
"pagi bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya nena yang terbiasa bangun di awal pagi.
"eh, nak nena, boleh..boleh..tolongin ibu kupasin sayurnya ya?" jawab bu atik salah satu orang yang bertugas memasak untuk guru dan murid. Bu atik senyum-senyum dalam hati "wah emang bener ya kata bu ani dia emang rajin, bangunnya pagi pula, anak yang sangat langka untuk zaman sekarang...anak saya saja bangun aja susahnya minta ampun, siapa sih ibunya" puji bu atik dalam diam. Di sela-sela membersihkan sayurnya nena bertanya "bu...ibu bangun jam berapa kok udah banyak yang siap kenapa? Kenapa nggak minta bantuan sama kami...banyak loh ini".
"wes, nggak apa-apa saya biasa kok masak banyak begini, gini-gini saya punya warteg loh walau hanya sederhana,,jadi urusan ginian mah gampang, tapi makasih yah kamu mau bantuin ibu jarang loh orang kayak kamu, masih kecil udah mau bangun pagi gini dan mau bantuin ibu" jawab bu atik dengan senyum hangat.
"oh,,saya biasa bantuin bibi sama paman untuk nyiapin barang dagangan jadi bangunnya jam segini" nena menjelaskan.
"wah, kamu nggak tinggal sama ibu bapakmu toh? Terus bibimu itu jualan apa?" mata bu atik membesar karena agak kaget.
nena mendehem "saya dari kampung bu, ibu sama bapak di kampung, saya ikut bibi sama paman kesini buat cari pengalaman sama buat belajar mandiri. Hidup kan nggak harus tergantung sama orang tua, terus bibi sama paman jualan makanan kayak ibu yah kecil-kecilan".
bu atik manggut-manggut dia ingin bertanya lagi namun nena sudah berdiri karena pekerjaannya sudah selesai.
"bu habis ini ada lagi?" tanya nena
"udah nggak ada kok tinggal ini aja" jawab bu atik.
"oh, ya udah bu saya mau beresin barang saya dulu buat persiapan mandi" nena pamit dengan buk atik.
bu atik hanya mengangguk tanda mengiyakan. Nena pun segera bergegas menuju tempat mandi. Hari sudah mulai terang nena telah selesai bersiap sementara teman yang lain belum pada bangun, nena masuk ke dalam tenda membangunkan sahabatnya "elen, bangun udah pagi, buru mandi ntar antri panjang lagi, ayok" sambil membangunkan elen yang masih setengah sadar dan membawakan peralatan mandinya, nena menuntun elen ke tempat mandi walau sahabatnya itu masih menutup mata tapi mau ngikutin langkah nena yang menuntunnya.
bu atik yang melihat hanya menggelengkan kepala, lalu bu atik di kejutkan oleh suara bu fatimah guru pendamping siswa "kenapa bu, kok geleng-geleng sambil senyum?" selidik bu fatimah bingung.
bu atik kaget "eh ibu guru, ini bu saya kagum sama nena yang lain masih pada tidur eh dia dari subuh udah bangun trus bangunin temannya, sempat tadi bantuin saya, hebat yah anaknya?".
bu fatimah mengiyakan "memang nena begitu saya saja ampe sekarang masih nggak percaya ada anak yang begitu ulet macam dia" sambil berlalu mau membangunkan siswa yang masih pada tidur.
elen telah selesai bersiap dengan wajah sumringah, elen mencium pipi temannya dengan gemas "aduh sayang kalau nggak ada kamu, aku nggak bakal siap lebih awal kayak gini, pokoknya kamu is the best...makasih ya?".
nena sudah terbiasa "hm,, kamu kalu nggak di bangunin perang duniapun nggak akan bangun el". Dan elen hanya tertawa, dia sudah terbiasa dibangunkan oleh sahabatnya itu bahkan kadang-kadang kalau ibu elen lagi pergi nena bertugas membangunkannya.
....
selesai bersiap para peserta perkemahan mengikuti apel pagi terakhir di perkemahan karena besok mereka akan pulang.
