
suara burung berkicau merdu fajar menyingsing menandakan hari baru yang lebih baik, Nena beserta keluarganya sibuk dengan aktivitas masing-masing ayah Nena sedang memperbaiki genteng rumah dan hal yang harus diperhatikan lainnya, sedangkan ibu Tuti memasak untuk orang di rumah paman dan bibi berangkat berdagang dan Nena sedang menjaga sepupu kecilnya Sukmo sambil memeriksa kembali bawaannya yang akan di bawa besok.
di rumah meiling semua orang juga sudah bangun para pelayan sedang sibuk dengan urusan masing-masing, ayah dan ibu meiling sudah berangkat kerja, Bryan sudah ke sekolah meiling sedang asyik mengepak barang yang akan di bawa pulang oleh Nina di bantu beberapa pelayan sedangkan Nina masih diam melongo terkejut dengan tumpukan barang yang akan di bawanya pulang sebelum tidur semalam Bu Nita mengeluarkan semua barang meiling yang tak terpakai atau yang bekas pakai namun masih dalam kondisi yang sangat bagus karena ukurannya sudah tak muat di tubuh meiling saking banyaknya sampai berapa kardus untuk membawanya Bu Nita sudah menyewa jasa pickup barang-barang itu berupa boneka, mainan, baju, celana, gaun aksesoris dll.
"kak, ini nggak kebanyakan?" mata Nina melotot melihat tumpukan barang di depannya bahkan yang lain sudah di angkut ke pick up.
"banyak apanya ini hanya tinggal sedikit karena sebagian besar telah di sumbangkan dan prepare guna mengumpulkan donasi untuk anak yatim, dan orang yang tidak mampu" meiling menjawab dengan santai namun Nina yang mendengar jawaban meiling hanya bisa mengangguk dalam hatinya "semua ini hanya bagian kecil sudah itu barangnya mahal semua".
setelah pengepakan barang selesai meiling pamit untuk mengantar Nina pulang.
....
Nena tengah asyik bermain dengan Sukmo selama ayah dan ibu Nena ada Sukmo sudah tak di tinggal dengan neneknya karena ada yang menjaganya di rumah, setelah selesai beberes dan masak Bu Tuti mendekati Nena dan si kecil Sukmo "wah main apa ini".
"tita..lagi nainn lobot bibi" Sukmo menjawab dengan bahasa khas cadelnya anak 2 tahun.
"ohh...wah boleh bibi gabung" Bu Tuti mencium pipi Sukmo dengan sangat gemas.
saat mereka bertiga tengah asyik bermain tiba-tiba 2 mobil berhenti di depan rumah yang satunya mobil pribadi meiling satunya lagi pickup yang penuh dengan barang nena dan Bu Tuti bergegas menuju ke arah mobil sambil menggendong Sukmo tak lama kemudian turunlah meiling beserta Nina
"halo semua" sapa Nina dan meiling bersamaan.
"hai sayang sudah pulang...oh iya dan ini barang apa" Bu Tuti heran dengan mobil pickup yang memuat banyak sekali barang itu mulai menurunkan barang satu persatu.
"ibu ini barang mei yang sudah tidak di pakai tapi masih bagus dan muat buat Nina bahkan ada yang agak kebesaran jadi bisa di pake lama dari pada menuhin lemari mending kasih buat Nina kan...oh ya Bu Nina juga sangat imut kalau pakai baju-baju itu" meiling senyum sumringah berbeda dengan Nina yang kelihatan lesu, Nena memandang wajah adiknya dan mengerti apa yang sudah terjadi yang pasti Nina di jadikan role model dadakan dan juga di jadikan boneka karena memang adiknya itu menggemaskan orang yang yang baru bertemu saja akan sangat gemas dengan Nina.
"haahh...ttaaa...ttaapi ini nggak kebanyakan sayang" Bu Tuti melotot mendengar apa yang di katakan oleh meiling.
