku saat membeli ini di supermarket” jawab Frims sambil memperlihatkan kepada paman Alex barang belanjaannya.
“Bukankah itu bagus, kenapa tuan malah terlihat kebingungan?” tanya pelayan Alex.
“Masalahnya aku tidak memakai masker dan topi tadi paman” sahut Frims.
“Wah iya juga, apakah dia mengenali tuan tadi?” tanya pelayan Alex.
“Kurasa tidak, sudah jangan dibahas lagi paman, apakah paman sudah selesai memindahkan bukunya?” tanya balik Frims.
“Tinggal sedikit lagi tuan” jawab pelayan Alex.
“Aku bantu paman” sahut Frims.
Frims meletakan barang belanjaannya didalam rumah, dan kemudian membantu pelayan Alex memindahkan buku yang sudah dibelinya kedalam kamarnya.
“Apakah tuan akan begadang lagi malam ini?”
“Iya, paman tau sendiri kebiasaan ku ketika sudah membeli buku baru, tadi aku juga sudah membeli cemilan paman, jadi tolong paman bangunkan aku kalau pagi hehehe.” Jawab Frims.
“Siap, tuan tidak perlu khawatir”
Seperti itulah kebiasaan Frims di rumah yang tidak diketahui oleh guru maupun temanya disekolah.
__ADS_1
Cerita berlanjut pada keesokan harinya disaat waktu jam istirahat sekolah.
“Ngantuk banget hari ini, mungkin karena aku tadi malam membaca buku sampai jam tiga pagi” gumam Frims yang pada saat itu terlihat sedang mengantuk.
“Frims, kenapa kamu terlihat tidak semangat gitu?” tanya Andre.
“Tidak ada, aku hanya sedang mengantuk sekali” jawab Frims.
“Pasti kamu tadi malam kebanyakan menonton bokep, makanya kamu mengantuk begitu hahaha” ucap Andre dengan candaan.
“Itu kan kamu” sahut Frims dengan sedikit tertawa.
Suasana kelas yang ramai membuat Frims tidak bisa tidur dengan tenang.
“Aku mau ke atap gedung tempat yang kemaren, disini terlalu berisik sekali” ucap Frims.
“Aku ikut, tapi aku ingin beli makanan dulu di kantin, kamu tidak ingin menitip sesuatu, mumpung sekalian aku pergi ke kantin nanti biar aku belikan?” tanya Andre.
“Tidak, aku masih kenyang” jawab Frims.
“Ya sudah, kamu duluan aja nanti aku menyusulmu di sana” sahut Andre.
Kemudian Frims pergi menuju lantai atas gedung sekolah.
“Sepertinya aku mendengar seperti ada suara tangisan cewek, suara itu berasal dari sana coba aku lihat” gumam Frims.
Ditengah perjalanan tepatnya di gang tangga yang kebetulan suasana pada saat itu sepi Frims mendengar suara cewek menangis, kemudian Frims mengikuti arah suara itu berasal, dan ternyata suara tersebut berasal dari tangisan teman sekelasnya yaitu Silvi, yang terlihat sedang menangis dan dikelilingi cewek-cewek dari kelas lain.
“Bukankah itu Silvi, apa yang dilakukan cewek-cewek itu kepadanya, sampai dia menangis” gumam Frims sambil mendekat kearah Silvi yang sedang dikelilingi cewek-cewek lain.
“Berikan aku waktu, aku pasti akan membayarnya hiks hiks” ucap Silvi sambil menangis.
“Dari kemaren seperti itu terus perkataanmu!, sudah tidak ada waktu lagi, kalau kamu tidak membayarnya sekarang juga, akan aku buat kamu malu” ucap dari salah satu cewek yang mengelilingi Silvi dengan nada marah.
“Bagaimana kalau kita potong rambutnya” ucap usul dari salah satu teman cewek itu.
“Boleh juga, oke kita potong rambutnya, kalian pegang tangannya biar dia tidak melawan”
Kemudian cewek tersebut melakukan aksinya dengan mengambil gunting yang sudah dia siapkan didalam tas nya, setelah mengambilnya cewek itu pun bersiap memotong rambut Silvi.
