JENIUS NOMOR 1 FRIMS ASGARD

JENIUS NOMOR 1 FRIMS ASGARD
Nama Saya Frims Asgard


__ADS_3

Hening, itulah suasana pada saat itu, yang menggambarkan begitu seriusnya Bu Vivi melihat hasil jawaban Frims. 


“Bu bagaimana hasilnya?” Tanya Frims.


Sambil menghela nafas Bu Vivi menjawab “Harus saya akui, jawaban ini memang benar semua, tapi, bagaimana cara kamu bisa mengerjakannya dalam waktu sesingkat itu?” tanya Bu Vivi dengan nanda serius.


Dengan santai dan tenang Frims menjawab “Tidak ada yang spesial, ibu memberikan saya soal dan saya hanya mengerjakan soal tersebut, kebetulan juga tadi malam saya belajar mengenai soal yang ibu berikan, jadi sebenarnya saya hanya beruntung saja, dan yang terpenting bukan bagaimana cara saya mengerjakannya, tapi apakah ibu akan memenuhi perjanjian yang sudah kita sepakati sebelumnya?”


“Tentu saja saya akan menepati janji itu, tapi saya hanya akan memberikan kamu hak khusus sesuai perjanjian, selebihnya kamu tetap harus mengikuti peraturan yang ada di sekolah ini, dan untuk kelas, seharusnya kamu masuk kelas unggulan, tapi apakah kamu serius ingin masuk kelas standar?” jawab Bu Vivi yang disambung dengan pertanyaan.


“Saya serius, karena ibu bersedia menepati janji tersebut, maka saya juga akan melakukanya” sahut Frims.


“Baiklah, kalau begitu bawa surat ini” ucap Bu Vivi.


“Surat apa ini?, surat cinta kah, apakah ibu jatuh cinta kepada saya” canda Frims.


“Ngawur bukan lah, Itu surat, nanti serahkan kalo ada guru yang protes dengan penampilanmu paham?” ucap Bu Vivi dengan sedikit tertawa. 


“Oh aku kira surat apa” kata Frims dengan polosnya seolah dia tidak mengetahuinya.


“Kalau begitu temui Pak Indra, dia yang akan mengantarkan kamu ke kelas” kata Bu Vivi


“tidak perlu Bu, biar saya sendiri yang mencari kelasnya, sekalian saya ingin jalan-jalan mengenal tempat-tempat di sekolah ini" sahut Frims.


“Baiklah kalau begitu carilah kelas 11 E, itu kelasmu, kamu dapat melihat denah di papan depan, kalau kamu bingung mencari kelasnya”


“Oke siap, kalau begitu saya mohon untuk pergi ke kelas”


Frims kembali memakai masker dan topinya, kemudian dia perlahan pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah. Sementara itu Bu Vivi semakin penasaran dengan siswa baru yang sudah mengalahkannya tersebut, dan memutuskan untuk menyelidiki siapa sebenarnya Frims Asgard itu.


“Siapa anak itu sebenarnya?, apakah dia memang sejenius itu?, apakah tadi memang hanya keberuntungan saja dia bisa menjawab soalnya?, tapi bagaimana bisa 10 soal benar semua, keberuntungan macam apa itu, banyak pertanyaan di dalam kepalaku, sebaiknya aku membiarkannya terlebih dahulu, dan perlahan aku akan mencari tahu jawaban dari semua pertanyaanku, kalau memang dia ternyata seorang jenius, maka aku bisa memanfaatkanya untuk meningkatkan grade sekolah ini” itulah yang ada didalam pikiran Bu Vivi.


Kembali pada cerita utama.


Terlihat Frims sedang Berkeliling dan menghafalkan tempat-tempat di sekolahnya, tentu saja dia menjadi perhatian bagi siswa lain karena penampilannya, dan hal tersebut membuat Frims merasa tidak nyaman.


“Kenapa aku merasa seperti menjadi pusat perhatian ya, apakah karena penampilanku, dan kira-kira apa yang mereka pikirkan tentang penampilanku ini, mungkin aku akan mencoba suatu trik, nggak enak juga menjadi pusat perhatian” gumam Frims dalam hatinya.


Frims menutupi mulutnya dengan tangan, sambil pura-pura mengeluarkan suara batuk, seketika itu pula siswa lain yang tadinya memperhatikannya, menjadi menjauhinya, dan tidak ada lagi yang memperhatikan Frims.


“Uhuk uhuk” suara Frims batuk.


“Nah, dengan begini mereka tidak akan memperhatikanku lagi, mereka pasti berfikir aku sedang sakit” Gumam Frims.

__ADS_1


Setelah cukup lama Frims berkeliling, terdengar suara bunyi bel dan pengumuman yang menandakan jam pelajaran akan di mulai.


“Ding.. ding.. ding.. mohon perhatian jam pelajaran akan segera di mulai” suara bel sekolah.


“Sepertinya aku harus segera menuju kelas, menurut denah kelasku ada di sebelah sana” gumam Frims.


Kemudian Frims pergi menuju kelasnya, yang ternyata berada di paling pojok di antara kelas-kelas lain. Hal tersebut seperti menandakan kasta paling bawah sendiri di antara kelas yang lain.