"nggak kok buk, yang aku kasih ke Nina ini baju yang baru sekali ku pakai juga ada baju yang belum pernah kupakai masih ada labelnya, HM..kalau sudah lebih dari sekali pakai sudah di sumbangkan dan di prepare untuk di sumbangkan, bahkan banyak baju yang terbungkus plastik yang di sumbangkan ini hanya sisanya saja yah hanya sebagian kecil juga mainan meiling yang sudah tak layak di mainkan oleh saya karena saya sudah besar" meiling menjelaskan dengan antusias.
"nak...bisa ibu bicara dengan mamamu?" Bu Tuti ingin memastikan apakah ibunya tau tentang ini semua lalu meiling menelpon ibunya dan membiarkan ibu Tuti bicara dengan Bu Nita.
"assalamu'alaikum, halo selamat pagi mbak"
"iya, pagi ada apa ya buk kata mei ibu mau ngomong sama saya"
"ini mbak, barang yang di bawa mei sangat banyak untuk di berikan ke Nina, apa ibu tau saya takut ini hanya mei sendiri yang memberikan tanpa memberi tahu ke mbak" suara Bu Tuti agak gemetar karena takut Bu Nita akan menganggap mereka yang memeras mei.
"hahahaha...nggak kok buk saya yang menyiapkan itu saat mereka tengah bermain, dan saya minta maaf kepada ibu karena kemarin saya menjadikan Nina model dadakan soalnya dia sangat menggemaskan"
"haahh...mbak sendiri yang menyiapkan...waduh apa nggak kebanyakan...?"
"nggak kok...itu tinggal sedikit sebagian besar sudah di sumbangkan...juga mei sangat senang memberikan barang dan mainannya pada Nina dia sampai memohon-mohon pada Nina agar tak manolak pemberiannya dia seperti menemukan sosok adik di dalam diri Nina bahkan dia hampir menangis saat Nina menolak...jadi terima saja ya buk...?"
"ba..baiklah...tapi saya harus balas pakai apa...kemarin bahan masak sekarang barang ini hiks...hiks ..hiks..makasih yah buk" Bu Tuti sudah tidak tahan dengan keharuannya dia sampai menangis untung anak-anak berada jauh dari dia.
__ADS_1
Nita yang mendengar Bu Tuti menangis sampai terkejut "ahh...ha....buk...em...mbak nggak apa-apa kok kalau memang merasa terbebani gimana kalau ibu kirimkan kue dan cemilan untuk kami hehehehe" Bu Nita sangat malu dengan permintaan yang di rasa berlebihan itu tapi apa boleh buat dia sudah jatuh cinta dengan kue dan cemilannya Bu Tuti.
"ha..ha..ha baiklah saya juga kemarin baru selesai bikin kue dan cemilan itu juga sangat banyak,,terus ada beberapa masakan khas yang bisa di simpan lama seperti, rendang, basreng, tonkatsu, baso Aci, baso sapi, baso ayam, Abon dan juga teri balado, sama ada juga bumbu siap pakai yang sudah masak jadi tinggal di pakai saja jika ingin memasak, bumbu itu bisa tahan sampai beberapa bulan"
mendengar apa yang di katakan Bu Tuti seketika Bu Nita berteriak hingga mengangetkan orang di sekitarnya "woowwww...benarkah ini luar biasa i love you mamanya Nena mmnuuuaachh...aku tak pernah sebahagia ini mendapatkan sesuatu tak ada pemberian yang lebih baik daripada ini makasih....mbak....makasih buk...makasih bangat" Bu Nita kegirangan seperti anak kecil.
