JENIUS NOMOR 1 FRIMS ASGARD

JENIUS NOMOR 1 FRIMS ASGARD
Persiapan


__ADS_3

Dari tangga terdengar suara Andre yang berteriak memanggil Frims.


“Frims apa kamu masih di sana?” suara Andre memanggil.


“Kenapa dia teriak-teriak seperti itu” gumam Frims dengan wajah kesal.


“Sebaiknya kamu segera turun dari sini, aku tidak ingin Andre salah paham melihat kita berdua disini” ucap Frims yang menyuruh Silvi untuk meninggalkannya.


“Kenapa?, tak masalah kan kalau Andre melihat kita disini” jawab Silvi dengan senyuman.


“Lihat matamu masih memar karena menangis tadi, sebaiknya kamu segera membasuhnya dengan air untuk menghilangkannya” jawab Frims.


“Ah iya, kamu benar aku harus segera membasuhnya, padahal aku masih ingin disini” ucap Silvi yang kaget karena terlambat menyadarinya.


Kemudian Silvi pergi meninggalkan Frims.


“Oh di sana kamu ternyata, eh Silvi, sedang apa kamu disini, dan ada apa dengan matamu itu?” tanya Andre ketika sedang berpapasan dengan Silvi.


Silvi buru-buru pergi dari tempat tersebut, sehingga dia tidak sempat menjawab pertanyaan dari Andre.


“Bukankah tadi itu Silvi, kenapa dia bisa berada disini, dan matanya tadi seperti orang yang habis menangis, jangan-jangan kamu sudah berbuat yang tidak-tidak dengannya Frims” tanya Andre dengan sikap curiga kepada Frims.


“Jangan-jangan kamu iri melihatku dengannya disini hahaha” jawab Frims dengan candaan.


“Tentu saja, walaupun dia tidak populer seperti Elena, tapi dia menjadi idola dikelas kita, jadi kamu jangan macam-macam dengannya ya” jawab Andre dengan nada kesal.


“Sudah-sudah, sini duduk dulu biar tidak salah paham, dia tadi kebetulan bertemu denganku di tangga, lalu dia meminta tolong kepadaku untuk meniup matanya, katanya ada debu yang mengganjal tadi, karena itu dia terlihat seperti orang yang baru menangis, jadi kamu jangan salah paham seperti itu, tenang saja aku tidak akan merebut idola kalian itu” jawab Frims.


“Oh jadi karena itu syukurlah, tapi kenapa dia tadi lari ketika melihatku?” tanya Andre.


“Mungkin dia takut melihatmu hahaha” ucap Frims dengan candaan.


“Apa mukaku seram, apakah ada yang salah dengan wajahku yang tampan ini, jawab jujur Frims” tanya Andre yang terlihat panik.


Frims hanya tertawa melihat tingkah panik Andre.


“Hahaha, sudah-sudah jangan panik begitu, tadi aku menyuruhnya untuk membasuh matanya dengan air, makanya dia terlihat terburu-buru tadi” jawab Frims sambil tertawa.

__ADS_1


“Huh, syukurlah berarti bukan karena wajahku dia takut hehehe” ucap Andre.


“Enggak lah, dasar kocak” sahut Frims dengan candaan.


Seperti itulah mereka menghabiskan waktunya tersebut, dengan saling melakukan ledekan dan candaan-candaan ringan satu sama lain.


Ceritapun berpindah, dimana sekarang Frims sudah pulang dari sekolah, dan sudah berada dirumahnya. Saat ini Frims sedang termenung sediri didalam kamarnya, dia sedang memikirkan cara yang harus dia lakukan untuk membuat Silvi bisa memenangkan pertaruhan yang sudah dia buat dengan Elena.


“Jadi bagaimana sekarang yang harus dilakukan, hanya dengan itu cara satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk membantu Silvi mengalahkan Elena, sepertinya hari-hariku kedepan akan jadi lebih sibuk, tapi itu semua tidak masalah, karena jika ingin membuat sesuatu permainan yang menarik, maka ada harga mahal yang harus dibayarkan, baiklah aku akan membuat persiapannya dulu sekarang” gumam Frims saat termenung di kamarnya.


Kemudian Frims fokus didalam kamarnya untuk membuat persiapan yang akan diberikan kepada Silvi. Tepat pukul Sembilan malam, suara ketukan pintu terdengar.


“Tok tok tok, apa tuan masih berada didalam?” suara pelayan Alex memanggil dari luar sambil mengetuk pintu.


