Jodoh Di Tangan Tuhan, Cinta Susah Di Lepaskan

Jodoh Di Tangan Tuhan, Cinta Susah Di Lepaskan
meiling gabung


__ADS_3

Semua siswa dan guru sibuk berkemas barang bawaan mereka karena akan pulang ke rumah masing-masing, tak terkecuali nena dan elen yang sibuk mengemasi barang mereka, nena punya telah lebih dulu selesai karena barangnya sedikit, lain halnya dengan elen yang barangnya lumayan banyak nena sama obet sibuk membantu membereska barang elen "yang,,,kamu bawa barang sebanyak ini buat apa sih,,toh nggak ke pake semua" tanya obet yang penasaran dengan bawaan kekasih kecilnya itu.


"tau nih bet, bahkan ada barang yang masih tertata rapi karena nggak sempat di pake, ada-ada aja kan?" timpal nena yang masih sibuk dengan pengepackan barang sahabatnya yang tiada habisnya.


"is kalian bantuin aja napa, ini tuh barang pribadi cewek siapa taukan di perlukan, kalau kamu udah dapat periode menstruasimu kamu juga akan mengerti na" gerutu elen.


obet hanya menggeleng tidak tau harus bilang apa lagi. Beda dengan nena yang menimpali "hei tapi kan periodemu baru 2 minggu yang lalu masa harus datang sekarang kamu mah ada-ada saja nyari alesan buat ngeles kayak bajai" nena balik menggerutu.


"hehehe...jangan marah dong sayang kan buat jaga-jaga siapa tau kan?" elen manyun manja biar nena nggak marah lagi.


nena pun kehabisan kata-kata dengan sahabatnya ini, tak terasa semua barangnya sudah di kemas. nena, elen dan obet bersiap mau mengangkut barang ke dalam mobil bak, tiba-tiba nena di panggil oleh pak agus "nena, kemari ada yang mau ketemu kamu di sini".


nena berjalan menuju arah pak agus "ya pak sipa yang mau ketemu saya" tanpa memperhatikan oramg yang di belakang pak agus.


"aduh..ini bapak-bapak ini dari bantara katanya mau ketemu kamu ada hal yang perlu di konfirmasi" ucap pak agus sambil menunjuk ke arah 2 orng pria paruh baya yang berdiri dan ternyata mereka adalah yang dulu ada di lomba cerdas tangkas.


dengan nada sopan nena bertanya "halo bapak-bapak, ada yang bisa saya bantu?"


"oh iya, kamu selena adila yang menang waktu itu kan?" seru salah satu pria itu.


nena mengiyakan kemudian bapak itu memberikan sebuah amplop coklat yang lumayan besar kira-kira seukuran kertas hvs yang isinya lumayan banyak "ini buat kamu nena di sini sudah ada tiket pesawat, paspor, sama visa kamu...kita akan berangkat seminggu kemudian dari sekarang karena seleksi di makasar hanya berlangsung 4 hari saja dan saya akan menjemputmu di sekolah nanti. Persiapkan dirimu".


nena agak terkejut dengan senyuman canggung karena bingung "maaf sebelumnya, pak kok paspor sama visa saya sudah keluar aja, dan waktunya secepat itu. Saya juga belum sempat izin sama orang tua saya di kampung" nena menatap dengan wajah bingung ke arah mereka dan pak agus hanya menyimak.


bapak itu tersenyum dan berkata "oh,,,soal itu sebelumnya saya sudah meminta data dirimu pada pihak sekolah dan pihak sekolah membantu saya untuk bertemu paman dan bibimu, mereka tidak bisa memberi izin makanya menelpon orang tuamu untuk ke kota, sekarang orang tuamu ada di kediaman bibimu, syukurlah mereka mengizinkan dan saya meminta anak buah saya untuk mengurus paspor dan visamu, kamu tenang saja" jelas pak bantara panjang lebar.


