
Setelah selesai mengaji, Zarina kedapur untuk membantu masak. Neneknya dengan sigap mencegah Zarina untuk tidak usah repot-repot. Kamu susuli cucu nenek diluar, mareka mau jalan-jalan.
gak apa-apa nek, saya dirumah saja,,,
eeeee,,,,, gak boleh kamu kan tidak pernah pergi kebanten kan sebelumnya? oleh sebab itu kamu harus menikmati alam disini. Suasana disini beda dengan perkotaan. Sana-sana keluar, anak perempuan sekarang disuruh yang enak malah minta yang susah. ucap nenek dengan sewot.
Zarinapun mau tidak mau harus meninggalkan dapur dan berjalan menuju keluar rumah. Ia memerhatikan suasana banten udara yang masih sejuk dan bangunan-bagunan rumah yang berjejaran menandakan kalau disini sistem gotong royongnya masih sangat kental. Beda dengan metropolitan, semua serba bayar.
kakak Zahrina, panggil salah satu keponakannya Zidan.
Paman Zidan menunggu kakak didepan sana! tunjuknya kearah Zidan yang sedang berjalan kaki.
anak tersebut memegang tangan Zarina untuk menghampiri Zidan, iapun menuruti dan berjalan kearah Zidan.
__ADS_1
hmm,,,,disini sangat sejuk yaa? ucap Zidan dan Zahrina berbarengan.
iyaaa,,,,
iyaaa,,,,
lagi-lagi sama
keduanyapun saling diam
Sebenarnya saya juga masih sebel sama kamu, tapi karena disini saya juga dapat ilmu-ilmu yang baru, jadinya setengah sebel. Apalagi nenek, saya bisa belajar banyak dari beliau, kesehatannya,kepintarannya dan kelucuannya.
Zidan tersenyum melihat kearah Zahrina, nenek memang smart orangnya, mama dan papa capek ngerayu nenek untuk tinggal bersama kami. Tapi nenek lebih suka dibanten karena disini katanya banyak pengajian ibu-ibu.
__ADS_1
Saya pikir kamu orangnya judes dan keras kepala, rupanya kamu luluh juga yaa? ucap Zidan ditengah pembicaraanya.
hmmm,,,,mengenai pernikahan kita memang tidak bisa ditunda lagi,bahkan undangan sudah dibagikan kepada seluruh keluarga saya. Jadi mau tidak mau itu adalah keinginan orang tua kita.Tapi saya juga tipikal laki-laki pengertian kok, kalau kamu belum siap menjadi istri saya ,saya akan menjaga diri untuk tidak akan menunaikan tugas sebagai suami istri jika kamu belum siap. Jelasnya dengan serius
Zahrina hanya terdiam,,,karena baru kali ini Zidan berbicara dengan serius.
Zidanpun berlari-lari kecil dan meninggalkan Zahrina.
Zahrina hanya melihat punggung laki-laki yang hitungan hari akan menjadi suaminya. Ia tidak tau bagaimana membuka hati untuk laki-laki yang akan hidup bersamanya. Bahkan ia belum pernah berpacaran dengan siapapun, dan kini ia akan menjadi istri orang asing yang tidak ia kenal.
Hatinya dilanda bimbang, sesekali ia ingin mengutarakan pada kedua orang tuanya, kalau dia belum siap menikah. Tapi disisi lain posisinya sebagai anak pungut sudah sepatutnya dia membalas jasa kedua orang tuanya. Apalagi ia sudah dianggap seperti anak sendiri, seluruh kebahagian orang tau sambungnya dicurahkan padanya. Salah satu kebahagian terbesar orang tuanya ketika dia menjawab iya dalam perjodohan ini.
kini ia hanya bisa berpasrah dan harus legowo menerima apapun pilihan orang tua sambungnya.
__ADS_1
Zarina berjalan tanpa arah, Zidan yang sedari tadi memerhatikannya pun mengatakan.
Helloooo,,,,yuk kita pulang, matahari juga sebentar lagi akan menampakkan kemegahannya. Saya tidak mau nanti anaknya tuan Danil jadi hitam. kata Zidan sambil bercanda.