JENIUS NOMOR 1 FRIMS ASGARD

JENIUS NOMOR 1 FRIMS ASGARD
Tertidur


__ADS_3

Keesokan harinya, pada jam istirahat sekolah, Silvi yang terlihat kebingungan dengan apa yang terjadi dikelas pada saat itu.


“Sil ini buat kamu”


“Kamu suka buku apa Sil?”


“Aku punya buku bagus Sil”


“Aku belikan buku untukmu Sil tolong kamu terima ini”


Seperti itulah tawaran berdatangan dari para laki-laki dikelas Silvi untuk memberikannya buku.


“Kenapa banyak sekali yang memberiku buku, jangan-jangan ini ulah Frims, aku akan tanyakan dia saja” gumam Silvi yang sedang kebingungan dengan kondisi saat itu.


Sementara itu seperti biasa Frims yang sudah berada dilantai atas bersama Andre.


“Kenapa cuaca hari ini panas sekali ya” ucap Andre.


“Perasaanmu aja yang panas” sahut Frims.


“Aku mau beli minuman dulu, kamu mau nitip nggak?” tanya Andre.


“Tidak, aku tidak haus” jawab Frims.


“Oke aku beli dulu kalau begitu” ucap Andre dan kemudian pergi untuk membeli minuman.


Frims yang sendirian kemudian mendapatkan pesan WA dari Silvi.


“Grr grr grr” suara Smartpone Frims.


“Silvi, kenapa dia WA?” gumam Frims sambil membuka Smartphonenya.


“Frims kenapa di kelas ada banyak anak laki-laki yang memberiku buku, apakah ini ulahmu?” isi pesan WA Silvi.


 Kemudian Frims tertawa membaca isi pesan WA dari Silvi itu.


“Hahaha ternyata para maniak kocak itu benar-benar melakukanya” gumam Frims.


Kemudian Frims membalas pesan WA tersebut.


“Aku tidak tahu soal itu, tapi memang kemarin anak laki-laki dikelas tanya kepadaku apa yang kamu sukai, lalu aku asal menjawabnya dengan buku, tapi bukankah itu kabar yang bagus hahaha” balas pesan WA Frims dengan sedikit candaan.


“Ternyata benar dia yang mengatakannya” gumam Silvi setelah membaca WA dari Frims.


“Iya bagus, tapi isi tasku penuh dengan buku jadinya kan” lanjut Silvi membalas pesan WA.


“Hahaha, tidak apa-apa nanti aku bisa membantumu membawakannya” Jawab pesan Frims.


“Oke, kamu janji ya Frims” balas Silvi.


Sepulang sekolah Silvi menagih janji kepada Frims untuk membantunya membawa buku tersebut, kemudian Frims membantu Silvi membawakannya, akan tetapi Frims meminta kepada Silvi agar membiarkan teman dikelasnya pulang terlebih dahulu supaya tidak terjadi kesalahpahaman lagi.


“Banyak sekali buku yang mereka berikan kepadamu?” tanya Frims.

__ADS_1


“Mereka memaksaku untuk menerima buku ini jadi aku tidak bisa menolaknya tadi, ini juga karena ulahmu kan, jadi kamu harus bertanggung jawab membantuku” jawab Silvi.


“Iya-iya ini juga sudah aku bantu, ngomong-ngomong ini aku harus membantu membawanya sampai rumahmu apa gimana?” sahut Frims.


“Aku bawa sepeda kok, jadi kamu tenang saja, nanti bantu bawa saja sampai ke tempat parkir” ucap Silvi.


Kemudian mereka berdua berjalan bersama menuju tempat parkir sepeda.


“Kamu tunggu aja disini aku ambil sepedaku dulu” ucap Silvi.


“Oke” jawab Frims.


Lalu Silvi mengambil sepedanya itu dan menyuruh Frims untuk meletakan buku tersebut di atas sepedanya.


“Oke sudah semua, kalau begitu aku pulang dulu, jangan lupa nanti kamu harus datang menemaniku di perpustakaan” ucap Silvi sebelum pulang meninggalkan Frims.


Frims hanya mengangguk mendengar ucapan Silvi, kemudian dia juga bergegas pulang kerumahnya. Setibanya di rumah Frims yang merasa capek dan mengantuk memutuskan untuk beristirahat sebentar di kamarnya.


“Capek sekali hari ini, aku rasa Silvi juga masih belum tiba di sana, sepertinya aku bisa beristirahat sebentar” gumam Frims sambil tiduran di kamarnya.


Sementara itu Silvi yang sudah sampai di perpustakaan.


“Frims belum datang, aku WA juga tidak dibalas, apa dia lupa ya, tapi coba aku tunggu dulu” gumam Silvi yang sudah sampai di perpustakaan.


Sekitar hampir satu jam Silvi menunggu Frims juga masih belum datang, akhirnya Silvi memutuskan untuk pergi datang ke rumah Frims.


“Ah anak ini apakah dia melupakan janjinya denganku, teleponku juga tidak diangkat olehnya, oh iya aku ingat, kemaren sepertinya dia memberitahuku kalau rumahnya tidak jauh dari sini, kemaren dia juga menunjukan arah rumahnya, sepertinya aku harus datang kesana” gumam Silvi yang sedikit kesal karena terlalu lama menunggu Frims.


Kemudian Silvi pergi menuju rumah Frims.


Kemudian Silvi bertanya kepada seseorang yang sedang mencuci mobil didepan halaman rumahnya.


“Paman numpang tanya?” tanya Silvi kepada orang tersebut.