"hahaha... sama-sama" dan mereka pun mengakhiri pembicaraan dan memberikan telpon pada meiling kembali.
barang-barang yang di atas pickup sudah selesai di angkut di bantu oleh ayahnya Nena, bukan ibunya Nena kalau tamu yang datang ke rumahnya tak di beri makan bahkan sang supir dan seorang kondekturnya di ajak untuk makan bersama tadinya mereka menolak namun di paksa oleh ibu Tuti dan entah bagaimana ceritanya elen juga sudah bergabung.
mata semua orang berbinar kecuali Nena dan keluarganya, sang sopir dan kondekturnya tak sadar sudah menambah beberapa kali "wah...tak pernah kita makan seenak ini ya bos kalau tadi kita kekeh nggak mau pasti sudah melewatkan kesempatan makan makanan enak ini" sang kondektur bicara dengan mulut yang penuh bosnya hanya mengangguk tanpa menjawab. semua orang makan dengan gembira dan untung Bu Tuti masaknya banyak bahkan keluarga elen juga dapat karena Bu Tuti sendiri yang mengantarkannya pada Bu Sumi ibunya elen "Bu kata mami terima kasih...bahkan nenek saya yang kurang nafsu makan Ampe kalap makannya...oh ya Bu kata mami terima kasih atas masakan dan bumbunya" elen sebenarnya sudah makan namun dia makan lagi seolah perutnya sudah kosong, Bu Sumi sangat senang karena selama orang tuanya Nena ada mereka selalu mengantarkan makanan juga bumbu siap pakai untuk Bu Sumi, bahkan Bu Sumi yang tak bisa masakpun bisa jadi pintar masak berkat Bu Tuti dia sekali-kali datang menemui Bu Tuti untuk belajar masak karena suaminya senang dengan masakan yang di buatnya walau tak seenak milik Bu Tuti tapi sudah lumayan untuk orang yang belajar masak seperti dirinya.
setelah semua orang selesai makan mereka keluar dan Bu Tuti beberes di bantu para gadis sementara si kecil Sukmo di gendong oleh pak Iwan, sopir pickup dan kondekturnya duduk sebentar dan berbincang dengan ayah Nena karena mereka baru saja makan jadi tak bisa langsung pulang.
setelah berbincang sedikit tamupun berpamitan pulang belum sempat mereka pamit Bu Tuti keluar memanggil mereka dengan membawa 2 bungkus bingkisan "eh... bapak-bapak tunggu sebentar ini ada sedikit cemilan dan makanan lebih tadi, cemilan ini untuk anak-anak anda berdua yah...jangan di tolak ini rezeki kalian"
"makasih buk...aduh repot-repot" kemudian mereka pamit pulang.
setelah tamu pulang Bu Tuti menuju dapur dan membuka kulkas dan freezer masih banyak sayur, serta ikan, daging ayam, daging sapi dan telur. bahkan belum berkurang banyak saking terlalu banyaknya pemberian Bu Nita begitu juga bumbu dan bahan untuk kue dan cemilan. di rumah bibi Inong ada 2 kulkas dan 1 freezer ukuran besar karena untuk menyimpan sayur dan bahan lain untuk di jualnya.
"para gadis mau bantu ibu masak nggak...Nina ajak Sukmo main ayah juga harus bantuin oke...karena aku akan bikin Abin, rendang, basreng dll. yang bisa tahan lama untuk dibawa sama anak-anak ke Singapura nanti kan cemilan dan kue udah selesai" mendengar itu elen dan mei langsung buru-buru membantu, Nina mengajak Sukmo bermain di teras rumah agar tak mengganggu yang lain.
semuanya tengah asyik elen dan meiling menikmati peran baru mereka, meiling dan elen banyak bertanya Bu Tuti menjawab dengan sabar, Nena sendiri sudah tau apa yang akan dia kerjakan. saat tengah bergulat di dapur mereka di kejutkan oleh Bu Sumi yang sudah di depan pintu dapur "wah ada yang bisa saya bantu nggak"
"eh...Mbak Sum mari duduk maaf ya anaknya saya suruh bantuin biar mereka ada pengalaman" Bu Tuti nggak enak melihat Bu Sumi datang karena sudah menyuruh elen bantu-bantu.
