JENIUS NOMOR 1 FRIMS ASGARD

JENIUS NOMOR 1 FRIMS ASGARD
Peraturan Ujian


__ADS_3

Hari demi hari dilalui oleh Frims untuk membantu Silvi memenangkan pertandingannya dengan Elena. Dengan perlahan Frims mengasah kemampuan Silvi, untuk bisa memahami dan mengerjakan soal dalam semua bidang mata pelajaran, karena Frims tau, untuk bisa mengalahkan Elena nilai yang bagus saja tidak cukup, oleh karena itu bagaimanapun caranya, Frims harus bisa membuat Silvi mendapatkan nilai yang sempurna, di semua mata pelajaran pada ujian yang akan dilakukan satu bulan lagi. Hingga tibalah hari dimana disampaikannya sebuah pengumuman yang membuat para murid kaget dan panik.


“Selamat pagi semuanya” ucap Bu Novi yang pada saat itu menjadi wali kelas 11 E. 


Kemudian para murid menjawab salam tersebut sekaligus bertanya.


“Selamat pagi, maaf Bu Novi bukankah sekarang bukan waktunya pelajarannya Ibu ya?” tanya Roy selaku ketua kelas dan juga sebagai perwakilan kelas.


“Tolong didengarkan dan diperhatikan semuanya, memang sekarang bukan waktunya ibu mengajar, akan tetapi ada pengumuman penting yang harus Ibu sampaikan kepada kalian, pengumuman ini terkait dengan peraturan ujian yang akan dilakukan satu bulan lagi” jawab Bu Novi yang penjelasanya terpotong karena ada murid yang menanggapi ditengah pembicaraan yang dia lakukan.


“Oh kirain pengumuman apa Bu” ucap salah satu murid yang terlihat menyepelekan pengumuman yang akan di sampaikan Bu Novi itu.


“Kamu Roni, jangan memotong pembicaraan, Ibu belum selesai menjelaskan, kalau kamu roni tidak mau mendengarkan kamu bisa keluar sekarang” sahut Bu Novi dengan marah kepada Roni.


Setelah mendengar kemarahan Bu Novi, kemudian Roni dan yang lainya mendengarkan dengan serius penjelasan dari Bu Novi.


“Dari mana tadi ibu ngomong, oh iya, peraturan pada ujian kali ini akan berbeda dengan ujian-ujian yang pernah kita lakukan sebelumnya, ibu bacakan peraturannya tolong didengarkan, pada ujian kali ini semua siswa diwajibkan mendapat nilai ujian tidak boleh kurang dari tujuh puluh lima pada setiap mata pelajaran, apabila ada nilai yang tidak lulus pada tiga mata pelajaran apapun itu, maka murid tersebut tidak boleh untuk naik pada kelas selanjutnya, atau lebih lebih jelasnya tidak diperkenankan untuk naik kelas, oleh karena itu diberitahukan untuk para murid agar serius dalam belajar dan memahami materi yang disampaikan oleh Bapak/Ibu Guru yang mengajar untuk mendapatkan nilai yang baik dalam ujian yang akan dilakukan pada satu bulan mendatang” ucap Bu Novi dengan membaca surat peraturan yang sudah ditetapkan.


Sontak seluruh murid yang ada dikelas menjadi panik mendengar peraturan yang di anggap memberatkan mereka.


“Kenapa bisa begitu Bu peraturannya, itu sangat memberatkan bagi kami Bu?” tanya Roy sebagai perwakilan kelas.

__ADS_1


“Ini sudah diputuskan oleh kepala sekolah, jadi kalian harus perbanyak belajar tidak hanya disekolah tapi juga di rumah, baik saya rasa itu pengumuman yang bisa ibu sampaikan, Ibu akhiri selamat belajar” jawab Bu Novi sekaligus menyudahi pengumuman tersebut.


Disaat semua teman kelasnya panik, Frims seperti tidak terjadi apa-apa menanggapi hal tersebut, dia terlihat mengantuk sama seperti biasanya.


“Wah gawat Frims, bisa celaka ini kalau aku sampai tidak lulus tiga mata pelajaran” ucap panik Andre kepada Frims.


“Biasa saja, jangan lebay seperti itu, kalau tidak naik kelas yang kita tinggal mengulangnya lagi mudah kan” jawab santai Frims, menanggapi hal tersebut.


“Bagaimana kamu bisa setenang itu, setelah mendengar peraturan yang tidak masuk akal tadi?” tanya Andre masih dengan sikap panik nya.


“Sudah kamu tidak perlu mengkhawatirkannya, aku mau kelantai atas dulu” ucap Frims sambil menenangkan Andre.


