
Setelah sampai di tempat perkemahan elen hendak membangunkan nena yang masih terlelap, namun lagi-lagi bryan mencegahnya "jangan bangunkan dia dulu"
"tapi kak, saya harus bangunkan dia untuk membantu mereka yang bongkar barang" elen setengah bingung.
"gak apa-apa nanti saya yang gantikan dia kelihatannya dia benar-benar capek" bryan bersih keras tak ingin membangunkan nena. Elen hanya bisa mengangguk walau tak mengerti kenapa bisa begitu, elen pun lebih dulu turun dari mobil dan berjalan keluar, setelah melihat elen sudah turun dan menuju ke teman-temannya bryan mengeluarkan ponselnya lalu mengambil gambar nena yang sedang tidur dan bergumam "wah tidur saja dia benar-benar teratur dan itu sangat cantik" bryan senyum-senyum sendiri, setelahnya dia turun membiarkan mobil itu menyala agar air conditionernya juga menyala tujuannya agar yang tidur di dalam juga nyaman, dia juga agak menurunkan posisi jok bangku lebih kebelakang agar nena nyaman dan nyenyak.
bryan menuju ke kerumunan dan membantu menurunkan barang serta membangun tenda, pak agus yang bingung pun bertanya "nak bryan nena di mana, kenapa nak bryan membantu kami bongkar barang dan membangun tenda".
bryan dengan tenang menjawab "dia ketiduran pak dan kelihatannya dia juga kecapean, jadi saya gak tega banguninnya".
pak agus mengangguk "iya sih emang capek menurut yang saya sering dengar dari teman-temannya emang anaknya rajin juga pandai semenjak dia sekolah di sini setiap kegiatan maupun perlombaan guru-guru selalu menaruh harapan padanya sehingga kelihatan seperti memberinya tanggung jawab besar di pundak anak itu, memang kedengarannya egois tapi mau bagaimana lagi yah sudah begitu, saya sangat bangga punya murid seperti dia bukan hanya saya banyak guru yang sayang dan bangga dengannya, dia tak pernah mengecewakan kami yang menaruh harapan padanya dan bagusnya...dia itu tidak sombong dan sangat rendah hati tidak pilih-pilih teman siapa saja dia akan bergaul, orang-orang di sekitarnya sangat suka dengannya, saya yakin dia akan sukses di masa depan, apalagi orangnya pekerja keras" pak agus sangat mengagumi sosok seorang nena. Bryan termangu, di dalam diamnya dia berkata "kasihan tapi juga keren"..."aku benar-benar aneh, masa sama anak SD bisa sesuka ini, kalau orang tau bisa-bisa di anggap predator anak" tanpa sadar dia berekpresi bahagia dan sedih bergantian membuat pak agus heran ada apa dengan bryan namun pak agus hanya diam saja dalam hatinya "nggak mungkin kan nak bryan suka sama nena yang kecil, kan nggak lucu".
tak terasa pemasangan tenda sudah selesai nena belum juga bangun sudah sekitar 2 setengah jam berlalu pak agus pun bertanya "nak itu nena belum bangun apa gak apa-apa mobilmu terus menyala begitu?".
bryan hanya tersenyum "gak apa-apa toh paling bensin yang habis, bisa beli lagi tinggal nyuruh teman saya nganterin, bensin mobil penuh kok lagian saya juga gak akan kemana-mana karena tujuan saya cuma kesini" dan dia pun menuju mobilnya kemudian membuka bagasi mobil dan mengeluarkan barang-barangnya tidak terlalu banyak hanya sebuah tas ransel dan koper kecil dan menuju ke tempat tendanya berada dengan keadaan membiarkan mesin mobilnya tetap menyala.
pak agus semakin yakin "ni anak pasti menyukai nena tapi karena nena masih anak-anak di pun enggan mengungkapkan,,,iya juga sih kalau saya di posisinya emang pasti malu bisa-bisa di katai yang nggak-nggak sama orang" pak agus menggelengkan kepalanya "dasar anak muda selera aneh,,,eh gak aneh emang nena pantas di sukai walau masih anak SD" diapun melanjutkan kegiatannya.