"halo adek-adek ini hari terakhir kita di sini, hari ini kita akan mengadakan, hiking atau mencari jejak, kakak-kakak pembina akan menunggu di setiap pos yang akan kalian lewati, setiap pos akan berbeda, dan pos yang harus kalian lewati sekitar 8 pos, mengerti" jelas kakak pembina
"mengerti kak" jawab siswa serempak. Mereka mulai pencarian jejak pada pukul 8 pagi dan berakhir jam 1 siang. setelahnya mereka beristirahat untuk membersihkan diri mereka, siapa yang tidak tahu kalau pencarian jejak itu pasti pulang-pulang kotor.
setelah cukup istirahat mereka di kumpulkan lagi "adek-adek, sebentar lagi kita akan pawai obor keliling komplek setelah itu akan ada upacara api unggun untuk perpisahan. Sebelum pawai kami akan mengadakan lomba yel-yel yang terakhir atau yel-yel pamungkas gugus mana yang menang bisa dapat hadiah..oke?" ucap kakak pembina dengan semangat
"oke,,,kami siap kak" jawab peserta serempak.
lomba pun di mulai, gugus SD melati di pimpin oleh nena karena para teman-teman dan ketua mempercayakan tugas itu pada nena dan latihan yel-yel pamungkas ini memang nena yang menciptakan, mereka sangat antusias.
di sisi lain bryan yang menjadi pendamping SD melati agak terkejut karena biasanya ini adalah tugasnya ketua, namun dia menantikan dengan senyam senyum. Di suatu sudut adiknya meiling keheranan "kok, si gunung everest senyam-senyum yah?" dia mengikuti arah pandangan kakaknya dan mendapati kakaknya senyum melihat seorang anak yang seumuran dia "itu bukannya selena adila ya?...si jenius dari SD melati, jangan bilang abang gue suka ama dia?" meiling bertanya-tanya dalam hati namun langsung menggeleng dengan keras "ah nggak mungkin masa abang suka sama bocah begitu" dia membantah kata-katanya sendiri.
tak terasa lomba pun di mulai SD krisan mendapat giliran pertama dengan semangat meiling memimpin teman-temannya, hasilnya bagus semua orang bertepuk tangan dan berarti bagus, selanjutnya SD mawar juga bagus namun tak sebagus krisan, SD melati mendapat giliran terakhir nena langsung bersiap "melati, siap panen" seru nena lantang.
"siap...siap...siap" serempak. Kemudian nena mulai memimpin seruan dan nyanyian silih berganti pada yel-yel itu, semua orang tercengang dan sangat kagum dengan yel-yel SD melati yang di pimpin nena sangat-sangat bagus. Tak terasa telah berakhir namun penonton masih hening saking tercengangnya, di kejutkan dengan suara pemandu acara "tepuk tangan teman-teman, lagi-lagi SD melati memberikan kejutan, seperti tahun lalu mereka memukau, saya salut dengan adik selena kalau dia yang memimpin pasti akan jadi yang terbaik" suara lantang mc di barengi tepuk tangan dan sorakan penonton.
__ADS_1
salah satu penonton "wah itu sangat bagus"
"yah itu mengesankan seperti tahun kemarin, semenjak kemunculan murid yang bernama selena itu SD melati selalu jadi yang terbaik" seru penonton lainnya.
lomba yel-yel di menangkan oleh SD melati di pimpin nena. Indra menggelengkan kepala "wah gila bro nena emang the best lah, setiap ada dia, pasti hasilnya mencengangkan...gak heran lho bisa naksir walau masih bocil".
bryan tersipu "apaan sih lho" menata ekspresinya agar tak ketahuan.
"hah, sudahlah gue dah tau kok, ampe walpaper lu aja foto nena kan" ejek indra.
bryan makin salah tingkah "e..e..em..mang apa salahnya mengidolakan sosok mengagumkan kayak gitu, lo pasti punya idola juga kan" wajahnya makin merah.