nena mengangguk dan mengiyakan, kemudian pak bantara mengatakan lagi "dek nena uang akomodasi untukmu akan di berikan sehari sebelum kamu berangkat sekalian dengan siswa yang akan berangkat denganmu mereka berasal dari berbagai daerah dan mereka yang terbaik di daerahnya" sambung pak bantara. Nena hanya mengiyakan tak lama bapak-bapak itupun berpamitan, pak agus mengantar kepergian mereka. Nena kembali pada elen dan obet yang menantikannya "hey nen, gimana? Apa yang di sampaikan bapak tadi? Terus yang kamu bawa apa? Kok mereka sudah pulang?" seperti biasa pertanyaan elen beruntun obet saja yang ingin bicara hanya bisa terdiam.


"el, kebiasaan deh nanya apa interogasi sih banyak amat pertanyaannya" gerutu nena.


"hehe maaf abis penasaran" elen manyun.


"tadi itu bapak-bapak yang di cerdas tangkas, mereka mengantarkan paspor dan visaku untuk pergi ke singapura, katanya akan pergi seminggu lagi dari sekarang menunggu orang yang masih ikut seleksi di makasar" nena menerangkan.


mata elen berbinar "waaahhh...kamu akan keluar negeri na asyik loh, malah sudah punya paspor sama visa ntar kalau kamu udah bisa keluar negeri nggak perlu ngurus semua itu lagi ya kan? Mudah-mudahan aku juga lolos saat di makasar".


nena menggeleng "apaan,, sayang paspor sama visa hanya akan berlaku 5 tahun habis itu mesti harus diperpanjang urusannya ribet, yang ada masa aktifnya habis aku belum gede".


elen mengangguk antara mengerti dan tidak dan obet yang mendengar pun menyahut "bener tuh yang, aku sering liburan sama ayahku keluar negeri setiap 5 tahun sekali dia akan memperpanjang visa sama paspornya".

__ADS_1


elen mengangguk kali ini dia sudah mengerti.


...


pak agus menyuruh semua siswa naik mobil bak karena semua sudah beres mereka bersiap untuk pulang kerumah, bryan buru-buru mendekat "nena sama elen ikut mobil kakak saja yah?" pinta bryan pada nena, nena melirik ke arah mobil bak yang sudah sangat penuh dengan barang, murid hanya beberapa orang yang naik dan pak agus hanya mengangguk, karena banyak juga siswa yang di jemput orang tuanya.


nena lalu mengiyakan seperti saat datang saat ini pun dia naik mobil bryan bersama elen, sedangkan obet di jemput sopir pribadi keluarganya tadinya mengajak nena dan elen namun keduluan bryan. Saat akan naik mereka di kejutkan dengan suara meiling yang berlari ke arah kakaknya "kakak tunggu" dengan napas terengah-engah.


"kak, aku ikut mobil kakak yah barangku sudah di bawa pulang sama pak supir tadi" matanya memelas membuat bryan bingung


"kenapa kamu nggak pulang sama sopir malah nambah kerjaan kakak untuk ikut mobil kakak?".


"yah kak, apa salahnya sih sekali-sekali" sambil melirik ke arah nena dan elen dan seketika otaknya mendapat ide buru-buru dia mendekat ke arah nena "kamu selena adila kan si jenius dari melati, kamu memang sangat cantik pantas kakakku yang dingin melebihi kulkas bisa ramah sama kamu, sampai ngizinin kamu naik mobilnya, aku aja jarang loh".


nena jadi salah tingkah dan bingung di saat bersamaan tak tahu harus berkata apa, melihat keadaan sahabatnya elen angkat bicara "halo, kamu adik kak bryan yah? Kenalan dulu namaku elen dan ini sahabatku nena".


seketika meiling berbinar "wah, hai namaku meiling aku adiknya gunung es...eh salah maksudku kak bryan".