di dalam mobil nena akhirnya terbangun dia meraba kesamping untuk menemukan elen namun hasilnya nihil matanya pun terbelalak mencari-cari di sekitar memang sudah nggak ada orang di melihat jam tangannya dan sangat kaget ternyata sudah mau jam 1 siang padahal mereka berangkan pukul setengah 10 dan sekarang sudah hampir 4 jam dia tidur, nena sangat panik dan menengok keluar tenda sudah terpasang "astaga aku ketiduran, mana lama bangat lagi....(load).....eh tunggu mobil ini nyala!" nena tambah panik dan hampir menangis "ya allah gimana nih udah gak bantuin bangun tenda, mobil di biarkan nyala" nena menunduk kebawah dan mendapati sebuah jaket denim "ah..ini bukannya punya kak bryan yah?...baik bangat kak bryan...tapi kenapa?" nena sangat kebingungan, kemudian tanpa pikir panjang dia mematikan mesin dan turun dari mobil dengan panik. Kemudian menuju ke teman-temannya dengan wajah panik dia bertanya pada sahabatnya "el...kak bryan kemana?"
elen yang sedang melamun terkejut "ah...kaget,,,na akhirnya kamu bangun juga udah lama loh nungguin kamu ampe lumutan ini".
"maaf ya el, aku ketiduran habis capek bangat...maaf ya maaf?...maafin aku kan?" wajah nena memelas dengan sedih. Elen yang tadinya pura-pura marah jadi luluh "astaga sayang kamu sangat imut" sambil mencubit dengan sayang pipi nena.
"el,,aku serius takut kamu marah,,,eh tunggu kak bryan di mana aku mau balikin kunci mobil sama jaketnya" tanya nena dengan tampang sedih.
"oh, dia di tendanya tuh sebelah sana" sambil menunjuk ke arah tenda kakak pembina SMA Taruna. Nena pun menuju ke tenda itu.
.....
di tenda SMA taruna ekspresi bryan kembali dingin walau banyak cewek-cewek yang memandangnya termasuk salah satu bunga sekolah lala "halo bryan lagi apa nih?" dengan PDnya dia duduk di samping bryan namun sayang bryan langsung berdiri dan menatapnya dengan tatapan membunuh tentunya dengan perkataan yang juga dingin "dasar lalat" langsung berpindah tempat duduk "merusak suasana hatiku saja" sambil memainkan ponsel dan yah dia melihat gambar gadis kecilnya itu yang diambil saat nena tidur "aku benar-benar aneh bunga sekolah aku tolak dan malah menyukai gadis kecil yang nggak mungkin bersamaku" dia menengadah ke atas dan menghembuskan napas. kemudian berdiri menuju ke teman-temannya yang sedang apel mendengarkan arahan guru pembimbing dan membubarkan barisan, lalu dia langsung menoleh begitu mendengar suara yang di kenalnya "kak, apa bisa ketemu dengan kak bryan" nena bertanya ke salah satu siswa SMA "oh adek cantik kak bryan di dalam, tapi maaf jika kak bryan agak kurang ramah orangnya dia emang gitu" kata kak veri salah satu teman bryan ini, nena hanya mengangguk dalam hati keheranan "dia baik kok, ramah lagi,,ni orang fitnah aja" nena pun menuju kedalam tenda mencari sosok bryan.
bryan yang melihat nena datang langsung bergegas keluar dan menemui nena dengan raut wajah bahagia, teman-temannya yang melihat kejadian langka ini langsung tercengang "hah?? Si kulkas 10 pintu itu tersenyum, gue gak ngimpi kan?"...yang satunya lagi "gue juga heran sekian purnama si kulkas 10 pintu akhirnya tersenyum...yuk lihat siapa yang menemuinya sampai dia sesenang itu" beramai-ramai mengikuti bryan dari belakang dan mereka sangat...sangat...sangat amat tercengang yang bikin si kulkas 10 pintu tersenyum hanyalah bocil SD "i..ii..itu yang bikin dia bahagia, bahkan adiknya pernah mencarinya waktu di sekolah dan dia gak se antusias itu".
