JENIUS NOMOR 1 FRIMS ASGARD

JENIUS NOMOR 1 FRIMS ASGARD
Pion


__ADS_3

Kemudian Frims membantu Silvi berdiri, dan menenangkan dari kesedihannya.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Frims kepada Silvi sambil mengulurkan tangannya”


“Kenapa kamu menolongku, seharusnya kamu pergi saja, jangan pedulikan aku, sekarang kamu jadi ikut terlibat dengan masalahku hiks hiks” ucap Silvi sambil menangis kepada Frims.


“Ayo ikut aku, kita bicara di lantai atas jangan disini, aku tidak ingin ada orang yang melihat kamu seperti ini, nanti takutnya orang mengira, aku yang membuatmu menangis seperti ini” jawab Frims sambil memegang tangan Silvi, dan mengajaknya ke lantai atas.


Kemudian mereka berjalan menuju lantai atas gedung sekolahan. Setibanya di sana.


“Yupz, sudah sampai, tempat inilah yang selalu aku datangi ketika aku menghabiskan waktu istirahat, dan udaranya sangat sejuk disini” ucap Frims, yang perkataanya sebenarnya bertujuan untuk menghibur Silvi supaya tidak bersedih lagi.


Kemudian Silvi yang merasa, seakan-akan Frims sedang mengalihkan pembicaraan dari pertanyaannya sebelumnya.


“Cukup Frims, aku tahu kamu sedang ingin menghiburku, tapi kamu belum menjawab pertanyaanku yang tadi, kenapa kamu menolongku?” sahut Silvi menyela cerita Frims.


“Aku akan menjawab pertanyaanmu, tapi kamu harus berhenti menangis dulu” jawab Frims.


“Sudah, aku sudah tidak menangis lagi” ucap Silvi yang sudah menghentikan tangisannya.


Kemudian Frims menjawab pertanyaan dari Silvi tadi “Ada tiga alasan kenapa aku menolongmu tadi, yang pertama, karena kebetulan aku sedang lewat situ dan melihatmu sedang disakiti, akan tidak manusiawi sekali kalau aku cuma melihat, dan membiarkanmu begitu saja, yang kedua, karena kemarin kamu sudah membantuku belajar di perpustakaan, jadi anggap saja ini sebagai balasanku  untuk yang kemarin,  kemudian yang terakhir,  tentu saja kita adalah teman, jadi karena itulah aku tidak bisa membiarkanmu dilecehkan seperti itu oleh mereka”


Mendengar jawaban dari Frims membuat Silvi merasa tenang dan berkata didalam hatinya “Sebelumnya, tidak ada teman yang berani menolongku, ketika aku disakiti oleh Elena, karena mereka takut dengan Elena, tapi Frims, dia menolongku tanpa memikirkan resiko yang akan diterimanya karena sudah berurusan dengan Elena” gumam Silvi.


“Frims, apakah kamu mau mendengarkan ceritaku?” tanya Silvi.

__ADS_1


“Tentu saja, aku akan mendengarkannya” jawab Frims.


Kemudian silvi menceritakan tentang bagaimana masalahnya dengan Elena bisa terjadi, yang ternyata, Silvi mempunyai hutang kepada Elena sebesar satu juta rupiah, ketika dulu dia masih berada satu kelas dengannya, waktu itu Ibu Silvi sedang jatuh sakit, kemudian dalam keadaan bingung, dia tidak tahu harus berbuat apa, karena ayah Silvi juga sudah meninggal, sehingga dia memberanikan diri untuk meminjam uang kepada Elena untuk biaya berobat ibunya, Elena sendiri juga dikenal sebagai anak orang kaya pada waktu itu. Kemudian Frims hanya mendengarkan cerita yang dikatakan oleh Silvi, dan dia mendapat beberapa informasi yang menarik dari ceritanya itu.


 “Jadi itu alasannya kenapa dia bisa dipindah dikelas biasa, sepertinya aku bisa menjadikannya Pion, tapi sebelum itu, aku harus meyakinkan dan mengasahnya menjadi senjata yang tajam” gumam Frims.


“Dilihat dari ceritamu tadi, sepertinya Elena iri denganmu” ucap Frims menanggapi cerita Silvi.


“Apa yang membuatnya iri denganku?, dia kan punya segalanya” sahut Silvi.


“Tadi kamu bilang pernah satu kelas dengannya, yang berarti, sebelumnya kamu berada dikelas unggulan benarkan?”


“Iya benar, lalu apa hubungannya dengan itu?” lanjut tanya Silvi.


“Jika tebakanku tidak salah, sebenarnya kamu dipindah dari kelas unggulan bukan karena kemauanmu, melainkan syarat yang diberikan oleh Elena untuk mendapatkan pinjaman darinya, apakah benar?” tanya Frims.


