JENIUS NOMOR 1 FRIMS ASGARD

JENIUS NOMOR 1 FRIMS ASGARD
Keberuntungan


__ADS_3

Mendengar dia mengucapkan namanya, akhirnya semua teman sekelasnya mengetahui nama Frims. Itulah pertama kali Frims memperkenalkan dirinya di hadapan guru, dan teman-teman kelasnya.


“Jadi namanya Frims ya”


“Iya aku juga baru tau” kata teman-teman kelas Frims saat mengetahui namanya.


“Mohon maaf pak kalo boleh tanya, jadi jawaban yang dikerjakan Frims benar apa salah, kami jadi penasaran ini?” tanya dari salah satu siswa.


Pak Bima pun menjawab pertanyaan tersebut “Jawabannya benar”


Semua teman Frims pun menjadi heboh mendengar perkataan Pak Bima, bahkan ada yang masih tidak percaya dengan yang di katakana oleh Pak bima.


“Wah benar, bagaimana bisa?”


“Dia hanya tidur tapi bisa menjawab soal itu, berarti dia jenius dong”


“Enggak-enggak, pasti Pak Bima salah koreksi”


Pak Bima pun menyela di tengah perkataan teman-teman Frims itu “Semuanya diam dulu, biar Bapak yang ganti bicara”


“Bapak ulangi, jawaban yang di kerjakan Frims ini benar, bapak tadi juga sudah memeriksanya kembali, jadi bisa di pastikan ini benar”


“Terimakasih pak, kalau begitu apakah saya boleh duduk kembali?” sahut Frims.


“Tunggu dulu, Bapak masih belum selesai bertanya” kata Pak Bima.


“Oh, mau tanya apa pak?” jawab Frims.


“Bagaimana caramu mengerjakan soal itu?” tanya serius Pak Bima.


Mendengar pertanyaan dari pak bima, Frims berfikir bagaimana cara menjawab pertanyaan tersebut, tanpa harus terlihat mencolok tentang kejeniusannya. Akhirnya terpikirkan olehnya untuk menjawab pertanyaan itu dengan suatu candaan.


“Bapak ingin tau caraku mengerjakan soal itu?” tanya kembali Frims, sambil mengulur waktu untuk berfikir.


“Iya” Sahut pak bima.


“Sebenarnya tadi aku mengerjakannya menggunakan insting, untunglah tadi jawabannya benar, kalo salah bapak pasti sudah menendangku keluar kelas” Frims menjawab sambil tertawa kecil.


Mendengar jawaban yang di katakan Frims, sontak Pak Bima dan Seluruh teman kelasnya tertawa, Sampai-sampai tawa mereka terdengar di kelas-kelas sebelah, karena sangking kerasnya suara yang dihasilkan.


“Hahaha, baru kali ini aku mendengar ada yang mengerjakan soal matematika menggunakan insting, tadi saya sempat berfikir, kamu murid pintar, ternyata cuma beruntung saja ya” kata pak Bima yang bicara sambil tertawa.

__ADS_1


“Bro hoki satu tahunmu sudah kepakai, hati-hati bro hokimu sudah habis, bisa-bisa nanti kamu tersandung tower dijalan hahaha” canda salah satu teman kelas Frims, yang menambah suasana kelas menjadi penuh dengan tawa.


Frims pun ikut tertawa, bukan karena ucapannya, melainkan tertawa karena merekalah yang sebenarnya sudah dipermainkan oleh Frims pada saat itu.


Cerita berpindah di ruangan kelas 11D, yang merasa terganggu dengan suara tersebut, karena kelasnya bertepatan berada disebelah kelas Frims.


“Suara berisik apa ini?, dari kelas mana suara ini berasal?” tanya Guru yang mengajar di ruangan 11D.


“Suara berasal dari kelas 11E Pak”


“mungkin di sana tidak ada guru yang mengajar, jadi mereka rame Pak” jawab murid kelas itu.


“Kalian tunggu sebentar, jangan rame, Bapak mau datang ke sana untuk memarahinya” kata guru tersebut.


Karena merasa terganggu guru tersebut menuju ke kelas Frims.


“Kurang ajar sekali, apa tidak tau kalau tawa mereka menggangu kelas lain, aku harus memarahinya, awas saja!” gumam guru tersebut.


Setibanya di depan kelas 11E, tanpa pikir panjang, guru tersebut langsung mengatakan.