Bu Sumi bertingkah manja layaknya seorang anak yang memohon pada Bu Tuti agar di izinkan bergabung, Bu Tuti mau menjawab namun keduluan elen "yah... haruslah mi ini juga kan makanan yang akan elen bawa nanti kesingapura"
"wah...benarkah...baiklah"
Bu Sumi resmi bergabung Dengan mereka dengan adanya Bu Sumi semua berlangsung dengan cepat tak butuh waktu lama semuanya sudah siap, lalu mereka pun istirahat kecuali Bu Tuti dia memandikan Sukmo dan menidurkannya, Bu Sumi pamit pulang dengan membawa makanan yang di peruntukan pada elen untuk di bawa ke Singapura nanti.
elen, Nena, dan meiling belajar dan membahas tentang Pramuka untuk persiapan besok pagi ke Singapura.
.....
di sekolah Bryan seperti biasa memasang tampang dingin bak kulkas 10 pintu beda dengan Indra yang tebar pesona sana sini mereka berdua seperti pangeran yang menjadi pusat perhatian di sekolah.
"wow si duo tampan, andai aku bisa dengan salah satunya walau cuma sehari aku akan sangat bahagia" kata seorang siswi dengan malu-malu.
"apaan...dengan akulah aku kan lebih cantik dari pada kamu pasti Indra mau sama aku...kalau Bryan sih milik si bunga sekolah....Lala berkata mereka akan bertunangan sebentar lagi jadi kita nggak boleh sembarangan" sahut seorang siswi lagi.
"ah...masa bukannya Bryan selama ini nggak menanggapinya"
"SShht...kalau Lala dengar bisa mati Lo".
__ADS_1
orang yang mereka perbincangkan sudah datang.
"halo...Bray apa kabar" Lala menerobos kerumunan dan langsung menggandeng tangan Bryan dengan manja.
"lepaskan" wajah Bryan menggelap dan ekspresi wajahnya menakutkan Lala sampai gemetar namun dia tetap tidak melepaskan genggamannya, lalu Bryan menarik paksa lengannya "ck..najis" Bryan mendecik melihat keadaan itu Indra langsung menarik Lala "udah La kamu nggak punya telinga" Lala yang mendapat perlakuan seperti itu dari Bryan merasa sangat malu dan tak mengerti apa kurangnya dia "aku ini kurang apa sih bry....aku itu wanita tercantik di sekolah ini juga di kota ini banyak yang mengantri untuk menjadi pacarku kamu harus bersyukur karena aku hanya suka padamu, aku juga kaya dan berwawasan luas, aku juga baik, lemah lembut, anggun dan berkelas kurang apasih aku ini" Lala selalu melebihkan dirinya sendiri, mendengar apa yang di katakan oleh Lala Bryan hanya diam tak bersuara bahkan wajahnya semakin menakutkan, Indra yang mengamati sahabatnya itu langsung memberikan kode pada teman-teman Lala agar membawa Lala pergi.
"La ayo kita sudah mau masuk kelas banyak orang ini malu tau...ntar aku kasih ide bagus untuk mendekati Bryan" bisik teman Lala yang bernama Sulastri, mendengar itu Lala mengangguk pelan dan mengikuti teman-temannya. setelah Lala pergi Indra menepuk pundak sahabatnya itu "ayo bro...kita juga masuk" Bryan mengikuti ajakan Indra mereka pun masuk kelas.
....
di rumah sakit tempat ibu Nita bekerja banyak pasien yang di layani olehnya berbeda dengan biasanya kali ini Bu Nita selalu sumringah tampak sangat bahagia sampai anak buahnya menatap tak percaya karena pada saat bekerja Bu Nita selalu seperti singa yang tak bisa salah sedikit langsung marah-marah akibat banyaknya pekerjaan namun hari ini dia selalu tersenyum walau sudah banyak pasien yang di periksa olehnya. dia tidak kelihatan lelah sama sekali bahkan sangat energik.