"jadi kamu pengen naik mobil kakakmu?" tanya elen memastikan di sambut anggukan oleh meiling tak lama kemudian nena bersuara "halo meiling namaku nena,, nggak apa-apa kok kalau kamu mau naik dengan kakakmu biar kita ikut mobil obet saja".


dengan cepat di cegah oleh bryan "nggak usah kamu naik di sini saja na, dan mei kamu juga naik ".


meiling melompat kegirangan karena di izinkan naik mobil kakaknya, hitung-hitung bisa menambah teman baru, sebab selama ini meiling tak punya sahabat atau teman dekat, sebab banyak anak yang menjauhinya karena segan dengan latar belakang keluarganya yang notabene konglomerat adapun teman yang mendekat kebanyakan hanya memanfaatkannya untuk kepentingan mereka sendiri. Keluarga bryan memang cukup kaya bukan cukup tapi memang kaya di rumah mereka banyak pelayan mereka hanya di asuh oleh pengasuh ayah dan ibu mereka sangat sibuk. Sang ayah punya bisnis properti serta memiliki beberapa pabrik pengolahan makanan, sang ibu punya rumah sakit yang lumayan besar di kota bandung warisan dari keluarganya karena ibunya anak tunggal selain berprofesi sebagai dokter bedah profesional ibunya juga merupakan presiden rumah sakit tersebut dan menurut berita mereka akan membangun cabang baru di jakarta, dan semua itu tidak di ketahui oleh nena dan elen.


saat akan menjalankan mobilnya tiba-tiba di hadang oleh indra "woy bro tunggu, gue ikut mobil lu ya..." dengan mengapit barang bawaannya.


"apasih bukannya lu punya mobil sendiri, kenapa ikut mobil gue sih?" bryan mengeryitkan dahinya.


"mobil gue nggak di antarin bro soalnya sopir gue sakit trus sopir rumah tangga lagi nganterin bibi belanja kebutuhan bulanan" jawab indra.


bryan menyipitkan matanya "nggak boong kan lu?".


dan indra hanya menggeleng dengan gugup, kalau bryan tau dia berbohong hanya untuk ikut ramai di mobil bryan serta mencari tahu hubungan bryan sama nena sampai mana bisa habis dia. sebenarnya sopirnya memang sudah mengantarkan mobilnya tapi di suruh kembali secepatnya oleh indra. Seketika mobil bryan ramai dan indra menyapa nena, meiling dan elen dengan ramah "hello para gadis ketemu lagi dengan abangmu yang gantengnya nggak tertolong ini" ucapnya dengan percaya diri dan di sambut tertawa oleh elen dan meiling, nena hanya tersenyum.


"kak indra kata siapa kakak ganteng, kalau ganteng nggak mungkin jomblo akut begitu" ejek meiling.


"heh, meimei jangan ngeremehin kakak tau gini-gini kakak punya banyak pacar emang kakakmu yang jomblo ampe sekarang, siapa suruh kayak julkas 10 pintu, bisa beku orang kalau dekat dia hahahaha..." ledek indra sambil melirik bryan.


"benar juga sih kak, si everest lebih parah" meiling menimpali, elen dan nena hanya ikut tersenyum.

__ADS_1


"apaan sih, kalau kalian berdua nggak diem gue turunin di tengah jalan nih" ancam bryan biar mereka nggak meledeknya lagi, sontak indra dan meiling pun diam nena hanya menggeleng.


"mei, kamu lolos seleksi untuk ikut ke makasar?" tanya nena sopan meiling mengangguk dan menjawab "iya aku lolos, semoga bisa lolos juga di makasar biar bisa pergi ke singapura, aku iri sama kamu loh, emang beda yah jenius sama biasa aja hehehe".


"nggak gitu, semua manusia itu sama mungkin aku lagi beruntung, kamu juga pinter kok baik lagi" jawab nena dengan senyuman hangat.


meiling mengangguk dan bergumam "bijak sekali" .


mereka bercengkrama di dalam mobil tak ketinggalan indra yang sesekali menimpali percakapan mereka dan bryan hanya fokus di mengendarai mobil. Tak berapa lama merekapun sampai di rumah nena dan elen.


