
Dengan memanfaatkan Andre, Frims berhasil menjalankan rencana sekaligus menyelesaikan masalah dikelasnya. Kemudian cerita berpindah diruang kelas Silvi, dimana dia sekarang terlihat sedang mengerjakan soalnya dengan serius, suasana kelas Silvi sangat berbeda jauh dengan kelas Frims sebelumnya, yang dimana sangat dipenuhi dengan persaingan murid satu sama lain, karena ruangan kelas itu diisi oleh murid-murid unggulan yang mayoritas mereka semua pintar, oleh karena itu, semua murid dikelas itu bersaing untuk memperebutkan nilai dan posisi tertinggi dalam peringkat ujian tersebut.
“Soal-soal ini tidak jauh berbeda dari yang Frims berikan kepadaku untuk mempelajarinya, meskipun ada beberapa perbedaan kata pada soal ini, tapi itu tidak merubah jawabannya, aku jadi heran dengannya, bagaiman dia bisa mengetahui ini semua ya, jangan-jangan dia memang sudah mendapat bocoran, entahlah, yang terpenting sekarang aku bisa mengerjakan soal-soal ini dengan mudah” gumam Silvi merasa kalau soal yang dia kerjakan saat ini tidak berbeda jauh dengan apa yang Frims berikan kepadanya dulu.
Tiga puluh menit waktu berjalan, terlihat Elena sudah menyelesaikan soal ujian tersebut, dan dia juga menjadi yang pertamakali selesai.
“Apa Elena sudah selesai”
“Cepat sekali Elena, padahal ini masih tiga puluh menit”
“Seperti biasa, Elena selalu menjadi yang pertama”
Begitulah reaksi murid lain dikelas itu, ketika melihat Elena sudah selesai dalam mengerjakan ujian itu. Melihat Elena sudah keluar kelas selang beberapa waktu Silvi juga sudah selesai dan mengumpulkan hasil jawabannya, sebenarnya dia sudah menyelesaikan jawabannya dari tadi, akan tetapi dia mengikuti instruksi yang Frims katakan sebelumnya, yaitu untuk mengumpulkan hasil jawabannya setelah Elena. Setelah mengumpulkan jawabannya kemudian Silvi berjalan keluar ruangan kelas, dia tidak sabar ingin menuju kelas Frims berada, karena dia ingin mengetahui keadaanya dan teman-temanya di sana, akan tetapi ketika dia mau menuju kearah ruangan Frims berada, dia dihentikan oleh Elena didepan kelas ruangannya.
“Woi, ikut aku, ada yang inginku bicarakan denganmu” ucap Elena sambil menarik tangan Silvi dan membawanya pergi tempat yang sepi.
Silvi yang tidak bisa melawan karena dia juga tidak ingin ada kegaduhan didepan kelasnya itu, dengan terpaksa dia mengikuti ajakan dari Elena tersebut.
“Lepaskan, kenapa kamu mengajakku ketempat ini?” tanya Silvi.
“Aku mengajakmu kesini, karena aku memiliki penawaran kepadamu” jawab Elena
“Penawaran?, maksudmu apa?” lanjut tanya Silvi mendengar perkataan Elena, yang terdengar mencurigakan itu.
“Mengaku kalah-lah pada pertandingan yang kita lakukan ini, kalau kamu mau melakukanya, maka aku akan menganggap semua hutangmu kepadaku lunas, dan aku akan membuatmu kembali lagi berada dikelas unggulan sama sepertiku, bagaimana bukankah ini tawaran yang menarik, lagian ngapain juga kamu membela cowok aneh tidak jelas itu, lebih baik terima tawaran itu dan berpihak-lah kepadaku”
__ADS_1
Mendengar tawaran yang diberikan Elena, kemudian Silvi teringat tentang perkataan Frims.
“Ini seperti yang Frims bilang padaku kemaren, kalau akan ada kemungkinan Elena memberikanku penawaran” gumam Silvi.
Karena sebelumnya Frims sudah memberitahu kepada Silvi, tentang kemungkinan yang akan terjadi dikelasnya, salah satunya adalah tawaran yang akan diberikan oleh Elena, seperti sekarang yang dia lakukan, Frims juga memberi kebebasan kepada Silvi, jika dia merasa diuntungkan dengan tawaran yang diberikan oleh Elena, Silvi boleh menerimanya, karena Frims tidak ingin mengikatnya dalam pertaruhan yang dia lakukan, disisi lain Frims juga mengetahui karakter dari Silvi, sehingga itu yang membuatnya yakin kalau Silvi tidak akan melakukanya.
“Aku menolak tawaranmu, aku tidak akan mengkhianati Frims, dia yang sudah banyak membantuku sampai saat ini, jadi aku tidak akan pernah mengkhianatinya, jika kamu berfikir bisa membujukku dengan iming-imingmu itu, sebaiknya kamu lupakan saja karena aku tidak tertarik sama sekali” jawab tegas Silvi menolak tawaran yang sudah Elena berikan kepadanya.