"ha...ha..ha...ha...udah nggak usah alesan kita temenan udah dari zaman orok woy,,, walau beda keyakinan kita tetap saling mengerti, nggak usah di sembunyiin kali" kata indra dengan meledek.
bryan makin salah tingkah ingin membantah namun tak ada gunanya. Indra yang melihat sahabatnya salah tingkah hanya tersenyum sambil berkata "emang apa salahnya kalian cuma beda 6 tahun aja kok kalau dia udah dewasa lo nggak bakal tua-tua amat kok,,,apalagi banyak pasangan yang beda usia bahkan ampe belasan tahun perbedaannya, jadi slow aja. bahkan ada tu anak teman bapak gue udah di jodohin maklum anak konglomerat, lu tau nggak jodohnya adalah bayi berumur 1 tahun dan anak teman ayahku udah remaja SMP kelas 1".
bryan kaget "oh..ya emang bisa?" tanyanya antusias.
"ha..ha..ha..ha.. Tuhkan suka" ejek indra dengan suara tawanya yang makin jadi, makin salah tingkah pula bryan di buatnya.
...
para siswa mulai mempersiapkan pawai obor yang akan di adakan dengan beberapa sambutan kakak pembina pawai obor di mulai. Bryan dan indra mendampingi SD melati, bryan mendekat ke arah nena yang kebetulan berada di sebelah kanan barisan "halo nena,, gimana kabarnya" sapa bryan ramah.
"oh..hay kak,,,aku baik kok? Kakak gimana kabarnya " tanya nena.
bryan tersenyum hangat "ah kakak sama baiknya kok...ehm omong-omong selamat yah kamu nggak perlu ikut seleksi lagi di makasar langsung lolos tingkat asia ke singapura, yah di sana kakak pembinanya bukan lagi anak SMA melainkan para senior kampus bahkan ada profesor dan prosesnya berlangsung seminggu, hadiahnya juga lumayan" jelas bryan dengan santai.
"oh..itu dulu kakak sama kak indra pernah ikut sama 20 orang lainnya yang berasal dari berbagai provinsi di indonesia" pungkas bryan.
nena manggut-manggut "trus kak hadiahnya itu nggak kebanyakan untuk ukuran anak SD apalagi katanya apartemen sama mobil, uang sih masih masuk akal tapi apartemen sama mobil buat apa untuk anak SD?" tanya nena bingung.
"hadiahnya, uang sama mobil bisa di ambil secara langsung dan untuk apartemen bisa di pilihkan setelah lomba selesai, itu bisa jadi aset nanti siapa tahu kan nena mau kuliah di jakarta bisa tinggal di situ apalagi nena mandiri kayak gini pasti nggak susahlah tinggal sendiri" ucap bryan menjelaskan.
"kak emang nggak bisa di uangkan aja hadiahnya, bisa buat yang lain gitu?" selidik nena.
"boleh kok sayang...tapi buat apa gitu? Uang sebanyak itu...setau kakak hadiah uang saja sudah 1 milyar banyak loh itu, kalau mau mobil sama apartemen di uangkan bisa nyampe 3 milyar lebih" tanya bryan yang tidak mengerti arah fikiran kekasih kecilnya yah walaupun nena nggak tau.
nena sangat terkejut "haaahhh...sebanyak itu kak segimana banyaknya itu, aku nggak pernah lihat uang sebanyak itu".
bryan mengelus kepala nena dengan lembut "gini loh sayang, uang 1 milyar bisa kamu kasih ke orang tua untuk modal usaha atau sebagai simpanan untuk masa depan nanti, itung-itung investasi masa depan, dan untuk mobil bisa kamu gunakan manakala keluargamu melakukan perjalanan jauh apalagi orang tuamu kan di desa mobil akan sangat berguna untuk kalian nanti. Hm...dan untuk apartemen bisa kamu sewakan, mahal loh jasa penyewaan apartemen dengan mencari agen penyewaan yang terpercaya itu bisa dilakukan asal kamu di dampingi sama orang dewasa,,,uang bisa masuk rekening kamu itu" jelas bryan panjang lebar dengan sabar.
nena manggu-manggut "wah bagus dong, akan sangat beruntung kalau aku yang menang hehe...ngarep dikit nggak apa-apakan kak?".
bryan hanya tersenyum "nggak papa kok sayang, kakak yakin kamu pasti bisa" tanpa sadar dari tadi ngomongnya sayang mulu, setelah sadar bryan langsung mengamati ekspresi nena, mungkin terganggu dengan panggilan sayangnya dan ternyata nena nggak perduli. Gimana mo perduli orang dia nganggep bryan kakaknya, bisa sakit hati bryan kalau tahu.
indra yang mendengar percakapan mereka hanya bisa mengernyitkan dahinya "dasar pedofil" sambil senyam-senyum jail.