Kemudian cerita berpindah dimana sekarang Frims sudah pulang dari sekolah dan berada di perpustakaan, seperti biasa yaitu untuk menemani Silvi belajar.


“Tentu saja aku akan khawatir, kalau saja aku tidak ada kamu” jawab Frims, yang saat itu ingin menggiring opini Silvi kalau dia pasti akan membantu Frims mengerjakan soal waktu ujian.


“Maksudmu, jadi aku adalah milikmu?” tanya Silvi, dengan wajahnya yang terlihat memerah malu, mendengar ucapan Frims itu.  


“Kenapa wajahnya memerah gitu, sepertinya dia salah paham dengan ucapanku” gumam Frims.


“Maksudku, kalau ada kamu dikelas kita, apa yang perlu dikhawatirkan, tentu saja kamu pasti akan membantuku dan juga teman yang lainya untuk mengerjakan soal ujian besok, benar kan” jawab Frims meluruskan pembicaraan.

__ADS_1


“Oh, kirain kamu punya maksud yang lain tadi” jawab Silvi yang terlihat kecewa setelah mendengarnya.


“Kamu tidak perlu khawatir tentang itu, yang penting kamu harus fokus pada apa yang sudah kita rencanakan” ucap Frims.


“Iya, iya aku mengerti” sahut Silvi.


“Sekarang aku ingin melihat bagaimana perkembanganmu selama satu bulan ini, untuk mengetahuinya, aku sudah menyiapkan soal yang harus kamu kerjakan sekarang” ucap Frims sambil mengeluarkan soal ujian dari dalam tas nya.


Kemudian Frims memberikan soal tersebut kepada Silvi, tentu saja Silvi juga sudah siap untuk mengerjakannya, karena dihari sebelumnya Frims sudah mengatakan kalau dia akan melihat perkembangannya, dengan menyuruhnya mengerjakan soal yang akan dia berikan.


“Baik aku kerjakan sekarang kalau begitu, biar tidak terlalu lama” ucap Silvi dengan percaya dirinya mengerjakan soal yang diberikan Frims tersebut.


Kemudian Silvi mengerjakan soal itu dengan sangat percaya dirinya, dia sudah merasa terbiasa mengerjakannya karena Frims sering memberikan soal dengan model yang sama secara berulang-ulang, sehingga itu yang membuat Silvi semakin terbiasa untuk mengerjakan soal yang Frims berikan.


“Oh, kecepatannya dalam mengerjakan soal satu mata pelajaran semakin meningkat, berarti dia sudah terbiasa dengan materi yang aku berikan itu” gumam Frims yang mengamati Silvi dalam mengerjakan soal yang dia berikan.


Silvi kemudian menyelesaikan semua soal yang sudah Frims berikan, dan Frims memeriksa jawaban yang dikerjakan Silvi tersebut.


“Bagaimana hasilnya, apakah benar semua?” tanya Silvi kepada Frims yang penasaran dengan hasilnya.


“Setelah aku mengamati perkembanganmu dalam mengerjakan soal-soal ini, ada beberapa kemajuan yang sudah kamu capai, yang pertama kamu sudah terbiasa dengan soal seperti ini, itu ditandai dengan seberapa cepat kamu menyelesaikan soal-soal ini dengan rata-rata pengerjaan tiga puluh menit per setiap soal pada setiap mata pelajaran, selanjutnya setelah aku mencocokan jawabanmu ini dengan kunci jawaban yang sudah aku persiapkan, kamu sudah berhasil mengerjakan soal-soal tersebut dengan hasil yang sempurna, jika sampai waktu ujian tiba kamu terus mengasah kemampuanmu ini, aku yakin pasti kamu akan bisa mengalahkan Elena dengan nilai yang sempurna, mungkin itu saja sih meskipun kali ini jawabanmu benar semua, kamu masih harus melanjutkan mempelajari terus soal-soal ini, karena kita masih memiliki waktu satu bulan lagi sebelum ujian jadi jangan sia-siakan waktu itu, mengerti. jawab Frims sambil menjelaskan hasilnya, dan memberikan beberapa masukan kata, untuk menambah semangat Silvi.

__ADS_1


“Akhirnya, setelah sekian percobaan, akhirnya kali ini aku bisa menjawab semuanya dengan benar, baik aku mengerti Frims” ucap senang Silvi mendengar masukan dan hasil yang dikatakan oleh Frims.


Begitulah bagaimana cara Frims mengasah kemampuan Silvi, tidak hanya bermodalkan tekad saja, akan tetapi Frims juga secara totalitas memberikan semua edukasinya, untuk Silvi bisa mengalahkan Elena dengan nilai yang sempurna. 


__ADS_2