“Oh iya mbak, kenapa?” ucap orang tersebut menanggapi pertanyaan Silvi.


“Apakah paman tau rumah anak SMA yang bernama Frims Asgard, kemaren dia bilang kepada saya kalau rumahnya di daerah sini apakah paman mengetahuinya?” tanya Silvi.


Orang tersebut yang tidak lain adalah pelayan Alex terdiam setelah mendengar orang yang dicari ternyata adalah Frims.


“Kenapa cewek ini mencari tuan Frims, apakah dia temanya, sepertinya aku harus memberitahu tuan terlebih dahulu” gumam pelayan Alex.


“Iya disini rumahnya, saya adalah pamannya Frims” jawab Pelayan Alex.


“Wah kebetulan sekali, saya teman satu kelasnya Frims, apakah dia ada di rumah apa tidak ya paman?” tanya Silvi yang terlihat senang karena bertemu dengan pamannya.


“Mbak tunggu sebentar di kursi depan itu, biar saya lihat dulu didalam” jawab pelayan Alex.


Kemudian pelayan Alex pergi ke kamar Frims untuk memberitahukannya kalau ada teman yang sedang mencarinya. 


“Tok tok tok, apakah tuan ada didalam?” panggil pelayan Alex sambil mengetuk pintu kamar Frims.


“Iya paman” ucap Frims dengan suara masih mengantuk.

__ADS_1


Kemudian Frims membuka pintu kamarnya.


“Ada apa paman?” tanya Frims.


“Ada teman tuan didepan sedang mencari tuan” jawab pelayan Alex.


Setelah mendengar ucapan pelayan Alex seketika itu pula wajah mengantuk Frims berubah menjadi panik karena dia teringat kalau mempunyai janji dengan Silvi.


“Apakah dia wanita paman yang mencariku?” tanya Frims.


“Iya dia wanita, katanya dia teman satu kelasnya tuan” jawab pelayan Alex.


“Benar dia Silvi, memang aku ada janji dengannya hari ini disekolah, tapi tadi aku ketiduran dikamar” sahut Frims dengan nada sedikit panik.


Kemudian Frims mencoba menenangkan diri dan berfikir cara untuk mengatasi masalah ini karena dia tidak mau Silvi mengetahui identitasnya yang sesungguhnya.


“Paman aku minta, tolong paman mengajaknya berbicara atau gimana terserah paman yang penting paman harus bisa mengulur waktu setidaknya lima belas menit, setelah itu nanti paman bilang kalau ternyata aku sudah berangkat ke perpustakaan sekolah” ucap Frims menyuruh pelayan Alex untuk mengulurkan waktunya.


“Lalu tuan sendiri bagaimana?” tanya pelayan Alex.


“Aku akan bersiap dulu sebentar, kemudian nanti aku akan pergi kesana melalui pintu belakang paman” jawab Frims sambil bersiap-siap.


“Baik tuan saya mengerti” sahut pelayan Alex.


Kemudian pelayan Alex datang menemui Silvi didepan, sesuai dengan apa yang diminta Frims, pelayan Alex mengajak Silvi mengobrol untuk mengulur waktu.


“Bagaimana paman apakah Frims ada?” tanya Silvi setelah melihat pelayan Alex keluar dari rumah.


“Saya belum kenalan loh, mbak siapa namanya ya?” tanya balik pelayan Alex untuk mengalihkan pembicaraan.


“Nama saya Silvi paman” jawab Silvi.


“Oh Silvi ya, nama yang bagus, kamu bisa memanggilku paman Alex” ucap pelayan Alex.


Seperti yang diharapkan pelayan Alex berhasil membuat Silvi melupakan tujuannya yang sebenarnya yaitu mencari Frims. Kemudian dirasa sudah lebih dari waktu yang sudah diminta oleh Frims, pelayan Alex memberitahu tentang keberadaan Frims.


“Hahaha jadi Frims orangnya seperti itu ya paman” ucap Silvi yang sedang asik membicarakan Frims dengan pelayan Alex.


“Eh iya bukankah tadi Silvi sedang mencari Frims, dia tadi pamit kepada saya untuk pergi ke sekolah katanya ada kerja kelompok” sahut pelayan Alex mengingatkan Silvi yang sudah terlalu asik mengobrol, tentang tujuannya datang”


“Oh iya aku lupa paman, jadi dia sudah pergi dari tadi ya, waduh berarti dia sudah sampai di sana dong, terimakasih paman aku berangkat dulu menyusulnya” jawab Silvi sambil buru-buru pergi setelah mendengar ucapan pelayan Alex.


“Iya hati-hati” sahut pelayan Alex.


Silvi segera pergi menuju ke perpustakaan sekolah. Setibanya di sana, Silvi melihat sudah ada Frims yang menunggunya.


“Kenapa kamu lama sekali, sudah dari tadi aku menunggumu, dasar” ucap Frims yang tentunya menyembunyikan ekspresi tertawanya.


“Kok malah jadi aku ya yang terlambat sekarang” gumam Silvi dengan perasaan kesal.


“Maaf, aku tadi datang kerumahmu, aku kira kamu tidak kesini tadi” jawab Silvi.


“Sudah lupakan, sebaiknya kamu segera kesini, masih banyak yang harus kamu pelajari”

__ADS_1


Seperti itulah hari-hari yang mereka lakukan sepulang sekolah, hal tersebut sesuai dengan rencana yang sudah mereka persiapkan sebelumnya, yang dimana setiap pulang sekolah Frims harus membantu Silvi belajar di perpustakaan.


__ADS_2