"makasih ya kak sudah di anterin, maaf merepotkan" ucap nena.


"ah, nggak repot kok na, kan kakak yang nawarin nggak papa gih masuk" jawab bryan.


"sekali lagi makasih kak, oh ya mei semoga ketemu lagi selamat berjuang besok" ucap nena sambil melambai.


"iya, nena doain lolos yah biar kita sama-sama ke singapuranya, elen kamu juga ikut seleksi di makasar kan? Besok ku jemput okeh?" tatapan meiling berbinar kearah elen tandanya dia memohon dan elen mengiyakan sontak meiling sangat girang mendapatkan sahabat baru iyalah nena dan elen. masa akan datang mereka akan jadi sahabat karib yang selalu ada dalam suka duka.


setelah mobil bryan berlalu elen pulang ke rumahnya dan nena buru-buru masuk kerumahnya karena mengetahui orang tuanya datang namun adiknya tidak ikut karena bersekolah dan di tinggalkan di bawah pengasuhan nenek mereka.


"ayah..ibu kalian di dalam" panggil nena


seketika ayah dan ibunya keluar dari kamar yang biasa nena tempati.


"wah anak ayah sama ibu sudah pulang yah" ayah dan ibunya menyambut nena dengan bahagia mereka bertekad mengantar kepergian nena sampai ke bandara soekarno-hatta di jakarta, siang itu mereka bercengkrama melepas rindu yang selama ini bertumpuk ibu nena telah memasakkan makanan kesukaan putri sulungnya itu dan menceritakan perihal keberangkatannya dan proses yang di lalui sampai akhirnya lolos.


....


di dalam perjalanan menuju rumah. indra, bryan dan meiling berbincang ringan, namun indra berbicara tentang nena "kalian dengar nggak kata elen tadi nena terlalu hemat" meiling dan bryan mengangguk kemudian indra melanjutkan ceritanya "menurut yang kudengar dari perkataan elen, nena di berikan uang jajan oleh bibinya sekitar 250ribu untuk 3 hari, tapi dia hanya menghabiskan 50 ribu itupun sebagian besar untuk keperluannya kayak sabun cuci, sampo dan hal yang mendesak lainnya yang sisanya buat beli minuman saat haus, membeli makanan dia akan berpikir 2 kali, ada ya orang kayak gitu utamanya masih anak-anak lagi, mei kamu habis berapa selama di buper?"


meiling menghitung dengan jari "sekitar 400san lebih deh kayaknya".


indra nyengir "punya kakak hampir 500ribu, punya kamu brapa yan?".


"yah sekitar 300 ribulah karena aku nggak suka makanan yang di sediain tenda" jawab bryan santai.


"kalian tau perbedaannya, nena benar-benar anak yang sangat hemat dan pandai. Nggak ada saingan, mei cobalah berteman sama dia banyak pelajaran hidup yang bisa kamu pelajari dari dia kakak yakin kamu nggak akan salah temenan sama dia" indra menasihati meiling.


"iya kak, aku emang berasa cocok sama dia, elen sama nena emang beda jauh, nena bijak dan dewasa tapi asyik kalau di ajak ngobrol selalu nyambung, kalau elen itu cerewet dan periang mereka paket yang cocok dan kelihatan mereka berteman bersahabat dengan sangat tulus" jawab meiling dengan nada memuji.

__ADS_1


bryan dan indra yang mendengar hanya menggumam "syukurlah akhirnya dia bisa ketemu sama orang yang bisa di ajak bersahabat apalagi ada nena" mereka berdua saling memandang dan tersenyum satu sama lain.


tanpa di sadari mereka pun sampai di rumah indra, setelah itu mereka melanjutkan perjalanan kerumah mereka.


__ADS_2