JENIUS NOMOR 1 FRIMS ASGARD

JENIUS NOMOR 1 FRIMS ASGARD
Kebenaran


__ADS_3

Diruang Kepala Sekolah. Dengan serius Bu Vivi masih melihat lembar jawaban yang Frims kerjakan, sehingga membuatnya tidak menyadari bahwa Frims sudah berada didepannya. 


“Kenapa anda memanggil saya kemari?” tanya Frims, dengan santai menyapa Bu Vivi yang tidak menyadari dengan kedatanganya.


“Sudah dari tadi kamu berada disitu, maaf aku tidak tahu kalau kamu sudah datang, aku terlalu fokus melihat hasil jawaban yang kamu kerjakan ini” jawab Bu Vivi, yang kaget karena melihat Frims sudah berada didepannya.


Karena Frims sudah datang dihadapannya, kemudian Bu Vivi berdiri dan berbicara serius kepada Frims tentang hasil ujian yang sudah dia kerjakan.


“Apa kamu tau kenapa saya memanggilmu datang kesini?” tanya Bu Vivi.


“Kalau tebakan saya benar, seharusnya anda memanggil saya terkait hasil ujian yang sudah saya kerjakan” jawab Frims.


“Bagus kalau kamu sudah mengerti, kamu mungkin berhasil menipu semua guru dengan jawabanmu ini, tapi tidak denganku, lihat ini” ucap Bu Vivi sambil memperlihatkan lembar jawaban yang sudah Frims kerjakan.


“Kenapa dengan jawabanku itu Bu?” tanya Frims dengan polosnya.


“Ada kejanggalan dari semua jawaban yang kamu kerjakan ini, aku menyadari ini semua setelah membandingkan semua hasil jawaban yang sudah kamu kerjakan, kamu lihat itu! hanya jawaban yang mudah saja yang salah, sedangkan dengan jawaban yang sulit semuanya benar, dan nilai hasil yang diperoleh semuanya sama yaitu tujuh puluh lima, bukankah ini aneh, seperti kamu sudah merencanakan ini semua” ucap Bu Vivi.


Frims yang mendengar perkataan Bu Vivi, hanya terdiam, karena dia merasa kalau Bu Vivi sudah menyadari tentang itu semua, kemudian Bu Vivi melanjutkan pembicaraannya sampai selesai.


“Ada rumor yang mengatakan, bahwa murid paling jenius di salah satu sekolah elite keluar dari sekolahnya karena alasan yang tidak jelas, bukankah kamu sebelumnya berasal dari sekolah elite itu, sepertinya semuanya sudah jelas sekarang, bahwa kamu sebenarnya adalah murid itu benar bukan?” tanya Bu Vivi.


Frims yang sudah tidak bisa mengelak lagi dari semua yang diomongkan oleh Bu Vivi, kemudian dia mengatakan kebenaran yang sesungguhnya tentangnya.


“Huh, sepertinya aku memang sudah tidak bisa menyembunyikan identitasku dari Bu Vivi, apa boleh buat, tapi aku bisa memanfaatkan keadaan ini” gumam Frims dengan mempersiapkan rencana yang sudah dia pikirkan.


Dengan membuka masker dan juga topinya kemudian Frims berkata “Sudah tidak ada yang bisa aku tutupi lagi, karena ibu sudah mengetahuinya sekarang, lalu apa yang akan ibu lakukan setelah mengetahui kebenaran itu tentangku?”

__ADS_1


“Kenapa kamu tidak menggunakan semua potensimu itu, malah sebaliknya kamu sengaja menutupi semuanya, padahal kalau kamu menggunakan kejeniusanmu itu kamu bisa mendapatkan popularitas, dan apapun yang kamu mau ditempat ini” sahut Bu Vivi menjawab pertanyaan Frims.


“Apa Ibu tau kenapa penyebab aku keluar dari sekolahku sebelumnya?” tanya Frims kepada Bu Vivi.


“Tentu saja aku tidak tahu, memang apa yang menjadi penyebabnya?” jawab Bu Vivi dengan bertanya kepada Frims tentang penyebabnya.


Kemudian Frims menjelaskan semuanya kepada Bu Vivi.