...
tak terasa pawai obor pun berakhir, selanjutnya acara api unggun yakni penghujung acara perpisahan ini di acara tersebut tersaji atraksi-atraksi para peserta serta nyanyian-nyanyian perpisahan yang terdengar sayu bahkan ada yang menangis mendengarnya, yah walau nena tidak tersentuh dan biasa saja.
__ADS_1
acara selesai para peserta bersantai ada yang memilih jalan-jalan, duduk di tengah lapangan ada yang masuk ke dalam tenda. Nena duduk di bangku depan tendanya niatnya ingin mengajak elen jalan-jalan nggak tau keduluan obet.
di tempat lain bryan yang duduk sendiri di kejutkan dengan sapaan lala "hay, bray sendiri saja, temenin aku jalan yuk..ini kan malam terakhir" ajak lala dengan penuh harap.
bryan seketika dingin tak berekspresi jawaban singkat khasnya di lontarkan "nggak".
lala tak menyerah "ah, ayolah,, malam ini aja,,,yah...yah..yah..?"bujuknya dengan bergelayut manja di lengan bryan.
bryan mengernyitkan dahinya "tidak" dengan menahan emosi yang hampir meluap dan menarik tangannya dengan cepat.
bukan lala namanya kalau langsung menyerah begitu saja, apalagi ini soal bryan yang sangat di impikannya "bryan kamu keterlaluan bangat sih,,,padahal aku udah nolak banyak cowok yang mau jalan sama aku demi kamu...masa kamu tega...di mana lagi kamu dapat kekasih pengertian macam diriku ini...sudah cantik, modis, smart, seksi dan yah kaya" lagaknya dengan percaya diri.
bryan hampir terbakar emosi "minggir nggak" dengan tatapan membunuh.
lala seketika takut namun belum menyerah dan makin parah "hey bryan kamu bersyukur dong aku gadis highclass gini mau jadi kekasihmu,,,aku bunga sekolah, aku yang tercantik di sekolah kenapa kamu masih dingin sama aku...atau kamu mau main tarik ulur denganku? Sudahlah itu nggak akan mempan ntar aku di ambil orang kamu menyesal lagi" katanya dengan lantang sehingga orang yang di sekitar situ mendengarnya.
emosi bryan sudah di ubun-ubun "kamu....." mulut bryan terhenti karena panggilan seseorang..."em, halo kak bryan" sapa nena dengan senyum polosnya. Sontak bryan langsung menoleh ke arah suara, dan seketika wajahnya langsung tersenyum hangat tidak memperlihatkan emosi yang tadi sudah di ubun-ubun seperti meluap begitu saja "eh, nena kok di sini" tanya bryan yang mulai tenang. Nena bagaikan obat penenang untuk bryan emosi yang tadi akan meledak seketika sirna.
"iya nih kak,,tadi aku bengong saja di tenda nggak tau mo ngapain, mau tidur waktunya masih terlalu dini, teman-teman lagi pada jalan-jalan, kebetulan aku lewat sini dan ke inget kakak jadi mampir siapa tau kakak ada, yah buat teman ngobrol, hmm" nena agak gugup.
bryan seketika girang gak karuan hatinya ingin melompat keluar "oh...ya?..kalau gitu ayo kakak juga pengen jalan-jalan ini" sahutnya antusias, saking antusiasnya dia melupakan lala yang masih berdiri di sampingnya dengan wajah yang muram menatap ke arah nena dengan tatapan tajam sambil berguma "siapa sih nih bocah setiap bryan sama dia pasti langsung lupa sama apapun...masa gue kalah lagi sama ni bocah...kalau aja lu udah gede gue kasih pelajaran lo...sayangnya gue nggak bisa ngapa-ngapain sama anak kecil ntar dikira gue kalah sama bocil...issshh kesalnya" lala mendesis kesal. Namun bryan dan nena sudah berlalu.