"dokter Nita kenapa ya hari ini agak aneh...tapi bagus sih setidaknya kita nggak di marahi"
tanya seorang perawat pada temannya yang merupakan asisten Bu Nita.
"aku juga kurang tau tapi tadi dia habis menerima telpon dari situ dia sangat senang sampai sekarang, mungkin dari suaminya" yang lain hanya mengangguk.
...
tengah asyik bermain tak terasa waktu sudah mau magrib dan meiling juga elen berpamitan pada Nena juga pada pak Iwan dan buk Tuti.
pulang kali ini juga meiling membawa banyak barang pemberian ibu Nena. sopir sudah menunggu di depan pagar rumah setelah berpamitan meiling pun pulang kerumahnya.
"buk...ayo kita buka barang-barang itu" pinta Nina. Nena dan Bu Tuti hanya mengangguk
saat akan masuk kedalam rumah ternyata bibi Inong dan paman Imran sudah pulang dari berdagang, mereka meletakkan barang-barang tersebut di dapur dan pergi untuk mandi ibu Tuti, pak Iwan dan Nena membereskan barang dagangan.
setelah semua selesai mereka membongkar barang yang di bawa pulang oleh Nina bibi dan paman juga ikut membantu.
mata bibi terbelalak "waahh... barang-barang ini semuanya berkualitas tinggi coba lihat untuk jepit rambut saja harganya sudah 800rb coba lihat anting. hello Kitty ini emas asli juga ada berliannya tidakkah ini berlebihan" bibi melihat aksesoris itu dan merasa tak asing lalu dia membuka google dan mencari tau harga setiap barang betapa terkejutnya harga termurah aksesoris itu di atas 300rbu untuk ikat rambut saja sudah 375 ribu dan itu yang paling murah.
"apa... benarkah" Bu Tuti juga terkejut lalu dia membuka kardus pakaian dan benar masih ada labelnya.
"aaaaa.,..aaa...paaa harga baju ini sa...sa...satu juta lebih?" Bu Tuti sampai ternganga lalu dia memeriksa satu persatu barang tersebut dan mencatat harganya kecuali yang tak ada label harga itu yang di lewatkan olehnya setelah di total semuanya mencapai hampir 2 milyar Bu Tuti gemetaran.
"mbak mereka orang yang sangat kaya seluruh pusat perbelanjaan di kota Bandung ini adalah milik mereka danndia juga punya hotel dll. Bu Nita punya beberapa rumah sakit jadi nggak usah heran" lalu bibi melanjutkan kegiatannya.
Bu Tuti, Nena dan pak Iwan khawatir ini terlalu banyak kalau hanya sebatas pemberian apa yang mereka lakukan, membongkar-bongkar barang sampai larut malam setelah selesai mereka tidur namun Bu Tuti benar-benar tidak bisa tidur apa yang harus dia lakukan dengan barang-barang itu.
....
ayam berkokok lantang menyuarakan waktu pagi telah tiba namun Nena dan sekeluarga kecuali Sukmo semua sudah bangun Nena bersiap ke bandara menunggu jemputan meiling tadinya ada dari pihak Dina pendidikan yang akan jemput namun pak Alex bersih keras mengantar kepergian mereka elen, Nena dan meiling berada di satu mobil Bryan tak bisa mengantar karena harus ke sekolah bahkan Rudi dan Mila juga ikut mengantar iring-iringan mobil mereka lumayan banyak karena ada mobil pengawal juga ikut orang tua mereka di mobil yang berbeda. semua mobil menuju bandara, semua sangat antusias dengan keberangkatan ini bahkan meiling yang sudah berulang kali keluar negeripun sangat antusias seperti baru pertama ke luar negeri
"senang bangat mei... bukannya ini hal yang biasa untukmu kalau soal keluar negeri" tanya elen.
__ADS_1
"yang ini beda dong kali ini kan sama teman, kamu juga senang kayaknya aku liat paspor kamu lumayan hampir penuh" meiling menjahili elen dan mereka hanya tertawa.