“Seharusnya ini kelasku sih, tapi aku tidak menyangka kalau kelasku berada di pojokan, sepertinya kelasku bagaikan anak tiri disini, tapi memang seperti ini yang aku harapkan sih” Gumam Frims.


Perlahan Frims memasuki ruang kelas, dan benar saja, semua pandangan siswa yang berada di kelas itu tertuju pada Frims, dan mereka semua saling berbisik-bisik dengan teman sebangkunya, tentang Frims dan penampilannya itu.


“Siapa anak itu ?”


“Siswa baru kah ?” 


“kenapa dia berpenampilan seperti itu?”


“Apakah dia punya penyakit?”


“Tadi aku berpapasan dengannya dan dia sedang batuk-batuk”


“Ah masak! kalau gitu jangan terlalu dekat dengannya, jangan-jangan dia punya penyakit menular”


“Seperti yang kuduga, pasti aku akan menjadi pusat perhatian, tapi biarlah, walaupun terasa tidak nyaman aku harus tetap tenang, oh sepertinya di sana ada tempat duduk kosong, sebaiknya aku segera duduk di sana agar suasana manjadi agak tenang” gumam Frims.


“Kamu siapa?, itu tempatku” tanya salah satu siswa kepada Frims.


“Oh jadi ini tempatmu, aku murid baru, apakah masih ada tempat duduk kosong di sini?” tanya Frims.


“Kamu bisa duduk di pojok belakang, di sana masih kosong” jawab teman sekelasnya tersebut.


“Oh baik terimakasih”


“Sepertinya tempatku duduk di barisan pojok belakang hahaha, sangat menyedihkan” gumam Frims.


Frims menjalani hari-harinya di sekolah dengan monoton, hanya diam dan mendengarkan guru menerangkan pelajaran, belum ada interaksi antara Frims dan teman sekelasnya, bahkan Frims belum mengenal satu nama pun murid dikelasnya itu, dan begitupun sebaliknya, hal tersebut berlangsung sampai 2 hari. Kemudian tibalah di hari ke 3 dimana ada sebuah momen yang merubah segalanya.


“Sudah hari ke 3 aku di sini, dan belum mengenal teman sekelas, wah parah sih, kalau begini terus aku tidak bisa mendapatkan informasi tentang sekolah ini, sepertinya aku harus berbuat sesuatu untuk menarik perhatian”gumam Frims.


Frims mendengarkan suara berbicara teman sekelasnya, dan dia mendapatkan informasi yang menarik terkait guru yang akan mengajar kelas selanjutnya.


“Selanjutnya pelajaran matematika, jangan ada yang berani macam-macam gurunya killer banget” Suara salah satu teman kelas Frims.

__ADS_1


Datang lah guru yang mengajar bernama Pak Bima, suasana kelas pun berubah, dari yang sebelumnya ramai menjadi tenang dan kondusif, semua siswa fokus mendengarkan materi yang di terangkan Pak Bima, kecuali 1 murid.


Melihat ada siswanya yang tidur, dengan nada marah Pak Bima berkata “Siapa itu yang tidur di jam pelajaran saya?”


Para siswa di kelas itu pun kebingungan mencari siapa yang tidur, dan setelah mengetahui siswa yang tidur, semua perhatian mengarah ke siswa itu, yang tidak lain adalah Frims.


“Berani sekali dia tidur di pelajaran Pak Bima”


“Dasar anak baru belum tau dia”


“Semuanya diam!!, kamu yang di dekatnya tolong bangunkan dia” ucap Pak Bima dengan nada tinggi.


Kemudian Frims dibangunkan oleh siswa yang berada di dekatnya.


“Bro bangun bro, dipanggil pak Bima” sambil menggoyang-goyang badan Frims.


“eh, maaf ketiduran” Itulah ucapan yang keluar dari mulut Frims ketika di bangunkan.


“Siapa kamu?, berani sekali kamu tidur di jam pelajaran saya!!” Tanya pak bima dengan nada yang sangat marah.


Frims pun menjawab “Saya murid baru pak, maaf saya ketiduran”


“Sini maju kedepan” Sahut Pak Bima.


Frims pun dengan santainya berjalan maju ke depan.


“Kerjakan soal ini, kalau kamu tidak bisa mengerjakannya, keluar!, jangan pernah masuk kelas saya lagi!!”


Frims pun mengerjakan soal yang di berikan dengan ekspresi masih mengantuk, teman sekelasnya hanya bisa berkomentar tanpa ada yang membantu berbicara ke Pak Bima.


"Rasain lo anak baru"


"Siapa suruh tidur"


"Wah kasian dia, semangat kamu pasti bisa" ucap salah satu temanya yang satu-satunya memberikannya kata semangat.


"Berisik sekali mereka" gumam Frims.


“Sudah pak!, boleh saya duduk lagi?”tanya Frims .


Setelah melihat jawaban yang Frims kerjakan, dengan menurunkan nada bicaranya, Pak Bima berkata “Siapa namamu nak?”


“Nama saya Frims Asgard” Jawab Frims dengan tegas.

__ADS_1


__ADS_2