flash back on...
indra melihat lala berjalan menuju ke arah bryan firasatnya kurang enak "aduh si lala mo cari masalah apalagi sama bryan" diapun mengikuti lala dari belakang, mendengar lala berbicara seperti itu pada bryan dan indra mengetahui sifat temannya itu kalau sudah emosi bisa-bisa si lala dalam bahaya karena bryan paling anti dengan wanita yah kecuali keluarganya dan nena tentunya. Dia melihat bryan mulai emosi dan langsung berlari menuju ke arah tenda nena kebetulan nena sedang duduk sendiri "wah kebetulan si pawang bryan lagi duduk sendiri harus buru-buru ini, sebelum si everest meletus".
"hay nena bantuin kakak bisa?" tanya indra dengan wajah memelas
"ada apa kak, nanti aku bantuin" jawab nena sedikit terkejut dengan kedatangan indra.
kemudian indra menceritakan perihal lala dan bryan "nena tolong yah, bryan memang nggak mukul perempuan tapi si lala udah kelewat batas aku takut.." sebelum menyelesaikan kalimatnya indra langsung di tarik oleh nena menuju TKP.
flash back off...
sepeninggal nena dan bryan, indra mengajak lala berbicara empat mata "la..ikut aku sebentar" ajak indra yang lumayan menahan emosinya agar tak terpancing karena indra dan bryan itu beda tipis namun indra lebih memilih tak menunjukkannya, dia lebih suka bermain dengan para gadis namun di balik itu dia dan bryan sama saja.
"lala,,lu tau nggak kelakuan lu tadi bahaya tau nggak...udah gue ingetin berkali-kali, bryan nggak suka dengan perlakuan seperti itu kalau akupun di posisi dia pasti sudah terjadi sesuatu padamu" pungkas indra dengan wajah yang sangat dingin dan tatapan yang membunuh.
"heh,,,aku nggak akan menyerah buat dapetin bryan...emangnya lu siapa...pake ngingetin gue...gue yakin suatu saat bryan jadi milik gue, lho liat aja ntar" lala sangat percaya diri.
indra menggeretakkan bibirnya "hey,,,kau mengaku highclass tapi kelakuanmu seperti pelacur di luar sana yang suka melemparkan diri mereka pada laki-laki" indra mulai emosi.
seketika wajah lala memerah karena emosi dengan perkataan indra yang menusuk "hey miskin lho jangan asal ngomong ibumu yang ******...oh aku lupa ibumu kan memang ****** yang merebut suami orang..sampai suami orang itu lupa sama keluarganya".
indra sudah akan mengangkat tangannya untuk menampar lala namun di berhentikan oleh bryan yang tiba-tiba sudah di belakang mereka "lho jangan ke bawa emosi bro,, sama perkataan orang yang nggak penting kayak dia,,,dia itu nggak ada bedanya dengan sampah selokan..ayo kita tidur itu udah telat" kemudian bryan menarik lengan sahabatnya itu dan memandang ke arah lala dengan tatapan merendahkan seolah-olah di tatapannya mengatakan kalau lala benar-benar sampah, lalu langsung terduduk lemas dia tak mempercayai kalau bryan mengatakan dia sampah.
"bro lo bukannya sama nena?" indra bingung
"aku jalan sama dia cuma sebentar dan dia sudah kelihatan ngantuk makanya aku antar pulang, balik-balik nyariin kamu untuk tidur kamu nggak ada kata frans kamu lagi sama lala di situ" bryan menceritakan perihal dia sudah di situ dan indra hanya manggut-manggut.
kemudian mereka tidur, bumi perkemahan seketika sunyi menandakan penghuninya telah terlelap. Walau masih ada 2 sampai 3 orang berlalu lalang.
__ADS_1