__ADS_1
"kak bryan...maaf...maaf...maafin saya" nena menunduk berulang kali dengan wajah yang amat sangat bersalah. dalam pandangan bryan dia seperti kucing kecil yang merasa sangat bersalah dan minta di elus "gak apa-apa kok, kenapa musti minta maaf?" sambil mengelus kepala nena dengan sayang dan bryan lagi-lagi tersenyum dengan sangat hangat membuat teman-teman yang melihatnya terbengong dan ternganga "si gunung es mencair" seru salah seorang teman. Mereka sangat heran yang membuat bryan bahagia bukan gadis montok seksi, cantik ataupun bunga sekolah lala yang terkenal sangat cantik sehingga banyak yang tergila-gila banyak yang berebutan untuk jadi pacarnya namun dia malah tergila-gila dengan bryan yang jelas seperti gunung es itu. melainkan bocil SD yang bahkan masih sangat polos.
dengan wajah bersalah nena "apa benar kak bryan gak marah? udah gitu mobilnya nyala sampe 4 jam begitu apa gak bakal rusak, atau minimal bensinnya habis kak...atau gini nena ganti bensinnya yah aku punya uang di kasih bibi tadi, ini ada 250ribu cukup nggak kalau nggak ntar kita cari ATM buat narik tunai" nena hampir menangis, dia benar-benar takut dan sangat merasa bersalah.
bryan yang melihatnya sangat ingin memeluknya, dan akhirnya tidak tahan dia memeluk nena di hadapan semua temannya "gak apa-apa nena, kakak gak marah kok, udah yah?" bryan menepuk-nepuk bahu dan mengelus kepala nena dengan kasih sayang, di perlakukan seperti itu nena sontak menangis di pelukan bryan "kakak beneran gak marah?? Gak marah kan?" nena bertanya dengan nada yang memilukan bryan pun semakin tak berdaya.
"cup..cup..cup udah yah, bensinnya gak usah di ganti kakak gak kekurangan uang nena, kamu simpan aja, lagian kalau kakak marah pasti sudah bangunin kamu yang lagi tidur, udah yah?" tanpa sadar bryan mengecup kepala nena.
teman-temannya sangat terkejut dan sangat tercengang si kulkas 10 pintu bisa selembut itu dan di penuhi kasih sayang, itupun pada anak kecil yang bahkan belum pubertas "dia si kulkas 10 pintu itu, apa orang lain?" seru salah satu teman yang berdiri di situ.
"iya ya..kok bisa emang adek itu siapanya sih?? Adeknya gak mungkin gue kenal adeknya sama sepupunya dia tetap dingin walau tak sedingin pada kita" semua mengangguk tanda sependapat, di sisi lain lala sangat marah masa dia kalah sama anak kecil masih bisa di toleransi kalau sebaya atau di atasnya tapi ini bocil SD dia menggeretakkan giginya dan berlalu dengan wajah suram seakan-akan mau memangsa orang.
setelah tenang nena keluar dari pelukan bryan "kakak benar gak marah? Sama minta ganti rugi?"
bryan mengangguk "um"
nena terlihat lega dan sekarang bisa senyum "makasih ya kak, makasih bangat...oh ini kunci mobil sama jaketnya" sambil menyerahkan jaket dan kunci sambil tersenyum manis membuat bryan sangat tersentuh.
"iya sama-sama" hati bryan menghangat senyum hangat terukir di wajahnya, menandakan bryan benar-benar bahagia.
teman-teman bryan hanya mengangguk dan masih tak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Tak lama kemudian bryan berbalik dan ekpresinya kembali ke semula, teman-temannya berujar "tuhkan dia belum sembuh masih sama jadi si kulkas 10 pintu lagi"
temannya yang lain "kita cari tau yuk siapa tu anak siapa tau keluarganya ya kan?? Kalau yang di taksir gak mungkin masih bocil Loh" semua hanya mengangguk.
...
sampai di tenda elen sudah menantikannya "na, gimana ka bryan gak marah? Dia bilang apa sama kamu? Terus kamu ngomong apa sama?" elen menanyakan pertanyaan beruntun tanpa jeda.
"satu-satu dong nanyaknya aku harus jawab yang mana dulu nih?" nena menggelengkan kepala dia sudah tau tabiat sahabatnya yang selalu sangat penasaran.
elen berdehem "ehem...dia marah gak?"
nena hanya menggeleng,kemudian elen bertanya lagi "dia bilang apa sama kamu?".
__ADS_1
nena tersenyum tipis sangat tipis sampai tak terlihat dan menjawab "dia bilang gak papa, kalau dia marah sudah dari tadi dia bangunin aku...dan aku hanya minta maaf dengan sungguh-sungguh, aku mau ganti bensinnya tapi dia nggak mau, udah gitu aja". Elen pun mengangguk tanda mengerti.