“Bukankah semuanya sudah jelas sekarang, Elena hanya menginginkan popularitas saja, dengan menunjukan kecantikan, kepintaran, dan hartanya yang selalu dia sombongkan itu, dengan adanya kamu di sana, itu bisa menjadi ancaman baginya untuk mencapai itu semua, karena sebenarnya kamu lebih pintar dan lebih cantik darinya, hanya saja kamu kurang beruntung dengan kondisimu waktu itu, dan oleh karena itu, Elena memanfaatkan momen itu untuk menyingkirkanmu dari kelasmu sebelumnya, supaya tidak ada lagi yang mengganggunya untuk mencapai tujuannya itu, bukankah kamu sendiri juga pernah mendapat peringkat waktu dikelasmu sebelumnya, jadi dengan itu dan semua yang kamu ceritakan tadi, sudah cukup bagiku untuk mengetahui maksud dari Elena yang sebenarnya” Jawab Frims sambil menjelaskan semua analisanya terkait peristiwa yang di alami Silvi.


“Siapa Frims sebenarnya?, kenapa dia bisa menjelaskannya dengan rinci dan masuk akal seperti itu” gumam Silvi yang kagum dengan analisa yang dikatakan Frims.


“Semua perkataanmu tadi memang masuk akal Frims, semua penindasan yang aku alami memang mengarah seperti yang kamu katakana, lalu siapa yang memberitahumu kalau aku pernah mendapat peringkat satu waktu di kelasku dulu?” tanya Silvi.


“Andre yang memberitahuku” jawab Frims.


“Oh si Andre, kurasa sekarang aku sudah baikan, terimakasih Frims karena tadi sudah menolongku dan mau mendengarkan ceritaku” ucap Silvi.

__ADS_1


“Masih terlalu dini bagimu untuk berterimakasih kepadaku, karena sekarang gantian kamu yang harus membantuku” sahut Frims.


“Maksudnya membantumu gimana Frims?” tanya Silvi.


Karena tadi Silvi hanya menangis, dan tidak fokus mendengarkan pembicaraan tentang pertaruhan yang dilakukan oleh Frims dan Elena, jadi Frims menjelaskan kembali tentang itu semua kepada Silvi.


“Apa, jadi kamu melakukan pertaruhan seperti itu?” tanya Silvi dengan nada kaget.


“Iya, dengan begini kita bisa membalas apa yang sudah dilakukanya kepadamu, jadi ini adalah kesempatan bagus untuk mempermalukannya” jawab Frims dengan santainya.


“Bagaimana aku bisa mengalahkannya Frims, bukankah kamu tahu sendiri, kalau dia seorang jenius dikelasnya, dan selalu mendapat peringkat satu. jawab Silvi dengan nada panik.


“Tenang saja, bukankah sebelumnya sudah aku katakan, kalau kamu lebih pintar darinya, mungkin kemarin-kemarin kamu tidak bisa melakukanya, karena kamu masih terikat persyaratan dengan Elena, tapi mulai sekarang dan seterusnya, kamu harus melepas rantai yang mengikatmu, dan tunjukanlah kemampuanmu yang sebenarnya, biar semua orang tahu, kalau jenius yang sesungguhnya adalah dirimu bukan dia” jawab Frims dengan memberikan motivasi kepada Silvi.


“Kenapa ucapan Frims membuat tubuhku merinding, dan jiwaku menjadi lebih hidup, dan semangat ya, apakah aku memang bisa melakukanya” gumam Silvi dengan perasaan masih bimbang.


“Tapi apakah kamu yakin, aku bisa melakukanya Frims?” sekali lagi Silvi bertanya untuk meyakinkan dirinya.


“Tentu saja, dan kamu wajib memenangkannya, kamu tidak ingin melihatku berlari-lari sambil telanjang seperti orang gila kan?, dan aku juga tidak ingin melakukanya, oleh karena itu kamu harus memenangkan pertaruhan besok untuk menolongku hahaha” jawab Frims dengan ucapan candaan, dan membuat Silvi yang mendengarnya menjadi tertawa dan semangat lagi.


“Hahaha, kamu lucu Frims, baiklah, aku pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk memenangkannya, aku berjanji Frims” ucap Silvi yang mood semangatnya sudah kembali.


“Nah begitu, aku suka kamu yang Seperti ini, kalau begitu hari senin sepulang sekolah temui aku perpustakaan, nanti akan aku beritahu bagaimana caramu bisa mengalahkan Elena” sahut Frims.


“Baik Frims, aku pasti akan datang besok hehehe”

__ADS_1


Seperti itulah bagaimana cara Frims menyemangati dan meyakinkan Silvi, untuk bisa memenangkan pertandingannya dengan Elena. 


__ADS_2