“Berani sekali kamu menolak tawaran yang aku berikan, sudah baik aku menawarimu seperti itu, jangan sampai kamu menyesalinya ingat itu” sahut Elena dengan marah, karena tersinggung dengan tawaran yang dia berikan ditolak mentah-mentah oleh Silvi.
“Kalau cuma itu yang ingin kamu katakan, kamu sudah mendapatkan jawabannya, kalau begitu aku pergi dulu” ucap Silvi sekaligus pergi meninggalkan Elena.
Elena terlihat sangat marah, karena dia merasa terhina oleh penolakan yang dilakukan Silvi terhadapnya.
“Awas saja kamu Silvi, aku pasti akan membalas penghinaanmu ini lebih dari apa yang kamu lakukan sekarang kepadaku” gumam Elena dengan perasaan sangat marah.
“Sepertinya mereka terlihat serius mengerjakan soalnya, Frims disebelah mana dia, oh dia di sana, tapi kenapa sikapnya itu seperti orang yang tidak memiliki beban ya, apakah dia sudah selesai, entahlah, aku harap semuanya baik-baik saja” gumam Silvi.
Karena ada yang ingin diceritakan Silvi kepada Frims terkait peristiwa tadi, kemudian Silvi menunggu Frims menyelesaikan ujiannya didepan ruangan kelas tersebut. Seiring berjalanya waktu, hingga tibalah waktu mengerjakan ujian akan selesai.
“Waktu tersisa sepuluh menit lagi!, bagi yang sudah selesai bisa dikumpulkan didepan” ucap guru pengawas ujian memperingatkan murid.
Satu persatu murid mengumpulkan jawaban yang sudah mereka kerjakan, hingga tersisa murid yang paling akhir mengumpulkan jawabannya yaitu Frims.
“Huh, capek juga menunggu mereka semua selesai mengerjakan, sebaiknya aku segera mengumpulkannya juga” gumam Frims.
__ADS_1
Melihat semua temanya sudah selesai kemudian Frims mengumpulkan jawabannya, lalu dia pergi keluar kelas, didepan pintu ruangannya ternyata sudah Silvi yang menunggunya, karena tidak ingin terlihat mencolok oleh teman lainya, dia kemudian mengajak Silvi pergi menuju tempat biasanya dia menghabiskan waktunya, yaitu lantai atas. Setibanya dilantai atas kemudian mereka duduk sambil berbicara satu sama lain.
“Lama ya, kamu menungguku di sana tadi?” tanya Frims kepada Silvi.
“Lumayan lama, tapi aku kok heran denganmu ya Frims, aku lihat tadi kamu terlihat santai sekali seakan-akan kamu sudah selesai mengerjakan soalnya, tapi kok kamu keluar paling akhir sendiri, jangan-jangan tadi kamu menunggu contekan dari yang lain ya?” tanya Silvi.
“Aku lebih suka mengerjakan semuanya sediri, meskipun itu memakan waktu lama, lagian mencontek juga tidak akan menjamin jawaban itu benar kan, lebih baik kerjakan saja sendiri kalau sama-sama kita tidak tahu hasilnya” jawab Frims yang berpura-pura memberikan alasannya agar Silvi percaya.
“Benar juga sih, oh iya ada yang ingin aku ceritakan kepadamu” ucap Silvi.
Kemudian Silvi menceritakan semua kejadian yang dia alami tadi, tentang tawaran yang diberikan oleh Elena kepadanya.
“Lalu apa jawabanmu?” tanya Frims setelah mendengar cerita yang Silvi katakan.
“Aku menolaknya, aku tidak mungkin mengkhianatimu Frims” jawab Silvi.
Frims yang mendengar jawaban Silvi tersebut kemudian tersenyum, lalu dia mengusap kepala Silvi dan berkata “Tidak salah aku mempercayaimu”
Ekspresi Silvi berubah menjadi malu-malu karena mendengar perkataan dari Frims.
“Oh iya Frims, lalu apa yang harus aku lakukan?, sepertinya aku membuat Elena sangat marah, aku takutnya nanti dia berbuat sesuatu yang aneh kepadaku” tanya Silvi.
“Kamu tenang aja, dia tidak akan berani melakukan apa-apa kepadamu, kamu lakukan saja seperti yang sudah aku katakan sebelumnya kepadamu, maka semuanya akan beres” jawab Frims.
“Baik Frims, aku pasti akan melakukanya” sahut Silvi
__ADS_1
Semua seperti yang sudah Frims rencanakan, baik Silvi maupun Andre tidak ada yang tau tentang semua langkah yang mereka lakukan sebenarnya sudah dikendalikan oleh Frims, dan tentunya Frims menikmati setiap langkah yang penuh dengan tantangan itu.