...
masuk jam 4 sore peserta perkemahan di suruh apel dan kakak pembina memberikan arahan tentang apa saja yang harus di lakukan selama di sini, dan kakak pembina meminta para pinru (pemimpin regu) melaporkan jumlah anggotanya dan kesiapan mereka dalam perkemahan ini. Pinru SD melati adalah kakak kelas nena dan juga pacar monyetnya elen iyalah obet atau roberto akselo, dia maju ke depan untuk melapor. Setelah semua regu melapor barisan di bubarkan peserta di suruh istirahat selepas salat isya akan di mulai kegiatannya.
...
selepas ba'da isya semuanya berkumpul untuk apel malam dan memulai kegiatan seperti mempersembahkan yel-yel atau atraksi lainnya dan melakukan kegiatan ringan lainnya tidak sampai 2 jam kegiatan berakhir dan para siswa di bebaskan bermain karena ini masih hari pertama. Nena duduk sendiri di salah satu sisi lapangan karena sahabatnya ya tentu saja bersama cinta monyetnya di tengah lapangan yang masih bisa di jangkau oleh mata nena, ketika nena akan berdiri untuk ke tenda tiba-tiba ada yang menghentikannya "halo, nena lagi apa?" sapa bryan.
nena sedikit terkejut kemudian membalas sapaan "eh...halo kakak lagi duduk aja menunggu ngantuk datang, kakak sendiri kok di sini teman kakak mana?".
bryan mengangkat alisnya "hm...indra lagi sama pacarnya, kakak lagi jalan-jalan liat kamu duduk sendiri kakak pun mampir dari pada jalan sendiri gak ada tujuan mending ngobrol sama kamu kan? Oh iya elen kemana?" bryan beralasan padahal tadi mencari-cari keberadaan sosok nena ampe kalang kabut begitu ketemu pura-pura kalem dasar pedofil hehe.
"iya juga sih, si elen lagi sama monyetnya tuh di tengah lapangan...emang kakak gak punya pacar gitu atau pacar kakak gak ikut yah?" tanya nena agak bingung.
bryan hanya tersenyum "kakak gak punya pacar, trus monyetnya elen maksudnya apa?" selidik bryan.
nena tertawa renyah "oh itu cinta monyetnya elen kak obet..gak ada yang di taksir gitu kata teman saya sih yang tetanggaan sama kakak katanya banyak cewek yang suka datang ke rumah kakak dan banyak juga yang suka kakak, emang wajar sih kakak kan baik sama ganteng juga" puji nena dengan polosnya.
bryan yang mendengar pujiannya hampir melayang, mukanya memerah, jantung berdegup kencang andai kata itu siang makan akan terlihat wajahnya yang sangat merah. Bryan tersenyum bahagia "ada yang kakak taksir namun sayang harus menunggu beberapa tahun lagi sampai kakak bisa sama dia untuk saat ini sangat tidak mungkin" jelas bryan sambil melirik gadis kecil di sampingnya itu yang tengah asyik melihat ke tengah lapangan entah apa yang di lihatnya.
"oh, kok gitu?..yah kakak semangat aja semoga bisa bersama banyak-banyak berdo'a saja insya allah bisa terkabul do'anya" jawab nena dengan polos.
bryan hanya bergumam dalam hati "astaga sayang yang aku maksud itu kamu masa nggak ngerti sih, dasar bocil polos".
"oh ya kak kayaknya aku masuk dulu soalnya sudah lumayan ngantuk maaf ya" tanya nena dengan sopan.
"oh ya mari kakak antar ya sekalian kaka juga mau pulang ke tenda?" tawar bryan dan nena hanya mengangguk.
mereka pun beranjak menuju ke tenda nena sesampainya di sana nena berpamitan, lalu bryan pun pulang ke tendanya.
sampai di tendanya seperti biasa dia berubah jadi dingin lagi seperti kulkas dan tatapan yang seram.
__ADS_1
salah satu temannya berucap "hah..siapa sih gadis kecil itu si everest hanya mau senyum dan ramah sama dia giliran sama kita wah dinginnya melebihi es batu".
malam pun berlalu semua orang telah terbuai mimpi panjang.