“Ditempatku sebelumnya aku sudah mendapatkan semuanya, bahkan melebihi apa yang sudah ibu tawarkan kepadaku tadi, tapi kenapa aku meninggalkan itu semua, karena aku tidak merasakan kebebasan yang sesungguhnya, aku hanya alat bagi mereka, untuk membayar yang sudah aku dapatkan itu, mereka menjadikanku alat untuk mencapai kepentingan mereka sendiri, itulah alasanku mengapa aku keluar dan pindah ketempat ini, lalu apa yang akan ibu lakukan kepadaku setelah mendengar itu semua?, apakah ibu akan melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan kepadaku?, kalau ibu melakukanya mungkin besok ibu sudah tidak melihatku berada ditempat ini lagi” ucap Frims sekaligus memberikan peringatan kepada Bu Vivi untuk tidak menjadikanya alat.


Setelah Bu Vivi mendengarkan semua alasan yang di katakan Frims, kemudian dia membatalkan niatnya untuk memanfaatkanya.


“Anak ini sudah mempersiapkan semuanya, bahkan dia berani mengancamku seperti itu, aku tidak boleh kehilangan dia, meskipun dia tidak bisa aku manfaatkan, setidaknya dengan keberadaanya disini pasti akan memberikan dampak positif bagi teman sekitarnya” gumam Bu Vivi.


“Sepertinya aku tidak bisa memaksamu, kalau itu sudah menjadi keputusanmu maka lakukanlah semaumu, aku tidak akan menghalangimu” jawab Bu Vivi.


“Tapi aku masih ada pertanyaan lagi, kenapa teman-teman sekelasmu mendadak mendapatkan nilai bagus, apakah itu ulahmu?” tanya Bu Vivi.


Frims yang tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kemudian membuat suatu alasan.


“Bukankah itu sesuai dengan apa yang ibu dan para guru lain harapkan, kenapa ibu kelihatanya tidak suka begitu mereka mendapat nilai bagus” ucap Frims menjawab pertanyaan Bu Vivi.


“Ya tentunya kami suka dengan kemajuan mereka, tapi aku cuma berfikir pasti ada faktor lain yang membuat mereka dapat berkembang seperti itu” sahut Bu Vivi.


“Mereka melakukan dengan usaha mereka sendiri” jawab Frims.


“Oh baguslah kalau begitu” sahut Bu Vivi sambil tersenyum mendengar itu.

__ADS_1


Frims memakai topi dan maskernya kembali kemudian dia meminta izin untuk kembali ke kelasnya, sebelum dia pergi dia berkata kepada Bu Vivi “Aku tidak akan membiarkan kapal yang aku naiki tenggelam karena terjangan ombak maupun badai, aku pasti akan membuatnya berlabuh sampai tujuan dengan selamat” itulah kata yang di ucapkan Frims sebelum meninggalkan ruangan tersebut, mendengar perkataan itu Bu Vivi tersenyum karena dia menyadari arti yang sesungguhnya dari kalimat itu.


“Anak itu lagi-lagi mengalahkanku, dia memang jenius seperti yang dirumorkan, aku selalu dibuat terkejut dengan tindakannya” gumam Bu Vivi sambil tersenyum sendiri.


Setelah urusannya dengan Bu Vivi selesai kemudian Frims pergi mencari Silvi karena masih ada urusan yang harus mereka selesaikan.


“Huh, aku tidak menyangka Bu Vivi menyadari semua tindakanku, tapi dengan begini aku akan mendapatkan dukungan dari orang dalam jika ada sesuatu yang menggangu rencanaku kedepannya, sebaiknya sekarang aku mencari Silvi” gumam Frims. 


“Frims” panggil Silvi yang melihat Frims berjalan keluar dari ruangan kepala sekolah.


“Oh kamu di sana” ucap Frims.


“Bagaimana?, apa kepala sekolah memarahimu?” tanya Silvi yang mengkhawatirkannya.


“Tidak ada, dia tidak memarahiku, kepala sekolah hanya menanyaiku tentang sekolahku yang dulu, itu saja tidak ada yang serius” jawab Frims dengan santai.


“Syukurlah, aku kira kamu dimarahi karena nilaimu” sahut Silvi.


“Kamu tidak perlu khawatir tentang itu, sekarang masih ada yang harus kita lakukan” ucap Frims.


“Melakukan apa?” tanya Silvi.


“Apa kamu lupa, kita akan menagih Elena untuk kemenangan yang sudah kita dapatkan” jawab Frims.


“Oh iya kamu benar Frims, karena terlalu mengkhawatirkanmu aku hampir melupakannya” sahut Silvi.


Kemudian mereka berdua pergi menemui Elena untuk menagih kemenangan yang sudah mereka dapatkan.

__ADS_1


__ADS_2