
ayam berkokok lantang menyuarakan waktu pagi hari yang cerah, Nena dan Ellen sedang berbincang tentang kepergian mereka ke Singapura nanti apa saja yang akan di bawa, sementara ibu Nena sedang membuat cemilan yang akan di bawa oleh mereka karena yang sebelumnya sudah habis di bagikan untuk Bryan dan Indra.
tiba-tiba dari arah depan rumah terdengar bunyi klakson mobil sedan putih elen dan Nena pun menoleh lalu mereka berlari menuju ke arah sumber suara tersebut mereka sudah tahu kalau meiling akan datang begitu membuka pintu mobilnya meiling sangat senang karena kedatangannya di sambut oleh ke 2 sahabatnya.
"Hay... guys aku sudah datang" meiling turun dari mobilnya dengan beberapa bingkisan yang lumayan banyak sopirnya ikut membantu.
"kami pikir kamu nggak jadi datang" seru Nena dan elen serempak.
"nggak mungkin dong, aku lama karena tadi masih ikut mama sebentar buat beli ini, katanya buat ibu kamu na" meiling sangat antusias menurunkan bingkisan tersebut melihat hal itu ayah Nena yang berada di halaman tak jauh dari tempat mereka berada langsung menawarkan bantuan.
"halo, dek mei boleh ayah bantu soalnya ayah lihat bawaannya banyak" lalu ayah Nena lantas mengangkat beberapa barang di ikuti oleh Nena dan yang lainnya.
di dapur ibu Nena sedang asyik membuat cemilan hingga saking asyik dan fokusnya dia tak mendengar apa yang terjadi di luar.
Nena sangat heran melihat banyaknya barang yang di bawa oleh meiling, elen pun juga demikian "mei, apa ini kok banyak banget"
"ini bingkisan buat ibumu na" meiling menunjuk semua barang tersebut tanpa basa-basi.
"hah... banyak amat punyaku mana mei" seketika elen cemberut melihat bingkisan yang di bawa mei hanya untuk keluarga Nena.
meiling tersenyum mengerti kenapa elen bisa cemberut "ha...ha...ha...elen sayang ini nggak ada yang buat kamu maupun Nena, ini kiriman ibuku khusus buat ibu Nena, kalau untuk kalian berdua aku membawakan sesuatu" meiling mengeluarkan sesuatu di tas slinbag miliknya lalu memberikannya pada Nena dan elen.
"mei ini apa" Nena dan elen tak mengerti itu benda apa seperti gelang mewah namun tak mencolok.
"oh...ini gelang persahabatan kita ini di design khusus, gelang ini akan bisa kita pakai selamanya, gelang ini bisa mengikuti ukuran lengan kita jadi walaupun kita sudah dewasa gelang ini akan tetap ada, dan masing-masing sudah di ukir dengan nama kita masing-masing, seperti punya milikku ini ada ukiran namaku dan nama geng kita, oh ya maaf aku sudah menamai geng kita sendiri dengan nama angel contoh punyaku meiling angel, punya Nena (Nena angel), punya elen yah elen angel" jelas meiling dengan sangat hati-hati takut sahabat-sahabat yang di sayangi itu tak setuju.
"haahh...geng?" Nena dan elen saling pandang.
"iya, aku menamainya karena sudah lama aku memimpikan ini nggak apa-apa yah" meiling memohon dengan tatapan mengiba sampai-sampai Nena dan elen melihat meiling seperti anak anjing yang memohon minta di belai sontak mereka tertawa.
"ha..ha...ha...ha...gak PP apapun namanya, yang bikin kita heran itu kenapa bisa kepikiran di otak mu hal seperti ini" Nena membelai rambut sahabatnya itu dan di anggukan oleh elen, melihat reaksi dari sahabat-sahabatnya itu meiling melompat kegirangan.
Nena membolak-balik gelang itu dari sudut manapun gelang itu tampak mewah walau desainnya sederhana dan tak mencolok.
"mei...berapa harga gelang ini"
__ADS_1
"iya mei kalau dilihat-lihat ini seperti gelang mewah walau tak mencolok" elen juga suka dengan modelnya.
"oh...ini cuma 50jt...soalnya custom jadi harganya mahalan sedikit" meiling menjelaskan dengan santainya.
"hahhh...50 juta" Nena dan elen terkejut dan hampir melepaskan Gelang di tangan mereka.
"kenapa sih...cuma mahalan sedikitlah...kata papa kita harus memakainya karena di dalamnya sudah ada alat pelacak jadi kalau hilang bisa di cari lagi" elen dan Nena tambah terkejut dengan penjelasan meiling.
"hah..pelacak" lalu mereka membolak-balik gelang tersebut dan mencari letak pelacak tersebut dan mendapati pelacak terletak di bawah gelang.
"cara pakainya gimana ini nggak bisa di buka dan kecil" Nena dan elen melihat ukuran gelang yang seperti gelang bayi itu.
"begini nih, coba kalian lihat ada tanda pengenalan sidik jari di pengaitnya dan kalian tekan jari kalian di sini dengan menyebut nama kalian contoh punyaku sebelum kupakai kutekan tanda pengenal sidik jari dan menyebutkan namaku yakni meiling angel gelang otomatis akan terbuka dan akan menyesuaikan ukuran tangan pemakainya sekali di pakai tak akan bisa lepas kecuali di suruh lepas sama pembuatannya kalian coba" meiling menunjukkan cara memakai gelang dan di ikuti oleh kedua sahabatnya.
