
ya sudah yuk kita keruang keluarga dulu, adek simpan semua buku setelah itu mari kita duduk diruang keluarga. Ucap mama zarina sambil berjalan duluan dari anaknya.
Zarinapun menuju keatas untuk kekamarnya dan menyimpan buku-buku diatas meja belajarnya. Setelah merasa fresh dan mengantikan kostum rumahan iapun beranjak kebawah untuk berjumpa dengan mamanya.
oke maa, adek sudah siap mau dengar isi hati mama tercinta, ucapnya sambil memeluk mamanya.
mamanyapun menghela nafas panjang dan melepaskan pelukan anaknya. Ia harus siap untuk mengatakan terus terang perihal perjodohan anaknya.
Adek, sebelumnya mama minta maaf pada adek, tapi mama juga berfikir ini semua untuk kebaikan adek dimasa depan, setidaknya mama tidak khawatir melepaskan kamu pada keluarga mereka.
Mama dan Papa sudah sepakat untuk menjodohkan adek dengan keluarganya ibu Siti,mereka sudah menjadi sahabat dan kerabat Mama sedari dulu. Jelasnya dengan pelan.
Zarina hanya terdiam, dan kata-kata itu bagaikan petir disiang bolong,ia tidak dapat berkata apapun. Bahkan pikirannya menjadi buntu atas apa yang didengarnya barusan.
__ADS_1
Adek Mama harap ini bukan satu beban yang berat untuk adek ya? karena hanya keluarga mereka yang membuat Mama rela melepaskan adek. Karena keluarga mereka juga keluarga baik-baik dan Mama sudah mengenal mereka lebih dari saudara Mama sendiri.
Zarinapun hanya terdiam dan berjalan menuju tangga.
Bik inah mendengar kejadian itupun langsung menemui nyonya Maryam.
bik Inah apa saya salah berbicara pada Zarina? dia tidak mengatakan setuju atau tidak setuju? tanyanya pada bik inah sambil melamun.
tidak nyonya,bukankah dia diam tanda setuju? seperti kita dulu nyonya, ketika ada yang kita sukai dan melamar, pasti kita memilih diam tandanya diam itu setuju. Ucap bik inah meredakan kegelisahan majikannya.
Dikamar Zarina hanya bisa melamun dan mengenang masa-masa ia dipungut oleh keluarga Tuan Daniel dan Ibu Maryam. Ia dulunya yang kucel dan tak berarah, kini tinggal dirumah mewah beserta fasilitas serba ada. Bahkan ia bisa membatu orang-orang disekitarnya yang belum tentu orang lain mendapatkan semua itu. Iapun sangat beruntung karena mendapat orang tua penganti yang menyayanginya seperti anak kandung. kedua orang tua sambungnya tidak pernah mengecewakan Zarina. Kini sudah saatnya ia pasrah dan menerima apapun keputusan keluarganya.
iapun mencoba membayangkan sosok Zidan yang akan menjadi calon suaminya. Sebelumnya mereka memang kenal dan itu hanya sepintas ketika undangan makan malam tahun lalu.
__ADS_1
bel pintu rumahpun berbunyi, bik inah segera membuka pintu.
Assalamualaikum bik inah, ucap seorang pemuda yang gagah nan tampan.dengan belah dagu dan lesung pipi kiri membuat ia terlihat manis saat tersenyum dengan postur tubuh yang tinggi mejulang.
Waalaikumsalam, ucap bik Inah sambil tersenyum.
Den Zidan yaa? sudah lama tidak bertemu silahkan masuk den. Bik inahpun pergi keruang keluarga untuk memanggil majikannya.
Nyonya Maryampun menghampiri Zidan sambil bersalaman. Zidan silahkan duduk nak? mau minum apa? ucapnya dengan ramah.
" apa saja boleh tante, oh yaa saya kesini amanah mama untuk membicarakan pertunangan ".
sebentar nak yaa? tante panggil Zarina dulu.
__ADS_1
Zidan duduk sambil melihat photo keluarga tuan Daniel, matanyapun tertuju pada Zarina sambil tersenyum.