__ADS_1
“Jangan lakukan itu hiks hiks” ucap Silvi yang tidak bisa melawan karena sudah dipegangi oleh kawan dari teman cewek tersebut.
Diarahkan lah gunting itu ke rambut Silvi. Tiba-tiba dari belakang Frims menarik tangan cewek yang ingin memotong rambut Silvi.
“Siapa kamu berani menarik tanganku” ucap cewek tersebut.
“Aku bukan siapa-siapa, aku hanya teman sekelas dari wanita yang ingin kamu sakiti itu” jawab Frims.
“Apa kamu tidak tahu aku Siapa, aku adalah Elena Siswa unggulan yang dijuluki jenius, bahkan guru-guru tidak ada yang berani memarahiku” ucap Elena yang menyombongkan dirinya dihadapan Frims.
“Oh jadi dia Elena yang aku lihat waktu itu, jadi memang sombong seperti ini sikapnya, sepertinya aku harus memberinya pelajaran” gumam Frims.
“Aku tidak peduli dengan statusmu, aku hanya ingin kamu melepaskan dia” jawab Frims dengan nada acuh.
“Dia punya hutang denganku dan sekarang aku sedang menagihnya, jadi jangan ikut campur urusanku dengannya.” sahut Elena dangan arogannya.
“Memang berapa hutangnya?” tanya Frims.
“Kalau aku memberi tahumu, memang kamu mau membayarnya, dasar anak aneh” jawab Elena.
Frims tertawa mendengar perkataan dari Elena itu.
“Kenapa kamu tertawa anak aneh” tanya Elena melihat Frims tertawa.
“Aku hanya tertawa melihat kesombonganmu, baiklah bagaimana kalau kita bertaruh saja, aku juga belum tau berapa nominal hutangnya, jadi jika aku kalah dalam taruhan ini, aku akan membayar dua kali lipat hutang yang sudah kamu berikan, dan juga kamu bebas melakukan apapun kepadaku, bahkan jika kamu menyuruhku telanjang mengelilingi sekolah, aku akan melakukanya, tapi jika aku yang memenangkan pertaruhannya, kamu hanya perlu meminta maaf kepada Silvi, dan hutangmu aku akan tetap membayarnya tapi setengah dari yang sudah kamu berikan, bagaimana apa kamu mau?” jawab Frims dengan nada serius.
karena merasa diuntungkan dengan tawaran yang di ajukan Frims, tentu hal tersebut langsung diterima oleh Elena.
"Anak ini berani sekali menantang ku, akan ku buat kamu menyesalinya" gumam Elena.
“Baik aku terima tantanganmu, lalu kita akan bertaruh tentang apa?” tanya Elena.
Dengan senyuman menjebak Frims berkata “Simpel saja, kita akan bertaruh siapa yang akan menjadi peringkat 1 kelas umum, pada ujian tengah semester yang akan di adakan 2 bulan lagi”
Mendengar pertaruhan yang diajukan Frims, Elena membalas dengan tertawa sombong dan berkata “Hahaha, kamu ingin melawanku adu kepintaran”
Frims kemudian menyela perkataan Elena itu “ Bukan aku yang akan melawanmu, tapi Silvi yang akan melawanmu, bagaimana?, seharusnya tidak masalah bagimu, kalau kamu memang benar jenius seperti yang kamu ucapkan tadi”
“Tidak masalah siapapun lawanku aku akan tetap mengalahkannya, siapkan saja mentalmu, kalau kamu besok kalah, aku pasti akan menyuruhmu telanjang, dan berlari-lari seperti orang gila hahaha” jawab Elena dengan sombong dan percaya dirinya.
__ADS_1
“Lepaskan cewek menyedihkan itu, ayo kita pergi dari sini” ucap Elena yang menyuruh teman-temanya melepaskan Silvi, dan kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
Dari peristiwa tersebut, terjadilah pertaruhan yang tidak terduga antara Frims dan juga siswa jenius disekolah itu, yaitu Elena.