“Siapa yang menyuruh kalian rame?” kata guru itu dengan nada marah.


Guru tersebut atau yang dikenal dengan nama Pak Joni sontak kaget, karena melihat ternyata ada guru yang mengajar di kelas itu, dan guru itu adalah Pak Bima, yang di kenal juga sebagai guru senior dan sangat tegas.


Kata Pak Joni dengan ekspresi kaget “Oh tidak ada apa-apa pak, maaf kalo saya menggangu pak”


Dengan perasaan malu, perlahan pak joni meninggalkan kelas tersebut dan kembali lagi ke kelas tempatnya mengajar.


“Wah ternyata ada Pak Bima yang mengajar dikelas itu, mana tadi udah aku bentak lagi waduh, tapi aneh, tidak biasanya Pak Bima mengajar bisa tertawa seperti itu, padahal kan dia selalu serius kalau mengajar, kira-kira ada hal lucu apa ya, kok bisa sampai membuatnya tertawa seperti itu” gumam Pak joni.


Kemudian sampailah pak joni di kelasnya mengajar.


“Kenapa kelas 11E masih terdengar ramai pak?” tanya salah satu siswanya.


“Ah biarkan saja mereka, jangan di bahas lagi, kita kembali fokus pada pelajaran saat ini” jawab Pak Joni.


Kembali lagi pada cerita utama.


Kemudian Pak Bima menenangkan kembali kondisi kelas tersebut.


“Baik baik sudah cukup tertawanya, bapak masih ingin bertanya pada Frims, kalau kalian tertawa terus nanti Bapak lupa mau tanya apa” kata Pak Bima.

__ADS_1


Setelah pak bima berkata demikian suasana menjadi kondusif kembali. Kemudian Pak Bima kembali menceramahi Frims tapi kali ini tidak dengan nada marah.


“Nak, lain kali jangan di ulangi lagi perbuatan mu tadi, dan ingat kamu harus mengikuti pelajaran yang Bapak berikan dengan serius, agar kamu bisa paham, walaupun tadi jawabanmu benar, tapi hal tersebut karena faktor keberuntungan saja, dan itu tidak akan sering terjadi, ingat ya, jangan lagi kamu mengerjakan sesuatu apalagi soal pelajaran menggunakan insting, duduk lah, karena kamu juga murid baru, jadi masih belum mengerti dengan pengajaran saya, kamu saya maaf kan untuk saat ini, tapi tidak untuk yang kedua kalinya jika kamu mengulanginya lagi, mengerti?”    


“Siap mengerti pak” jawab Frims.


“Huh akhirnya bisa duduk kembali” gumam Frims


“Tunggu bentar Frims!”suara Pak Bima memanggil


“Ada apalagi Pak?”


“Sebenarnya boleh duduk apa enggak sih” gumam Frims.


“Bapak hampir kelupaan, kenapa dengan penampilanmu itu, apakah kamu sakit?” tanya pak bima.


“Sebentar pak” sahut frims.


Kemudian Frims mengambil surat yang diberikan oleh Bu Vivi, yang berada di tas nya, dan memberikannya kepada Pak Bima.


“Ini Pak, Bapak baca” kata Frims sambil memberikan surat tersebut.


“Surat apa ini?” tanya Pak Bima.


“Surat izin dari Kepala Sekolah” Jawab Frims.


Kemudian Pak Bima membaca isi surat itu. Setelah selesai membaca, Pak Bima memberikan lagi surat itu kepada Frims, dan kemudian menyuruhnya untuk duduk kembali. 


“Sudah ini suratnya, duduklah semoga cepat sembuh” kata Pak Bima.


“Baik pak”


Kemudian Frims kembali ketempat duduknya sambil bingung memikirkan tentang apa yang di ucapkan Pak Bima.


“Cepat sembuh maksud pak bima apa ya?, oh iya aku juga belum membaca surat ini, jangan-jangan Bu Vivi membuat alasan yang aneh tentangku” Gumam Frims.


Kemudian Frims membaca isi surat tersebut dan benar saja ternyata isinya.


“Wah jadi ini yang ditulis Bu Vivi, pantas saja Pak Bima berkata seperti Itu, tapi sejak kapan aku memiliki Sindrom Agoraphobia hahaha, tak apalah kalo dengan ini bisa membantuku” gumam Frims.


Bel istirahat pun berbunyi, dan berakhirlah pula pelajaran dari Pak Bima.  

__ADS_1


__ADS_2