Kemudian Frims membuka pintu kamarnya.


“Ada apa paman” tanya Frims.


“Apa tuan baik-baik saja?, sudah dari siang tuan belum keluar kamar, dan tuan juga belum sarapan” tanya pelayan Alex dengan mengkhawatirkan kondisi Frims.


“Aku baik-baik saja paman, memangnya sekarang sudah jam berapa paman?” jawab Frims yang di sambung dengan bertanya.


“Wah, tidak terasa sudah selarut ini” sahut Frims.


“Memangnya tuan sedang melakukan apa didalam kamar tadi, sehingga sampai lupa waktu?” tanya penasaran pelayan Alex.


“Oh ini paman, aku sedang membuat materi dan soal pelajaran untuk ujian pertengahan semester yang akan di adakan dua bulan lagi” jawab Frims.


“Kenapa tuan yang membuatnya, apa tuan diminta Guru untuk membuat soal dan materi tersebut?” tanya pelayan Alex.


“Tidak, aku membuatnya untuk kepentinganku sendiri paman” jawab Frims.


“Ya sudah kalau begitu, asalkan tuan senang saja, tapi jangan lupa makan dan istirahat demi kesehatan tuan sendiri” jawab pelayan Alex.


“Oke, paman tidak perlu khawatir tentang itu, aku mau mandi dulu kalau begitu”


Kemudian Frims mandi dan makan untuk mengisi staminanya kembali. Setelah menyelesaikan mandi dan makanya, Frims kemudian melanjutkan kembali membuat persiapannya tersebut sampai selesai. Keesokan harinya di sekolahan tepat waktu jam istirahat dimulai.

__ADS_1


“Ding..ding..ding” suara bel istirahat.


“Baik karena sudah waktunya istirahat, Ibu akhiri pertemuan kali ini dan selamat beristirahat” ucap Bu Lia yang waktu itu sedang mengajar.


“Lagi-lagi kamu terlihat seperti mayat Frims, yang tidak punya semangat hidup” ucap Andre sambil menepuk punggung Frims.


“Semangatku sedang ketinggalan di kasur, aku ngantuk” jawab Frims dengan candaan.


“Alasan klasik bilang aja kalau kamu sedang malas hahaha” sahut Andre sambil tertawa.


Ditengah perbincangan mereka berdua, tiba-tiba ada suara Silvi yang memanggil Frims.


“Frims” suara Silvi memanggil sambil mendekat menghampiri Frims yang sedang duduk di kursinya.


“Kenapa perasaanku jadi tidak enak ya” gumam Frims ketika mendengar suara Silvi.


“Frims, apakah sepulang sekolah nanti kita jadi bertemu” ucap Silvi dengan suara yang cukup keras sehingga dapat terdengar oleh teman yang berada di ruangan kelas tersebut.


Kemudian semua pandangan mata dikelas itu tertuju kearah Frims, khususnya bagi anak laki-laki yang menganggap Silvi merupakan Idola dikelas itu.


“Kenapa Silvi mau ketemu dengannya?”


“Apakah dia ingin berkencan dengannya?”


“Wah pasti dia sudah terkena pelet sama Frims”


Tanggapan teman sekelasnya yang iri dengan Frims.


“Benar saja, ini seperti yang aku rasakan tadi, apakah anak ini tidak sadar kalau perkataanya tersebut bisa membuat orang disekitarnya menjadi salah paham, apalagi bagi para maniak yang mengidolakannya itu” gumam Frims yang merasakan semua pandangan iri menuju kearahnya.


“Iya itu nanti aja kita bahas, aku mau keluar dulu sekarang” jawab Frims sambil perlahan bejalan pergi dari ruangan kelas tersebut.


“Tunggu aku minta nomor Watshapmu, biar nanti aku bisa menghubungimu” sahut Silvi.


Suasana pun menjadi mencekam, seolah-olah seperti ada tekanan berat yang dirasakan oleh Frims dikelasnya tersebut.


“Buruan, save nomor ini” jawab Frims sambil memberikan nomor Watshapnya kepada Silvi.

__ADS_1


“Oke sudah aku save, nanti aku hubungi kamu Frims, jangan lupa simpan juga nomorku” sahut Silvi yang terlihat senang saat mendapat nomor dari Frims.


“Yosh, saatnya pergi, aku sudah tidak kuat dengan tekanan ini” gumam Frims sambil segera meninggalkan kelasnya.


__ADS_2