"wahh... canggihnya...hebat...mahal" mereka di kagetkan dengan suara anak kecil.
"Loh dek sejak kapan berdiri di situ" adik Nena yang berumur 8 tahun itu mengejutkan semuanya.
"ini siapa na, imut dan cantik" meiling berbinar melihat anak kecil yang amat cantik dengan badan lumayan berisi dan pipi tembem yang menggemaskan.
"wow...tambah imut" meiling spontan mencubit kedua pipi Nina dengan sangat gemas.
"dia adikku, beda 3 tahun denganku" lalu Nena memasang gelang tersebut di ikuti oleh elen.
"wahh...benaran canggih.." elen sangat senang dengan gelang itu begitupun dengan Nena.
"mei,,,terus barang ini buat apa,,,dan apa aja ini kenapa sebanyak ini" Nena melihat-lihat barang yang di bawakan oleh meiling, namun sayang si empunya barang sudah terbius oleh Nina, Nena menggelengkan kepalanya melihat meiling yang sangat gemas dengan Nina.
"mei aku juga gitu waktu pertama lihat Nina" elen mengingat waktu pertama kali melihat Nina sama gemasnya dengan meiling, saat Nina di ajak main kerumah elen ayah dan ibu elen sangat senang sampa-sampai ibu dan ayah elen melupakan anaknya, elen menggelengkan kepalanya mengingat kejadian itu.
"na...bolehkah dia main ke rumah malam ini" meiling meminta izin Nena untuk membawa Nina kerumahnya.
"aku nggak bisa kasih izin kalau mau tanya ke ibu" Nena mendorong meiling untuk menanyakan perihal Nina yang akan di ajak oleh meiling, dan meiling mengangguk, tanpa basa-basi meiling menuju dapur menemui ibunya Nena.
"halo Bu lagi ngapain?" meiling mendapati ibu Nena yang sedang membuat beberapa cemilan, Bu Tuti terkejut dengan kedatangan meiling.
__ADS_1
"eh, nak mei di sini sebentar yah ibu masak ini dulu tinggal beberapa lagi" lalu Bu Tuti melanjutkan kegiatannya kembali meiling menunggu dengan sabar tak lama pekerjaan Bu Tuti selesai.
"ada apa mei, cari ibu" lalu Bu Tuti mencuci tangannya.
"oh..ini Bu, mei mau mengajak Nina main kerumah abisnya aku gemes buk, biar cuma semalam aja yah" meiling memohon sambil menggandeng Nina.
"ha...nginep emang Nina mau?" ibu Tuti menanyakan pendapat Nina.
"iya buk Nina mau...kan cuma semalam sebelum pulang kampung buat cari pengalaman aja ya buk" Nina membantu meiling memohon karena dia juga penasaran dengan rumah sahabat kakaknya.
"baiklah, asal jangan nakal terus dengarkan apa kata kak meiling dan orang di rumahnya ok" ibu Nena menasihati anaknya dan memberikan beberapa wejangan, meiling dan Nina yang mendengar jawaban Bu Tuti langsung kegirangan.
seketika meiling teringat kiriman ibunya " oh...ya buk...mama kirim barang buat ibu ada di depan" meiling menarik tangan Bu Tuti ke depan rumah, sesampainya di sana Bu Tuti terkejut dengan banyaknya barang " Bu Tuti memeriksa isinya dan isi tersebut merupakan bahan baku kue dan cemilan namun itu sangat lengkap dan banyak sampa-sampai ibu Tuti melongo.
"buk ini dari mama, katanya biar ibu bisa bikin banyak dan yah mama dapat jatahnya sedikit hi..hi..hi" mendengar kata-kata meiling ibu Tuti tersenyum.
"baiklah, mana nomor telepon mama mu ibu mau bicara" meiling langsung menelpon ibunya.
Bu Nita yang sedang mengerjakan dokumen melihat anaknya menelpon " ada apa sayang".
"halo, ma ini ibu Nena mau bicara sama mama" meiling memberikan handphonenya pada Bu Tuti.
"halo mamahnya mei...ini saya Tuti mamanya Nena"
"ah...halo mba Tuti apa kabar" Bu Nita senang karena calon besan masa depannya mau bicara dengannya.
"oh..ini Bu saya mau mengucapkan terimakasih karena sudah mengirimkan semuanya apa nggak apa-apa sebanyak ini?"
"HM..itu yah sama-sama, toh ini itu nggak seberapa di banding ekheemmm...cemilan dan keu yang enak itu..hi..hi..hi..." Bu Nita mengingat cemilan yang di berikan Bu Tuti habis di makan oleh mereka saking enaknya dia malu mengakui itu semua pada Bu Tuti.
"makasih yah mba..nanti saya kirimkan kalau saya bikin lagi walau nanti saya pulang kampung nanti saya kirimkan.
mendengar perkataan Bu Tuti, Bu Nita langsung senang "benarkah...kalau begitu terima kasih ya mba" lalu mereka saling berucap salam mengakhiri pembicaraan.
Bu Nita bernyanyi sambil bersiul tanda dia sangat bahagia dia menyapa setiap orang yang di lewati nya, para orang itu heran ada apa dengan Bu Nita yang biasanya kusut dan menakutkan efek terlalu banyak kerjaan bisa sesenang itu.
__ADS_1